INICIAR SESIÓNArthur berdiri di samping meja kerjanya. Jemarinya mengusap tepian meja, memandangi tempat kerja yang selalu dibanggakannya bertahun-tahun ini.“Tuan.” Kendrick masuk ke dalam ruang kerja Arthur setelah menyapa.Kendrick meletakkan setumpuk berkas di atas meja.“Ini semua tawaran akuisisi dari beberapa perusahaan.” Kendrick bicara dengan tatapan sedih.“Apa Anda akan benar-benar melepas perusahaan ini, Tuan? Pabrik kita mulai dibangun, setelah selesai, kita bisa bangkit lagi, Tuan.” Kendrick benar-benar tidak bisa membiarkan dia dan karyawan lain kehilangan tempat bekerja mereka.“Setelah selesai dibangun, kita juga tidak tahu apakah perusahaan ini masih bisa berjalan saat waktunya tiba nanti.” Nada bicara Arthur berbalut keputusasaan. “Jika menjual perusahaan ini, setidaknya kamu dan para karyawan masih tetap bisa bekerja di sini.”Bola mata Kendrick membola. “Tidak, saya tidak akan bekerja di tempat yang tidak ada Anda.”Kendrick menolak dengan tegas.“Kita sudah bersama-sama, mengh
Kian sudah selesai dengan Hendra.Dia keluar dari ruang kunjungan, tatapannya langsung tertuju pada Arthur yang menantinya.“Sudah selesai?” Arthur memastikan. Matanya menelisik ke setiap tubuh Kian, memastikan istrinya tak terluka.Kian mengangguk-angguk pelan. Meski yang dilakukannya tak bisa mengembalikan putranya, setidaknya Kian sudah meluapkan penyesalannya pernah bertemu dengan Hendra.“Kita pulang sekarang?” tanya Kian.Arthur mengangguk-angguk pelan. Dia menautkan jemari mereka, sebelum mengajak Kian pergi dari kantor polisi.Keduanya masuk ke dalam mobil.Sebelum menyalakan mesin, Arthur mendapat panggilan dari Kendrick.“Ada apa?” tanya Arthur.“Tuan, penyidik sudah berhasil menangkap pelaku pembakaran pabrik beserta barang buktinya. Dan, Anda pasti tidak akan terkejut mendengar siapa dalang di belakangnya.”Arthur diam mendengar ucapan Kendrick, sampai dia berucap, “Hendra?”“Benar, Tuan. Dengan begini, kita benar-benar bisa menuntut Hendra sampai pria itu membusuk di penj
Di tempat lain.Arron baru saja keluar dari bandara di kota tempat dia mengasingkan Dimitri.Membawa beberapa orang bayaran, Arron ditemani Malvin menuju rumah tempat Dimitri tinggal.“Saya masih tidak menyangka Tuan Dimitri masih menyimpan dendam setelah mendapat kebaikan dari Anda. Jika bukan karena Anda, saat ini dia sudah mendekam di penjara.” Malvin ikut geram mengetahui Dimitri terlibat dalam kasus Hendra.“Aku terlalu berbaik hati padanya. Bahkan dia tak sadar, jika selama ini bisa hidup tenang karena aku diam.” Arron mengembuskan napas kasar. “Kali ini, aku tidak akan berbaik hati lagi.Malvin mengangguk pelan.Mobil mereka menuju ke area pedesaan. Tempat terpencil yang Arron siapkan untuk mengisolasi Dimitri, sayangnya Dimitri masih bisa berhubungan dengan Hendra atas bantuan Hendra.Beberapa waktu berlalu. Mereka tiba di tempat tujuan.Rumah kecil yang berada di tengah ladang yang sangat luas.Mobil berhenti di halaman rumah.Malvin lebih dulu keluar sebelum membukakan pintu
Arthur membawa Kian kembali ke kamar. Dia juga memanggil dokter untuk memeriksa Kian.“Bagaimana kondisi istri saya sekarang, Dok?” Arthur memastikan.Dokter menatap Kian yang duduk. Ekspresi wajah dan sorot mata Kian sudah berubah normal. “Meski ini sangat mengejutkan, tekanan kemarin mungkin hanya efek syok yang diterimanya. Noan Kian sudah baik-baik saja sekarang, hanya saja tetap harus mengontrol emosinya agar tidak semakin tertekan.” Arthur mengangguk-angguk pelan mendengarkan penjelasan Dokter.Dia kembali menatap pada Kian yang terlihat sangat sedih.“Kalau begitu terima kasih, Dok.”Dokter mengangguk sebelum berpamitan pergi.Arthur duduk di tepian ranjang. Dia menggenggam telapak tangan Kian.“Kamu boleh menangis dan kecewa, tapi aku berharap kita bisa melalui semua ini bersama.” Arthur mengusap lembut tangan Kian, sebelum kembali bicara. “Kita tetap harus melanjutkan hidup kita, Kian. Putra kita juga pasti ingin melihat kita bahagia. Dia sudah di surga, dia lebih bahagia d
Keesokan harinya.Arthur terbangun dengan wajah terkejut. Dia baru saja mimpi sangat buruk sampai membuat wajahnya memucat.Arthur menetralkan detak jantungnya, sebelum menoleh ke samping untuk melihat kondisi Kian.Hingga betapa terkejutnya Arthur ketika tak mendapati Kian di sisi ranjang.“Kian.” Arthur melompat dari ranjang begitu saja. Arthur mencari ke balkon, pintu di sana terkunci rapat. Kakinya melangkah menuju kamar mandi, tapi istrinya juga tidak ada di dalam sana.“Kian.” Arthur memanggil panik.Arthur keluar dari kamar, suaranya yang lantang mencari keberadaan Kian, membuat para pelayan terkejut.“Ada apa, Tuan?” Salah satu pelayan memberanikan diri bertanya saat melihat kepanikan di wajah Arthur.“Di mana Kian? Kamu melihatnya?” Arthur tak bisa menyembunyikan kecemasannya.“Nona Kian?” Pelayan terkejut. “Saya belum melihatnya sejak memulai pekerjaan, Tuan.”Wajah Arthur semakin memucat. “Cari Kian, kalian harus menemukannya!” perintah Arthur.Semua pelayan dibuang kalang
Arthur berdiri di sisi ranjang. Wajahnya pucat dan panik melihat kondisi Kian yang seperti ini.Tidak menangis, tidak tertawa.Kian diam dengan tatapan kosongnya.“Bagaimana kondisinya, Dok?” Arthur bertanya setelah Dokter selesai memeriksa Kian.Dokter menoleh pada Arthur, kepalanya menggeleng.“Untuk sekarang, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Pasien dalam kondisi syok berat. Pikirannya mungkin kosong sehingga dia menjadi seperti ini.” Dokter menatap sedih melihat kondisi Kian. “Jika dia mau sadar, dia akan sadar. Yang terpenting sekarang pastikan dia tak sendiri dan selalu diawasi untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.”Tubuh Arthur lemas mendengar penjelasan Dokter. Dia kembali menatap Kian yang diam dengan tatapan menghadap ke langit-langit kamar.Arthur mengangguk. “Aku mengerti, Dok.”Setelah Dokter selesai memeriksa dan meresepkan obat. Malvin mengantar Dokter untuk meninggalkan kamar Arthur.Arthur memandang pada Kian, bagaimana caranya mengembalikan keceriaan di wajah







