分享

5. Pembelaan

作者: raintara
last update publish date: 2026-06-12 12:42:24

Kalingga berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajamnya yang menusuk. Langkahnya mantap, tidak tergesa, tapi cukup membuat Bramasta segera menjauh dari tubuh Bening.

Gadis itu masih terpojok, napasnya tersengal. Sementara ayahnya berusaha menampilkan wajah tenang seolah tak terjadi apa-apa.

"Nak Kalingga?"

Bramasta lekas menjauh dari Bening.

"Nak Kalingga, saya harap Nak Kalingga bisa memaafkan kesalahan Bening. Tadi dia memang berbuat tidak sopan kepada saya, untuk itu tolong maafkan putri saya," tetap tenang, Bramasta mencoba memutar balikkan fakta.

Bening terperangah, matanya membesar mendengar tuduhan itu. “Pa---" suaranya tercekat, namun Bramasta menatapnya tajam, memberi isyarat agar diam.

Kalingga melihat Bening yang mencoba menarik gaunnya yang melorot. Ia melepaskan jasnya untuk dipakaikan kepada sang istri. Selanjutnya, pria itu menatap ayah mertuanya.

"Pak Bramasta, Anda bermaksud bilang,” suara Kalingga dingin dan tajam, “Bening, anak Anda sendiri, berani menggoda Anda?"

Bramasta menghela nafas panjang. "Saya tahu ini memalukan. Tapi dia memang suka mencari perhatian, saya akan menegurnya nanti."

Sudut bibir Kalingga terangkat tipis. "Benarkah? Tapi, kenapa pernyataan Anda berbanding terbalik dengan apa yang saya lihat?"

"Ya… ya...?"

Wajah Bramasta yang tadinya tenang mulai berubah. Senyum angkuh itu lenyap, berganti dengan raut cemas.

"Saya hanya percaya pada apa yang saya lihat, Pak Bramasta. Dan yang saya lihat adalah Anda mencoba melecehkan anak anda sendiri. Dan sekarang, Anda malah memutar balikkan fakta."

Hati Bening bergetar. Kali ini. Untuk pertama kalinya di dalam hidupnya. Ada yang membelanya.

"Nak, Kalingga, saya bisa jelaskan."

Tentu saja Bramasta panik. Pria itu mencoba meraih tangan Kalingga. Sayangnya, seperti ketempelan kuman, Kalingga langsung menepis tangan Bramasta.

"Tadi itu, saya--" Bramasta menelan salivanya.

"Anda tidak perlu membantah. CCTV di koridor juga merekam di apa yang terjadi lewat pintu yang terbuka," sela Kalingga dengan nada suara menajam.

"Saya bisa saja menggunakan ini untuk menghancurkan nama baik Anda di publik, impian anda untuk maju sebagai calon gubernur bisa saja pupus."

Bramasta terpojok. Begitupun dengan Bening. Dia terkejut dengan pernyataan yang baru saja Kalingga sampaikan.

Lalu, Bramasta luruh ke lantai. Pria paruh baya itu bersimpuh di kaki Kalingga. Lalu, dia meminta pengampunan kepada menantunya itu dengan gurat panik yang jelas terlihat.

"Am--ampuni saya, Nak Kalingga! Saya khilaf. Saya sungguh menyesal. Tolong jangan sebarkan apapun itu yang mengancam reputasi saya!"

Kalingga hanya menatapnya dingin.

“Jauhi Bening.”

Bramasta mengangkat wajahnya, rautnya penuh keberatan. “Tapi… dia putriku. Aku—”

Kalingga tersenyum tipis, seolah mengejek.

“Anda tidak sedang dalam posisi untuk bernegosiasi, Pak Bramasta. Bukan hanya reputasimu yang hancur, kerja sama antara keluarga Bramasta dan keluarga Adiyaksa juga akan runtuh. Anda tahu betul, perjodohan ini adalah bagian dari perjanjian politik.”

Bramasta terdiam. Dia kalah. Tidak ada celah untuk membantah.

“Baik… saya akan menjauhi Bening,” ucapnya pasrah, suara nyaris berbisik.

Kalingga mendengus dingin, lalu menoleh sekilas ke arah pintu. “Keluar.”

Bramasta menunduk dalam-dalam, lalu berdiri dengan langkah gontai. Tanpa berani menatap Bening lagi, ia berjalan keluar kamar, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang menekan.

Bening masih berdiri terpaku, tubuhnya bergetar. Ia menatap Kalingga dengan mata penuh pertanyaan, ingin tahu maksud dari semua sikapnya. Namun, pria itu hanya menatap balik dengan ekspresi dingin.

“Kenapa… Mas Lingga melakukan itu?” suara Bening lirih, hampir tak terdengar.

“Karena kamu istri saya sekarang. Sudah menjadi kewajiban saya menjaga kamu.”

Bening terdiam, hatinya berdesir. Kata-kata itu tidak ia sangka akan keluar dari mulut pria dingin yang hanya menikah kontrak dengannya itu.

Kalingga menatapnya sekali lagi. “Ingat, Bening. Mulai sekarang, kamu di bawah tanggung jawab saya. Tidak ada seorang pun, bahkan ayahmu, yang boleh melanggar itu.”

Bening menggigit bibirnya, menahan air mata yang hampir jatuh. Ia hanya bisa mengangguk pelan.

“Istirahatlah. Malam ini akan panjang.”

Malam panjang? Saat Bening mendongak, ia melihat Kalingga menutup pintu kamar itu, lalu mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang menyala hangat.

Tak lama kemudian, Kalingga mulai melonggarkan dasi dan kerahnya sendiri.

Jantung Bening berdegup kencang saat Kalingga mendekatinya dan mulai meraih resleting gaunnya.

“Mau lepas sendiri, atau perlu saya bantu?”

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   20. bab 20

    'Mati aku!'Bening mengingat semuanya. Dari saat dia pergi diam-diam dari apartemen, bertemu dengan pria bernama Alex hingga-- tidak. Bening tidak mau mengingatnya lagi. 'Kenapa aku bisa sebodoh itu? Kenapa aku malah menyerahkan diri?!' Jujur saja. Bening sudah tidak ada muka di depan Kalingga. Bening menggeliat gelisah di ranjang. Pipinya memanas, bukan hanya karena mabuk yang belum sepenuhnya hilang, tapi juga karena rasa malu yang menjalar sampai ke ubun-ubun.Sekarang, pasti Kalingga sedang menertawakan betapa murahannya dia. Bening menendang selimut, lalu duduk dengan wajah kusut. “Bening, kamu gila,” gumamnya lirih. “Kenapa kamu malah mencium Mas Lingga? Kenapa kamu malah--- akhh aku malu!!" erang Bening menjambak rambutnya sendiri. Kecemasan itu semakin menekan dadanya. Bening ingin bersembunyi, kemana pun asal tidak bertemu dengan suaiminya. Tapi, bayangan tatapan dingin Kalingga semalam terus menghantui.Larut dalam rasa kefrustasian, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Bening

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   19. Mabuk

    Setelah memastikan Kalingga benar-benar pergi dengan jas rapi dan wajah dinginnya, Bening berdiri lama di depan pintu apartemen. Nafasnya tercekat, tapi tekadnya bulat. Sekali saja, dia ingin merasakan kebebasan. Ia mengambil tas kecil, menyelipkan dompet dan ponsel. Langkahnya ringan, meski jantungnya berdegup kencang. Ia keluar dari apartemen, menuruni lift, dan akhirnya menjejakkan kaki di jalanan Singapura yang sibuk. Tujuannya jatuh pada Gardens by the Bay, taman ikonik dengan pohon-pohon raksasa buatan yang menjulang. Ia berjalan di antara bunga tropis, menatap air mancur yang berkilau. Bening menghirup udara dalam-dalam. Menikmati suasana yang begitu menenangkan. Bening, tidak pernah merasa setenang ini sebelumnya. Namun, kenyamanannya itu segera terganggu saat seorang pria dengan rambut coklat mendekat. Tersenyum ramah, pria asing itu menyapa. “Hi, are you alone?” (Hai, kamu sendirian?) Bening menegang. Jantungnya berdebar cemas. Awalnya, Bening ingin menghindari.

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   18. Berubah?

    Bening terkekeh sumir. Tanpa menatap Kalingga, gadis berujar pedih. "Memangnya aku siapa?" Matanya yang memandang gedung-gedung tinggi dari kaca kembali mengeluarkan air matanya. "Tanpa kamu minta juga, aku paham, Mas. Siapa aku dan di mana posisiku." "Jadi, kamu jangan khawatir." Selanjutnya, Bening membersihkan diri menoleh pada Kalingga. Tatapan mereka bertemu seakan saling menyelami. Kalingga tetap diam, namun tatapannya mendingin saat melihat setetes air mata membasahi pipi Bening. "Aku hanya minta dua hal dari kamu." suara serak Bening kembali menyambangi telinga Kalingga. "Jangan pernah bersikap seperti kamu memberikan harapan padaku." Bening menarik panjang nafasnya. "Cukup jangan pedulikan aku." Pandangan Bening menerawang pada udara.Sejenak, gadis itu menutup matanya, sebelum terbuka kembali dengan tatapannya yang menyendu. "Dari dulu, aku selalu diabaikan. Oleh keluargaku dan dunia. Kalau pun ada yang memperhatikan, itu bukan kasih sayang. Tapi penghakiman y

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   17. Ciuman Paksa

    Bening tidak tahu dengan apa yang terjadi. Yang pasti, Kalingga tidak dalam kondisi mood yang baik. Bening merasa tertekan di sepanjang perjalanan menuju rumah. Brak! Gadis itu terperanjat, saat Kalingga membanting pintu kasar. Tanpa menganggap Bening ada, Kalingga gegas masuk ke dalam rumah dengan auranya yang tidak mengenakkan. 'Sebenarnya ada apa, sih?' keluh Bening mengikuti jejak Kalingga. Sampai di ruang utama, Bening dapat melihat pelayan yang mondar-mandir sedang bekerja. Lalu, tak lama Kalingga kembali terlihat dengan menarik kopernya. Wajah pria itu masih sama. Dingin dan mengeras. Kemudian, munculah Ira. Wanita itu juga membawa koper. Bedanya, koper yang dibawa Ira diserahkan padanya. "Nyonya, ini koper anda." kata Ira dengan nafas yang memburu. "Perasaan, aku tidak memintamu menyiapkannya." balas Bening. Meskipun begitu, ia tetap menerima kopernya dari tangan Ira. "Tuan yang memerintah saya, Nyonya." Lantas, Bening kembali melirik Kalingga. Pria itu sedang b

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   16. Rumah Sakit

    "Kamu pikir, saya semurah itu, Bening?" jawaban Kalingga dengan suaranya yang rendah berhasil membangkitkan bulu kuduk Bening. "Jawab.""Bu--bukan seperti itu maksudku..." Bening menggigit bibirnya. Kenapa malah dirinya yang terpojok? Niatnya ingin membuat Kalingga mengiyakan permintaannya, tapi kenapa malah dirinya yang menjadi di intimidasi. "Kamu salah kalau ingin mengendalikan saya, Bening." ucap Kalingga membuat nafas Bening semakin tercekat. "Terimakasih kopinya. Silakan keluar dari ruangan saya." Pengusiran itu, Bening tanggapi dengan hembusan nafas panjang. Tanpa menjawab, Bening beranjak pergi. Namun, baru dua langkah dia berjalan, tidak sengaja kakinya tersandung kaki meja. Bening terpekik. Kalingga yang melihat kejadian itu, reflek menarik lengan Bening. Mungkin, tujuan Kalingga supaya Bening tidak terjatuh ke lantai. Namun, yang terjadi malah Bening yang tertarik ke pangkuannya.Keduanya terdiam di tengah keheningan. Bahkan Bening dapat mendengar debar jantungnya send

  • Istri Kontrak Politisi Angkuh   15. Kalingga marah?

    “Ikut saya.”Suara Kalingga terdengar dingin, berat dan rendah. Pria itu meraih pergelangan tangan Bening, menariknya tanpa memberi kesempatan untuk bertanya. Langkahnya tegas, membuat Bening harus setengah berlari agar tidak tertinggal.“Mas Lingga, kita mau ke mana?” suara Bening cemas, penuh kepanikan. Tidak ada jawaban. Kalingga terus melangkah, membawa istrinya menuju lift. Saat pintu terbuka, Kalingga mendorong Bening agar masuk ke dalamnya, sebelum kemudian dia menyusul. Suasana di dalam lift terasa menekan. Hanya suara mesin yang terdengar, sementara Bening menunduk. Mengigit bibir cemas, jemari Bening meremas ujung dress pastel yang dia kenakan. Apa yang salah dari pertanyaannya? Bening membatin. Dia hanya menyebut nama Serena, tapi reaksi Kalingga seolah Bening mengumumkan perang dunia ketiga. Lift berhenti di lantai tiga. Kalingga menggiring Bening keluar, lalu membuka pintu sebuah kamar. Begitu masuk, ia menutup pintu dengan keras. Bening terperanjat ketika tubuhnya di

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status