/ Rumah Tangga / Istri Kedua / 14. Tidak setuju

공유

14. Tidak setuju

작가: Nita
last update 게시일: 2026-02-26 20:28:10

***

Senin siang, Ajeng berdiri di dalam butiknya yang berada di lantai dasar sebuah gedung komersial elite Jakarta Selatan. Ruangan itu wangi kain baru dan parfum lembut. Beberapa karyawan sedang melayani pelanggan, sementara Ajeng fokus memeriksa desain koleksi terbaru di macbook miliknya.

Wajahnya terlihat tenang, seolah tidak ada badai yang sedang menunggu.

Pintu butik terbuka cukup keras sehingga lonceng kecil di atasnya berdenting nyaring.

Ajeng mendongkak. M
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Istri Kedua   Chapter 15

    ***Senin siang itu kantor terasa lebih padat dari biasanya. Matahari Jakarta sedang terik-teriknya, cahayanya menembus tirai tipis jendela lantai delapan dan membentuk garis-garis terang di lantai keramik. Suara klakson samar terdengar dari bawah, bercampur dengan dengungan AC dan ketikan keyboard yang tak pernah benar-benar berhenti.Di ruang bagian keuangan, hanya ada tiga meja yang tersusun membentuk huruf U. Tidak terlalu luas, tapi cukup nyaman untuk mereka bertiga—Nika, Dean, dan Gendis. Rak arsip berdiri penuh map biru dan abu-abu di dinding belakang. Whiteboard kecil di samping pintu dipenuhi catatan deadline dan angka-angka target.Dean sedang fokus di depan layar, mengerjakan rekonsiliasi laporan pengeluaran minggu lalu. Lengan kemejanya digulung sampai siku. Gendis sibuk menghitung ulang data invoice sambil sesekali mengunyah permen karet. Sementara Nika… sejak tadi lebih banyak diam.Ia menatap lembar Excel di hadapannya, tapi pikiran

  • Istri Kedua   14. Tidak setuju

    ***Senin siang, Ajeng berdiri di dalam butiknya yang berada di lantai dasar sebuah gedung komersial elite Jakarta Selatan. Ruangan itu wangi kain baru dan parfum lembut. Beberapa karyawan sedang melayani pelanggan, sementara Ajeng fokus memeriksa desain koleksi terbaru di macbook miliknya. Wajahnya terlihat tenang, seolah tidak ada badai yang sedang menunggu. Pintu butik terbuka cukup keras sehingga lonceng kecil di atasnya berdenting nyaring. Ajeng mendongkak. Mamanya masuk dengan langkah cepat, wajahnya tegang. Di belakangnya, Mentari berjalan dengan ekspresi kesal yang sama sekali tidak bisa disembunyikan. Beberapa pegawai saling melirik, merasakan aura tidak biasa. “Mama?” Ajeng berdiri tegak. “Ada apa?”Tanpa basa-basi, Mamanya langsung berkata dengan suara tertahan namun penuh amarah. “Kamu tidak bilang apa-apa soal pertemuan kemarin!”Ajeng menghela napas pelan. Ia sudah menduga kabar itu tidak akan lama tersembunyi.

  • Istri Kedua   13. Dua Minggu lagi

    ***Minggu pagi di villa teras begitu sejuk. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan pinus, sementara sinar matahari perlahan menyelinap masuk melalui jendela-jendela besar ruang makan. Udara di kawasan puncak Bogor memang selalu membawa ketenangan yang berbeda, dingin, bersih, dan terasa jauh hiruk-pikuk Jakarta. Nika duduk di kursi kayu panjang, secangkir teh hangat di tangannya. Semalam ia hampir tidak bisa tidur nyenyak, terlalu banyak yang dipikirkan. Pernikahan, statusnya nanti, keputusan tetap bekerja sampai hamil. Dan tentu saja, posisinya sebagai istri kedua. Di meja makan, Oma Laila sesekali menyuapkan potongan buah dari piring Opa Remon. Bu Dania berbincang pelan dengan Pak Harman tentang menjadi pengajar, dulu sebelum menikah dengan suaminya, Bu Dania sempat pernah jadi guru TK. Daniel duduk di samping Ajeng, tangannya sesekali akan menyentuh tangan Ajeng. Selesai sarapan, mereka berpindah ke ruangan tengah. Opa Remon duduk di kursi utam

  • Istri Kedua   12. Puncak

    **** Satu Minggu berlalu, Sabtu sore ini Nika dan Ayahnya akan ke puncak Bogor, mereka dijemput oleh salah satu supir keluarga Daniel. Dimana besok, kedua keluarga tersebut akan memulai perkenalan dan membahas soal pernikahan Nika dan Daniel. Sebuah mobil hitam berhenti di depan gang menuju kontrakan yang ditinggal Nika dan Ayahnya. Supir keluarga Daniel membukakan pintu belakang mobil. “Silahkan Mbak Nika, Pak.” ucapnya hormat. Nika menoleh pada Ayahnya, Pak Herman mengenakan kemeja panjang warna abu-abu dan celana bahan hitam, beliau terlihat rapi, meski wajahnya menyimpan sedikit ketegangan. “Siap, Yah?” tanya Nika pelan. Pak Herman tersenyum tipis. “InsyaAllah siap.” Perjalanan menuju kawasan puncak terasa cukup panjang. Mobil melaju meninggalkan hiruk-pikuk kota, perlahan memasuki jalanan berkelok dengan pemandangan pepohonan hijau di kiri-kanan. Udara semakin sejuk, kabut tipis mulai turun saat mereka mendekati area perbukitan.

  • Istri Kedua   12. Kumpul

    ***Siang itu suasana di mansion Pak Mahardi terasa tenang, disana hanya ada Daniel, Ajeng dan Mamanya. Yang lainnya sedang pergi memancing di pemancingan milik Opa Rendi, Adik dari Oma Laila. Daniel duduk di kursi rotan yang berada di taman belakang mansion, punggungnya tegak ketika Istri dan Mamanya ikut gabung. Tadi Daniel sempat memberitahu mereka, ada yang ingin ia bicarakan. Dan Daniel sengaja memilih tempat terbuka saat ngobrol bersama Istri dan Mamanya. Daniel menghela napas panjang sebelum membuka obrolan. “Mah, Jeng. Aku mau bahas soal Nika,” ucap Daniel. Ajeng menatap Daniel sekelis, lalu kembali memandang ke depan. Menatap berbagai jenis bunga. Bu Dania langsung menoleh, “Soal apa lagi?”“Nika menyampaikan keinginannya, kalau nanti kita menikah. Dia ingin tinggalkan jauh dari Jakarta.” Ajeng langsung menoleh, “Jauh itu maksudnya?”“Bukan di Jakarta, dia ingin hidup tenang dengan Ayahnya.”Bu Dania terdiam sejenak, “

  • Istri Kedua   11. Keinginan

    ****Malam sudah semakin larut. Hening menyelimuti kontrakan yang dihuni Nika dan Ayahnya. Lampu kamar Nika menyala redup, hanya satu bohlam kuning yang menggantung di tengah ruangan, menerangi dinding kusam. Nika sudah berada di ranjang kecilnya. Ia baru saja mengganti pakaian dengan piyama panjang bermotif bunga kecil. Rambutnya dibiarkan tergerai, tubuhnya terasa lelah padahal hari ini lebih banyak bersantai, tapi tetap saja merasa lelah. Matanya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin terpejam, pikirannya terlalu penuh. Ia memandangi langit-langit kamar, sesekali menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Di dadanya ada perasaan campur aduk yang sulit ia definisikan. Antara berharap, takut dan ragu. Nika teringat percakapannya dengan Daniel beberapa menit yang lalu. Tentang pernikahan dan tentang tempat tinggal nanti setelah menikah. Nika menggigit bibir bawahnya pelan. Ia bukan perempuan bodoh yang tidak memahami konsekuen

  • Istri Kedua   06. Memberikan Jawaban

    *** Nika sudah membuat keputusan kalau ia akan menerima tawaran jadi istri kedua, berat memang, takut tidak sanggup. Namun demi Ayahnya ia rela menjadi istri kedua. Sekarang ia sudah berada di kantor, belum menghubungi Ajeng soal jawabannya. Nika akan menunggu Ajeng yang le

  • Istri Kedua   05. Keputusan

    ***Di jam pulang, lagi-lagi Nika bertemu dengan Daniel dan Garu. Sebelum kedua pria itu melihatnya, Nika buru-buru mengalihkan pandangannya dan berjalan cepat menuju parkiran khusus motor.“Kenapa harus ketemu lagi sih,” gumamnya.Nika tidak langsung pergi, ia masih duduk di ata

  • Istri Kedua   02. Permintaan

    ***Di jam lima sore kurang lima menit, Nika, Dean dan Gendis sudah mulai bersiap untuk pulang. Namun kegiatan mereka terhenti ketika pintu ruangan kerja mereka dibuka dari luar.ketiganya terkejut saat tahu siapa yang datang, Ajeng. Istri dari atasan mereka. Dean dan Gendis saling t

  • Istri Kedua   01. Sebuah Pesan

    *** Arunika Cahaya, Nika panggilannya. Ia merupakan karyawan staf bagian keuangan di sebuah perusahaan besar yang ada di Jakarta. Di usianya yang baru dua puluh lima tahun, ia bersyukur tidak pernah dipaksa untuk buru-buru menikah oleh Papanya. Sementara Mamanya? Sudah menikah lagi dan tinggal ja

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status