LOGINDua tahun menikah, Sadya Aishwarya belum juga dikaruniai anak—dan itu cukup bagi mertuanya untuk menganggapnya tidak layak. Arnesh Mahatma, suaminya, tak pernah membela. Hingga akhirnya keputusan besar Arnesh berhasil meruntuhkan dunia Sadya dalam sekejap. Dalam kekacauan itu, muncul Dirgantara Abisatya, atasan Sadya di kantornya yang membutuhkan seorang ‘kekasih pengganti’ demi menyelamatkan reputasinya di depan keluarga. Namun kedekatan pura-pura itu berubah menjadi keterikatan yang tak terduga. Dirgantara melihat luka-luka Sadya, melihat ketidakbahagiaannya, dan diam-diam bertekad memulihkan hidupnya. Dan untuk pertama kalinya, Sadya dilanda kebimbangan. Siapa yang akan dipilih Sadya? Arnesh yang dicintainya, atau Dirgantara yang mencintainya.
View MorePagi itu, sinar matahari menembus kaca jendela kamar Sadya Aishwarya, memantul pada meja rias tempat ia baru saja selesai merapikan diri. Masih terlalu pagi, namun perempuan itu sudah menyiapkan sarapan untuk semua penghuni rumah, membersihkan rumah, dan menyiapkan pakaian untuk Arnesh—suaminya bekerja, dan tak lupa bekal untuk Arnesh. Sejak dulu Sadya memang selalu membiasakan diri untuk bangun lebih awal sebelum penghuni yang lain.
Sadya bangkit dari duduknya. Ia berdiri di depan cermin, memeriksa kembali kemeja biru lembut yang dikenakannya, merapikan kerah, lalu menghela napas panjang. Matanya terlihat berbinar-binar kala Sadya menatap dirinya sendiri. Sadya meraih tasnya, setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, ia bergerak meninggalkan kamar. Namun begitu langkahnya tiba di anak tangga pertama, langkahnya terhenti. Suara dua orang yang sangat ia kenal terdengar jelas di balik dinding ruang dapur. Suara Arnesh, terdengar pelan, seolah menahan sesuatu. Dan suara lain, yang membuat dada Sadya langsung terasa sesak adalah suara Annisa, Ibu mertua Sadya. “Sudah dua tahun, Nesh. Dua tahun kamu menunggu.” Suara Annisa terdengar tajam, tanpa sedikit pun upaya meredam. “Kalau dia tidak bisa memberimu keturunan, untuk apa dipertahankan?” Sadya mematung. Kata ‘tidak bisa’ itu seperti pisau yang langsung menusuk hatinya. Berulang kali. Walaupun Sadya sudah terbiasa dengan kalimat-kalimat semacam itu, nyatanya ia tidak sekuat itu. “Bu, aku sama Sadya juga sudah berusaha. Ibu tahu kalau kami juga konsultasi dengan dokter dan mereka bilang kalau kami sama-sama sehat. Kalau memang Tuhan belum kasih rezeki mau gimana—” “Buat apa kamu buang-buang uang cuma untuk ke dokter kalau hasilnya tetap nihil? Dari sekian banyak usaha yang kalian lakukan, masa nggak ada satupun yang berhasil. Ibu sangat yakin kalau dia mandul!” ujar Annisa dengan nada tegas. “Kamu laki-laki. Kamu harus memiliki keturunan. Kalau perlu, menikah lagi. Ibu tidak keberatan. Istri dua tidak apa-apa. Yang penting Ibu bisa menggendong cucu sebelum Ibu mati!” Sadya menutup mulutnya dengan tangan, satu tangan lainnya mencengkram pinggiran tangga. Menahan isak yang meluap tanpa bisa dicegah seiring dengan dadanya yang sesak luar biasa. Perempuan itu tahu Ibu mertuanya tidak menyukainya sejak awal, tapi mendengar kata-kata itu… begitu gamblang, begitu kejam, begitu menyayat… rasanya seperti seluruh dunia runtuh menimpanya. Ia pikir selama ini ia cukup kuat. Ia mencoba mengikhlaskan setiap tatapan meremehkan, setiap sindiran kecil yang disamarkan sebagai ‘nasehat’. Namun yang satu ini bukan lagi nasehat, melainkan penghukuman. Sadya mengambil langkah perlahan, berusaha menahan gemetar. Ketika ia memasuki ruang makan, kedua orang itu langsung terdiam. Arnesh tampak terkejut saat melihat wajah istrinya yang memerah dan berlinang, dan saat bersamaan lelaki itu menyadari bahwa Sadya telah mendengar semuanya. Sementara Annisa terlihat tak acuh, seolah tidak menyesal sedikit pun. Sadya tidak berkata apa-apa. Ia tidak memiliki energi untuk itu. Jadi, ia berjalan mendekati Arnesh dan bersuara. “Aku… berangkat ya, Mas. Aku ada meeting penting pagi ini soalnya.” ucap Sadya lirih, suaranya hampir tidak terdengar. “Bu, aku berangkat dulu.” Tanpa menatap keduanya, Sadya berjalan keluar. Ia bahkan tidak peduli jika setelah ini Annisa akan kembali mencemoohnya. Perempuan itu berjalan menuju pintu depan dan masih mendengar Arnesh memanggilnya, namun ia terlalu takut untuk menoleh. Takut jika Sadya melihat wajah suaminya, tangisnya akan pecah lebih keras. Pintu rumah tertutup di belakangnya, tapi perkataan sang ibu mertuanya masih mengejar hingga jauh. “Nggak apa-apa, Dy.” Sadya menyandarkan kepalanya ke belakang, menarik napas sembari memejamkan mata kuat-kuat. “Udah biasa kan, Ibu begitu? Kamu hanya perlu terbiasa dengan hal itu.” Setelah berkendara selama 30 menit dengan menggunakan transportasi umum, Sadya akhirnya tiba di kantor. Sesampainya di ruangan Sadya duduk di meja kerjanya sambil memandangi jarum jam yang seakan bergerak lebih lambat dari biasanya. Tumpukan berkas di depannya masih belum tersentuh padahal jelas-jelas sebentar lagi meeting akan dimulai. Ia menatapnya, tapi pikirannya melayang ke tempat lain. Dua tahun pernikahan. Dua tahun perjuangan. Dua tahun menerima hasil pemeriksaan yang sama: tidak ada masalah pada dirinya, tidak ada masalah pada Arnesh. Dokter bilang mereka hanya butuh waktu. Tapi orang-orang tidak sabar. Terutama Ibu mertuanya. Sadya menarik napas panjang demi menghalau rasa sesaknya, namun masih saja, ia merasakan secuil pahit di tenggorokan. Kata ‘mandul’ itu terus berputar-putar di kepalanya. Perempuan itu tahu itu tidak benar, tapi bagaimana ia bisa melawan kata-kata yang diucapkan dengan begitu yakin? Bagaimana ia bisa merasa cukup ketika orang lain menganggap dirinya kurang? Ketika pikirannya tenggelam terlalu jauh, Sadya bangkit untuk mengambil dokumen di ruangan atasannya. Tepat saat Sadya berbalik, tanpa sadar tubuhnya nyaris terjungkal dan berkas-berkas di tangannya jatuh ke lantai. Bruk. Tanpa sengaja Sadya menabrak seseorang. Namun beruntungnya tubuh Sadya ditarik dengan cepat oleh lelaki itu. Setelah jeda selama beberapa saat, cepat-cepat Sadya menarik diri dari dekapan lelaki itu. “Ma—maaf, Pak…” Sadya langsung menundukkan wajah dan langsung berjongkok untuk mengambil dokumen yang berserakan di lantai. “Maaf, saya nggak sengaja. Saya tadi nggak dengar kalau Bapak masuk ke ruangan. Sekali lagi maaf, Pak.” Perempuan itu mendongak sedikit, dan mendapati sosok Dirgantara menatapnya dengan alis terangkat. Lelaki itu selalu tampak tegas, berwibawa, dan sulit dipahami. Namun kini tatapannya tidak menunjukkan kemarahan, melainkan… khawatir? “Dy?” tanya Dirgantara. “Kamu sakit?” Sadya menggeleng cepat, terlalu cepat hingga justru membuat ketidakjujurannya tampak jelas. “Tidak, Pak. Saya nggak apa-apa. Maaf, saya tadi sempat melamun. Saya nggak tahu kalau Bapak sudah datang.” Dirgantara menyipitkan mata sedikit. “Ngalamunin apa?” Sadya membuka mulut hendak menjawab, tapi suaranya tercekat. Ia menunduk kembali, menggenggam dokumen di tangannya erat-erat. “Maaf, Pak. Saya benar-benar minta maaf.” Dirgantara melunak. Ia menghela napas, lalu mencondongkan tubuh sedikit agar lebih sejajar dengan tinggi Sadya. “Ada apa?” tanyanya, kali ini lebih lembut. “Kamu kelihatan… tidak sehat.” Sadya mengerjap-ngerjap dan wajahnya terlihat gugup. “Saya nggak apa-apa, Pak,” jawabnya cepat. Ia takut jika terlalu lama berdiri di situ, tangisnya akan pecah dan kembali teringat akan ucapan Annisa. Namun Dirgantara tidak langsung menyingkir dari hadapan Sadya. Ia tetap berdiri di hadapan Sadya, memperhatikannya dengan cara yang membuat perempuan itu merasa telanjang dalam emosinya. “Dy…,” panggilnya, suaranya lebih tegas namun tidak menghakimi. “Kamu selalu bekerja dengan rapi dan nggak ceroboh. Tapi hari ini… kamu bahkan tidak menyadari kehadiran saya.” “Maaf, Pak.” Perempuan itu masih menunduk. “Kamu lagi ada masalah? Saya tahu kalau kamu lagi nggak baik-baik saja, Dy.” Pertanyaan itu sederhana. Namun dampaknya luar biasa. Tiba-tiba seluruh perasaan yang ia tahan sejak pagi menyeruak kembali. Tenggorokannya tercekat, matanya memanas lagi. Sadya menggigit bibir bawahnya, berusaha mati-matian menahan air mata. “Saya… hanya sedang banyak pikiran, Pak,” katanya akhirnya, suaranya terdengar bergetar. Dirgantara menatapnya dalam-dalam, seolah mencoba membaca apa yang tengah terjadi pada perempuan itu. “Kalau kamu butuh waktu sebentar, ambillah,” ucap Dirgantara. “Kita bisa tunda meeting pagi ini.” Sadya terpaku. Ia tidak menyangka atasannya yang terkenal kaku dan disiplin itu bisa berkata seperti itu. “Tapi, Pak. Saya—” ucapnya lirih. Dirgantara mengangguk, namun sebelum melangkah menjauh, ia berkata pelan, “Saya mau ngopi sebentar sama Banyu di lobi. Siapkan meeting-nya satu jam lagi, ya.” Dirgantara membalikkan badan, tidak menunggu Sadya menjawab perkataannya, lelaki itu sudah lebih dulu meninggalkan ruangannya. Ketika akhirnya lelaki itu pergi, Sadya menghela napas panjang. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, membiarkan beberapa tetes air mata jatuh tanpa suara. Bagaimana ini? Sadya bahkan tidak sanggup menahan rasa sesak yang menghantamnya setiap kali mengingat percakapan Arnesh dengan Annisa pagi tadi. Untuk pertama kalinya hari itu, Sadya merasa kacau dan merasa tidak ada seseorang yang benar-benar mengerti dirinya. Namun tidak dengan sikap Dirgantara barusan. Walaupun ia bertanya-tanya, namun Sadya merasa lega. Setidaknya masih ada seseorang yang bisa mengerti dirinya tanpa ia perlu menjelaskan. ***Usia bayi mereka genap satu bulan malam itu. Rumah terasa lebih hangat, bukan karena lampu-lampu yang menyala di setiap sudut, melainkan karena kehadiran makhluk kecil yang kini menjadi pusat semesta mereka.Sadya duduk di sofa dekat jendela, menggendong bayinya dengan kedua tangan yang penuh kehati-hatian. Tubuh mungil itu terlelap, napasnya teratur, dadanya naik turun perlahan. Sadya menunduk, menatap wajah yang masih merah muda, dengan hidung kecil dan bibir yang sesekali bergerak seolah sedang bermimpi. Jemarinya menyentuh pipi lembut itu, nyaris tak berani, seakan takut mengusik tidur sang bayi.Sebulan lalu, rasa sakit, haru, dan takut bercampur jadi satu. Kini, semua itu terbayar dengan kehadiran Vanamala—Vala—yang berbaring damai dalam dekapannya.Langkah kaki terdengar dari arah kamar. Sadya mendongak ketika Dirgantara muncul. Lelaki itu sudah berpakaian rapi—kemeja gelap yang pas di tubuhnya, rambut disisir sederhana, dan aroma parfum yang samar. Ada sesuatu yang berbeda dar
Ruang bersalin terasa lebih tenang dibanding ruang operasi, meski aroma obat dan suara alat medis masih samar terdengar. Sadya terbaring dengan tubuh sedikit miring, wajahnya pucat namun matanya terbuka. Tubuhnya terasa berat, setiap gerakan seperti membutuhkan tenaga lebih. Namun di dadanya, ada kehangatan kecil yang membuat semuanya terasa layak diperjuangkan.Bayi perempuan itu berada dalam dekapan Sadya. Masih mungil, kulitnya kemerahan, napasnya naik turun perlahan. Dengan bantuan perawat, Sadya menyusui untuk pertama kalinya. Gerakannya kaku, canggung, tapi nalurinya bekerja dengan sendirinya. Saat bayi itu mulai mengisap, air mata Sadya kembali jatuh—kali ini bukan karena takut, melainkan haru yang tak terdefinisikan.Dirgantara berdiri di sisi ranjang, satu tangannya bertumpu di pagar besi, matanya tak lepas dari pemandangan itu. Dadanya terasa penuh. Ia menyaksikan perempuan yang ia cintai, lemah secara fisik namun luar biasa kuat, memberi kehidupan pada anak mereka.“Kamu he
Ruang meeting siang itu dipenuhi cahaya putih dan udara yang terasa dingin oleh pendingin ruangan. Di layar besar, salah satu staf tengah mempresentasikan proyek baru—grafik demi grafik berganti, suara penjelasan terdengar runtut dan penuh keyakinan. Dirgantara duduk di ujung meja panjang, tubuhnya tegak, sorot matanya tajam menyimak setiap detail yang dijelaskan di depan sana.Sesekali ia mengangguk, sesekali mencatat poin penting di tablet di depannya. Wajahnya tenang, profesional, sepenuhnya mencerminkan seorang pemimpin yang terbiasa berada di bawah tekanan dan pengambilan keputusan besar.“Target kita adalah groundbreaking tiga bulan ke depan,” suara staf itu terdengar tegas. “Dengan catatan seluruh izin bisa kita amankan dalam dua minggu—”Belum sempat kalimat itu selesai, ponsel Dirgantara yang tergeletak di samping tabletnya bergetar. Getarannya singkat, tapi cukup menarik perhatiannya. Ia melirik layar sekilas—nama Nenek Marisa tertera di sana.Alis Dirgantara sedikit berkeru
Kamar itu dipenuhi cahaya sore yang lembut, masuk melalui jendela besar yang menghadap ke hamparan hijau Ubud. Tirai tipis berwarna krem bergoyang pelan tertiup angin, menciptakan suasana hangat dan tenang. Di depan meja rias, Sadya duduk dengan punggung tegak, sementara Mira berdiri di belakangnya, sesekali memiringkan kepala, memastikan setiap detail riasan tampak sempurna.Gaun panjang berwarna hitam membalut tubuh Sadya. Potongannya sederhana namun elegan, jatuh mengikuti lekuk tubuhnya dengan anggun. Perutnya yang kini membola jelas terlihat—tanda kehidupan kecil yang tumbuh di dalam dirinya. Namun justru di situlah Sadya merasa paling ragu.Ia menatap bayangannya di cermin cukup lama. Tangannya refleks mengusap perutnya perlahan, lalu naik ke bagian pinggang dan lengan.“Aku kelihatan… gendut banget ya, Mir?” tanyanya pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.Mira yang tadinya fokus memperhatikan ponsel lantas mengangkat kepala. Ia menatap Sadya lewat cermin, menangk


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews