MasukApa respon pertama kali kamu ketika tiba-tiba diminta untuk menjadi Istri kedua dari atasannya? Dan yang paling parah adalah, yang memintanya itu bukan atasannya langsung, tapi Istrinya sendiri. Nika namanya, dia tiba-tiba diminta untuk menjadi seorang madu. Nika yang perekonomian keluarganya kurang bagus, dimana Ayahnya sedang sakit Ginjal dan harus cuci darah dua Minggu sekali membuat Nika menerima tawaran tersebut.
Lihat lebih banyak***Senin siang itu kantor terasa lebih padat dari biasanya. Matahari Jakarta sedang terik-teriknya, cahayanya menembus tirai tipis jendela lantai delapan dan membentuk garis-garis terang di lantai keramik. Suara klakson samar terdengar dari bawah, bercampur dengan dengungan AC dan ketikan keyboard yang tak pernah benar-benar berhenti.Di ruang bagian keuangan, hanya ada tiga meja yang tersusun membentuk huruf U. Tidak terlalu luas, tapi cukup nyaman untuk mereka bertiga—Nika, Dean, dan Gendis. Rak arsip berdiri penuh map biru dan abu-abu di dinding belakang. Whiteboard kecil di samping pintu dipenuhi catatan deadline dan angka-angka target.Dean sedang fokus di depan layar, mengerjakan rekonsiliasi laporan pengeluaran minggu lalu. Lengan kemejanya digulung sampai siku. Gendis sibuk menghitung ulang data invoice sambil sesekali mengunyah permen karet. Sementara Nika… sejak tadi lebih banyak diam.Ia menatap lembar Excel di hadapannya, tapi pikiran
***Senin siang, Ajeng berdiri di dalam butiknya yang berada di lantai dasar sebuah gedung komersial elite Jakarta Selatan. Ruangan itu wangi kain baru dan parfum lembut. Beberapa karyawan sedang melayani pelanggan, sementara Ajeng fokus memeriksa desain koleksi terbaru di macbook miliknya. Wajahnya terlihat tenang, seolah tidak ada badai yang sedang menunggu. Pintu butik terbuka cukup keras sehingga lonceng kecil di atasnya berdenting nyaring. Ajeng mendongkak. Mamanya masuk dengan langkah cepat, wajahnya tegang. Di belakangnya, Mentari berjalan dengan ekspresi kesal yang sama sekali tidak bisa disembunyikan. Beberapa pegawai saling melirik, merasakan aura tidak biasa. “Mama?” Ajeng berdiri tegak. “Ada apa?”Tanpa basa-basi, Mamanya langsung berkata dengan suara tertahan namun penuh amarah. “Kamu tidak bilang apa-apa soal pertemuan kemarin!”Ajeng menghela napas pelan. Ia sudah menduga kabar itu tidak akan lama tersembunyi.
***Minggu pagi di villa teras begitu sejuk. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan pinus, sementara sinar matahari perlahan menyelinap masuk melalui jendela-jendela besar ruang makan. Udara di kawasan puncak Bogor memang selalu membawa ketenangan yang berbeda, dingin, bersih, dan terasa jauh hiruk-pikuk Jakarta. Nika duduk di kursi kayu panjang, secangkir teh hangat di tangannya. Semalam ia hampir tidak bisa tidur nyenyak, terlalu banyak yang dipikirkan. Pernikahan, statusnya nanti, keputusan tetap bekerja sampai hamil. Dan tentu saja, posisinya sebagai istri kedua. Di meja makan, Oma Laila sesekali menyuapkan potongan buah dari piring Opa Remon. Bu Dania berbincang pelan dengan Pak Harman tentang menjadi pengajar, dulu sebelum menikah dengan suaminya, Bu Dania sempat pernah jadi guru TK. Daniel duduk di samping Ajeng, tangannya sesekali akan menyentuh tangan Ajeng. Selesai sarapan, mereka berpindah ke ruangan tengah. Opa Remon duduk di kursi utam
**** Satu Minggu berlalu, Sabtu sore ini Nika dan Ayahnya akan ke puncak Bogor, mereka dijemput oleh salah satu supir keluarga Daniel. Dimana besok, kedua keluarga tersebut akan memulai perkenalan dan membahas soal pernikahan Nika dan Daniel. Sebuah mobil hitam berhenti di depan gang menuju kontrakan yang ditinggal Nika dan Ayahnya. Supir keluarga Daniel membukakan pintu belakang mobil. “Silahkan Mbak Nika, Pak.” ucapnya hormat. Nika menoleh pada Ayahnya, Pak Herman mengenakan kemeja panjang warna abu-abu dan celana bahan hitam, beliau terlihat rapi, meski wajahnya menyimpan sedikit ketegangan. “Siap, Yah?” tanya Nika pelan. Pak Herman tersenyum tipis. “InsyaAllah siap.” Perjalanan menuju kawasan puncak terasa cukup panjang. Mobil melaju meninggalkan hiruk-pikuk kota, perlahan memasuki jalanan berkelok dengan pemandangan pepohonan hijau di kiri-kanan. Udara semakin sejuk, kabut tipis mulai turun saat mereka mendekati area perbukitan.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.