เข้าสู่ระบบDaniel terkapar dengan darah segar yang menggenang di lantai setelah Oliver mengambil ponselnya dan meninggalkannya begitu saja.
Yang tanpa Oliver tahu, Daniel memiliki ponsel lain yang dia gunakan untuk menyimpan semua bukti-bukti kejahatan Oliver.
Dengan napas yang berat dan kesadaran yang mulai menipis, Daniel mencoba menyeret tubuhnya di lantai untuk meminta bantuan. Walau usahanya sia-sia karena tubuhnya perlahan melemas.
Sampai pandangannya tertuju ke pintu yang kem
Wajah Sienna seketika pucat. Dia menggeleng kuat-kuat, hendak maju untuk memohon kembali agar tidak jadi diusir. Namun, sebelum Sienna sempat mengeluarkan suara, Kian sudah lebih dulu memegang pundaknya.“Tidak apa-apa, Sienna. Jangan memohon lagi.” Kian bicara dengan nada suara yang tenang tapi terdengar tegas. Setelah melirik sekilas ke pintu rumah yang Sienna tinggali, Kian menatap Sienna lalu berkata, “Kamu berhak mendapatkan tempat tinggal yang jauh lebih layak dan aman daripada rumah ini.”Sienna panik dan bingung, dia juga tidak mau membebani Kian lagi.Sedangkan pemilik kontrakan langsung kesal mendengar ucapan Kian.Dia menatap remeh pada Kian. “Bagus kalau begitu! Tidak usah banyak bicara lagi, angkat kaki kalian dari sini sekarang juga! Jangan sampai saya panggil warga untuk menyeret barang-barangmu keluar!”Kian mengabaikan teriakan wanita itu. Dia menoleh ke arah Sienna. “Sienna, masuklah dan mulai kemasi barang-barang penting milikmu dan Kaylan. Kalau memang barangnya
Setelah mengurus suaminya dan sarapan bersama. Kian mengemudikan mobilnya membelah jalanan pagi, menuju kawasan tempat tinggal Sienna. Begitu tiba di dekat gang sempit akses menuju rumah Sienna. Kian lebih dulu memarkirkan kendaraannya di bahu jalan raya seperti biasa, setelahnya dia melangkah masuk menyusuri gang menuju rumah untuk menjemput Kaylan.Namun, langkah kaki Kian mendadak melambat saat jaraknya tinggal beberapa meter dari rumah kontrakan Sienna. Sayup-sayup suara lengkingan tajam seorang wanita terdengar memecah keheningan gang. Begitu menajamkan pandangan, Kian terkejut melihat seorang wanita paruh baya bertubuh gempal sedang berdiri berkacak pinggang di depan pintu, memaki-maki Sienna yang hanya bisa menunduk dalam.Kian mempercepat langkahnya untuk menghampiri, begitu tiba di sana, Kian langsung berdiri di samping Sienna untuk menengahi. “Permisi, ada apa ini? Kenapa ribut-ribut sepagi ini?” tanya Kian dengan nada suara yang tenang dan sopan.Wanita paruh baya itu
Jarum jam sudah menunjuk ke angka sebelas malam lewat sedikit saat Mia akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar kontrakannya yang sempit. Suasana sepi langsung menyambut. Dengan sisa tenaga yang ada, dia meletakkan tas selempangnya di atas meja kayu kecil, lalu mendudukkan diri di tepian ranjang yang beralaskan sprei lusuh.Mia terdiam, menatap lurus ke arah dinding kamar yang kosong. Pikirannya melayang kembali pada rentetan kejadian hari ini, terutama kilasan wajah kecewa Ibu penjual kue di taman tadi sore. Dada Mia berdenyut nyeri. Dia mulai menyadari jika bekerja menjadi asisten pribadi Luna benar-benar tidak cocok untuknya. “Ini tidak benar,” gumam Mia lirih. Napasnya berembus berat.Segala kepalsuan, makian, dan tindakan semena-mena yang Mia saksikan setiap sangat bertentangan dengan hati nuraninya. Mia tidak cocok dengan semua tingkah Luna dan krunya.Luna tak pernah menganggapnya sebagai asisten yang membantu mengurus pekerjaannya, tapi Luna menjadikannya seorang pelayan ya
Arley mengangguk paham dengan apa yang harus dia lakukan. Arley menoleh perlahan ke arah lain lalu melemparkan tatapan tajam dan penuh isyarat ke arah Charlie yang sejak tadi berdiri siaga di salah satu sisi taman.Arley melihat Charlie mengangguk saat mendapatkan kode darinya, lalu asistennya itu mulai bergerak untuk menjalankan perintah yang sebelumnya sudah dia instruksikan.Arley kembali memfokuskan perhatiannya pada Chloe. Dia melihat tatapan sendu yang berbalut benci dan dendam. Arley membawa satu tangannya untuk merangkul pundak Chloe untuk memberikan kekuatan yang sangat dibutuhkan Chloe saat ini. “Tenanglah, Chloe. James dan Brenda tidak akan pernah bisa kabur dari tempat ini.” Arley meyakinkan. Nada suaranya pelan tapi penuh penekanan yang tak terelakkan.Chloe menoleh pada Arley. Dia menerima rangkulan dan dukungan yang Arley berikan untuknya.Di tengah pesta yang kian riuh oleh bisik-bisik menghujat dari para tamu.Jason melangkah tergesa-gesa menghampiri ibunya yang ma
Pria itu menengok ke kanan dan kiri memastikan situasi, lalu kembali menatap pada Sienna.“Begini, nanti kamu pura-pura terkejut kalau ada wanita yang mendekatimu bersama beberapa orang yang membawa kamera di belakangnya.”Sienna mengerutkan kening, sampai dia kembali mendengar pria ini bicara.“Nanti, kamu bisa dapat uang lima juta rupiah jika mau ikut acara ini.”Sienna meneguk ludahnya mendengar nominal yang disebutkan pria ini. Dia menatap pria asing berkaus hitam di hadapannya dengan seksama. “Maksudnya saya benar-benar hanya harus pura-pura terkejut saja, Pak?” Sienna memastikan.Pria itu mengangguk cepat sambil melirik ke arah luar taman, seolah memastikan keadaan aman. "Benar, Bu. Nanti ada seorang wanita cantik datang membawa beberapa kru kamera. Dia akan pura-pura membantu Ibu, selain memborong dagangan Ibu nanti dia akan kasih uang lima juta juga. Tugas Ibu hanya kelihatan kaget, sedih, dan susah saat ditanya-tanya di depan kamera. Begitu pengambilan video selesai, Ibu bis
Kian menanggapi ucapan suaminya dengan tenang. Dia mengangguk-angguk pelan, lalu mengulas senyum kecil ke Arthur. “Sebenarnya, sejak pertama kali bertemu dan melihat sikap Luna, aku memang sudah agak kurang cocok. Sikapnya sedikit angkuh, cara bicaranya meremehkan lawan bicaranya.”Arthur hanya diam dengan tenang, menyimak penuturan sang istri sembari menyuap seendok nasi ke dalam mulutnya.Kian mengembuskan napas pelan, lalu dia kembali bicara.“Waktu itu aku masih mencoba mengamati untuk mempertimbangkan apakah benar-benar akan memakai Luna atau tidak, meskipun Ginny waktu itu sudah memperingatkanku.” Kian menjeda kalimatnya sejenak, setelah mengingat kejadian saat Luna tak datang tepat waktu, Kian kembali bicara. “Tapi saat hari penandatanganan kerja sama tiba, dia malah menyepelekan jadwal bertemu. Luna membuatku menunggu di ruang rapat sampai satu jam lamanya tanpa alasan yang jelas. Setelah kejadian itu, aku semakin yakin dan mantap untuk tidak melanjutkan kerja sama dengan di







