绝不原谅!离婚后季小姐独美

绝不原谅!离婚后季小姐独美

By:  燃灯灯Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
Not enough ratings
62Chapters
3views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Selama tiga tahun, Sienna mengorbankan harga dirinya. Dia selalu bersikap lembut dan penuh perhatian. Namun, sebagai balasannya, yang dia terima malah kabar kematian ayahnya. Demi mendapatkan akses ke sumber daya medis yang dikuasai Cedric, Sienna rela hidup dalam pernikahan tanpa cinta. Dia menyingkirkan semua ego, selalu patuh, selalu mengutamakan suaminya. Namun, harapan itu hancur hanya oleh satu kalimat. "Ayahnya lebih membutuhkan itu." Sienna pernah mengira Cedric adalah penyelamatnya. Nyatanya, pria itulah yang mendorongnya jatuh ke dalam keputusasaan. Pada hari pemakaman ayahnya usai, Sienna menandatangani surat perjanjian cerai dan pergi tanpa ragu. Untuk pertama kalinya, pria yang selama ini selalu angkuh dan berdiri di puncak itu rela merendahkan diri. Matanya memerah saat memohon agar Sienna kembali. Sienna mencibir. Saat Cedric tanpa ragu menyerahkan sumber daya medis kepada orang lain, apa dia pernah membayangkan akan ada hari seperti ini? Dengan nada datar, Sienna berkata, "Maaf, Pak Cedric. Tolong menyingkir sedikit. Kamu menghalangi jalanku."

View More

Chapter 1

Bab 1

Setelah para pelayat meninggalkan pemakaman, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Sienna Budiman melangkah pulang dengan tubuh yang terasa begitu berat. Saat memasuki rumah, pandangannya langsung tertuju pada sepasang sepatu di dekat pintu masuk.

Suaminya yang menghilang tanpa kabar selama tujuh hari akhirnya pulang.

Kepergian ayahnya terjadi begitu mendadak. Sejak berpulang hingga akhirnya dimakamkan, seluruh prosesnya memakan waktu tiga hari. Selama itu pula Sienna menelepon Cedric Prasetya lebih dari 50 kali, tetapi tak satu pun mendapat balasan.

Dari rumah sakit, rumah duka, hingga pemakaman, kalau bukan karena bantuan keluarga dan teman-temannya, mungkin dia sudah lama tumbang.

Aroma dupa dari rumah duka masih melekat di tubuh Sienna. Rasanya sangat bertolak belakang dengan harum lilin aromaterapi cemara yang memenuhi rumah.

Dengan wajah lelah, Sienna meletakkan tas di atas rak sepatu, berganti sandal, lalu masuk.

Di ruang tamu, seorang pria sedang bersandar santai di dekat jendela sambil menelepon.

Sienna berdiri diam di lorong memandangnya. Suara pria itu terdengar pelan. Sudut bibirnya dihiasi senyuman tipis.

Melihat itu, senyum getir muncul di bibir Sienna. Ternyata ponsel suaminya bisa dihubungi. Dia sempat mengira ponsel Cedric hilang.

Sienna sudah terlalu letih, sampai-sampai malas membuka mulut, apalagi mempertanyakan kenapa pria itu menghilang tanpa kabar. Semua itu sudah tidak penting lagi.

Dahulu, dia memilih menikah hanya karena tergoda pada jaringan koneksi medis yang dimiliki Cedric. Kini, karena ayahnya telah tiada, semuanya itu tak lagi berarti.

Pernikahan yang hanya tampak harmonis dari luar ini sudah bertahan tiga tahun. Memang sudah waktunya berakhir.

Yang dia inginkan sekarang hanyalah naik ke kamar, mandi, lalu tidur nyenyak.

Saat Sienna menaiki tangga dan menginjak anak tangga ketiga, dari belakang terdengar suara.

"Kamu dari mana? Kenapa pulangnya semalam ini?" Nada bicaranya mengandung teguran.

Sienna selalu hidup teratur. Dia jarang keluar malam untuk berkumpul dengan teman-temannya. Selesai bekerja, dia langsung pulang ke rumah. Setiap hari dia hanya berkutat mengurus suami dan dapur.

Bahkan saat ayahnya dirawat di rumah sakit, dia tetap memastikan semua pekerjaan rumah selesai sebelum Cedric pulang kerja.

Sandal selalu tertata rapi di depan pintu, kemeja di lemari selalu disetrika, lilin aromaterapi di ruang kerja dan secangkir teh hitam selalu siap sebelum pukul 9 malam.

Semua itu dia lakukan demi mempertahankan kesempatan menyelamatkan ayahnya. Namun, hasilnya?

Ahli bedah saraf yang sudah dijadwalkan untuk menangani ayahnya justru dipindahkan Cedric ke Jermani secara mendadak.

Sebenarnya kondisi ayahnya bukan tiba-tiba memburuk. Sejak awal, keadaannya memang sudah sangat kritis.

Namun, Cedric tetap memilih memprioritaskan pasien di Jermani, bahkan tidak berdiskusi dengannya terlebih dahulu.

Langkah Sienna terhenti, tetapi dia tetap diam. Terdengar bunyi langkah kaki mendekat dari belakang. Sosok pria tinggi itu melewatinya, lalu berdiri mengadangnya di tangga.

"Operasi di Jermani berjalan lancar. Sebentar lagi Profesor Rios akan kembali ke ibu kota. Nanti aku akan atur operasi untuk ayahmu."

Jari-jari Sienna yang menggantung di sisi tubuhnya perlahan mengepal. Kesedihan di wajahnya tenggelam dalam bayangan.

"Nggak perlu."

Cedric mengernyit, mengira Sienna hanya sedang merajuk karena teleponnya tak diangkat. Dengan sabar, dia menjelaskan, "Beberapa hari ini aku harus menemani Lia. Ayahnya menjalani operasi, dia sangat cemas."

Lia yang dimaksud olehnya adalah putri kedua Keluarga Hartono, Thalia, keluarga yang sudah lama bersahabat dengan Keluarga Prasetya.

Bagus sekali ....

Sienna menunduk. Dia merasa semua ini sangat konyol. Kalau bukan karena dirinya, mungkin Thalia sudah lama berdiri di sisi Cedric secara sah. Demi menemani Thalia, pria itu bisa menghilang tanpa kabar selama seminggu.

"Ya ...." Jawaban Sienna terdengar lemah. Dia berusaha melewati Cedric untuk naik ke lantai atas.

Namun, pria itu kembali menghalangi jalannya dan merangkul bahunya dengan ringan. "Setelah urusanku selesai, aku langsung pulang."

Langsung pulang? Sienna menatapnya. "Jadi aku harus berterima kasih?"

Berterima kasih karena setelah menemani Thalia selama seminggu, dia masih ingat pulang dan memberinya belas kasihan berupa kata "langsung pulang"?

Melihat sikapnya, alis Cedric makin berkerut. Raut tak sabar mulai muncul di wajahnya. "Ada apa denganmu hari ini? Kenapa bicaramu nyindir terus? Bukannya aku sudah jelaskan? Kamu masih ngambek soal apa?"

Ngambek? Sienna tiba-tiba ingin tertawa. Ayahnya sudah meninggal tiga hari yang lalu. Pemakamannya sudah selesai. Para pelayat pun sudah pulang.

Cedric malah sama sekali tidak mendengar soal peristiwa sebesar itu. Padahal, rumah sakit tempat ayahnya dirawat berada di bawah naungan Prasetya Group.

Pernikahan mereka memang dirahasiakan. Sekalipun Cedric tidak tahu, bagaimana dengan asistennya yang setiap hari mengurus semua urusannya?

Mungkin bahkan sang asisten pun merasa urusan Sienna tidak pantas merepotkan Cedric.

Sienna mendongak menatap wajah pria di hadapannya. Da merasa semua ini sudah tidak ada artinya lagi.

Bibir merah mudanya sedikit terbuka. Suaranya begitu pelan, seringan embusan angin. "Cedric, kita cerai."

Dia sudah muak dengan pernikahan yang terasa seperti hidup tanpa pasangan ini, muak menjalani hidup yang hanya berputar mengelilingi seorang pria. Dia bahkan membenci dirinya sendiri yang selama ini rela merendahkan diri demi menyenangkan Cedric.

Cedric tertegun sejenak. Matanya yang sedalam jurang es meneliti wajah Sienna. "Cuma karena aku nggak angkat teleponmu?"

Sienna menunduk, menyembunyikan cahaya terakhir di matanya. "Ya. Cuma karena kamu nggak angkat teleponku."

Percuma menjelaskan. Dia sudah terlalu malas untuk berdebat.

Sienna mendorongnya pelan, lalu berjalan menaiki tangga.

"Sienna, kamu pernah terpikir gimana kamu akan hidup kalau meninggalkanku? Biaya pengobatan ayahmu begitu mahal, apa kamu sanggup menanggungnya?"

Di belokan tangga, langkah Sienna berhenti. Cedric memasukkan kedua tangannya ke saku sambil menyipitkan mata. Suaranya terdengar berat.

"Anggap saja aku nggak pernah dengar ucapanmu tadi. Istirahatlah lebih awal," ucapnya.

Lorong tangga begitu gelap. Namun, Sienna tetap bisa menangkap riak emosi di mata pria itu. Meremehkan. Pandangan meremehkan dari seseorang yang selalu berada di puncak kekuasaan.

Ponsel Cedric kembali berdering. Dia mengeluarkannya, melirik nama penelepon, lalu mematikan layar dan berbalik turun.

Kuku Sienna menancap kuat ke telapak tangannya. Menatap punggung pria yang makin jauh itu, dia berusaha keras menahan rasa sesak yang menyumbat tenggorokannya.

"Aku akan siapkan surat perjanjian cerai kita. Nanti kukirim ke kantormu lewat kurir."

Setelah kata-kata itu terlontar, langkah pria itu sempat terhenti sesaat. Namun, dia lalu kembali berjalan.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara pintu depan ditutup. Ruang tamu kembali sunyi. Suara mesin mobil menyala, lalu perlahan menjauh.

Tenaga Sienna seakan terkuras habis. Dia terduduk di lantai. Lantai marmer yang dingin masih kalah dingin dibandingkan hatinya.

Ponselnya bergetar. Sienna mengangkat telepon. Di seberang sana terdengar suara sahabatnya, Fiora.

Fiora sedang berada di luar negeri. Meski tidak sempat menghadiri pemakaman ayahnya, dia telah mengatur orang-orang untuk membantu mengurus semua keperluan.

"Nana, semuanya sudah kuatur. Kapan kamu mau ajukan gugatan cerai?"

Ujung jari Sienna seolah mati rasa. Setelah terdiam sejenak, dia menjawab, "Aku sudah bilang ke dia."

Tatapannya menyapu vila yang begitu luas. Selama tiga tahun, setiap sudut rumah ini telah dia bersihkan berkali-kali.

Cedric menyukai ketenangan. Karena itu, dia memberhentikan pembantu yang tinggal di rumah. Selain petugas kebersihan yang datang secara berkala, semua pekerjaan rumah dia kerjakan sendiri.

Dahulu dia begitu naif, menganggap tempat ini sebagai rumahnya. Kini, yang dia rasakan hanyalah asing.

Pada akhirnya, semua ini memang salahnya sendiri. Dialah yang terus merendahkan diri sendiri, berharap pria itu bersedia memandangnya lebih tinggi.

Di seberang sana, Fiora jelas terkejut dengan betapa cepat sahabatnya ingin segera bercerai. "Terus ... Cedric setuju?"

Sienna menjawab singkat, "Pendapatnya nggak penting."

Mendengar jawaban itu, Fiora tidak berkata banyak lagi. Selama ini, dia menyaksikan sendiri bagaimana Sienna merendahkan diri dalam pernikahannya.

Apalagi setelah ayahnya meninggal, hal itu benar-benar tidak bisa dimaafkan. Dia mendukung perceraian ini sepenuhnya.

Hanya saja, entah kenapa dia merasa Cedric tidak akan semudah itu melepaskan Sienna. Bagi Cedric, perceraian ini sama sekali tidak membawa keuntungan.

"Kalau sudah mengajukan gugatan, kamu pasti harus pindah. Kunci rumah di Shallow Bay masih sama kamu, 'kan? Kalau nanti kamu jadi pindahan, kasih tahu aku. Aku akan suruh orang bantu."

Sienna tersenyum tipis. Entah kenapa, hidungnya terasa perih. "Terima kasih, Fifi."

Fiora tertawa kecil. "Ngapain sungkan begitu? Ingat, selama masih ada aku, kamu akan selalu punya tempat untuk pulang."

Dia menghela napas, lalu meneruskan dengan sungguh-sungguh, "Jangan terjebak dalam hubungan yang nggak layak dipertahankan. Nggak ada seorang pun yang pantas membuatmu kehilangan harga diri dan cahayamu."

Air mata hangat menetes ke lantai. Sienna mengangguk pelan.

"Oh ya, aku hampir lupa. Sepertinya Stefan sudah pulang ke tanah air."

Stefan Budiman!

Jari-jari Sienna yang menggenggam ponsel langsung menegang, sementara sepasang matanya dipenuhi emosi yang sulit diartikan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
62 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status