Masuk***
Nika sudah membuat keputusan kalau ia akan menerima tawaran jadi istri kedua, berat memang, takut tidak sanggup. Namun demi Ayahnya ia rela menjadi istri kedua. Sekarang ia sudah berada di kantor, belum menghubungi Ajeng soal jawabannya. Nika akan menunggu Ajeng yang lebih dulu menghubunginya, karena ia yakin pasti hari ini Ajeng akan kembali bertanya soal jawaban apa yang akan diberikan Nika. Gendis dan Dean baru datang, “Cieee, berangkat bareng ya?” Gendis dan Dean sama-sama menggelengkan kepalanya, “Nggak sengaja ketemu pas mau masuk lift, lagian kita nggak searah.” jawab Dean. Nika memperhatikan mereka berdua, “Tapi sebenarnya kalian keliatan cocok tahu,” Gendis menatap Nika kesal, “Cocok dari mananya coba? Kita nggak ada kecocokan sama sekali,” ucap Gendis. Nika mengangkat kedua alisnya, ia saling tetap dengan Dean. Dean hanya mengangkat bahunya acuh. “Gimana Nik? Kamu udah ngasih tahu Om Herman?” tanya Gendis. Nika menganggukan kepalanya, “Sudah semalam,” “Terus respon Om Herman gimana?” tanya Dean. “Kaget sudah pasti, terus aku kasih tau semuanya….., Nika menceritakan apa yang semalam ia bicarakan dengan Ayahnya, dan Nika juga memberitahu kalau ia menerima tawaran jadi istri kedua. “Sudah yakin?” tanya Dean. “Yakin,” “Bu Ajeng sudah di kasih tahu?” tanya Gendis. Nika menggelengkan kepalanya, “Belum, nunggu beliau aja.” jawab Nika. Gendis dan Dean sama-sama mengangguk-anggukkan kepala, sepertinya mereka juga kalau berada di posisi Nika akan begitu juga. . Di jam sepuluh siang, Nika mendapatkan pesan masuk dari Ajeng, seperti sebelumnya isi pesannya tidak jauh dari menanyakan apa Nika sudah mendapatkan jawaban atau belum. Bu Ajeng : (“Siang Nika, jangan bosan-bosan ya saya kirim pesan. Hehehe, gimana jawabannya sudah dapat belum?”) Nika menarik napasnya pelan, tangannya sedikit bergetar saat ingin membalas pesan tersebut. Nika : (“Siang juga Bu Ajeng, saya sudah dapat jawabannya. Kira-kira kapan kita bisa bertemu secara langsung?”) Bu Ajeng : (“Serius? Gimana kalau nanti pas pulang kerja aja? Soalnya kalau pas jam makan siang saya masih ada urusan di butik,”) Nika : (“Boleh Bu, nanti kasih tahu saya mau dimana kita bertemunya,”) Bu Ajeng : (“Baik, nanti saya kabari lagi.”) Nika tidak membalas lagi, matanya masih menatap layar ponselnya. Ada perasaan gugup juga, padahal ketemunya juga nanti. Namun ada yang ditakutkan, takut kalau ternyata Bosnya juga ikut. Ia bingung nanti harus bicara apa kalau sudah bertemu. “Bu Ajeng udah kabari,” ucap Nika. “Terus kamu langsung ngasih jawaban atau nggak?” tanya Gendis. “Nggak, cuma ngasih tahu aja. Nanti kamu pulang ngajak ketemu,” jawab Nika. “Mau ditemenin nggak?” tanya Gendis lagi. “Nggak perlu, Aku bisa kok pergi sendiri, lagian sekarang udah tahu mau bahas apa, nggak kayak pas awal-awal dapat pesan dari beliau.” “Semoga saja lancar ya, nanti kalau pas nikahnya jangan lupa ngundang kita,” ucap Dean. “Aamiin, nanti aku ngasih tau kalau udah ada kesepakatan. Lagian nikahnya juga nggak akan rame-rame, dan aku juga mau minta dirahasiakan.” balas Nika. . Jam makan siang, kali ini Nika ikut ke kantin. Namun ia menyesali ikut kesana dengan kedua temannya, soalnya baru saja mereka melihat kedatangan Daniel dan Garu. “Nggak biasanya mereka makan siang di kantin,” bisik Gendis pada Nika. “Lagi pengen mungkin, tapi aku nyesel ikut kalian kesini.” balas Nika, ia berusaha untuk menundukkan kepalanya. “Gimana ya kalau mereka tiba-tiba ikut duduk sama kita?” tanya Dean. Nika langsung melotot, “Jangan sampai, aku bakalan langsung pergi. Ngasih alasan mau ke toilet,” Nika bisa bernapas lega saat kedua orang yang ia ingin hindari itu melewati meja mereka. Di meja lain, sesekali Daniel melirik ke arah meja yang ditempati Nika dan lainnya. Garu bisa melihat apa yang dilakukan bosnya itu, ia hanya bisa geleng-geleng kepala. “Mau pindah tempat duduk aja, Pak?” Daniel menatap Garu sambil mengernyitkan keningnya, “Ngapain harus pindah? Nggak nyaman disini?” tanya Daniel. “Saya mah nyaman-nyaman aja, menurut saya daripada curi-curi pandang mending langsung datangi langsung kesana,” Daniel mendelik tak terima, “Siapa juga yang lirik-lirik.” ketusnya lalu kembali makan. Garu tertawa pelan, Bos nya itu gengsian. Ia yakin pasti sebenarnya itu ingin mengajak Nika ngobrol, tapi tidak punya keberanian. * Tak terasa sudah waktunya pulang kerja, sudah jam lima sore lewat sepuluh menit. Gendis dan Dean sudah bersiap untuk pulang, sementara Nika masih diam, ia sedang menunggu pesan Ajeng. “Sudah dikabari lagi?” tanya Dean. “Belum, kayaknya masih sibuk.” jawab Nika. “Ayo pulang aja, nanti juga kalau beliau butuh pasti hubungi kamu lagi.” ajak Gendis. Akhirnya Nika mengiyakan ajakan Gendis. Saat mereka sudah berada di dalam lift, ada pesan masuk dari Ajeng. Hanya mengirimkan alamat kepada Nika. “Bu Ajeng kirim alamat,” ucap Nika. “Ngajak ketemu dimana?” tanya Gendis. “Di Restoran dekat sini, katanya di ruangan private.” jawab Nika. “Lebih bagus di ruangan private, biar nggak ketemu orang yang dikenal.” ucap Dean. Mereka berhenti bicara saat sudah keluar dari dalam lift, karena takut ada yang mendengar pembahasan mereka. Ketiganya berpisah setelah di parkiran, Nika tidak langsung pergi, kedua temannya sudah lebih dulu pulang. “Kok makin deg-degan ya?” gumam Nika memegangi dadanya. Setelah memenangkan hatinya, baru Nika menghidupkan mesin motornya menuju restoran tempat akan kembali bertemu dengan Ajeng. Hanya beberapa menit, Nika sudah sampai di sana. Saat masuk, ada yang menghampirinya dan langsung mengajaknya ke ruangan private yang ada di lantai atas. Nika bersyukur saat masuk ternyata hanya ada Ajeng saja, tanpa ada Daniel. Ajeng tersenyum saat melihat kedatangan Nika dan mengajaknya untuk segera duduk. “Saya belum pesan makanan untuk kamu, soalnya takut kamu nggak suka,” ucap Ajeng. “Nggak perlu Bu, saya juga nggak akan lama kok,” balas Nika. “Berarti langsung ke intinya aja ya,” ucap Ajeng. Nika mengangguk, “Iya, Bu.” Ajeng terus menatap Nika, “Jadi keputusan apa yang kamu ambil?” “Saya menerima tawaran menjadi istri kedua,” Mendengar jawaban Nika, Ajeng langsung tersenyum. “Tapi, saya ingin memberikan syarat kepada Ibu dan keluarga.” “Silahkan, apapun syarat yang kamu berikan kami akan berusaha mewujudkannya.” ucap Ajeng. “Syarat dari saya….., Nika memberitahu soal syarat yang ia inginkan. “Baik, saya akan turuti semua persyaratan yang kamu kasih.” balas Ajeng. “Saya akan beritahu suami dan keluarga yang lainnya, kemungkinan dalam waktu dekat kita ada pertemuan keluarga.” lanjut Ajeng sambil tersenyum. Tidak luntur senyumanmu, mungkin karena sedang bahagia sebentar lagi akan punya madu, mungkin.***Senin siang itu kantor terasa lebih padat dari biasanya. Matahari Jakarta sedang terik-teriknya, cahayanya menembus tirai tipis jendela lantai delapan dan membentuk garis-garis terang di lantai keramik. Suara klakson samar terdengar dari bawah, bercampur dengan dengungan AC dan ketikan keyboard yang tak pernah benar-benar berhenti.Di ruang bagian keuangan, hanya ada tiga meja yang tersusun membentuk huruf U. Tidak terlalu luas, tapi cukup nyaman untuk mereka bertiga—Nika, Dean, dan Gendis. Rak arsip berdiri penuh map biru dan abu-abu di dinding belakang. Whiteboard kecil di samping pintu dipenuhi catatan deadline dan angka-angka target.Dean sedang fokus di depan layar, mengerjakan rekonsiliasi laporan pengeluaran minggu lalu. Lengan kemejanya digulung sampai siku. Gendis sibuk menghitung ulang data invoice sambil sesekali mengunyah permen karet. Sementara Nika… sejak tadi lebih banyak diam.Ia menatap lembar Excel di hadapannya, tapi pikiran
***Senin siang, Ajeng berdiri di dalam butiknya yang berada di lantai dasar sebuah gedung komersial elite Jakarta Selatan. Ruangan itu wangi kain baru dan parfum lembut. Beberapa karyawan sedang melayani pelanggan, sementara Ajeng fokus memeriksa desain koleksi terbaru di macbook miliknya. Wajahnya terlihat tenang, seolah tidak ada badai yang sedang menunggu. Pintu butik terbuka cukup keras sehingga lonceng kecil di atasnya berdenting nyaring. Ajeng mendongkak. Mamanya masuk dengan langkah cepat, wajahnya tegang. Di belakangnya, Mentari berjalan dengan ekspresi kesal yang sama sekali tidak bisa disembunyikan. Beberapa pegawai saling melirik, merasakan aura tidak biasa. “Mama?” Ajeng berdiri tegak. “Ada apa?”Tanpa basa-basi, Mamanya langsung berkata dengan suara tertahan namun penuh amarah. “Kamu tidak bilang apa-apa soal pertemuan kemarin!”Ajeng menghela napas pelan. Ia sudah menduga kabar itu tidak akan lama tersembunyi.
***Minggu pagi di villa teras begitu sejuk. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan pinus, sementara sinar matahari perlahan menyelinap masuk melalui jendela-jendela besar ruang makan. Udara di kawasan puncak Bogor memang selalu membawa ketenangan yang berbeda, dingin, bersih, dan terasa jauh hiruk-pikuk Jakarta. Nika duduk di kursi kayu panjang, secangkir teh hangat di tangannya. Semalam ia hampir tidak bisa tidur nyenyak, terlalu banyak yang dipikirkan. Pernikahan, statusnya nanti, keputusan tetap bekerja sampai hamil. Dan tentu saja, posisinya sebagai istri kedua. Di meja makan, Oma Laila sesekali menyuapkan potongan buah dari piring Opa Remon. Bu Dania berbincang pelan dengan Pak Harman tentang menjadi pengajar, dulu sebelum menikah dengan suaminya, Bu Dania sempat pernah jadi guru TK. Daniel duduk di samping Ajeng, tangannya sesekali akan menyentuh tangan Ajeng. Selesai sarapan, mereka berpindah ke ruangan tengah. Opa Remon duduk di kursi utam
**** Satu Minggu berlalu, Sabtu sore ini Nika dan Ayahnya akan ke puncak Bogor, mereka dijemput oleh salah satu supir keluarga Daniel. Dimana besok, kedua keluarga tersebut akan memulai perkenalan dan membahas soal pernikahan Nika dan Daniel. Sebuah mobil hitam berhenti di depan gang menuju kontrakan yang ditinggal Nika dan Ayahnya. Supir keluarga Daniel membukakan pintu belakang mobil. “Silahkan Mbak Nika, Pak.” ucapnya hormat. Nika menoleh pada Ayahnya, Pak Herman mengenakan kemeja panjang warna abu-abu dan celana bahan hitam, beliau terlihat rapi, meski wajahnya menyimpan sedikit ketegangan. “Siap, Yah?” tanya Nika pelan. Pak Herman tersenyum tipis. “InsyaAllah siap.” Perjalanan menuju kawasan puncak terasa cukup panjang. Mobil melaju meninggalkan hiruk-pikuk kota, perlahan memasuki jalanan berkelok dengan pemandangan pepohonan hijau di kiri-kanan. Udara semakin sejuk, kabut tipis mulai turun saat mereka mendekati area perbukitan.
***Siang itu suasana di mansion Pak Mahardi terasa tenang, disana hanya ada Daniel, Ajeng dan Mamanya. Yang lainnya sedang pergi memancing di pemancingan milik Opa Rendi, Adik dari Oma Laila. Daniel duduk di kursi rotan yang berada di taman belakang mansion, punggungnya tegak ketika Istri dan Mamanya ikut gabung. Tadi Daniel sempat memberitahu mereka, ada yang ingin ia bicarakan. Dan Daniel sengaja memilih tempat terbuka saat ngobrol bersama Istri dan Mamanya. Daniel menghela napas panjang sebelum membuka obrolan. “Mah, Jeng. Aku mau bahas soal Nika,” ucap Daniel. Ajeng menatap Daniel sekelis, lalu kembali memandang ke depan. Menatap berbagai jenis bunga. Bu Dania langsung menoleh, “Soal apa lagi?”“Nika menyampaikan keinginannya, kalau nanti kita menikah. Dia ingin tinggalkan jauh dari Jakarta.” Ajeng langsung menoleh, “Jauh itu maksudnya?”“Bukan di Jakarta, dia ingin hidup tenang dengan Ayahnya.”Bu Dania terdiam sejenak, “
****Malam sudah semakin larut. Hening menyelimuti kontrakan yang dihuni Nika dan Ayahnya. Lampu kamar Nika menyala redup, hanya satu bohlam kuning yang menggantung di tengah ruangan, menerangi dinding kusam. Nika sudah berada di ranjang kecilnya. Ia baru saja mengganti pakaian dengan piyama panjang bermotif bunga kecil. Rambutnya dibiarkan tergerai, tubuhnya terasa lelah padahal hari ini lebih banyak bersantai, tapi tetap saja merasa lelah. Matanya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin terpejam, pikirannya terlalu penuh. Ia memandangi langit-langit kamar, sesekali menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Di dadanya ada perasaan campur aduk yang sulit ia definisikan. Antara berharap, takut dan ragu. Nika teringat percakapannya dengan Daniel beberapa menit yang lalu. Tentang pernikahan dan tentang tempat tinggal nanti setelah menikah. Nika menggigit bibir bawahnya pelan. Ia bukan perempuan bodoh yang tidak memahami konsekuen







