Chapter: Bab 58Anya buru-buru menjauh dari Rayden, ia segera turun dari ranjang. Namun, karna tak hati-hati ia langsung terjatuh ke bawah. Rayden refleks langsung bangun dari kasur. Ia segera membantu Anya yang memegangi perutnya. “Kamu tidak apa-apa?” tanya Rayden begitu khawatir. “Aku… aku tidak apa-apa,” jawab Anya sambil berdiri itu pun dibantu oleh Rayden. “Lain kali lebih hati-hati saat turun dari ranjang, kamu sedang hamil besar, Anya.” Perempuan itu hanya mengangguk. Ia melirik kedua tangan Rayden masih memegang pinggangnya. “Bisa dilepaskan?” Rayden langsung melepaskan rengkuhannya. “Bapak bisa kembali ke kamar Anda sendiri.” Ucapan Anya yang tersirat sendirian halus membuat Rayden langsung tersadar. “Maafkan aku, Anya. Aku sampai tidak sadar tidur di sini.” Anya hanya mengangguk kecil, dan setelahnya melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Pun saat Anya sudah di dalam terdengar suara Zico di sana. “Hati-hati di dalam sana, jangan sampai terpeleset.” Setelahnya terdenga
Zuletzt aktualisiert: 2026-02-26
Chapter: Bab 57Awalnya Anya ingin langsung istirahat. Tapi ia urungkan ketika ingin memakan buah-buahan yang disediakan oleh Rayden.Suasana ruang makan sunyi, hanya terdengar bunyi kecil garpu yang menyentuh piring. Anya menyuap potongan buah ke dalam mulutnya perlahan. Tatapannya melayang ke arah balkon yang sengaja dibiarkan terbuka. Angin malam menyusup masuk, membawa hawa sejuk.Langkah kaki terdengar mendekat.Anya tidak menoleh. Ia sudah tahu siapa yang datang. Hanya mereka berdua di unit apartemen ini.Rayden muncul, tanpa banyak suara ia menarik kursi dan duduk tepat di seberang Anya. Wajahnya tampak lebih segar dari sebelumnya, rambutnya masih basah, jelas baru saja selesai mandi. Tak ada sapaan. Hanya tatapan yang mulai saling menyadari keberadaan satu sama lain.“Suka dengan buahnya?” tanya Rayden sekadar basa basi.Anya hanya mengangguk kecil, ia menundukkan kepalanya sambil kembali memakan buah itu.“Aku membelikan sesuatu untukmu.”Perempuan itu mendongak begitu Rayden kembali bicara
Zuletzt aktualisiert: 2026-02-16
Chapter: Bab 56Setelah terdiam karna terkejut, kini Kevin membuka suara.”Ada hubungan apa Bapak dengan dia?” tanyanya.Rayden semakin menarik Anya hingga masuk ke dalam dekapannya, membuat dua orang di depannya semakin terkejut dengan tindakannya.“Saya rasa kamu bisa menilai sendiri,” jawab Rayden dingin.Kevin mengulum pipi dalamnya. Melihat sikap posesif laki-laki di hadapannya, sulit baginya untuk tetap berpikir jernih. Namun, mustahil Rayden menjalin hubungan istimewa dengan Anya. Tidak mungkin. Kevin berusaha menepis segala dugaan yang berputar di kepalanya.“Ajari dia untuk menjaga sikapnya,” lanjut Rayden dengan nada peringatan. “Saya tidak akan ragu membawa masalah ini ke kantor polisi jika Anya sampai disakiti.”Keduanya terdiam. Tidak ada lagi kata yang terucap. Rayden perlahan melepaskan lingkaran lengannya dari pinggang Anya.“Ayo kita duduk.”Anya menuruti tanpa bantahan. Ia segera mengambil tempat duduknya, berusaha mengabaikan kehadiran mantan suaminya, yang meski dari sudut matanya,
Zuletzt aktualisiert: 2026-02-08
Chapter: Bab 55Pukul lima sore….Rayden berpamitan pada Hanum, lalu meminta izin untuk membawa Anya pergi bersamanya. Anak-anak panti tampak berat berpisah dengan Anya. Beberapa di antara mereka bahkan tak kuasa menahan tangis ketika harus ditinggalkan oleh perempuan itu.“Selama Tante tidak ada, kalian jangan nakal, ya,” ucap Anya lembut sambil menyentuh pipi anak-anak itu satu persatu.Anak-anak berwajah polos dengan mata berkaca-kaca itu mengangguk serempak. Tanpa diminta, mereka memeluk Anya erat, seakan tak ingin melepaskannya, dipenuhi rasa sayang dan kehilangan.“Jangan lupa berkabar dengan kami, Nak Rayden. Bila Anya melahirkan tolong hubungi Ibu,” pinta Hanum.Rayden mengangguk seraya tersenyum.”Ibu tenang saja. Pasti akan saya kabari. Atau bila tidak ada waktu senggang kami akan berkunjung ke sini.”Hanum mengangguk. Tatapannya beralih pada Anya.“Jaga kandungan kamu sebaik mungkin ya, Anya. Semoga Tuhan selalu memberkati kebahagiaan untukmu.”Kedua wanita itu berpelukan sejenak, dan perla
Zuletzt aktualisiert: 2026-02-01
Chapter: Bab 54Rayden memijat pangkal hidungnya, dan perlahan menoleh pada gorden tipis yang terlihat di luar sudah sangat terang.Ia pun bangun dari kasur yang tadi malam ia tempati. Entah tidak biasa atau bagaimana, tapi yang jelas tubuhnya terasa pegal-pegal sekali.Rayden masih mengenakan pakaian yang semalam, karna ia tidak memiliki pakaian ganti. Laki-laki itu keluar dari kamar, dan langsung disambut oleh suara anak-anak serta kesibukan di dapur.Namun, Rayden justru melangkah ke pintu utama. Begitu tiba di sana, matanya langsung menyorot ke arah sosok Anya. Ia menyandarkan bahunya di sisi pintu sambil bersedekap dada.Pandangannya hanya terpaku pada perempuan itu. Apalagi melihat senyuman yang sudah lama tak ia lihat dari Anya.Anya tertawa lepas dengan anak-anak panti. Namun, tawa itu perlahan lenyap begitu melihat Rayden tengah memperhatikannya.Bibirnya mungkin diam, namun dari sorot mata laki-laki itu memancarkan sesuatu yang membuat Anya langsung membuang muka dan pura-pura tidak meliha
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-27
Chapter: Bab 53Anya mengusap wajahnya, ia memandangi luar jendela yang sudah tampak gelap di sana. Tidak terasa sudah dua jam ia mengurung diri dalam kamar ini.Ia bangkit dari kasurnya dan melangkah keluar. Begitu melangkah ke dapur, suasana dalam rumah itu terasa sangat sepi sekali. Apa anak-anak sudah makan malam dan tidur?Namun, Anya mendengar samar-samar orang yang tengah mengobrol di ruang tengah. Karna penasaran Anya melangkah ke sana, ia mengintip dari balik tembok.Pupil matanya melebar melihat Rayden masih di sini, dan tampak serius mengobrol dengan Harum. Perlahan Anya melangkah mundur, namun tak sengaja ia menyandung sesuatu yang membuatnya langsung jatuh terduduk di lantai.Mendengar suara keras, Hanum sontak bangkit dan melangkah ke sumber suara.“Anya?” Hanum buru-buru membantu perempuan itu bangkit.”Kamu tidak apa-apa?”Perempuan itu menggeleng dengan kepala menunduk. Sementara itu Rayden langsung mendekati Hanum begitu nama Anya disebut.Rayden tertegun melihat sosok Anya. Tanpa bi
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-18
Chapter: Bab 81Empat tahun kemudian …Suara tawa dan teriakan anak kecil mengisi sebuah kamar yang memiliki tiga kasur di dalamnya. Dua bocah berusia empat tahunan tampak berlari-larian dalam sana, mereka saling mengejar membuat sang kakak yang tengah fokus mengerjakan PR terlihat sangat terganggu."Jeva, Javier! Jangan teriak-teriak, kakak sedang mengerjakan tugas," tegur Levin lembut.Meskipun begitu, dua bocah kembar itu tak menggubris bahkan semakin menjadi-jadi membuat Levin frustasi dibuatnya. Levin yang kini berusia sepuluh tahun, tampak menggelengkan kepalanya. Dua adik kembarnya bukan hanya lucu tapi juga nakal.Levin membawa buku-buku pelajarannya keluar dari kamar. Ia akan mengerjakan tugasnya di perpustakaan pribadi milik ayahnya. "Kamu mau ke mana, Sayang?" Suara sang mama membuat Levin berbalik badan. Tinggi badan Levin hampir menyamai Naya, dulu terlihat kecil kini dengan cepat tumbuh besar. Levin semakin menyerupai Argio."Levin mau ke perpustakaan, mau ngerjain tugas," balasnya."
Zuletzt aktualisiert: 2024-05-19
Chapter: Bab 80 Saat semua tengah tertidur nyenyak, Naya terlihat gelisah dan tidak karuan berbaring di kasur. Beberapa kali ia berpindah-pindah posisi dari telentang, miring ke kanan dan ke kiri, namun tidak membuat rasa sakit di perutnya mereda.Argio yang berbaring di samping Naya, tampak terusik tidurnya. Perlahan ia membuka matanya dan mendapati Naya meringis kesakitan sambil memegangi perutnya."Kamu kenapa, Sayang?" "Perutku sakit, Mas. Perih."Argio segera bangun dari kasur lalu menyentuh perut Naya."Sebelumnya kamu makan apa? Tidak mungkin kamu akan melahirkan, usia kandunganmu belum sembilan bulan."Naya yang merintih kesakitan langsung terdiam. Ia mengingat-ingat sebelumnya makanan yang dikonsumsi dari pagi sampai malam."Sepertinya gara-gara makan mangga mentah. Soalnya sebelum tidur aku minta Merry mengupasnya mangga lagi."Argio geleng-geleng kepala mendengar jawaban Naya."Kan aku sudah bilang, jangan makan mangga kebanyakan, Sayang. Sekarang lihatlah sakit perut' kan.""Mas, marah?" M
Zuletzt aktualisiert: 2024-05-19
Chapter: Bab 79"Adek jangan nakal diperut Mama, kasihan Mama." Omelan lucu keluar dari bibir mungil Levin. Tangan mungilnya menepuk-nepuk perut Naya lembut. Meskipun kondisi Naya saat ini lemah, namun ia tidak bisa menahan tawanya mendengar omelan putranya. Dan tidak lama Argio masuk ke dalam kamar dengan membawa teh jahe hangat. "Minum dulu, Sayang. Kata Bunda ini bagus untuk perempuan hamil yang mual-mual."Dengan penuh perhatian Argio membantu Naya meminum teh jahe tersebut. Pria itu benar-benar menaruh seluruh perhatiannya pada Naya. Dengan dibantu oleh Argio, Naya meminum teh jahe yang diberikan. "Terima kasih.""Sama-sama, Sayang.""Itu apa, Yah?" Levin menatap penasaran pada air yang baru saja diminum oleh sang bunda."Ini teh jahe supaya Mama tidak mual-mual lagi, Nak. Levin mau coba?" tawar Argio.Dengan cepat Levin menggeleng. Melihat warna minuman itu saja sudah membuat bocah itu tidak berminat. "Hari ini aku ada urusan mendadak, Sayang. Mungkin sore baru pulang. Tidak apa-apa' kan j
Zuletzt aktualisiert: 2024-05-12
Chapter: Bab 78Pada akhirnya, Argio mengalah dan memutuskan untuk menuruti apa yang diinginkan oleh istrinya. Meskipun ia merasa kebingungan sendiri karena tidak pernah menyentuh peralatan dapur, apalagi memasak nasi goreng sebelumnya.Argio membuka aplikasi YouTube di ponselnya dan mencari konten yang menunjukkan cara memasak nasi goreng. Sementara Naya duduk dengan tenang di kursi dapur, sambil memakan biskuit kesukaannya, menunggu nasi goreng yang akan dibuat oleh Argio.Awalnya Argio tampak bingung, namun dengan pelan-pelan ia membuat nasi goreng itu dan sekitar 30 menitan nasi goreng yang Argio buat sudah jadi. Aroma wangi dari masakan Argio, membuat Naya bangkit dari tempat duduknya."Sudah jadi?" Naya menatap nasi goreng yang tak karuan tampilannya, tetapi sangat menggoda baginya.Argio mengangguk ragu. Ia memindahkan nasi goreng itu ke dalam piring."Kalau nasi gorengnya tidak enak, tidak usah di makan ya?"Naya mengangguk mengiakan ucapan suaminya. Mata Naya berbinar-binar menatap nasi gore
Zuletzt aktualisiert: 2024-05-05
Chapter: Bab 77Setelah mengetahui bahwa Naya tengah mengandung. Tanpa berpikir panjang, Argio segera pergi dengan mobilnya entah ke mana. Beberapa jam kemudian, Argio kembali ke mansion dengan membawa begitu banyak belanjaan, termasuk rujak yang ia beli di pinggir jalan.Argio tahu betul bahwa wanita hamil seringkali memiliki selera makan yang berbeda, dan banyak yang menyukai makanan yang asam-asam. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk memanjakan Naya dengan makanan yang ia sukai, seperti rujak. Argio berharap dengan memberikan perhatian seperti ini, bisa membuat kehamilan kedua Naya menjadi lebih istimewa dan berbeda dari yang pertama.Anggap saja hal yang ia lakukan sekarang sebagai penebus atas kesalahan yang ia lakukan saat Naya hamil pertama dulu."Sayang, aku bawakan sesuatu untukmu!" seru Argio masuk ke dalam kamar dengan membawa piring berisi rujak.Naya duduk bersandar di bahu ranjang dengan wajah yang tampak pucat. Wanita itu merasa tubuhnya masih terasa lemah."Masih pusing?" Argio melet
Zuletzt aktualisiert: 2024-05-01
Chapter: Bab 76Argio keluar dari mobil dengan terburu-buru, saat mendapatkan kabar Naya pingsan. Ia segera pulang ke mansion tanpa memperdulikan pekerjaannya yang belum selesai. Wajah pria itu terlihat sangat panik bercampur khawatir."Bagaimana bisa dia pingsan?" bentak Argio yang tampak marah pada para pelayan."Saya tidak tahu Tuan, tiba-tiba Nona Naya sudah tergeletak di lantai. Awalnya Nona Naya mengeluh tidak enak badan," jawab Merry, sedangkan pelayan lain tertunduk ketakutan.Argio mendengus dengan perasaan campur aduk antara khawatir dan panik, ia melanjutkan langkahnya dengan tergesa-gesa menuju kamar, dan dengan kasar membuka pintu kamar. Langsung ia menghampiri Naya yang belum sadarkan diri di atas kasur.Saat melihat Naya yang lemah dan tidak sadarkan diri, Argio merasa hatinya teriris melihat wajah pucat Naya. Argio duduk di samping Naya dan memegang tangannya dengan lembut."Sayang, bangun," ucap Argio lembut. Ia mencium tangan Naya berkali-kali.Takut, itulah yang Argio rasakan saat
Zuletzt aktualisiert: 2024-04-30