공유

Bab 2

작가: Risma123
last update 게시일: 2025-01-24 15:09:04

Sampai di rumah, Vania membawa anak-anak masuk ke kamar mereka untuk mengganti baju. Sementara Candra, dia terlihat bersandar di sofa ruang tamu sambil memejamkan mata seraya memijat-mijat keningnya. 

Vania pun keluar dari kamar anak-anaknya dan mendatangi Candra. Dia duduk tepat di sebelah Candra, dan bersandar di bahu suaminya itu. Candra yang sadar istrinya berada di sebelahnya, sontak menarik tangan Vania lalu ditempelkan tangan Vania di pipi kanan Candra, sambil sesekali menciumnya mesra. 

"Ma, aku kangen!" bisiknya manja. 

Kata kangen ini menggambarkan konteks yang berbeda dari pemikiran normal manusia. Suami Vania bekerja setiap hari, keduanya pun bertemu setiap harinya. Jadi kata kangen ini menyiratkan jika dia merindukan sesuatu yang sudah jarang mereka lakukan karena kesibukan masing-masing selama ini. 

Tangan kanan Candra sudah melingkar di pinggang Vania, sementara tangan yang satunya masih sibuk memegangi tangan sang istri yang terus dia ciumi sejak tadi. Hingga kembali dia berbisik pelan, dan membuat bulu kuduk Vania seketika berdiri mendengarnya. 

"Ma, ayo kita buat adik untuk Kania, dan Kanaya," bisik Candra seraya menempelkan bibirnya di telinga istrinya itu.

Semakin Candra banyak bicara, semakin memperjelas maksud dan tujuannya dia manja sekali pada Vania saat itu. Tapi masalahnya, ini masih siang. Apa yang akan dipikirkan anak-anak mereka jika tahu papa dan mamanya mengurung diri di kamar? Namun bagaimanapun, hasrat seorang lelaki tak bisa ditahan. Vania hanya bisa patuh, dan mengikuti langkah kaki suaminya ke dalam kamar. 

Siang itu cuaca sedikit mendung, agak sejuk semilir angin menembus pori-pori kulit. Tapi tidak dengan Vania dan suaminya, yang berada di dalam kamar dengan pintu terkunci. Di sana mereka melakukan hal-hal yang mengundang keringat dan gairah yang tak terbendung lagi. 

Bibir Vania terus diciumi hingga keduanya sama-sama berbaring di tempat tidur. Terlihat wajah tampan Candra yang sudah dipenuhi nafsu yang begitu menginginkan tubuh sang istri sebagai obat penawarnya. Vania tak berdaya saat itu. Dia biarkan tubuhnya dikuasai sang suami dan diterjang habis-habisan olehnya. Hingga sampai sang suami mencapai kepuasan, saat itu Candra baru melepaskan Vania dari pelukannya. 

"Maaf sayang, aku terlalu bersemangat siang ini. Tapi lihat wajah cantik kamu, aku tidak tahan!" ucap Candra sambil menarik tubuh Vania agar tidur di dalam pelukannya kembali. 

"Mas, ini masih siang. Kamu tidak akan kembali lagi ke kantormu kah?" tanya Vania pelan. 

"Baru habis dipakai, kamu mau langsung membuangku kah? Sayang, kamu licik sekali!" 

"Bukan begitu, tapi...."

"Jangan memikirkan pekerjaanku! Sekarang aku sedang ingin bersamamu beberapa saat. Aku ingin menyayangimu dan memanjakanmu sampai kamu tahu betapa aku mencintaimu, Vania," bisik Candra yang membuat Vania luluh, dan tak lagi melawan ataupun bertanya hal lain padanya.

Sejak mereka pertama kali menikah, Candra memang cukup bersemangat dalam urusan ranjang. Dia tak pernah melewatkan satu hari pun tanpa melakukan hubungan badan dengan sang istri. Paling saat Vania datang bulan, atau saat Vania nifas setelah melahirkan dua anak mereka, dia baru bisa mengendalikan diri untuk tidak melakukan hubungan badan dengan sang istri. 

Pernah juga Candra sibuk dinas ke luar negeri. Selama seminggu dia tidak pulang, dan terus melakukan panggilan video pada Vania. Seakan takut Vania lupa punya suami, saat dia tidak ada di sekitarnya. Saat pulang dinas, yang Candra cari bukanlah anak-anak. Tapi sang istri, yang langsung dia tarik ke kamar, dan membiarkan kedua putri mereka kebingungan dengan sikap Candra yang menawan Vania seharian di dalam kamar setiap kali pulang dinas ke luar negeri. 

Walaupun Candra kelihatan seperti pria dengan birahi tinggi, dan tidak dapat mengendalikan nafsunya, tapi dia tidak pernah dekat dengan wanita manapun selama mereka menikah. Baik di tempat kerja, maupun saat di luar rumah, dia tidak pernah dekat dengan wanita lain selain istrinya.

Bahkan karakter suami Vania di kantor dianggap sebagai pria dingin mendominasi, dan angkuh. Mereka kebanyakan takut pada Candra, dan lebih suka menjaga jarak karena takut akan ketegasan dia dalam pekerjaan. Walaupun wajah Candra tampan, tapi dia bukan pria yang mudah didekati. Mungkin itulah yang membuat Vania merasa Tuhan begitu baik, menghadirkan suami seperti Candra di dalam hidupnya, yang hanya mencintai dirinya saja. 

Setelah berbaring beberapa menit, akhirnya Candra pun beranjak bangun. Dia menuntun Vania untuk ikut dengannya ke kamar mandi. Keduanya pun mandi bersama dan melakukan hal lain lagi selama di dalam kamar mandi. Semangat Candra ini benar-benar membuat Vania kelelahan setiap hari olehnya. Tapi itu juga yang membuat Vania menyadari jika suaminya hanya menjadikan dia sebagai wanita pelampiasan nafsu birahinya. 

"Sekali lagi ya, Ma," bisik Candra di telinga sang istri.

"Sudah cukup. Mas, kamu benar-benar luar biasa! Aku lelah sekali!" ucap Vania yang disambut tawa dari suaminya itu. 

"Kalau tahu aku luar biasa dan bisa memuaskanmu, jangan pernah selingkuh dariku ya!" bisik Candra yang disambut anggukan kepala dari Vania. 

"Selingkuh bagaimana? Punya kamu satu saja sudah membuat aku hampir pingsan setiap hari. Aku mana sanggup tambah satu pria lagi. Di dalam hidupku, cuma kamu satu-satunya pria yang aku cintai dan bisa memenuhi kebutuhan birahiku. Aku tidak butuh pria lain selama kamu setia padaku."

"Baguslah kalau begitu. Aku bisa tenang. Sekarang bantu aku pakai baju kantor. Aku mau kembali ke kantor karena masih ada beberapa pekerjaan yang belum aku selesaikan."

"Baiklah, aku bantu kamu pakai baju, Mas!" 

Setelah Vania membantu Candra memakai pakaian kantornya, dia pun membantu suaminya itu untuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan hair dryer. Setelah kering, Vania merapikan rambut Candra dengan sisir hingga tataan rambut suaminya sempurna dan menambah karisma di wajah tampannya itu. 

"Sudah selesai. Kembalilah bekerja ke kantormu, Mas. Jangan pulang larut malam! Ingat untuk selalu makan tepat waktu, dan beristirahat jika merasa lelah. Jangan memaksakan diri! Jangan diforsir kerja!" ucap Vania, yang disambut tawa dari Candra. 

"Iya sayang, iya. Aku akan ingat semua nasihatmu. Kalau begitu aku pergi ya? Ingat, kalau mau pergi keluar dengan anak-anak, kabari aku dulu biar aku tidak khawatir."

"Ya."

Vania pun mengantar suaminya keluar dari rumah menuju arah mobil yang terparkir di halaman rumah. Dia membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya sambil terus menatap Vania seakan tidak rela berpisah. Melihat kebucinan suaminya itu, Vania malah tersenyum. Mereka sudah menikah selama delapan tahun, tapi rasa cintanya pada Vania tak berkurang sedikitpun. Bahkan bisa dilihat kini Candra berusaha melakukan segala cara untuk menahan dirinya lebih lama di rumah demi bisa selalu bersama sang istri. 

"Sayang, kemari dulu!" Panggil Candra yang membuat Vania menghampirinya. 

Cup...

Bibir Candra mencium bibir Vania penuh kemesraan. Dia tak lagi mengenal situasi, padahal saat itu mereka berada di halaman rumah, tepat dimana gerbang rumah mereka.

"Suamiku ini, apakah dia benar-benar tidak mau mempertahankan citranya lagi? Apakah dia tidak malu menciumku di depan umum seperti ini?" batin Vania bergumam sambil menggelengkan kepalanya. 

"Mas, sudah cukup! Ini tempat umum! Nanti dilihat tetangga. Malu!" ucap Vania pelan. 

"Malu kenapa? Kamu kan istriku. Sayang, ini kado untukmu. Terima kasih sudah jadi istriku yang baik, dan melengkapi kehidupanku selama ini," ucap Candra sambil memperlihatkan kotak perhiasan berisi kalung berlian. 

Candra mengambil kalung itu, dan memasangkannya di leher Vania dengan penuh cinta. 

"Kamu suka gak?" tanya Candra yang hanya disambut senyum dan anggukkan kepala dari Vania saat itu. 

"Siapa wanita yang tak luluh dengan sikap suami yang baik dan mesra seperti suamiku saat ini? Aku benar-benar terbuai dengan cintanya. Aku merasa diriku wanita paling beruntung karena mendapatkan suami baik yang begitu mencintaiku seperti mas Candra lakukan padaku saat ini," batin Vania dengan senyum bahagia di bibirnya.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Istri Kedua Suamiku    Bab 82

    Selepas Candra pergi ke luar negeri, Vania dan Galang memulai hari baru mereka. Sebagai pasangan suami istri baru, Galang nampak lengket dengan Vania. Bahkan pagi itu, saat jam menunjukkan pukul 5 pagi, tubuh Vania dipeluk erat-erat oleh suaminya. Tak diizinkan pergi kemanapun olehnya. "Kak Galang, lepaskan pelukanmu! Aku harus bangun untuk membuatkan sarapan anak-anak," keluh Vania, berusaha berontak dari pelukan Galang. "Masih pagi. Tidurlah sebentar lagi!" balas Galang, tanpa membuka matanya yang masih tidur. "Ahk, aku benar-benar tidak bisa tidur lagi! Kak Galang, lepaskan aku! Aku harus bangun!" "Tidak boleh bangun! Temani aku tidur sebentar lagi!" balasnya lagi sambil mempererat pelukannya. Melihat sikap manja Galang, Vania hanya bisa pasrah. Dia pun kembali memejamkan mata, berusaha tidur lagi, walaupun matanya sudah tidak mengantuk. "Vania, kapan kita buat adik untuk Kanaya, dan Tania?" bisik Galang, yang tiba-tiba berbisik di telinga Vania. "Apa? Adik? Bu

  • Istri Kedua Suamiku    Bab 81

    Candra mengikuti langkah Vania ke arah pesta pernikahannya. Di sana nampak seorang pria dan wanita paruh baya, menatap sedih melihat kondisi Candra saat itu. "Nak, kamu kenapa jadi begini? Bagaimana bisa jadi seperti ini? Kenapa tidak mengabari kami jika kamu mengalami kesulitan?" tanya ayah Candra, khawatir. "Ma, Pa, aku tidak apa-apa. Aku tidak mengabari kalian, karena tak mau kalian khawatir. Ma, Pa, maafkan aku! Aku tidak bisa mempertahankan perusahaan." "Sudahlah, jangan menangis! Yang penting kamu tidak apa-apa. Vania menikah dengan kakakmu, kamu tidak keberatan kan? Papa berharap kita sekeluarga bisa hidup rukun selamanya." "Ya, Pa, aku tidak keberatan. Aku bahagia melihat Vania dan kakakku bahagia. Aku percaya kakakku bisa menjaga dan membahagiakan Vania seumur hidupnya." "Baguslah, bagus. Akhirnya keluarga kita bisa rukun dan berkumpul kembali. Sekarang, ayo kita lanjutkan pesta pernikahan ini." Candra menganggukkan kepalanya. Dia kembali memfokuskan perhatiann

  • Istri Kedua Suamiku    Bab 80

    Beberapa hari setelah kematian Irma, Candra mulai gelisah. Dia mendapati dirinya juga tertular penyakit yang sama yang dimiliki mantan istrinya itu. Tiga kali dia memeriksa kondisinya ke tiga rumah sakit, tapi hasilnya sama, dia positif HIV. Dengan kondisi keuangan yang tak memadai, tentu saja Candra khawatir. Pengobatan rutin yang cukup menguras kantong, tak menjamin kesembuhan penyakitnya. Rasanya, nyawanya sudah diujung tanduk. Dalam hati Candra terus berpikir, apakah ini karmanya karena telah mengkhianati wanita baik seperti Vania. Candra bermodal nekad, kembali ke rumah Vania untuk melihat mantan istrinya itu. Dari jauh dia meratapi nasibnya penuh kesedihan. Rasa sesal pada pengkhianatan yang dia lakukan berujung menghancurkan dia sehancur-hancurnya. "Vania, jika waktu bisa diulang kembali, aku tidak akan membiarkan diriku memilih pilihan bodoh untuk mengkhianatimu. Vania, maafkan aku! Aku menyesal!" gumamnya sambil meneteskan air mata. Saat masih fokus menatap Vania yang

  • Istri Kedua Suamiku    Bab 79

    Galang yang melihat kejadian itu, menatap kesal ke arah Candra. Dia mendekat, dan menarik kerah baju Candra dengan penuh amarah. "Candra, jika kamu tahu malu, jangan pernah lagi datang temui Vania! Jangan sampai tinjuku ini melayang di wajahmu! Kalau ada lain kali, kamu datang untuk mengganggu Vania dan putrinya lagi, aku tidak akan sebaik ini. Pergilah! Kamu tidak diterima di sini!" "Sialan kamu! Beraninya kamu bersikap sekasar ini padaku? Tidak takutkah kamu jika nanti aku mengadu pada ayah dan ibu kita? Seorang kakak harusnya tidak merebut mantan istri adik kandungnya. Jelas, di sini siapa yang tidak tahu malu!" BRUKKK... Pukulan keras melayang di wajah Candra. Sepertinya Galang enggan untuk bersabar lagi. Tentu melihat emosi yang meledak-ledak dari wajah Galang, Candra pun langsung berlari pergi meninggalkan rumah itu. "Galang, awas kamu!" ancam Candra sambil terus berlari. Candra berjalan tak tentu arah. Rumahnya disita bank, perusahaan bangkrut, dan tak punya ua

  • Istri Kedua Suamiku    Bab 78

    Candra kembali menitikkan air mata, saat melihat kedua anaknya membuka pintu pagar rumah untuk menemuinya. Jika ingat, dulu dia memperlakukan kedua buah hatinya itu dengan buruk, tidak mengira jika mereka masih sudi menemuinya. "Putri papa. Putri-putri papa yang cantik. Maafkan papa! Papa menyesal menyia-nyiakan kalian selama ini. Papa minta maaf!" Kata-kata itu terus berulang, keluar dari mulut Candra. Kanaya dan Tania mengusap air mata ayah mereka, dengan ekspresi wajah simpati mereka. "Papa, jangan nangis! Kanaya sudah maafin papa." "Tania juga, Tania juga. Tania sudah maafin papa," sambung putri bungsu Candra. "Terima kasih, terima kasih sudah mau maafin papa. Bisakah kalian bujuk mama agar memaafkan papa juga? Bujuk mama agar bisa kembali sama papa, biar kita bisa jadi kelurga utuh lagi seperti dulu," bujuk Candra, yang seketika membuat Kanaya merubah kesal. "Papa, jangan rebut mama dari om Galang. Papa kan sudah punya Tante jahat. Papa tidak bisa sama mama lagi." Ca

  • Istri Kedua Suamiku    Bab 77

    Candra tak bicara. Tangannya mengepal, menahan amarahnya. Tetesan air mata jatuh membasahi pipinya. Tentu hal itu membuat Irma khawatir dan ketakutan. "Mas, ada apa? Jangan buat aku takut!" ucap Irma lagi. "Kamu darimana? Seminggu tidak pulang, apa kamu masih anggap aku sebagai suamimu?" tanya Candra, dengan suara penuh tekanan, menahan marah. "Itu, aku... Aku ada urusan. Ini urusan pekerjaan. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Jadi aku...." PLAKKK... Tamparan keras mengenai pipi Irma. Hal itu membuat Irma kaget, dan melotot menatap ke arah suaminya itu. "Mas, apa maksud kamu menampar aku begini? Aku tahu aku salah. Aku tidak seharusnya meninggalkan rumah demi pekerjaan. Tapi anak kita sakit, kita butuh banyak uang jadi aku...." "Aku apa? Jual diri? Kamu jual diri? Pekerjaan yang kamu bilang itu, maksudnya menemani pria tua tidur? Irma, seumur hidup ini, hal satu-satunya yang aku sesali adalah berselingkuh denganmu, meninggalkan Vania, dan menjadikan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status