Se connecterDua tahun menikah, Sadya Aishwarya belum juga dikaruniai anak—dan itu cukup bagi mertuanya untuk menganggapnya tidak layak. Arnesh Mahatma, suaminya, tak pernah membela. Hingga akhirnya keputusan besar Arnesh berhasil meruntuhkan dunia Sadya dalam sekejap. Dalam kekacauan itu, muncul Dirgantara Abisatya, atasan Sadya di kantornya yang membutuhkan seorang ‘kekasih pengganti’ demi menyelamatkan reputasinya di depan keluarga. Namun kedekatan pura-pura itu berubah menjadi keterikatan yang tak terduga. Dirgantara melihat luka-luka Sadya, melihat ketidakbahagiaannya, dan diam-diam bertekad memulihkan hidupnya. Dan untuk pertama kalinya, Sadya dilanda kebimbangan. Siapa yang akan dipilih Sadya? Arnesh yang dicintainya, atau Dirgantara yang mencintainya.
Voir plusUsia bayi mereka genap satu bulan malam itu. Rumah terasa lebih hangat, bukan karena lampu-lampu yang menyala di setiap sudut, melainkan karena kehadiran makhluk kecil yang kini menjadi pusat semesta mereka.Sadya duduk di sofa dekat jendela, menggendong bayinya dengan kedua tangan yang penuh kehati-hatian. Tubuh mungil itu terlelap, napasnya teratur, dadanya naik turun perlahan. Sadya menunduk, menatap wajah yang masih merah muda, dengan hidung kecil dan bibir yang sesekali bergerak seolah sedang bermimpi. Jemarinya menyentuh pipi lembut itu, nyaris tak berani, seakan takut mengusik tidur sang bayi.Sebulan lalu, rasa sakit, haru, dan takut bercampur jadi satu. Kini, semua itu terbayar dengan kehadiran Vanamala—Vala—yang berbaring damai dalam dekapannya.Langkah kaki terdengar dari arah kamar. Sadya mendongak ketika Dirgantara muncul. Lelaki itu sudah berpakaian rapi—kemeja gelap yang pas di tubuhnya, rambut disisir sederhana, dan aroma parfum yang samar. Ada sesuatu yang berbeda dar
Ruang bersalin terasa lebih tenang dibanding ruang operasi, meski aroma obat dan suara alat medis masih samar terdengar. Sadya terbaring dengan tubuh sedikit miring, wajahnya pucat namun matanya terbuka. Tubuhnya terasa berat, setiap gerakan seperti membutuhkan tenaga lebih. Namun di dadanya, ada kehangatan kecil yang membuat semuanya terasa layak diperjuangkan.Bayi perempuan itu berada dalam dekapan Sadya. Masih mungil, kulitnya kemerahan, napasnya naik turun perlahan. Dengan bantuan perawat, Sadya menyusui untuk pertama kalinya. Gerakannya kaku, canggung, tapi nalurinya bekerja dengan sendirinya. Saat bayi itu mulai mengisap, air mata Sadya kembali jatuh—kali ini bukan karena takut, melainkan haru yang tak terdefinisikan.Dirgantara berdiri di sisi ranjang, satu tangannya bertumpu di pagar besi, matanya tak lepas dari pemandangan itu. Dadanya terasa penuh. Ia menyaksikan perempuan yang ia cintai, lemah secara fisik namun luar biasa kuat, memberi kehidupan pada anak mereka.“Kamu he
Ruang meeting siang itu dipenuhi cahaya putih dan udara yang terasa dingin oleh pendingin ruangan. Di layar besar, salah satu staf tengah mempresentasikan proyek baru—grafik demi grafik berganti, suara penjelasan terdengar runtut dan penuh keyakinan. Dirgantara duduk di ujung meja panjang, tubuhnya tegak, sorot matanya tajam menyimak setiap detail yang dijelaskan di depan sana.Sesekali ia mengangguk, sesekali mencatat poin penting di tablet di depannya. Wajahnya tenang, profesional, sepenuhnya mencerminkan seorang pemimpin yang terbiasa berada di bawah tekanan dan pengambilan keputusan besar.“Target kita adalah groundbreaking tiga bulan ke depan,” suara staf itu terdengar tegas. “Dengan catatan seluruh izin bisa kita amankan dalam dua minggu—”Belum sempat kalimat itu selesai, ponsel Dirgantara yang tergeletak di samping tabletnya bergetar. Getarannya singkat, tapi cukup menarik perhatiannya. Ia melirik layar sekilas—nama Nenek Marisa tertera di sana.Alis Dirgantara sedikit berkeru
Kamar itu dipenuhi cahaya sore yang lembut, masuk melalui jendela besar yang menghadap ke hamparan hijau Ubud. Tirai tipis berwarna krem bergoyang pelan tertiup angin, menciptakan suasana hangat dan tenang. Di depan meja rias, Sadya duduk dengan punggung tegak, sementara Mira berdiri di belakangnya, sesekali memiringkan kepala, memastikan setiap detail riasan tampak sempurna.Gaun panjang berwarna hitam membalut tubuh Sadya. Potongannya sederhana namun elegan, jatuh mengikuti lekuk tubuhnya dengan anggun. Perutnya yang kini membola jelas terlihat—tanda kehidupan kecil yang tumbuh di dalam dirinya. Namun justru di situlah Sadya merasa paling ragu.Ia menatap bayangannya di cermin cukup lama. Tangannya refleks mengusap perutnya perlahan, lalu naik ke bagian pinggang dan lengan.“Aku kelihatan… gendut banget ya, Mir?” tanyanya pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.Mira yang tadinya fokus memperhatikan ponsel lantas mengangkat kepala. Ia menatap Sadya lewat cermin, menangk
Pagi itu, sinar matahari menembus kaca jendela kamar Sadya Aishwarya, memantul pada meja rias tempat ia baru saja selesai merapikan diri. Masih terlalu pagi, namun perempuan itu sudah menyiapkan sarapan untuk semua penghuni rumah, membersihkan rumah, dan menyiapkan pakaian untuk Arnesh—suaminya bek
Sadya masih duduk tegak di depan layar komputernya. Matanya menatap fokus pada deretan angka dan data laporan yang harus ia rampungkan sebelum sore. Meskipun hari ini sebenarnya ia sudah mengajukan izin untuk pulang lebih awal, ia tetap ingin meninggalkan meja kerjanya dengan semuanya dalam keadaan
Sudah lewat dari pukul tujuh malam, sebagian besar lantai kantor sudah gelap dan sunyi. Lampu ruangan menyisakan cahaya dari beberapa meja yang masih menyala. Salah satunya meja kerja Sadya. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, matanya fokus pada layar komputer meski kedua bola mata itu tampa
Dirgantara baru saja menyelesaikan meeting bersama para stakeholder proyek. Wajahnya serius, tubuhnya tegak. Dengan langkah lebar dan ekspresi tak banyak berubah, ia keluar dari ruang rapat menuju ruang kerjanya. Di belakangnya, ada Mira yang sejak tadi ikut dalam pembahasan karena proyek kali ini












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires