Share

Istri Kedua Suamiku
Istri Kedua Suamiku
Penulis: Risma123

Bab 1

Penulis: Risma123
last update Tanggal publikasi: 2025-01-24 13:33:46

"Irma! Kamu kalau gak bisa bayar kontrakan, mending kamu keluar dari rumah ini. Emang kamu pikir bisa tinggal di rumahku gratis? Aku sewakan rumah, bukan buka panti sosial yang bisa kamu tinggali secara gratis. Keluargaku juga butuh uang! Keluar dari rumah ini sekarang!" teriak pemilik rumah kontrakan yang ditinggali gadis bernama Irma itu. 

Saat itu Vania, sahabat Irma yang kebetulan berada di rumah kontrakan itu terlihat kaget. Ini pertama kalinya dia bertamu ke rumah Irma, teman kuliahnya, yang cukup dekat dengannya itu. Dia tidak mengira jika kehidupannya setelah menikah akan sangat buruk, sampai-sampai Irma harus berkali-kali mengalami diusir dari rumah kontrakannya itu. 

Irma pernah bercerita pada Vania, kalau suaminya sudah hampir tiga tahun ini tidak pulang, dan tidak pernah memberi dia nafkah. Itulah yang membuat Irma harus cari uang sendiri untuk membiayai hidupnya, dan juga membayar sewa kontrakan. 

Selama ini Irma bekerja serabutan. Dia tidak kuliah sampai tuntas, karena masalah ekonomi. Vania dengar dari gosip yang beredar, kalau Irma pernah hamil. Itu juga yang menjadi alasan dia berhenti kuliah, dan memilih menikah dengan pacarnya. 

Alhasil, setelah menikah, Irma mengalami keguguran. Suaminya keras, kasar, suka main tangan, dan memukulinya. Tak jarang Vania pun melihat wajah Irma lebam akibat ulah suaminya. Tapi setelah kejadian bertubi-tubi penyiksaan itu, suaminya memilih kerja di luar kota, dan tak kunjung pulang hingga saat ini. 

Kini lagi-lagi Vania melihat secara langsung, seperti apa kehidupan buruk teman baiknya itu. Dia benar-benar diusir dari kontrakan karena menunggak uang sewa selama tiga bulan. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya, Vania melihat Irma diusir dari kontrakan. Setiap kali hal ini terjadi, dialah satu-satunya orang yang iba dan membantu Irma membayar kontrakannya. 

"Kamu ambil ini! Pakai saja dulu! Pakai uangnya untuk bayar kontrakan!" ucap Vania sambil memberikan uang satu setengah juta pada sahabatnya itu. 

"Vania, gak usah. Aku sudah sering repotin kamu. Aku sudah banyak berhutang sama kamu. Kalau terus-terusan seperti ini, aku bahkan gak tahu harus bayar kamu dengan apa," balas Irma yang terlihat tidak enak hati menerima bantuan sahabatnya itu. 

"Sudah, ambil saja! Anggap saja ini cara aku membantu teman baikku yang sudah aku anggap seperti saudara kandung sendiri. Lebih baik kamu pakai uangku untuk bayar kontrakan, daripada kamu diusir dan luntang-lantung di jalan. Kamu bisa kembalikan uangnya saat kamu benar-benar sudah punya uang. Jangan sungkan!" 

"Terima kasih, Vania. Terima kasih. Kalau bukan karena kamu, aku gak tahu seperti apa nasibku yang harus luntang-lantung di jalan. Terima kasih, Vania!" 

Kata-kata itu berulang diucapkan Irma sebagai ungkapan rasa terima kasihnya pada Vania. Vania hanya tersenyum, merasa semua yang dia lakukan tidak berarti apa-apa. Dia hanya kebetulan punya suami baik yang kaya raya, yang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dan anak-anaknya. Dia punya cukup uang untuk membantu meringankan kesulitan sahabatnya saat itu. 

Suami Vania bernama Candra Adiputra. Dia adalah pria baik, tulus, penyayang, dan pekerja keras. Dia selalu bekerja keras, demi bisa memberikan kehidupan yang terbaik untuk keluarga. Dia juga selalu meluangkan waktu disela kesibukan kerjanya di kantor untuk menemani Vania dan anak-anaknya bermain di hari libur. 

Kehidupan yang cukup baik yang Vania alami, membuat dia sedikit prihatin melihat kondisi kehidupan Irma. Bagaimana pun dia paham, rasanya tidak punya keluarga, dirudung mertua, dan ditinggalkan suami tanpa kabar selama tiga tahun. Rasa kasihan, itulah yang selalu muncul dalam benak Vania saat mengingat tentang Irma, dan kehidupan pernikahannya yang kelam. 

Setelah menyelesaikan pembayaran kontrakan yang tertunggak tiga bulan, akhirnya pemilik kontrakan pun berdamai dengan Irma. Dia meminta maaf pada Irma, dan meminta pada Irma untuk kedepannya agar tidak terus telat membayar kontrakan. Irma hanya mengangguk, walaupun dia sendiri terlihat kebingungan, karena takut tidak sanggup memenuhi janjinya pada si pemilik kontrakan. 

Vania pun pamit pulang dari kontrakan Irma. Dia akan pergi ke sekolah Tania, dan Kanaya untuk menjemput kedua anaknya itu. Tania dan Kanaya adalah dua anak Vania dengan Candra yang saat ini masih sekolah di TK nol kecil, dan SD kelas 1.

Sampai di TK sekolah Tania, Vania menunggu setengah jam supaya bisa pulang bersama dengan anaknya Kanaya yang baru masuk SD. Kedua anak itu hanya selisih dua tahun. Kanaya berusia 7 tahun di kelas satu SD, sementara Tania berusia 5 tahun dan masih di kelas TK nol kecil. Kedua anak Vania adalah anak-anak ceria. Mereka yang membuat Vania semangat saat merasakan letih mengurus urusan rumah tangga yang tidak ada habisnya. 

"Mama...," teriak Kanaya sambil berlari dari gerbang sekolahnya. 

"Kak, kamu pulangnya lama sekali. Tania sudah lapar nih!" ucap putri kecil Vania itu, sambil memegangi perutnya yang lapar. 

"Iya, maaf. Tadi kakak temani teman kakak dulu. Dia menangis di kelas. Aku dengar dari orang-orang kalau ibunya meninggalkan dia, karena papanya direbut perempuan lain. Jadi dia tidak bisa ketemu mamanya lagi deh. Makanya dia nangis!" 

"Kok bisa? Memangnya perempuan mana yang rebut ibunya teman kakak? Jahat sekali!" 

"Perempuan jahat! Memang dia perempuan jahat yang rebut papanya temanku."

Mendengar obrolan kedua anak itu, Vania hanya merasa iba dengan teman putrinya itu.

"Bagaimana pun hal yang dilakukan pria yang berselingkuh bukanlah kesalahan dari anaknya. Kenapa tega meninggalkan anaknya sendiri, hanya karena tidak rela suaminya punya simpanan. Kenapa tidak bawa pergi anak itu dan menghidupinya untuk memastikan masa depannya akan baik-baik saja. Kenapa malah terkesan wanita itu menyia-nyiakan anaknya dengan meninggalkan anak itu begitu saja seperti sampah yang dibuang dan tak lagi dibutuhkan. Sedih rasanya membayangkan jika hal itu harus dialami dua anakku. Mana rela aku meninggalkan mereka demi perasaanku sendiri, jika hal itu sungguh terjadi pada hidupku," batin Vania sedih. 

Saat sedang berjalan menuju jalan raya untuk mencari taksi, tiba-tiba mobil mewah yang familiar di mata Vania pun berhenti tepat di depan mobilnya. Ya, itu adalah mobil Candra, suami Vania. Dia sepertinya sengaja menjemput karena tadi sempat tanya lewat pesan di ponsel, menanyakan keberadaan Vania. Rupa-rupanya setelah tahu kalau istrinya menjemput anak-anak, dia langsung datang ke sekolah ini untuk menjemput mereka dan meninggalkan pekerjaannya di kantor. 

"Papa!" teriak dua anak itu dengan wajah gembira. 

"Anak-anak papa sudah pulang! Bagaimana sekolah kalian? Senang tidak, papa jemput kalian hari ini?" tanya Candra sambil keluar dari mobil untuk menuntun dua anak perempuannya masuk mobil di kursi belakang. 

Candra berbincang dengan dua anaknya dengan begitu serius. Dia memasangkan sabuk pengaman, memastikan kedua anaknya aman di dalam mobil itu. Hingga obrolan mereka berakhir. Candra masuk kembali ke dalam mobil untuk melajukan mobilnya. Terlihat dia melirik sekilas ke arah Vania sambil berbisik pelan di telinganya.

"Ma, kamu cantik! Bikin aku gak rela buat tinggalin kamu dan balik ke kantor lagi. Cium papa sedikit dong!" bisik Candra sambil meruncingkan bibirnya ke arah istrinya.

"Pa, jaga sikap! Dua anak kita itu perempuan. Jangan beri contoh aneh-aneh! Kita pulang dulu!" ucap Vania sambil mendorong lembut bibir suaminya yang mendekat ke arah pipinya.

"Kita pulang dulu, nanti di rumah lanjut ya!" ucap Candra yang hanya bisa disambut anggukkan kepala dari Vania saat mendengar kata-kata yang suaminya ucapkan itu. 

"Sungguh manja, romantis, tapi kekanak-kanakannya suamiku ini," bisik Vania sambil mengusap lembut pipi suaminya itu. Candra hanya tersenyum senang dengan bisikkan kecil dari istrinya, lalu mulai mengendarai mobil meninggalkan tempat itu menuju arah rumah mereka. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Kedua Suamiku    Bab 82

    Selepas Candra pergi ke luar negeri, Vania dan Galang memulai hari baru mereka. Sebagai pasangan suami istri baru, Galang nampak lengket dengan Vania. Bahkan pagi itu, saat jam menunjukkan pukul 5 pagi, tubuh Vania dipeluk erat-erat oleh suaminya. Tak diizinkan pergi kemanapun olehnya. "Kak Galang, lepaskan pelukanmu! Aku harus bangun untuk membuatkan sarapan anak-anak," keluh Vania, berusaha berontak dari pelukan Galang. "Masih pagi. Tidurlah sebentar lagi!" balas Galang, tanpa membuka matanya yang masih tidur. "Ahk, aku benar-benar tidak bisa tidur lagi! Kak Galang, lepaskan aku! Aku harus bangun!" "Tidak boleh bangun! Temani aku tidur sebentar lagi!" balasnya lagi sambil mempererat pelukannya. Melihat sikap manja Galang, Vania hanya bisa pasrah. Dia pun kembali memejamkan mata, berusaha tidur lagi, walaupun matanya sudah tidak mengantuk. "Vania, kapan kita buat adik untuk Kanaya, dan Tania?" bisik Galang, yang tiba-tiba berbisik di telinga Vania. "Apa? Adik? Bu

  • Istri Kedua Suamiku    Bab 81

    Candra mengikuti langkah Vania ke arah pesta pernikahannya. Di sana nampak seorang pria dan wanita paruh baya, menatap sedih melihat kondisi Candra saat itu. "Nak, kamu kenapa jadi begini? Bagaimana bisa jadi seperti ini? Kenapa tidak mengabari kami jika kamu mengalami kesulitan?" tanya ayah Candra, khawatir. "Ma, Pa, aku tidak apa-apa. Aku tidak mengabari kalian, karena tak mau kalian khawatir. Ma, Pa, maafkan aku! Aku tidak bisa mempertahankan perusahaan." "Sudahlah, jangan menangis! Yang penting kamu tidak apa-apa. Vania menikah dengan kakakmu, kamu tidak keberatan kan? Papa berharap kita sekeluarga bisa hidup rukun selamanya." "Ya, Pa, aku tidak keberatan. Aku bahagia melihat Vania dan kakakku bahagia. Aku percaya kakakku bisa menjaga dan membahagiakan Vania seumur hidupnya." "Baguslah, bagus. Akhirnya keluarga kita bisa rukun dan berkumpul kembali. Sekarang, ayo kita lanjutkan pesta pernikahan ini." Candra menganggukkan kepalanya. Dia kembali memfokuskan perhatiann

  • Istri Kedua Suamiku    Bab 80

    Beberapa hari setelah kematian Irma, Candra mulai gelisah. Dia mendapati dirinya juga tertular penyakit yang sama yang dimiliki mantan istrinya itu. Tiga kali dia memeriksa kondisinya ke tiga rumah sakit, tapi hasilnya sama, dia positif HIV. Dengan kondisi keuangan yang tak memadai, tentu saja Candra khawatir. Pengobatan rutin yang cukup menguras kantong, tak menjamin kesembuhan penyakitnya. Rasanya, nyawanya sudah diujung tanduk. Dalam hati Candra terus berpikir, apakah ini karmanya karena telah mengkhianati wanita baik seperti Vania. Candra bermodal nekad, kembali ke rumah Vania untuk melihat mantan istrinya itu. Dari jauh dia meratapi nasibnya penuh kesedihan. Rasa sesal pada pengkhianatan yang dia lakukan berujung menghancurkan dia sehancur-hancurnya. "Vania, jika waktu bisa diulang kembali, aku tidak akan membiarkan diriku memilih pilihan bodoh untuk mengkhianatimu. Vania, maafkan aku! Aku menyesal!" gumamnya sambil meneteskan air mata. Saat masih fokus menatap Vania yang

  • Istri Kedua Suamiku    Bab 79

    Galang yang melihat kejadian itu, menatap kesal ke arah Candra. Dia mendekat, dan menarik kerah baju Candra dengan penuh amarah. "Candra, jika kamu tahu malu, jangan pernah lagi datang temui Vania! Jangan sampai tinjuku ini melayang di wajahmu! Kalau ada lain kali, kamu datang untuk mengganggu Vania dan putrinya lagi, aku tidak akan sebaik ini. Pergilah! Kamu tidak diterima di sini!" "Sialan kamu! Beraninya kamu bersikap sekasar ini padaku? Tidak takutkah kamu jika nanti aku mengadu pada ayah dan ibu kita? Seorang kakak harusnya tidak merebut mantan istri adik kandungnya. Jelas, di sini siapa yang tidak tahu malu!" BRUKKK... Pukulan keras melayang di wajah Candra. Sepertinya Galang enggan untuk bersabar lagi. Tentu melihat emosi yang meledak-ledak dari wajah Galang, Candra pun langsung berlari pergi meninggalkan rumah itu. "Galang, awas kamu!" ancam Candra sambil terus berlari. Candra berjalan tak tentu arah. Rumahnya disita bank, perusahaan bangkrut, dan tak punya ua

  • Istri Kedua Suamiku    Bab 78

    Candra kembali menitikkan air mata, saat melihat kedua anaknya membuka pintu pagar rumah untuk menemuinya. Jika ingat, dulu dia memperlakukan kedua buah hatinya itu dengan buruk, tidak mengira jika mereka masih sudi menemuinya. "Putri papa. Putri-putri papa yang cantik. Maafkan papa! Papa menyesal menyia-nyiakan kalian selama ini. Papa minta maaf!" Kata-kata itu terus berulang, keluar dari mulut Candra. Kanaya dan Tania mengusap air mata ayah mereka, dengan ekspresi wajah simpati mereka. "Papa, jangan nangis! Kanaya sudah maafin papa." "Tania juga, Tania juga. Tania sudah maafin papa," sambung putri bungsu Candra. "Terima kasih, terima kasih sudah mau maafin papa. Bisakah kalian bujuk mama agar memaafkan papa juga? Bujuk mama agar bisa kembali sama papa, biar kita bisa jadi kelurga utuh lagi seperti dulu," bujuk Candra, yang seketika membuat Kanaya merubah kesal. "Papa, jangan rebut mama dari om Galang. Papa kan sudah punya Tante jahat. Papa tidak bisa sama mama lagi." Ca

  • Istri Kedua Suamiku    Bab 77

    Candra tak bicara. Tangannya mengepal, menahan amarahnya. Tetesan air mata jatuh membasahi pipinya. Tentu hal itu membuat Irma khawatir dan ketakutan. "Mas, ada apa? Jangan buat aku takut!" ucap Irma lagi. "Kamu darimana? Seminggu tidak pulang, apa kamu masih anggap aku sebagai suamimu?" tanya Candra, dengan suara penuh tekanan, menahan marah. "Itu, aku... Aku ada urusan. Ini urusan pekerjaan. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Jadi aku...." PLAKKK... Tamparan keras mengenai pipi Irma. Hal itu membuat Irma kaget, dan melotot menatap ke arah suaminya itu. "Mas, apa maksud kamu menampar aku begini? Aku tahu aku salah. Aku tidak seharusnya meninggalkan rumah demi pekerjaan. Tapi anak kita sakit, kita butuh banyak uang jadi aku...." "Aku apa? Jual diri? Kamu jual diri? Pekerjaan yang kamu bilang itu, maksudnya menemani pria tua tidur? Irma, seumur hidup ini, hal satu-satunya yang aku sesali adalah berselingkuh denganmu, meninggalkan Vania, dan menjadikan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status