Mag-log inDaniel terkapar dengan darah segar yang menggenang di lantai setelah Oliver mengambil ponselnya dan meninggalkannya begitu saja.
Yang tanpa Oliver tahu, Daniel memiliki ponsel lain yang dia gunakan untuk menyimpan semua bukti-bukti kejahatan Oliver.
Dengan napas yang berat dan kesadaran yang mulai menipis, Daniel mencoba menyeret tubuhnya di lantai untuk meminta bantuan. Walau usahanya sia-sia karena tubuhnya perlahan melemas.
Sampai pandangannya tertuju ke pintu yang kem
Kian mengemudikan mobil memasuki halaman sekolah Diana, mengantri dengan beberapa mobil penjemput lain yang sudah ada di depannya.Kian mengemudikan mobilnya pelan, menunggu giliran. Sampai akhirnya mobilnya berhenti tepat di depan pintu keluar gedung. Tatapannya tertuju pada anak-anak yang berbaris rapi.Kian menurunkan kaca jendela, dia sedikit melongok ke sisi kiri untuk bisa melihat Diana.“Sayang, Mami Kian yang jemput.” Kian melebarkan senyum.Kian melihat senyum lebar Diana.Guru membukakan pintu untuk Diana, setelah Diana duduk dengan benar dan memakai sabuk pengaman, pintu mobil kembali ditutup.Kian berterima kasih pada Guru, sebelum mengemudikan mobil menuju pintu keluar.“Mami, apa Diana boleh beli burger dan es krim?” Diana menoleh pada Kian yang menyetir.“Apa Diana sangat ingin makan itu?” Kian menoleh sekilas pada Diana, dia melihat gadis kecil ini mengangguk-angguk.“Baiklah, tapi besok jangan minta lagi. Meski yang jemput Mama, tapi Diana tidak boleh minta lagi. Tida
Malam hari.Kian duduk di atas ranjang. Dia memandang foto dirinya dan Diana yang tadi Liza ambil.“Sedang melihat apa? Sepertinya fokus sekali?” Arthur naik ke atas ranjang. Dia duduk di samping Kian, tatapannya langsung tertuju ke ponsel yang ada di tangan Kian.Kian lebih dulu membetulkan posisi duduknya. Dia menunjukkan foto dirinya saat menimang Diana.“Liza yang tadi mengambil foto kami. Diana sangat lucu, kan?” Arthur menatap Kian yang bicara penuh antusias. Dia senang istrinya tidak sedih melihat orang lain memiliki bayi.Arthur lebih dulu memperhatikan foto yang Kian perlihatkan. Bibirnya tersenyum melihat tatapan penuh kasih sayang dan lembut dari Kian untuk bayi Liza.Bayangan Arthur melayang jauh, andai bayi mereka masih ada, Kian pasti akan lebih bahagia dari di gambar foto ini.“Bagaimana? Kenapa kamu diam saja?” Arthur menoleh pada Kian. Istrinya menatap menunggu balasan darinya.Arthur mengangguk pelan. “Iya, sangat lucu.”Arthur melihat senyum Kian terangkat lebar,
“Jika kamu mau, tentu saja boleh.” Liza mempersilakan.Awalnya Liza takut Kian emosional jika melihat bayi. Apalagi informasi dari suaminya, Kian sampai hampir terkena gangguan mental akibat kehilangan bayi.Sekarang, melihat Kian baik-baik saja, tentu Liza tenang.Kian menoleh pada Arthur setelah mendapat izin dari Liza. Menatap suaminya yang mengangguk, Kian melempar senyum penuh kelegaan pada suaminya.Liza membantu Kian menggendong bayi ini.Kian memeluknya dengan sangat hati-hati. Bayi mungil menggemaskan ini berjenis kelamin perempuan.“Siapa namanya?” tanya Kian. Dia menimang pelan bayi di gendongannya.“Diana. Usianya sudah lima bulan.” Liza menjawab lembut. “Tadi kamu sudah bertemu dengan putraku juga, kan? Namanya Daniel, usianya empat tahun, tapi biasa dipanggil Niel.” Liza lantas menunjuk ke putranya yang asyik minum susu di sofa.Kian menatap ke Niel, senyumnya terangkat kecil. “Iya,” katanya kemudian.Jonathan mendekat ke Arthur, tatapannya terus tertuju ke interaksi ant
Arthur dan Kian menoleh bersamaan.Kini, tak jauh dari pandangan mereka, seorang anak kecil memegang senapan mainan berdiri memandang keduanya.Kian berdiri dari duduknya. Tatapannya terus tertuju ke anak laki-laki ini. “Arthur, dia ….” Arthur ikut berdiri..“Niel, kamu jangan nakal.”Sebelum Arthur bicara, suara seorang laki-laki sudah menggema di ruangan ini.Niel, anak laki-laki yang baru saja menembakkan peluru mainan ke kepala Arthur, langsung berlari ke pria yang menginterupisnya.“Niel tidak nakal. Niel hanya sedang main.” Anak kecil berusia empat tahun ini berdiri di depan Jonathan–ayahnya–teman Arthur.“Masuklah dulu, bilang ke Mama, jangan terlalu lama di dalam,” ucap Jonathan pelan ke putranya.Tatapan Kian dan Arthur kini tertuju pada Jonathan. Kian melihat anak kecil tadi berlari masuk ke dalam, sebelum Jonathan memandang ke arah Kian dan Arthur.“Jo.” Arthur langsung menghampiri pria ini, sahabatnya.Jonathan memeluk sejenak pada Arthur. “Senang bisa melihatmu lagi.” Se
Sore hari.Kian berjalan menghampiri Arthur yang sudah menunggu di depan lobby.“Jadi, siapakah orang yang ingin kita temui?” Kian berdiri di hadapan Arthur, senyumnya terangkat lebar untuk suaminya.“Nanti kamu akan lihat.” Arthur membuka pintu untuk Kian.Kening Kian berkerut, dia tatap penasaran suaminya.“Main rahasia denganku?” Kian tersenyum kecil setelah bicara.Arthur mengedikkan kedua bahu saat membalas senyum istrinya.Walau tak bertanya lagi siapa yang akan suaminya temui, tapi tetap saja Kian masuk ke dalam mobil untuk ikut suaminya.Arthur segera ikut masuk ke dalam mobil, lalu meminta sopir untuk pergi ke tempat yang sudah dia tujukan.Kian memperhatikan jalanan yang mereka lewati. Dia mencari tahu ke mana suaminya ingin mengajaknya.Sampai tak beberapa lama kemudian.Mobil memasuki area perumahan elite di pinggiran kota.Kian menatap sebuah rumah besar yang begitu asri.Kian menoleh pada suaminya, keningnya berkerut samar, mewakili rasa penasarannya.“Ini rumah temanku.
Sore hari.Kian duduk di kamar milik bayinya.Dia melipat kembali pakaian yang sebelumnya sudah terlipat.Dia akan melakukan hal yang sama setiap harinya seolah ada bayinya di kamar ini.“Mama sudah kehilanganmu, Mama tidak akan membiarkan papa dan kakekmu kehilangan harapan juga.”Tatapan Kian tertuju ke mainan yang tergantung di atas baby box.Bibirnya tersenyum kecil.“Mama tidak akan pernah melupakanmu. Tapi Mama juga harus menemani papamu. Jadi, jangan marah jika terkadang Mama sibuk sendiri, hm.”Kian merasakan kepiluan.Tapi hidupnya tetap harus berjalan.“Ternyata kamu di sini?”Suara Arthur mengejutkan Kian.Kian menoleh ke arah pintu, suaminya masuk ke dalam kamar.“Kamu pulang lebih awal hari ini?” Kian meletakkan pakaian yang dilipatnya di atas ranjang.Kian berdiri menghampiri Arthur.Arthur mengangguk pelan.Saat sudah berdiri di hadapan Kian. Tangan Arthur mengusap lembut rambut istrinya.“Apa ada masalah di kantor sampai membuatmu pulang lebih awal? Atau kamu mau berub







