ログインAnya tertidur nyenyak tanpa sadar di samping Rayden. Saat perlahan membuka mata, ia tampak terkejut mendapati laki-laki itu juga tertidur di sisinya dengan raut wajah lelah yang begitu jelas terlihat.Pelan-pelan, Anya mengalihkan pandangannya ke arah balkon. Angin malam berhembus cukup kencang, membuat gorden tipis yang menutupi pintu balkon terbuka itu berterbangan lembut mengikuti arah angin.Anya dengan hati-hati melepaskan lingkaran tangan Rayden di tubuhnya, lalu bangkit dari sofa. Sambil memegang perutnya ia melangkah berat menuju pintu balkon.Saat tangannya akan menutup pintu. Gerakkan tangannya terhenti, ia justru melangkah menuju balkon dan bersamaan itu angin berhembus menerpa wajahnya.Ia berdiri di sisi balkon, memandangi gemerlap kota malam yang tampak sunyi. Cahaya lampu gedung-gedung tinggi yang berdiri kokoh di sekitar apartemen itu memantul indah di matanya.Untuk beberapa saat, Anya hanya terdiam terpaku di sana. Tangannya perlahan mengusap perutnya ketika gerakan
“Jadi Papa ingin aku bicara seperti itu pada semua orang?” “Tentu saja. Papa tidak ingin nama perusahaan dan keluarga kita tercemar karna satu titik noda hitam.” Lucas mengucapkan dengan tegas tanpa ingin ada bantahan. Rayden menundukkan kepalanya sambil mengatur deru napasnya. Ia kembali menatap papanya sambil menggelengkan kepalanya pelan. “Aku tidak akan melakukan itu.” Raut wajah Lucas berubah marah mendengar jawaban putranya. “Aku tidak akan membohongi publik tentang siapa Anya, dan kenyataan bahwa dia sedang hamil anakku! Aku justru ingin mengumumkan bahwa dia akan menjadi istriku!” Mata Lucas berubah nyalang. Tangannya kembali melayang ke wajah Rayden, namun dengan cepat laki-laki itu menahannya dan mendorong kasar tangan papanya. “Aku memiliki hak atas hidupku! Bukan sebuah dosa aku menikahi perempuan yang mungkin status ekonominya berbeda. Mereka terlalu menuntut kehidupan sempurna dariku dan harus mengikuti ekspektasi mereka yang butuh drama dari orang-orang sep
Rapat kali ini dipimpin oleh Lucas, posisi yang seharusnya diisi oleh Rayden. Ketidakhadiran putranya dalam beberapa pertemuan terakhir mulai membuatnya merasa putranya tidak bisa bekerja dengan profesional. Dengan ekspresi tenang namun tegas, Lucas membuka rapat. Ia membalik beberapa lembar dokumen di tangannya, lalu mengalihkan pandangan ke layar laptop di hadapannya.“Baik, kita mulai dengan evaluasi pekerjaan dan progres pembangunan. Dari data dan laporan yang saya terima, masih ada sejumlah komplain dari klien.”Lucas menatap karyawan yang bertugas mengurus proyek kontruksi sebuah pembangunan di pusat kota.“Ada yang bisa menjelaskan kenapa ini bisa terjadi? Padahal proyek ini sudah kita jalankan sesuai prosedur.”Ruangan mendadak hening. Tak ada yang langsung berani menanggapi, hingga akhirnya salah satu karyawan memberanikan diri angkat bicara.“Sebelumnya, saya bersama beberapa tim sudah melakukan pengecekan langsung ke area proyek, Pak. Dari hasil di lapangan, mandor dan beb
Rayden yang melangkah menuju ke parkiran terhenti langkahnya, ia melihat ke arah Anya yang diam termenung sambil bersandar di body mobil.Ia pun melanjutkan langkahnya menghampiri perempuan tersebut yang seakan terlalu larut dalam lamunannya hingga tak peduli dengan keadaan sekitar.“Sudah kamu ambil barangnya?”Anya tersentak dan spontan menoleh begitu mendengar suara Rayden. Matanya mengerjap penuh keterkejutan yang sulit disembunyikan.Anya menundukkan kepalanya dengan perasaan gugup yang melanda.Rayden merentangkan kedua tangannya, mengurung Anya di antara tubuhnya dan body mobil. Ruang sempit itu langsung terasa menekan, seakan tak memberi celah bagi Anya untuk pergi.Anya mendongak, menatap wajah laki-laki itu. Matanya melirik pada kedua tangan Rayden yang bertumpu di sisi mobil, sebuah penjara yang membuatnya tak bisa pergi.“Apa Elsa mengatakan sesuatu padamu?” tanya Rayden serius, tatapannya tajam tanpa berusaha disembunyikan.Anya menggeleng pelan. “Tidak. Kami hanya mengo
Suara bel yang berbunyi keras membuat seorang perempuan yang tengah sibuk menghias wajahnya langsung menoleh ke sumber suara.Senyuman terbit di wajahnya. Ia segera bangkit dari kursi, namun sebelumnya ia membenarkan piyama yang ia kenakan. Memastikan dirinya benar-benar seperti orang sakit.Ia melangkah cepat menuju pintu, begitu dibuka. Senyuman terukir di bibir Elsa begitu melihat sosok Rayden. Laki-laki itu benar-benar datang ke sini. Sesuai keyakinannya, Rayden takkan bisa mengabaikannya dalam waktu yang lama.Elsa langsung memasang raut wajah yang menahan sakit.”Maaf membuat kamu repot datang ke sini, Rayden. Aku sakit jadi…”Perkataan Elsa terjeda begitu seorang perempuan muncul di belakang Rayden. Melihat arah pandang Elsa, Rayden melirik Anya di sampingnya.“Aku lupa memberitahumu, aku datang bersama dia. Kenalkan dia Anya,” ucap Rayden.Anya mengulurkan tangannya, namun tidak di sambut oleh Elsa yang justru menelisik penampilannya dari ujung kaki sampai rambut. Hingga membu
Melihat wajah tegang Anya, Rayden tiba-tiba terkekeh, membuat perempuan itu memasang wajah bingungnya.“Aku bercanda,” ucapnya.Raut wajah Anya yang tegang kini sedikit melunak, tapi tidak sepenuhnya menenangkan detak jantungnya yang berdebar tak karuan.Melihat Anya masih diam mematung, Rayden mengalihkan topik.“Anya, bisa buatkan kopi?”Anya yang sebelumnya diam kaku, kini mulai bergerak dan menganggukkan kepalanya. Tanpa mengatakan apapun ia beranjak dari tempat itu, melangkah menuju dapur.Begitu tiba di sana, bi Jumi langsung memberikan godaan pada Anya.“Gelangnya bagus, Mbak,” ucapnya sambil melirik gelang yang Anya kenakan.”Sepertinya Pak Rayden tahu gelang yang cocok untuk Mbak Anya.”Anya tidak menjawab. Ia tetap fokus meracik kopi untuk Rayden, seakan setiap gerakan tangannya adalah cara untuk menghindari percakapan . Namun, ucapan Bi Jumi berikutnya membuat gerakan tangannya seketika terhenti.“Sepertinya Pak Rayden sangat mencintai Mbak Anya. Saya bisa lihat dari gerak-g







