Share

5. Perhatian Mas Leo

Penulis: Aprillia D
last update Tanggal publikasi: 2026-07-14 17:12:01

Langit-langit putih menyambut pemandanganku begitu aku membuka mata. Aroma desinfektan menyapa penciumanku, memberitahuku bahwa aku masih di rumah sakit, tapi bukan di ruanganku.  

Di mana aku? Aku menunduk melirik tanganku yang di infus. Sepertinya aku di ruang rawat inap.  

Aku mengernyit. Kepalaku pusing. Tubuhku rasanya masih lemas. Tenggorokanku juga kering. 

“Akhirnya sadar juga.”  

Aku tertegun mendengar suara yang amat familier itu. Aku melirik ke samping ke mana suara itu berasal. Mas Leo duduk di sofa, menatapku. Kakinya menyilang dengan tablet tak lepas dari tangannya.  

Aku mengernyit lagi dan lagi. “Mas Leo kok ada di sini? Bukannya tadi udah pulang? Aku nggak lagi mimpi, kan?”  

“Jangan banyak tanya,” jawabnya datar.  

Aku kembali mengedar pandang pada isi ruangan itu. Lalu kembali memandang tanganku yang di infus. “Mas, aku kenapa ya di sini? Di infus segala, berlebihan deh.” 

Pria yang mengenakan kemeja itu meletakkan tabletnya di sofa. “Tadi kamu pingsan di IGD. Gula darah kamu drop. Dehidrasi. Dokter suruh istirahat dua hari.” 

Aku diam mencerna semua ucapan Mas Leo. Aku masih tak percaya dengan apa yang aku alami sekarang. Dan kenapa dia bisa ada di sini? Dia tidak mau menjawab pertanyaanku.  

Aku mencoba bangun, hendak duduk, tapi kepalaku pening hingga aku merintih. 

“Jangan banyak gerak kenapa?”  

“Mas pasien di IGD gimana? Rasanya aku nggak perlu deh sampai dirawat dua hari segala.” 

“IGD ada perawat lain yang tangani. Kalau dokter suruh istirahat ya istirahat. Berani melawan dokter?” 

Aku mengernyit bingung. “Dokter siapa? Dokternya mana?”  

“Aku dokternya,” jawab Mas Leo yang lantas berdiri, berjalan mendekatiku. “Kalau mau pulang, ganti baju dulu, istirahat di rumah aja,” beritahunya lagi.  

Aku mengulum senyum melihat Mas Leo. Suamiku itu dingin tapi peduli, ya, selalu begitu. Kadang aku berpikir dia sudah mencintaiku. Hanya saja dia gengsi untuk mengakui. Tapi … 

Tiba-tiba wajahnya berubah kecut. “Ngapain senyum-senyum.” 

Lihatlah, sikapnya selalu saja begitu. Meskipun begitu aku tetap senang. Aku tersenyum lebar menatapnya. “Rasanya aku pengen sakit tiap hari deh, Mas, biar dipeduliin terus sama kamu.” 

Mas Leo lantas mengalihkan pandangannya ke lain arah. “Jangan bodoh. Kalau kamu mati di sini, yang malu siapa? Aku.” Dia kembali menatapku dengan pandangan menusuk. 

Senyumku langsung memudar. Hatiku sakit mendengarnya. “Maaf, Mas.” 

“Kenapa sih kerja sampai lupa makan begitu? Kebiasaan.” 

Aku diam saja.  

“Jadi mau pulang atau nginap di sini?”  

*** 

“Kamu jangan mikir aneh-aneh. Aku cuman nggak mau nanti kalau Mama tahu, kamu dianggap istri yang buat malu lagi,” jelas Mas Leo panjang lebar  saat kami sudah di mobil, menuju perjalanan pulang. 

Ya, akhirnya aku memutuskan pulang ke rumah, tentu saja. Dan Mas Leo mengatakan sebaiknya besok aku tidak usah masuk kerja. Aku harus istirahat sehari sebelum nanti kami menghadiri acara ulang tahun rumah sakit kami di ballroom hotel. Aku rasa Mas Leo berlebihan. Tapi aku tak punya pilihan lain selain menurutinya.  

“Iya, Mas,” jawabku sambil tetap melempar pandang ke luar jendela, ke arah jalanan yang ramai. Jadi alasan Mas Leo peduli padaku lagi-lagi karena pencitraan. Karena tak mau Mama marah, tak mau orang-orang salah paham. Aku sudah berharap jauh berpikir Mas Leo sudah mencintaiku. 

Tiba-tiba sebotol air mineral dan roti dilempar ke pangkuanku. Aku melirik makanan itu.  

“Minum dan makan,” suruh Mas Leo. 

Aku menoleh. Mas Leo fokus menyetir.  

“Iya, Mas. Makasih, ya.” 

Aku membuka tutup botol itu pelan-pelan. Lantas meneguk air itu hingga setengah botol. Aku haus sekali. Selanjutnya aku makan roti, makan dalam diam.  

Tiba-tiba aku teringat Melia. Apakah informasi Mama tentang kepulangan Melia itu benar? Dan apakah Mas Leo sudah tahu? Apakah Mas Leo bahagia dengan kepulangan mantannya? Apakah Mas Leo benar-benar masih mengharapkan mantannya?  

Aku melirik Mas Leo yang sibuk menyetir dalam diam. “Mas.” 

“Hmmm.” Dia menyahut tanpa menoleh.  

Aku tak langsung bicara. Entahlah, rasanya aku takut mengetahui reaksi Mas Leo soal Melia. Tapi … aku harus bicara.  

“Katanya Melia mau pulang. Kamu udah tahu?” Aku tak menyangka pertanyaan itu akhirnya keluar juga, pertanyaan yang kupendam karena takut.  

Dan Mas Leo hanya diam, tapi ekspresi wajahnya berubah, seperti terkejut.  

*** 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Naila Ahmad Farah Adiba
aduh gausah nanya aja Kirana kalau gituuu, jadi berubah kann
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Istri Kontrak sang Dokter Dingin    48. Sikap yang Aneh (2)

    “Apa maksud pertanyaanmu?” Mas Leo malah bertanya balik, terdengar defensif. Aku lalu menoleh padanya. Aku tidak mau dia salah paham dengan pertanyaanku. Aku juga tidak mau dia berpikir aku berniat membalas perselingkuhannya. “Bukan apa-apa. Lupakan aja,” jawabku kemudian. Suara Mas Leo tak langsung terdengar, sebelum akhirnya. “Kamu kenapa nggak marah?” Aku langsung menoleh mendengar pertanyaan tak terduga itu. Aku menatap wajahnya yang masih fokus menyetir, lama. Kenapa dia malah bertanya seperti itu? “Marah kenapa?” “Liat aku sama Melia.” Aku menghela napas. Jujur saja, hatiku sakit bahkan tiap mengingatnya, tapi aku tidak mau jika harus menampakkan hal itu di depan Mas Leo. “Kan kamu sendiri yang selalu bilang aku nggak boleh ikut campur urusanmu sama Melia.” “Iya memang,” jawab Mas Leo lagi. “Aku sama Melia ada urusan yang nggak bisa aku kasih tahu kamu.” Alasan itu dulu pernah Mas Leo ucapkan saat aku memergokinya di restoran. Dulu aku tak percaya. Sekarang aku sudah t

  • Istri Kontrak sang Dokter Dingin    47. Sikap yang Aneh

    Aku menoleh. Mas Leo berdiri di belakangku, menatapku penuh tanya. Dia bahkan masih mengenakan pakaian OK biru, maskernya turun ke dagu. “Mas sejak kapan kamu di sini?” tanyaku heran. Pria itu tersenyum miring. “Sibuk banget ya sampai nggak sadar aku ada,” jawabnya. Aku tertunduk. “Maaf, Mas.” “Aku mau bikin laporan operasi buat pasien yang masuk tadi malam. Kata suster Lilis kamu belum input laporannya, ya?” Aku langsung mengangkat pandangan, kembali menatapnya. Aku pun baru teringat akan hal itu. Lalu melirik suster Lilis yang masih di meja nurse station, dia menatapku tak nyaman. Mungkin merasa tak enak hati karena sudah mengabarkan hal itu pada Mas Leo. “Maaf, nanti aku input, Mas,” jawabku kemudian. “Sekarang serah terimanya udah selesai, kan?” Mas Leo melirik pena yang baru saja kuletakan di atas meja. “Udah, sih, Mas.” “Kerjakan sekarang.” Aku langsung menatap kedua sahabatku yang masih di sana. “Gaes nanti aja ya ngobrolnya, aku sibuk, maaf, ya?” Aku merasa tak n

  • Istri Kontrak sang Dokter Dingin    46. Hari Pertama Jaga Malam

    “Mas Leo? Melia?” tegurku yang spontan membuat keduanya menoleh. Melia menatapku terkejut dan langsung mendorong tubuh Mas Leo. Suamiku itu pun mundur dengan wajah tenang, bahkan saat melihatku. “Kirana, jangan salah paham, ya?” ucapnya kemudian. Tadinya aku ingin abai saja, ada pasien yang harus kutangani juga. Namun, perkataan Mas Leo barusan rasanya sayang kalau tidak dijawab. Aku mendekatinya. “Saya cuman mau mengingatkan kalau mau mesra, jangan di tempat kerja. Jangan memberi contoh yang nggak baik buat anak lain.”Melia langsung menatap tak suka mendengar jawabanku. “Nggak usah sok ngajarin saya, ya. Lagian siapa juga yang mesra di tempat kerja.”“Iya, ini semua nggak seperti yang kamu pikirkan, Kirana.” Mas Leo ikut menyahut. Lagi-lagi bersikap seakan takut aku salah paham. “Baguslah. Lain kali jangan diulangi,” jawabku kemudian. Aku lantas bergegas pergi dari hadapan mereka. Menemui pasien kritis itu. Namun, sepanjang langkahku menuju ke sana, pikiranku mendadak tak mene

  • Istri Kontrak sang Dokter Dingin    45. Perhatian Kecil

    Bab 45 Pukul 04.00 WIB Akhirnya pekerjaanku mereda, IGD lengang. Para pasien sudah dipindahkan ke bangsal. Para perawat istirahat di ruang perawat. Aku juga. Tapi aku tidak benar-benar istirahat. Saat mereka berbaring di sofa, aku duduk di meja, menatap berkas laporan. Walaupun sebenarnya pinggangku ingin patah. Sesekali aku menguap kecil. Pintu ruangan terbuka, aku melirik ke arah sana. Suster Risya masuk membawa dua botol mineral. Dia tersenyum melihatku. “Istirahat dulu, Bu. Pekerjaan nggak ada habisnya,” komentarnya melihat kertas-kertas di atas meja. Lalu dia meletakkan sebotol mineral di depanku. “Minum, Bu, setelah itu istirahat.” Aku tersenyum mengambil mineral yang dia berikan. “Makasih, ya.” Lalu meneguknya pelan hingga airnya setengah. Sejak masuk ke IGD hingga sekarang aku memang belum ada minum. Risya benar, sebaiknya aku istirahat sebentar. Aku pun baring di sofa. Nyaman sekali rasa pinggangku saat berbaring di atas sofa. Aku memejamkan mata. *** Aku tak tahu

  • Istri Kontrak sang Dokter Dingin    44. Mencari-cari Kesalahan

    “Bu Kirana! Tolong!” Malam itu sekitar pukul tujuh, aku baru saja masuk ke ruang IGD. Suster Risya sudah menghampiriku, wajahnya panik. “Tolong, Bu, IGD overload!” suaranya terdengar tumpang tindih dengan suara berisiknya IGD. Suara teriakan laki-laki dan perempuan menangis. Padahal kepalaku sebenarnya juga masih penuh memikirkan soal Mama. Setelah kutanyai soal obat high alert itu, Mama akhirnya mengaku bahwa memang dia yang sengaja menghilangkannya, untuk menjatuhkanku. Bahkan Mas Leo juga sudah tahu. Aku begitu kecewa. Namun, aku tak bisa berbuat apa-apa selain menerima kenyataan yang menyakitkan, dan tetap menjalani tugas dalam keluarga itu sebagaimana seharusnya. Aku langsung melangkah cepat menghampiri brankar yang berjejer. “Di sana ada pasien laki-laki yang mengalami tabrak lari setengah jam lalu, Bu,” jelas Risya menunjuk pasien yang berteriak kesakitan. Darah kental tampak melumuri kedua kakinya. Sementara itu di brankar tengah ada pasien dengan ibu hamil yang s

  • Istri Kontrak sang Dokter Dingin    43. Ternyata?

    "Bibi senang sekali Non Kirana balik lagi ke sini. Alhamdulillah, ya, Non …,” ucap Bi Inem sambil mengelap piring yang hendak dimasukkan ke dalam lemari. Sementara aku hanya duduk di kursi makan sambil mendengarkannya bicara, sesekali menyeruput teh hangat yang kubuat. Bi Inem melarang aku membantunya. Meski aku memaksakan diri, orang tua itu tetap melarangku. Katanya kalau aku mencuci piring dia akan kecewa padaku. Dia tidak mau membiarkanku bekerja. Alhasil aku hanya duduk menemani sambil berbincang banyak hal. “Iya, Alhamdulillah, Bi, masalahnya udah selesai.” Aku mengedar pandang pada dapur itu. Aku benar-benar tidak menyangka akan pulang lagi ke sini. Waktu Mas Leo mengusirku kemarin, aku pikir itu terakhir kali aku menginjakkan kaki di rumah ini. Tak pernah sedikit pun terbesit aku akan pulang. Apakah aku terlalu cepat menerima maaf Mas Leo? Ah, sudahlah, yang paling penting aku punya tempat tinggal. Dan entah kenapa, setelah tahu alasan Mas Leo dekat dengan Melia,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status