Mag-log inBening berdehem canggung. Dia lekas menjauh dari Kalingga. "Aku... aku bisa sendiri."
"Oh," Kalingga menjawab singkat, namun tatapannya yang tak lepas padanya berhasil membuat darah Bening berdesir panas. "Silahkan." Berusaha mengabaikan Kalingga, Bening berusaha menurunkan resleting punggung gaunnya. Tidak dapat dipungkiri, dirinya mengalami kesulitan. Sesekali Bening mendesis pelan. Selanjutnya, Bening dikejutkan saat tangannya yang bertengger di resleting gaun disingkirkan oleh Kalingga. Pria itu tanpa berkomentar membantunya, tangannya menurunkan resleting gaun Bening. "Lain kali, kalau butuh bantuan, bilang," ucapnya, terdengar dingin. Bening menahan nafasnya. Jaraknya dan Kalingga terlampau dekat. Bahkan Bening dapat meraba nafas hangat Kalingga yang menerpa lehernya. "Mas Kalingga..." panggil Bening nyaris berbisik. "Hm?" “Mas Kalingga mau melakukan malam pertama?” Jemari Bening meremas ujung gaun, lewat pantulan cermin rias, matanya menatap penuh cemas pada sosok suaminya yang tangannya masih bertengger di resleting gaunnya. Kalingga menoleh, ekspresinya tetap tak terbaca. “Kenapa bertanya begitu?” Bening menelan salivanya. Takut menyinggung, ia berbicara dengan hati-hati. “Kita punya kontrak, Mas. Di kontrak itu jelas tertulis kalau … kalau tidak ada kewajiban untuk melakukan malam pertama.” Kalingga terdiam sejenak. “Saya tahu.” Tatapannya bergeser, menatap wajah Bening yang pucat. “Saya tidak akan melanggar kontrak itu.” Bening menunduk, hatinya berdegup kencang. Ia melihat Kalingga yang menjauh, seakan tidak ingin menyentuhnya. Di matanya, sikap dingin itu sebagai tanda bahwa Kalingga memang tidak menginginkannya. Mungkin, ada perempuan lain di luar sana yang lebih berarti bagi Kalingga. Seperti yang kemarin dibicarakan Kalingga dan Sarah "Kamu mandilah dulu. Saya akan segera kembali." Selanjutnya, Kalingga pergi dari kamar. Bening menatap pintu yang tertutup rapat. Ada rasa kehilangan yang tak bisa dirinya mengerti. Menghela nafas lelah, pada akhirnya Bening menuruti perintah Kalingga untuk membersihkannya diri. 'Ingat, Bening. Pernikahan kalian hanya kontrak. Jangan berharap lebih!' batin Bening sembari berjalan menuju kamar mandi. Setengah jam berlalu, Bening keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar, awalnya Bening hendak mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, namun langkahnya harus terhenti tatkala dia melihat Kalingga yang sudah terlelap di ranjang. Pakaian pria itu juga sudah berganti dengan pakaian santai. 'Kapan dia kembali?' batin Bening bertanya. Seharusnya Bening tidak melakukan ini. Entah setan mana yang merasukinya, Bening berjalan mendekati sisi ranjang yang Kalingga tepati. Dipandanginya wajah damai suaminya lama. Saat terpejam, Kalingga seperti manusia yang tak memiliki dosa. Tangan Bening terangkat, menyentuh rambut Kalingga yang seperti memanggilnya. Baru tangannya menyentuh, Bening dikejutkan dengan mata Kalingga yang tiba-tiba terbuka dengan tangannya yang menahan lengannya. Tatapannya tajam, sebelum kemudian sedikit redup saat maniknya bersinggungan dengan mata Bening. Ada helaan napas kecil pria itu yang ditangkap telinga Bening. "Sudah selesai?" tanyanya memecah keheningan. Bening berdehem. Tangannya lekas menjauh dengan pipinya yang bersemu. "Su--sudah..." Kalingga mengangguk. "Istirahatlah. Selamat tidur,," titahnya sembari menutup matanya dengan lengan. "Mas Kalingga tadi dari mana?" tanya Bening menyuarakan rasa penasarannya, mengabaikan perintah Kalingga. "Mandi di kamar Dipta." Dipta adalah nama adik bungsu Kalingga. "Kalau kamu tidak butuh apa-apa, saya mau istirahat." Pernyataan Kalingga, secara tidak langsung mengatakan ingin Bening menjauh dan tidak mengganggu. Setidaknya, itu yang Bening pikirkan. Lagi dan lagi, pernikahan kontrak kembali menghantamnya. Hampir saja Bening terlena oleh euforia perhatian kecil yang Kalingga berikan. Menghela panjang nafasnya, Bening beranjak menjauh. Duduk di sofa dengan perasaannya yang memburuk. Detik demi detik berlalu, hingga akhirnya mata Bening terpejam dengan sendirinya. . . "Bening." Bening merasakan tepukan di pipinya. Lantas, matanya terbuka perlahan. Pemandangan yang pertama dilihatnya adalah Kalingga yang menatapnya tajam, tatapan khas pria itu. "Kenapa tidur di sofa?" Bening menegakkan badannya. Matanya yang terasa berat mengerjap beberapa kali. "Sudah pagi, ya, Mas?" "Jam lima pagi," jawabnya singkat. "Kamu belum jawab pertanyaan saya. Kenapa tidur di sofa?" Bening melipat bibirnya gugup. "Aku pikir ... Mas Lingga bakal risih kalau kita tidur seranjang." Kalingga menaikkan sebelah alisnya. "Saya pernah bilang begitu?" Bening menunduk, tidak berani membuka suara di bawah tatapan mengintimidasinya itu. "Jawab. Pernah saya bilang kalau saya tidak mau tidur seranjang sama kamu?" "Ng--nggak pernah ..." cicit Bening. "Jadi?" Lagi-lagi Bening diam, mengundang decakan dari Kalingga. Lalu, pria itu berjalan menuju meja rias, mengambil sesuatu di sana, sebelum kemudian kembali menghampiri Bening. "Pakai ini di leher," titahnya menyerahkan barang yang diambilnya. Bening tatap benda itu dengan kerutan di dahinya. Lipstik? Untuk apa? "Di-- di leher, Mas?" tanya Bening takut salah dengar. "Ya." Kalingga menjawab lugas. “Melihat perangai keluarga kamu, saya tahu kamu akan disudutkan soal malam pertama. Mereka akan menuntut bukti. Jadi kita beri mereka bukti, meski hanya sandiwara.” Bening mengambil lipstik itu dengan tatapan rumitnya. Dia bingung bagaimana harus mengaplikasikan benda itu di lehernya. Masih dalam kebingungannya, Bening tersentak saat lipstik di genggamnya direbut paksa. Kalingga ikut duduk di sampingnya. Bening merinding sendiri saat ujung lipstik itu menyentuh kulit lehernya. "Harus berapa kali saya bilang? Bilang kalau butuh bantuan."'Mati aku!'Bening mengingat semuanya. Dari saat dia pergi diam-diam dari apartemen, bertemu dengan pria bernama Alex hingga-- tidak. Bening tidak mau mengingatnya lagi. 'Kenapa aku bisa sebodoh itu? Kenapa aku malah menyerahkan diri?!' Jujur saja. Bening sudah tidak ada muka di depan Kalingga. Bening menggeliat gelisah di ranjang. Pipinya memanas, bukan hanya karena mabuk yang belum sepenuhnya hilang, tapi juga karena rasa malu yang menjalar sampai ke ubun-ubun.Sekarang, pasti Kalingga sedang menertawakan betapa murahannya dia. Bening menendang selimut, lalu duduk dengan wajah kusut. “Bening, kamu gila,” gumamnya lirih. “Kenapa kamu malah mencium Mas Lingga? Kenapa kamu malah--- akhh aku malu!!" erang Bening menjambak rambutnya sendiri. Kecemasan itu semakin menekan dadanya. Bening ingin bersembunyi, kemana pun asal tidak bertemu dengan suaiminya. Tapi, bayangan tatapan dingin Kalingga semalam terus menghantui.Larut dalam rasa kefrustasian, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Bening
Setelah memastikan Kalingga benar-benar pergi dengan jas rapi dan wajah dinginnya, Bening berdiri lama di depan pintu apartemen. Nafasnya tercekat, tapi tekadnya bulat. Sekali saja, dia ingin merasakan kebebasan. Ia mengambil tas kecil, menyelipkan dompet dan ponsel. Langkahnya ringan, meski jantungnya berdegup kencang. Ia keluar dari apartemen, menuruni lift, dan akhirnya menjejakkan kaki di jalanan Singapura yang sibuk. Tujuannya jatuh pada Gardens by the Bay, taman ikonik dengan pohon-pohon raksasa buatan yang menjulang. Ia berjalan di antara bunga tropis, menatap air mancur yang berkilau. Bening menghirup udara dalam-dalam. Menikmati suasana yang begitu menenangkan. Bening, tidak pernah merasa setenang ini sebelumnya. Namun, kenyamanannya itu segera terganggu saat seorang pria dengan rambut coklat mendekat. Tersenyum ramah, pria asing itu menyapa. “Hi, are you alone?” (Hai, kamu sendirian?) Bening menegang. Jantungnya berdebar cemas. Awalnya, Bening ingin menghindari.
Bening terkekeh sumir. Tanpa menatap Kalingga, gadis berujar pedih. "Memangnya aku siapa?" Matanya yang memandang gedung-gedung tinggi dari kaca kembali mengeluarkan air matanya. "Tanpa kamu minta juga, aku paham, Mas. Siapa aku dan di mana posisiku." "Jadi, kamu jangan khawatir." Selanjutnya, Bening membersihkan diri menoleh pada Kalingga. Tatapan mereka bertemu seakan saling menyelami. Kalingga tetap diam, namun tatapannya mendingin saat melihat setetes air mata membasahi pipi Bening. "Aku hanya minta dua hal dari kamu." suara serak Bening kembali menyambangi telinga Kalingga. "Jangan pernah bersikap seperti kamu memberikan harapan padaku." Bening menarik panjang nafasnya. "Cukup jangan pedulikan aku." Pandangan Bening menerawang pada udara.Sejenak, gadis itu menutup matanya, sebelum terbuka kembali dengan tatapannya yang menyendu. "Dari dulu, aku selalu diabaikan. Oleh keluargaku dan dunia. Kalau pun ada yang memperhatikan, itu bukan kasih sayang. Tapi penghakiman y
Bening tidak tahu dengan apa yang terjadi. Yang pasti, Kalingga tidak dalam kondisi mood yang baik. Bening merasa tertekan di sepanjang perjalanan menuju rumah. Brak! Gadis itu terperanjat, saat Kalingga membanting pintu kasar. Tanpa menganggap Bening ada, Kalingga gegas masuk ke dalam rumah dengan auranya yang tidak mengenakkan. 'Sebenarnya ada apa, sih?' keluh Bening mengikuti jejak Kalingga. Sampai di ruang utama, Bening dapat melihat pelayan yang mondar-mandir sedang bekerja. Lalu, tak lama Kalingga kembali terlihat dengan menarik kopernya. Wajah pria itu masih sama. Dingin dan mengeras. Kemudian, munculah Ira. Wanita itu juga membawa koper. Bedanya, koper yang dibawa Ira diserahkan padanya. "Nyonya, ini koper anda." kata Ira dengan nafas yang memburu. "Perasaan, aku tidak memintamu menyiapkannya." balas Bening. Meskipun begitu, ia tetap menerima kopernya dari tangan Ira. "Tuan yang memerintah saya, Nyonya." Lantas, Bening kembali melirik Kalingga. Pria itu sedang b
"Kamu pikir, saya semurah itu, Bening?" jawaban Kalingga dengan suaranya yang rendah berhasil membangkitkan bulu kuduk Bening. "Jawab.""Bu--bukan seperti itu maksudku..." Bening menggigit bibirnya. Kenapa malah dirinya yang terpojok? Niatnya ingin membuat Kalingga mengiyakan permintaannya, tapi kenapa malah dirinya yang menjadi di intimidasi. "Kamu salah kalau ingin mengendalikan saya, Bening." ucap Kalingga membuat nafas Bening semakin tercekat. "Terimakasih kopinya. Silakan keluar dari ruangan saya." Pengusiran itu, Bening tanggapi dengan hembusan nafas panjang. Tanpa menjawab, Bening beranjak pergi. Namun, baru dua langkah dia berjalan, tidak sengaja kakinya tersandung kaki meja. Bening terpekik. Kalingga yang melihat kejadian itu, reflek menarik lengan Bening. Mungkin, tujuan Kalingga supaya Bening tidak terjatuh ke lantai. Namun, yang terjadi malah Bening yang tertarik ke pangkuannya.Keduanya terdiam di tengah keheningan. Bahkan Bening dapat mendengar debar jantungnya send
“Ikut saya.”Suara Kalingga terdengar dingin, berat dan rendah. Pria itu meraih pergelangan tangan Bening, menariknya tanpa memberi kesempatan untuk bertanya. Langkahnya tegas, membuat Bening harus setengah berlari agar tidak tertinggal.“Mas Lingga, kita mau ke mana?” suara Bening cemas, penuh kepanikan. Tidak ada jawaban. Kalingga terus melangkah, membawa istrinya menuju lift. Saat pintu terbuka, Kalingga mendorong Bening agar masuk ke dalamnya, sebelum kemudian dia menyusul. Suasana di dalam lift terasa menekan. Hanya suara mesin yang terdengar, sementara Bening menunduk. Mengigit bibir cemas, jemari Bening meremas ujung dress pastel yang dia kenakan. Apa yang salah dari pertanyaannya? Bening membatin. Dia hanya menyebut nama Serena, tapi reaksi Kalingga seolah Bening mengumumkan perang dunia ketiga. Lift berhenti di lantai tiga. Kalingga menggiring Bening keluar, lalu membuka pintu sebuah kamar. Begitu masuk, ia menutup pintu dengan keras. Bening terperanjat ketika tubuhnya di







