Masuk***
Di jam pulang, lagi-lagi Nika bertemu dengan Daniel dan Garu. Sebelum kedua pria itu melihatnya, Nika buru-buru mengalihkan pandangannya dan berjalan cepat menuju parkiran khusus motor. “Kenapa harus ketemu lagi sih,” gumamnya. Nika tidak langsung pergi, ia masih duduk di atas motor nya. Sengaja masih disana, soalnya kalau jalan sekarang takut ketemu lagi, apalagi kalau mau keluar area parkiran itu melewati jalan khusus mobil Daniel. “Sudah pergi belum ya?” “Tapi walaupun masih ada, harusnya gak apa-apa kan mereka pasti sudah masuk mobil.” ucapnya pelan. parkiran mulai ramai oleh para karyawan yang akan pulang juga, karena sudah merasa lama disana, akhirnya Nika melajukan motornya. Saat melewati parkiran khusus Daniel, Nika bisa melihat di sana sudah tidak ada mobil milik Daniel. Itu berarti sudah pergi. Ia bisa bernafas lega, namun tetap saja hatinya masih belum tenang karena belum memberitahu Ayahnya soal tawaran jadi istri kedua. Jalanan sore ini seperti biasa akan macet, beruntung nya sedang tidak hujan. Tapi tetap saja suka kesal kalau lagi macet gini dengar suara bising klakson dari pengendara lain. Kalau lagi gak macet bisa sampai di rumah setengah jam, berhubung setiap berangkat dan pulang kerja selalu kejebak macet, jadi bisa menghabiskan waktu satu jam bahkan bisa lebih kalau lagi macet parah. Setelah satu jam, akhirnya Nika sampai dikontrakan jam enam sore. Terlihat ayahnya sudah bersiap mau berangkat ke masjid untuk shalat berjamaah magrib. Nika turun dari motornya, “Assalamualaikum” “Waalaikum salam, Ayah mau ke masjid, itu motornya langsung masukin ke dalam, tadi siang ada yang kehilangan motor.” ucap Ayah nya. Nika mengangguk, setelah Ayahnya pergi. Baru Nika memasukan motornya ke dalam. Biasanya ia suka di taruh di luar bahkan sampai malam, tapi berhubung ada tetangganya yang kemalingan motor, jadi buru-buru di masukin, sayang juga kalau motor nya ikut hilang. Mana di belinya pas sudah kerja lagi. Seperti biasa Nika akan mengecek apa ayahnya sudah masak atau belum, ternyata sudah. Ada tahu goreng sama sayur bening. Nika memutuskan untuk mandi, ayahnya pasti akan pulang nanti setelah shalat isya, jadi ia mengunci pintu depan dulu sebelum mandi. . Di jam setengah delapan malam, Pak Herman sudah pulang dari masjid. Mereka makan malam bersama, makan malam bersama tidak bisa di lakukan setiap hari, karena memang setiap minggunya pasti ada aja yang membuat Nika lembur. Sambil makan sesekali Nika melirik Ayahnya, “Apa malam ini aja ya ngasih taunya, kalau nunggu libur kerja masih lama.” ucapnya dalam hati. Pak Herman menyadari kalau putrinya itu sesekali melirik nya, “Ada apa, Nak?” Tanya Pak Herman. Nika sempat terkejut tapi hanya sebentar, “Ada yang mau aku bicarakan sama Ayah” “Kalau gitu nanti aja kalau udah selesai makan,” balas Ayahnya. Nika mengangguk. Beberapa menit kemudian, mereka sudah menyelesaikan makannya. Nika merapikan sisa makannya, menaruh makanan yang belum habis di tempat tertutup, ia juga mencuci piring dan gelas bekas mereka. Ayahnya sudah berpindah tempat di dekat tv. Sebelum menyusul ayahnya, Nika mengatur napasnya dulu, “Bismillah, semoga gak bikin Ayah marah.” gumam Nika. Tapi sih seharusnya gak perlu marah juga, kan Nika itu ditawari bukan yang jadi pelakor di hubungan rumah tangga bosnya. Setelah merasa sedikit tenang, Nika menyusul ayahnya. Ia duduk di hadapannya. “Ayah, kemarin ada yang ngasih aku tawaran.” ucap Nika. “Tawaran apa? Kerjaan?” Tanya Pak Herman. Nika menggelengkan kepalanya, “Bukan, Ayah jangan marah ya, kalau aku kasih tau tawarannya.” “Selama bukan yang aneh-aneh ayah gak akan marah,” “Istri Bos aku ngasih tawaran, beliau minta aku jadi istri kedua suaminya.” ucap Nika pelan tapi masih bisa didengar oleh Ayahnya. “Astagfirullah, Nak... ” Nika memberanikan menatap Ayahnya. “Mereka sudah menikah sebelas tahun tapi belum punya anak, kata Bu Ajeng, beliau tidak bisa ngasih anak ke Pak Daniel, terus...... Nika menceritakan semuanya apa yang diucapkan Ajeng, soal keluarga Daniel yang setuju kalau Nika yang harus jadi madunya. Dan Mama serta adik tiri Ajeng yang tidak setuju. “Nak, jadi madu itu gak mudah. Pasti banyak lika-likunya, apalagi ada yang gak suka, tapi Ayah serahkan semuanya ke kamu, karena yang akan menjalankan rumah tangga itu kamu bukan Ayah.” ucap Pak Harman. “Kamu sendiri suka gak sama Pak Daniel?” tanya Pak Herman. “Nggak, kan suami orang.” jawab Nika. “Kalau kamu terima jadi istri keduanya bos kamu, mental kamu harus kuat.” ucap Pak Herman. “Nika sebenarnya mau nolak, tapi setelah di pikir-pikir lagi, ada keuntungan yang bisa kita ambil.” ucap Nika. “Maksudnya?” “Nika sudah pikirkan dari tadi pagi, kalau Ayah gak masalah aku jadi istri kedua, rencananya aku mau minta syarat ke mereka.” “Apa syaratnya?” “Mereka harus mau ngebiayain pengobatan Ayah sampai sembuh, aku juga mau minta rumah buat kita, gak perlu mewah yang penting nyaman, kalau udah nikah gak mau tinggal satu rumah sama istri pertama, harus pisah rumah, dan Ayah harus ikut aku, pernikahannya juga harus dirahasiakan sampai benar-benar siap di publish.” ucap Nika. “Nak,” Nika menggenggam tangan ayah nya, “Ayah gak perlu khawatir, semuanya sudah aku pikirkan, mereka pilih aku jadi istri keduanya Pak Daniel karena mereka ingin punya keturunan, ingin punya pewaris, kalau kita gak ngasih persyaratan, enak di mereka.” ucap Nika. “Kamu sudah benar-benar yakin?” “Aku udah yakin yah, besok aku akan bertemu dengan Bu Ajeng” jawab Nika. Pak Herman memeluk Nika, bahkan sampai meneteskan air matanya. “Maafin Ayah ya nak, gara-gara Ayah kamu harus begini, andai Ayah jadi orang berada pasti hidup kamu gak akan menderita dari kecil, andai Ayah gak penyakitan, pasti kamu gak akan capek kerja tapi uangnya buat pengobatan Ayah.” Nika menggelengkan kepalanya di pelukan ayahnya, “Ayah jangan bilang gitu, aku bangga jadi anak Ayah, terima kasih udah mau bawa aku, kalau Ayah gak bawa aku, pasti sekarang aku sama Ibu, sama selingkuhannya.” “Kita harus percaya, kebahagian akan datang ketika kita selalu sabar dan mau bertahan.” ucapnya. Nika tau, ini bukan keputusan yang mudah. Benar apa yang Ayahnya katakan, ia harus siap mental ketika sudah menikah nanti. Bahkan yang jadi istri satu-satunya saja harus kuat mental, harus tetap kuat dan jangan mudah menyerah. setiap rumah tangga pasti akan ada badai nya, tidak semuanya selalu indah. Adakalanya sepasang suami istri berantem, ada kalanya terjadi kesalahpahaman, dan yang penting itu komunikasi harus tetap terjaga.***Di jam pulang, lagi-lagi Nika bertemu dengan Daniel dan Garu. Sebelum kedua pria itu melihatnya, Nika buru-buru mengalihkan pandangannya dan berjalan cepat menuju parkiran khusus motor.“Kenapa harus ketemu lagi sih,” gumamnya.Nika tidak langsung pergi, ia masih duduk di atas motor nya. Sengaja masih disana, soalnya kalau jalan sekarang takut ketemu lagi, apalagi kalau mau keluar area parkiran itu melewati jalan khusus mobil Daniel.“Sudah pergi belum ya?”“Tapi walaupun masih ada, harusnya gak apa-apa kan mereka pasti sudah masuk mobil.” ucapnya pelan.parkiran mulai ramai oleh para karyawan yang akan pulang juga, karena sudah merasa lama disana, akhirnya Nika melajukan motornya.Saat melewati parkiran khusus Daniel, Nika bisa melihat di sana sudah tidak ada mobil milik Daniel. Itu berarti sudah pergi.Ia bisa bernafas lega, namun tetap saja hatinya masih belum tenang karena belum memberitahu Ayahnya soal tawaran jadi istri kedua.Jalan
***Nika sudah sampai di kantor, ia baru saja menaruh tasnya di atas meja. Kedua temannya baru juga datang, Gendis langsung mendekati Nika, sementara Dean sedang membersihkan meja kerjanya dari debu.“Gimana? Om Herman udah di kasih tau?” tanya Gendis.Nika menggeleng lemah, “Belum, masih bingung harus mulai dari mana.” jawab Nika.“Kayaknya nanti aja kalau libur kerja.” lanjut Nika.“Sebelum kamu ngasih tau, sebaiknya kamu tanya dulu soal poligami, apa pandangan Ayah kamu soal punya istri dua.” saran Dean sambil menatap Nika.“Huh. Sebelum ngasih tau Ayah, aku masih bingung sama diri sendiri.” ucap Nika.“Bingung kenapa?” tanya Gendis sambil mengerutkan keningnya.“Bingung mau terima atau tolak,” jawab Nika.“Tanya sama hati kamu sendiri, kalau kamu terima berarti kamu harus lebih kuat lagi, karena kedepannya bakalan banyak ujian hidupnya,” ucap Dean.“Jujur ya, aku pengen nerima karena pengen mereka bantu pengobatan Ayah, tapi di satu sisi a
*** Nika sampai dikontrakan jam delapan malam, saat ia masuk ternyata Ayahnya belum tidur. Biasanya kalau ia lembur Ayahnya kadang masih nunggu dia pulang, kadang juga sudah tidur duluan. “Kenapa belum tidur, yah?” Tanya Nika mencium tangan Ayahnya. Nika bisa melihat di atas meja ada beberapa kertas, sepertinya Ayahnya sedang memeriksa tugas anak-anak sekolah. Tidak biasanya Ayahnya memeriksanya sampai malam hari, biasanya sore juga sudah selesai diperiksa. “Belum selesai ini, lima kertas lagi belum diperiksa. Ayah juga belum ngantuk” jawab Pak Herman tangannya memegangi bolpoin. “Kamu sudah makan malam?” Tanya Pak Herman sambil menatap Putrinya. Nika menganggukkan kepalanya, “Sudah tadi bareng Gendis sama Dean, kalau Ayah udah makan belum?” Tanyanya. “Ayah juga udah, kamu bersih-bersih sana terus istirahat.” titah Pak Herman. “Ayah juga, jangan begadang.” ucap Nika. “Iya, lagian baru juga jam delapan.” balas Pak Herman. Nika masuk ke kamar untuk menaruh tas dan mengambil pa
***Di jam lima sore kurang lima menit, Nika, Dean dan Gendis sudah mulai bersiap untuk pulang. Namun kegiatan mereka terhenti ketika pintu ruangan kerja mereka dibuka dari luar.ketiganya terkejut saat tahu siapa yang datang, Ajeng. Istri dari atasan mereka. Dean dan Gendis saling tatap, lalu keduanya melirik ke arah Nika.“Selamat sore!” Sapa Ajeng.“Sore juga, Bu!” Balas mereka bertiga.Jantung Nika sudah berdetak gak karuan, ia takut tiba-tiba kena amuk istri atasannya itu.“Sudah pada mau pulang ya?”“Iya Bu, kebetulan kerjaan kita sudah selesai. Jadi sudah mulai beres-beres,” jawab Gendis.Terlihat Ajeng mengangguk-anggukkan kepalanya, “Saya ada perlu dengan Anika, kalau kalian berdua mau pulang duluan, silahkan.” ucap Ajeng.Gendis dan Dean kembali saling tatap, lalu mereka berdua berpamitan.Dan sekarang di ruangan tersebut hanya ada Nika dan Ajeng, Ajeng mendekat dan berdiri di hadapan meja kerja Nika.“Ada yang mau saya bica
*** Arunika Cahaya, Nika panggilannya. Ia merupakan karyawan staf bagian keuangan di sebuah perusahaan besar yang ada di Jakarta. Di usianya yang baru dua puluh lima tahun, ia bersyukur tidak pernah dipaksa untuk buru-buru menikah oleh Papanya. Sementara Mamanya? Sudah menikah lagi dan tinggal jauh di Pontianak. Nika hanya tinggal berdua dengan Papanya yang bekerja sebagai guru di salah satu SMA di dekat rumah nya. “Aku baru ingat, seminggu lagi ulang tahun perusahaan, kamu mau datang gak?” tanya Gendis. Teman kerja Nika. “Harus datang, kamu udah 3 tahun kerja di sini tapi belum pernah ikut acara kantor,” ucap Dean. Nika menghela napasnya, ia merupakan orang yang mudah bosan, tidak suka datang ke tempat yang begitu ramai. Menurutnya lebih enak tidur di rumah daripada harus datang ke acara seperti itu. “Kita liat aja nanti, kalau mood aku bagus berarti mau datang,” balas Nika. “Yaelah, pokoknya kamu harus datang. Nanti pulang kerja kita ke butik Tante aku,” ucap Gendis. “Gak p







