MasukBagi Flora, jatuh cinta itu seperti menyerahkan diri untuk dikecewakan. Sejak orang yang ia cintai tak pernah memandangnya dengan cara yang sama, Flora memilih untuk tidak jatuh cinta lagi. Setampan apa pun pria itu, ia memilih untuk tidak mempertaruhkan perasaannya. Bagi Rainer, cinta adalah sebuah komitmen yang tidak akan bisa ia pertahankan. Ia tidak siap jatuh cinta. Baginya, jatuh cinta adalah sebuah masalah. Sepanjang hidupnya, Rainer berusaha menghindari ‘masalah’ itu. Bagaimana jika akhirnya dua orang yang menghindari jatuh cinta itu bertemu dan menjalin pertemanan?
Lihat lebih banyak“Gue lupa bilang kalau Aurel ngajak ketemu siang ini.””Hmm. Lo yang mau ketemu adik lo, kenapa laporan ke gue?””Maksud gue, ngajak lo juga.””Gue?””Iya, lo nggak baca chat Aurel?””Belum lihat hape dari tadi. Emang kenapa gue mesti ketemu adik lo?””Gaun lo. Dia mau nyiapin gaun buat lo.””Harus?””Kan lo bilang setuju buat ikut ke Bali. Jadi Aurel mau siapkan gaun buat lo.””Pakai karung goni aja deh gue,” candaku.”Oke juga ide lo.” Rainer ikut tertawa. Ia menyuap omelet ke dalam mulutnya. “Tapi gue nggak mau ikutan viral nanti. Jadi kalau lo nggak mau muka lo terpampang di akun medsos sepupu-sepupu gue cuma pake karung goni, lo harus fitting gaun lo siang ini.”“Kalau cuti gue nggak di-approve gimana?””Gue bakar Menara Zahid,” jawabnya santai.Aku mencibir, membawa piring kotor ke wastafel untuk dicuci. Dia menaruh piring kosongnya di atas piringku. Saat aku meliriknya tajam, biawak darat ini hanya tersenyum lebar sambil men
Apartemen di lantai teratas ini adalah rumah kedua Rainer. Tapi tampaknya dia banyak menghabiskan waktu di apartemen ini daripada di rumahnya sendiri. Mungkin karena satu gedung dengan tempat usahanya, jadi lebih nyaman tinggal di sini daripada harus bolak balik ke rumah orang tuanya. Aku menghempaskan tubuh di sofa besar. Sudah lewat tengah malam, mataku pun sudah mulai mengantuk. ”Gimana cewek yang tadi? Berhasil bikin lo klimaks?”“Siapa yang bilang gue klimaks?””Lo bawa dia buat having sex ‘kan?””Nggak. Tadi gue dipanggil manajer gue karena ada anggota VIP yang bikin masalah di lantai tiga.”Aku melirik punggung tangannya yang tampak memerah.”Lo gebukin?””Dia yang mulai. Jadi gue hajar aja biar sadar. Gue benci sama orang arogan yang merasa dia bisa ngelakuin seenaknya mentang-mentang jadi anggota VIP di klub gue.”Ya, Rainer memang sangat ketat terhadap aturan VIP klub. Jika ada yang melanggar aturan yang telah ditetapkan, Rainer tak akan berpikir dua kali untuk memberi pel
Ini menyenangkan. meskipun pada awalnya aku tak berekspektasi apa-apa terhadap pria bernama Zack ini, tapi entah bagaimana obrolan kami mengalir begitu saja seolah pikiran kami sejalan pada arah yang sama.”Dan lo tahu apa? Itu terakhir kalinya gue sok jadi pahlawan. Gue kapok,” ucapnya sambil geleng-geleng kepala. “Sekarang gue nyerah soal begituan, bodo amat, deh.””Gue juga pernah.” Tanpa sadar ini sudah gelas ketiga yang kuminum. “Gue udah nggak mau lagi peduli sama urusan orang lain. Bukannya jadi bagus, malah runyam. Sekarang, gue cuma liatin doang apa pun itu selain urusan gue.”“Memang brengsek tuh anak, padahal niat gue bantuin, malah jadi kambing hitam.””Dan kalian masih temenan?””Nope,” jawabnya sambil mengambil gelasnya. “Gue cut off. Makin tua, gue makin sadar sama banyak hal. Kalau rasanya tuh orang cuma ngerugiin gue doang, cuma bikin masalah dalam hidup gue, mending gue nggak usah kenal lagi. Sekarang bukan umurnya buat nambahin masalah. Beban hidup aja udah berat ba
“Hai.”Pria itu akhirnya duduk di sampingku. Aku melirik perempuan yang ia tinggalkan, tampaknya sudah menemukan pria lain yang bisa ia cium.Tanpa kusadari, mataku tertuju pada bibir Rainer.”Kenapa?””Nggak, gue cuma heran, kenapa lo doyan banget sentuhan bibir sama cewek yang bisa ciuman sana sini setelah ciuman sama lo?”Rainer ikut melihat ke arah yang sedang kutatap. Dan dia hanya tertawa santai.”Tadi cuma taruhan.” Ia berbicara sambil meriah tisu untuk mengelap bibirnya. Lihat kelakuannya, dia bisa dengan mudahnya taruhan dengan orang lain entah itu dalam seks atau sekadar making out. Tidak heran mengapa di mataku dia tampak seperti anomali.“Babe… temenin gue….” Seorang perempuan datang lalu memeluk lengan Rainer. Perempuan berbeda dengan yang ia cium tadi, tentu saja.”Ntar aja, gue mau temenin temen gue dulu. Lo sama yang lain aja dulu.”Perempuan itu menatapku terang-terangan dengan tatapan jengkel, dan yang kulakukan hanyalah mengangkat satu alis sebagai jawaban. Dia men












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan