เข้าสู่ระบบSuara Arthur dalam dan penuh penekanan. Dia tidak mau bersikap arogan, tapi mengingat bagaimana orang-orang ini terus menekannya setelah dia mengambil jabatan ini, Arthur tidak bisa lagi hanya diam tunduk pada para pemegang saham yang hanya memikirkan keuntungan pribadi.“Tentu saja kami ingin tahu perkembangan kasus kebakaran ini, serta ingin tahu bagaimana tindakanmu sebagai pemimpin.” Salah satu pemegang saham membuka suara setelah melihat tatapan Arthur yang sangat tajam.Senyum Arthur terangkat tipis. Dia tetap tenang menatap kegelisahan para pemegang saham setelah mendengar ucapannya.“Sebagai pemimpin tertinggi perusahaan ini, saya tentu tidak akan melepas tanggung jawab pada masalah ini.” Arthur kembali bicara dengan nada penuh penekanan. “Jika memang pabrik kita tidak bisa bangkit lagi, saya juga akan bertanggung jawab menyeluruh atas kerugian yang kita terima.”Arthur menelisik satu persatu wajah para pemegang saham. Di antaranya tersenyum tipis.Benar tebakannya. Mereka ha
Kendrick menjalankan perintah Arthur.Bersama beberapa tim investigasi, mereka lebih dulu pergi ke asrama pegawai untuk mulai meminta keterangan.Dua security sudah ada di hadapan Kendrick, keduanya mulai menjelaskan apa yang mereka lakukan malam sebelum kejadian kebakaran.“Benar, saya bertugas di gedung utama. Sedangkan dia ada di gedung sayap kanan, kebakaran dimulai dari sayap kiri.” Petugas keamanan menjelaskan.“Waktu kejadian itu, setelah terdengar ledakan. Kami berlari mengecek gedung di sayap kiri yang sudah terbakar, setelahnya kami menyalakan alarm agar semua karyawan keluar dari pabrik. Dan siapa sangka, api muncul di tempat lain juga dan merambat dengan cepat.”Kening Kendrick berkerut dalam, bagaimana bisa api muncul di titik berbeda bersamaan?“Jadi, selain suara ledakan, kalian tidak melihat hal aneh lainnya?” Kendrick memastikan.Dua petugas ini menggeleng, sampai salah satunya mengingat.“Saya ingat, ada mobil keluar dari area pabrik saat kebakaran terjadi. Saya kira
Keesokan harinya.Arthur merapikan kemeja yang dipakainya sambil berjalan menghampiri Kian yang masih tertidur pulas.Arthur bangun lebih awal, dia harus melihat kondisi pabrik sebelum pergi ke perusahaan untuk menghadiri rapat dengan jajaran direksi.Arthur duduk di tepian ranjang, satu tangannya mengusap lembut kening istrinya. “Kian,” panggilnya lirih.Jemari Arthur terus mengusap lembut kening Kian, sampai sang istri membuka mata.Mata Kian perlahan mulai terbuka. Dia melihat sosok suaminya yang sudah berpakaian rapi ketika sudah membuka dengan sempurna kelopak matanya.“Kamu sudah mau berangkat ke kantor? Ini jam berapa?” Suara Kian sedikit serak. Dia bangun perlahan, Arthur membantu Kian bangun.Begitu sudah duduk di atas ranjang, tatapan Kian tertuju pada Arthur yang tersenyum padanya.“Ini masih gelap, kamu bisa tidur lagi jika masih mengantuk.” Arthur mengusap rambut Kian, sebelum kembali berkata, “Aku mau ke pabrik sebentar, setelahnya langsung ke perusahaan.”Melihat diamny
Malam hari.Arthur duduk di ruang kerjanya, membaca laporan kebakaran yang terjadi hari ini.Nilai kerugian sudah ditafsir, Arthur diam memandangi rincian kerugian yang dialami perusahaannya.Masih fokus pada laporan yang dibacanya di tablet pintar, Arthur mendengar suara ketukan pintu dari luar.Sebelum mempersilakan, pintu ruang kerjanya sudah lebih dulu terbuka.Tatapan Arthur tertuju pada sang kakek yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja.“Ini sudah larut lama, kenapa Kakek tidak beristirahat?” Arthur bangkit dari duduknya. Dia meninggalkan meja kerjanya dan menghampiri sang kakek.Arron menggeleng, napasnya berembus panjang.Arthur mengajak Arron duduk.Bahkan dia menuang teh untuk sang kakek.Arron menatap cangkir yang baru saja Arthur berikan, napasnya berembus pelan.“Ada apa? Kakek mau minum yang lain?” Arthur memperhatikan tatapan sang kakek yang tertuju pada cangkir.Arron menoleh Arthur, kepalanya menggeleng pelan. “Bukan.”Arron pelan-pelan menyesap teh yang masih meng
Arthur semakin terkejut mendengar apa yang Kian katakan.“Kamu ini bicara apa, huh? Siapa yang mengatakan itu?” Arthur langsung memeluk Kian. Direngkuhnya tubuh sang istri dengan sangat erat.Sedangkan Kian tenggelam dalam hangat pelukan suaminya, meski ada beban yang tak bisa dia ungkap.“Bagaimana bisa kamu mengatakan itu semua, hm? Bagaimana bisa kamu menyebut dirimu sendiri sebagai pembawa sial?”Mendengar apa yang Arthur katakan, tangis Kian semakin pecah. Kedua tangannya membalas pelukan Arthur dengan erat.Setelah beberapa saat menangis.Akhirnya Kian bisa sedikit tenang.Arthur mengajak Kian duduk. Jari-jarinya menghapus jejak air mata yang tertinggal di wajah Kian.Arthur menatap Kian yang terus menundukkan kepala.Napas Arthur berembus pelan. Dia menggenggam kedua telapak tangan Kian.“Kenapa kamu tiba-tiba mengatakan itu? Apa ada yang mengataimu seperti itu?” Arthur memastikan.Tidak mungkin Kian tiba-tiba menangis dan menyebut diri sendiri sebagai pembawa sial tanpa sebab
Tatapan Arthur tertuju pada bangunan yang sudah hangus terbakar.Api sudah padam, tapi belum ada yang diperbolehkan mendekat karena ditakutkan masih ada titik api yang menyala.“Pak, kami sudah meminta keterangan dari para karyawan dan mendata semua karyawan yang masuk malam ini.”Tatapan Arthur tertuju pada staff pabrik yang baru saja bicara.“Apa ada korban jiwa?” Arthur memastikan. Karena untuk sekarang, inilah yang terpenting.“Jika data absensi tidak salah, harusnya tidak ada, Pak. Semua karyawan berhasil meninggalkan bangunan sebelum api membesar.”Arthur menghela napas lega. Dia mengangguk-angguk pelan.“Baguslah,” kata Arthur meski wajahnya begitu lesu, “siapkan data untuk kerugian material yang para karyawan alami dan santunan untuk mereka yang terluka.” Staff mengangguk, sebelum meninggalkan Arthur.Arthur kembali diam memandang bangunan yang sudah berdiri kokoh selama bertahun-tahun dan menjadi mata pencaharian banyak orang, kini harus hangus tak bersisa.“Tuan, Anda istir







