Beranda / Romansa / Istri Kilat Presdir Tampan / Terpaksa Undang Makan Malam

Share

Terpaksa Undang Makan Malam

Penulis: Aldra_12
last update Tanggal publikasi: 2026-01-13 10:02:03

Keesokan harinya.

Arthur membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamar sejenak sambil mengembuskan napas pelan, saat menoleh ke sisi ranjang, dia tak menemukan Kian di ranjang.

Kening Arthur berkerut samar, tatapannya kini tertuju ke jam dinding yang masih menunjukkan pukul setengah enam pagi.

“Apa dia sudah bangun?”

Bangkit dari posisi berbaring, Arthur mengangsurkan kaki ke lantai lalu melangkah pergi. Ketika baru saja membuka pintu kamar, hidungnya mencium aroma masakan yang menguar
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Adeena
awas Ken jangan tertawa nanti bonusmu ga cair
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Anak Itu Lagi

    Ginny menoleh pada Kian yang tak melanjutkan ucapannya.“Mienya kenapa, Bu?” Ginny memandang Kian yang diam terpaku. Ginny mencoba menarik ke arah mana tatapan Kian tertuju.“Bu.” Ginny mencoba menyadarkan Kian yang melamun.“Tunggu sebentar,” kata Kian sambil mengemudikan mobilnya lagi saat lampu sudah hijau.Ginny semakin bingung dengan sikap Kian. Tapi dia tetap mengangguk mengikuti perkataan Kian.Mobil berhenti di bahu jalan, area parkir yang tak mengganggu pengendara lain.“Anda mau ke mana, Bu?” Ginny bertanya lagi, dia benar-benar bingung dengan Kian.Kian tak membalas. Dia melepas sabuk pengaman, lalu turun dari mobil.Ginny ikut turun. Dia harus memastikan Kian baik-baik saja.Pandangan Kian tertuju pada anak kecil itu. Anak kecil yang kemarin dia beri sepotong burger.Kian melihat anak itu sibuk berjualan koran di pinggir jalan. Tempat berbahaya yang tak seharusnya menjadi tempat anak sekecil itu.Kian berhasil menyeberang.Dia berjalan menghampiri anak kecil yang sedang m

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Apa Kesal?

    Arthur kembali ke kamar setelah selesai bicara dengan Arron.Tatapan Arthur tertuju pada Kian yang masih duduk di atas ranjang..“Kenapa belum tidur?” Arthur naik ke ranjang. Dia duduk di samping istrinya, satu tangan langsung merangkul pundak Kian.Kian tersenyum kecil. Dia tatap wajah Arthur begitu dalam.“Apa Kakek kesal karena aku tidak mau hamil lagi?” Kian memastikan.Sejak makan tadi, Kian resah dan bersalah karena sudah menghancurkan keinginan Arron yang ingin memiliki cicit.Bagaimanapun Kian menyadari jika Arthur harapan satu-satunya yang bisa melanjutkan garis keturunan keluarga Hadwin, lalu sekarang Kian malah tidak mau hamil lagi.Arthur mengusap lembut kepala Kian setelah mendengar pertanyaan istrinya.“Apa kamu memasukkan ucapan Kakek ke dalam hati?” Kecupan hangat didaratkan di pelipis Kian setelah Arthur bertanya.Kian menggeleng pelan.“Aku tidak memasukkannya ke dalam hati, hanya saja merasa tidak enak dan merasa bersalah padanya.” Kian memberikan tatapan sendu pada

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Hidup Tenang

    Kian memeluk erat tubuh Arthur.Matanya terpejam dengan senyum kecil di wajahnya setelah selesai memberikan service ke suaminya.“Sudah tidak cemburu?” Meski tahu jika itu hanya alasan Arthur, tapi tetap saja Kian menggoda suaminya.Arthur membalas pelukan Kian. Dia mengecup kening Kian dengan lembut.“Kenapa aku harus cemburu? Pada akhirnya, aku tetaplah pemenangnya.”Candaan Arthur sukses membuat Kian memukul pelan lengan suaminya ini.“Kamu tidak mandi dulu?” Kian bangun dari pelukan Arthur.Tubuhnya kini hanya berbalut selimut. “Kakek pasti menunggu kita untuk makan malam, bangunlah dan bersihkan tubuhmu dulu.”Kian baru saja akan beranjak dari ranjang, ketika suaminya menarik pergelangan tangannya.Kian kembali jatuh ke pelukan Arthur. Dia menatap suaminya yang tersenyum kecil.“Kian.” Arthur mengusap lembut kening Kian. “Apa kamu benar-benar tidak mau memiliki anak lagi?” Arthur bertanya dengan sangat hati-hati.Mereka sering melakukan ini, tapi Kian meminta Arthur untuk memakai

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Cemburu Sayang

    “Mami.” Diana sudah ada di samping Kian sambil menggenggam tangan Kian.“Mami kenapa melamun? Burgernya, kenapa dikasih anak itu?” Diana kini menatap penasaran ke arah anak laki-laki tadi pergi.Kian menoleh pada Diana, dia menggeleng. “Anak itu lapar, tidak ada salahnya memberinya sedikit makanan.”Diana mengangguk-angguk. “Apa mamanya tidak kasih makan? Kenapa dia kotor sekali?” Diana kembali berceloteh.Kian tersenyum menanggapi perkataan Diana. “Sudah, kita masuk lagi dan makan. Habis ini Mami antar pulang.”Kian menggandeng tangan Diana untuk kembali ke dalam.Tapi sebelum masuk, tatapan Kian tertuju ke arah anak laki-laki itu pergi.Ada sesuatu yang membuat Kian tak bisa mengalihkan pandangan dari anak itu.**Sore hari.Kian duduk di depan meja riasnya. Tangannya mengusap make up di wajah, tapi tatapannya melayang jauh ke kejadian siang tadi.Sejak melihat anak tadi, perasaan Kian benar-benar gelisah. Dia tidak mengerti, kenapa senyum anak itu sangat mengganggu pikirannya.“Sa

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Berlalu Begitu Saja

    Kian mengemudikan mobil memasuki halaman sekolah Diana, mengantri dengan beberapa mobil penjemput lain yang sudah ada di depannya.Kian mengemudikan mobilnya pelan, menunggu giliran. Sampai akhirnya mobilnya berhenti tepat di depan pintu keluar gedung. Tatapannya tertuju pada anak-anak yang berbaris rapi.Kian menurunkan kaca jendela, dia sedikit melongok ke sisi kiri untuk bisa melihat Diana.“Sayang, Mami Kian yang jemput.” Kian melebarkan senyum.Kian melihat senyum lebar Diana.Guru membukakan pintu untuk Diana, setelah Diana duduk dengan benar dan memakai sabuk pengaman, pintu mobil kembali ditutup.Kian berterima kasih pada Guru, sebelum mengemudikan mobil menuju pintu keluar.“Mami, apa Diana boleh beli burger dan es krim?” Diana menoleh pada Kian yang menyetir.“Apa Diana sangat ingin makan itu?” Kian menoleh sekilas pada Diana, dia melihat gadis kecil ini mengangguk-angguk.“Baiklah, tapi besok jangan minta lagi. Meski yang jemput Mama, tapi Diana tidak boleh minta lagi. Tida

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Hanya Bisa Berharap

    Malam hari.Kian duduk di atas ranjang. Dia memandang foto dirinya dan Diana yang tadi Liza ambil.“Sedang melihat apa? Sepertinya fokus sekali?” Arthur naik ke atas ranjang. Dia duduk di samping Kian, tatapannya langsung tertuju ke ponsel yang ada di tangan Kian.Kian lebih dulu membetulkan posisi duduknya. Dia menunjukkan foto dirinya saat menimang Diana.“Liza yang tadi mengambil foto kami. Diana sangat lucu, kan?” Arthur menatap Kian yang bicara penuh antusias. Dia senang istrinya tidak sedih melihat orang lain memiliki bayi.Arthur lebih dulu memperhatikan foto yang Kian perlihatkan. Bibirnya tersenyum melihat tatapan penuh kasih sayang dan lembut dari Kian untuk bayi Liza.Bayangan Arthur melayang jauh, andai bayi mereka masih ada, Kian pasti akan lebih bahagia dari di gambar foto ini.“Bagaimana? Kenapa kamu diam saja?” Arthur menoleh pada Kian. Istrinya menatap menunggu balasan darinya.Arthur mengangguk pelan. “Iya, sangat lucu.”Arthur melihat senyum Kian terangkat lebar,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status