Share

Bab 7 – Omelan Mertua

Penulis: Miss Heaven
last update Terakhir Diperbarui: 2024-11-02 18:14:58

“Ini lagi! Kenapa cuma aku yang selalu dituntut? Memangnya anak bisa kubuat sendiri?” Darahku mendidih. Aku berbalik dan menatap Arlan dengan mata membelalak, duduk menghadapi lelaki itu.

Tak ada jawaban darinya, malah ia menahan tanganku dengan kuat saat aku hendak turun dari tempat tidur. Dengan paksa, Arlan menarik tubuhku hingga ambruk ke sisinya. Padahal kami baru saja melewati momen luar biasa. Mengapa harus diakhiri dengan pertikaian?

“Ayolah, jangan ngajak berantem. Aku masih pengen peluk kamu kayak gini, Areta,” suara Arlan melunak, nadanya memelas.

Tanpa sadar, aku pun tak melawan. Lengan ini dengan sendirinya melingkar di pinggangnya, mendekap erat. “Aku juga masih ingin seperti ini. Enggak cuma sebentar, tapi selamanya.”

“Areta, aku mohon banget banget. Ini bukan cuma soal kesenanganku, tapi demi mama yang lagi sakit keras. Kamu mungkin marah karena merasa nggak adil. Tapi, coba, kalau kamu ada di posisi mama atau ada di posisiku. Apa yang kamu rasakan?”

Hatiku mencelos, tapi aku tidak bisa menahan amarah yang berkobar. “Kok kamu gitu? Kalau sebaliknya, kamu jadi aku, apa yang kamu rasakan?”

“Loh, kalau kita nggak punya anak, kamu mau menyiksa diri selamanya dengan aku?” tanya Arlan.

Pertanyaan itu menusuk, membuat tubuhku kaku seketika. “Jadi kamu pikir, kalau kamu mandul, aku bakal ninggalin kamu, gitu?”

“Iya, kan? Pernikahan tanpa anak itu hambar, kan? Kamu tahan dengan suami yang nggak bisa kasih kamu keturunan?”

Ucapan itu langsung menekan dadaku. Aku menegakkan tubuh, menatapnya dengan luka di mata. “Arlan, aku bahkan belum terbukti mandul, tapi sikapmu sudah begini! Kalau tahu tujuanmu nikahin aku cuma untuk mendapat anak, aku nggak akan mau dinikahin sama kamu!” Tiba-tiba tangisku pecah, tak mampu kutahan lagi.

Arlan menatapku, tampak bingung. “Memangnya apa tujuan pernikahan kalau bukan untuk mendapat anak? Kamu pikir cuma buat biar hubungan seksual sah aja?”

Rasa kesalku memuncak. “Terserah! Aku udah capek menjelaskan kalau bukan cuma anak yang bisa bikin kita bahagia.”

“Saat ini, cuma anak yang bisa bikin aku bahagia, Areta!”

“Terus solusinya cuma menikah lagi, gitu? Jadi fungsi perempuan dalam rumah tangga itu hanya untuk beranak pinak, iya?!” Mataku menatapnya tajam, menuntut kejelasan yang semakin tak kutemukan.

“Apa kamu punya solusi yang lebih baik?”

“Loh, yang udah kita omongin sejak tadi itu bukan solusi? Ayo ke program bayi tabung!” Nada suaraku naik, saking geramnya.

“Enggak akan!” sahutnya tegas.

“Nah, keputusanku sama kalau gitu. Dimadu? Enggak akan!” Aku membalas dengan sengit.

Arlan terdiam, rahangnya mengeras menandakan emosinya mulai memuncak. Aku tahu pertanda ini. Kami akan bertengkar lagi tanpa akhir. Aku sudah lelah, sangat lelah. Yang kuinginkan hanyalah hari ini berakhir dan aku bisa mendapat sedikit ketenangan.

Dengan berat hati, aku turun dari tempat tidur, memunguti pakaian, dan berjalan menuju kamar mandi. Namun, suara Arlan menahanku.

“Mau ke mana kamu?”

“Mau mandi,” jawabku, agak ketus.

“Enak aja. Balik lagi ke sini!” sergahnya.

“Hah?” Aku menoleh, bingung dengan perintahnya yang absurd. Sebelum sempat bertanya lebih jauh, Arlan sudah bangun dan meraih tubuhku, menggendongku dengan erat.

“Arlaaaaaan! Mau apa kamu?” pekikku kaget saat tubuhku diempaskan kembali ke kasur dan ia menindihku. Erat sekali pelukannya.

Bisikannya terdengar pelan, tetapi penuh perih, memohon, “Tolong, Ta, jangan pergi dulu.”

Meski aku kesal, tak urung hatiku terasa iba mendengar nada suaranya yang terluka. Tanpa sadar, aku mengangguk dan mengulurkan tangan. “Ya udah, kita mandi bareng aja.”

Air hangat membasuh kami, memberi sedikit kedamaian setelah keributan. Kami melanjutkan makan malam dalam diam, saling menjaga suasana agar tetap damai. Usai makan, kami kembali ke kamar, mengulangi momen yang mengesankan, hingga akhirnya terlelap.

Menjelang subuh, aku terbangun, dan kami kembali melewati waktu bersama, seolah tak ingin menyia-nyiakan sisa waktu yang ada. Saat fajar, ia bertanya dengan suara lirih, penuh harap. “Kamu jadi pindah hari ini?”

Aku enggan menjawab, perih rasanya. “Kamu?”

“Jangan pindah, Areta,” kata Arlan memohon.

Kutatap lelaki yang mengisi hari-hariku selama empat tahun ini. “Jangan menikah lagi, bisa nggak kamu, Lan?”

Wajahnya langsung redup, dan aku tahu tidak ada titik temu. Ponsel Arlan berbunyi, memecah keheningan, dan aku tahu pasti siapa di ujung sana. Mama Yuli.

“Ya, Ma?” Arlan menjauh untuk menerima telepon, tapi rumah ini begitu sunyi hingga aku masih bisa mendengar percakapan mereka.

“Nggak jadi kemarin sore.”

....

“Iya, Ma. Hari ini.”

....

“Enggak, dong. Aku masih di rumah.”

....

“Iya, sama Areta.”

....

“Kenapa? Ma? Ma?”

Sambungan telepon terputus, dan tak lama kemudian, ponselku berdering. Tanpa mengecek layar, aku tahu siapa yang menelepon. Dengan suara berat, aku menyapanya, “Ya, Ma?”

“Kenapa Arlan tidak jadi pulang?”

Tidak jadi pulang? Memangnya rumah anakmu di mana, Mama? bukankah saat bersama istrinya, itu artinya dia “pulang”? Berulang kali, Mama Yuli menekanku untuk memberikan cucu, hingga akhirnya dia menyarankan Arlan menikah lagi. Aku menelan pahit tiap kali mendengar desakannya. “Oh, maksud Mama enggak jadi pindah ke rumah Mama? Belum. Baru hari ini rencananya,” jawabku, mencoba menahan emosi.

“Arlan bilang mau pindah kemarin, kenapa tidak jadi?”

Aku mencoba tetap tenang. “Barang-barang Arlan belum selesai dikemas.”

“Aduh, alasan kamu pintar sekali! Kalian ngapain aja semalam?” sentaknya.

“Hah?” Aku ternganga. Pertanyaan macam apa ini?

“Kalau mau cerai, ya cerai saja. Anakku jangan ditahan–tahan!”

“Maksudnya ditahan tuh gimana, Ma? Saya memang ingin bercerai. Mama bisa tanya sendiri pada Arlan.”

“Areta, Mama ingatkan sekali lagi. Barangkali jodoh kalian itu memang sampai di sini saja. Kamu masih muda dan cantik. Pasti banyak yang mau sama kamu, yang tidak menuntut anak seperti Arlan. Jadi, tolong, lepaskan anakku.”

Dada ini bergemuruh. Tanpa berkata, aku menyerahkan ponsel ke Arlan yang tampaknya sadar betapa emosiku hampir meledak.

“Mama, aku pulang sore ini. Nggak usah ngomelin Areta lagi.”

“Awas kalau dia bikin kamu terjerat lagi. Kamu tuh, sudah Mama minta mencari istri lagi dari dulu, tidak mau. Kalau terlanjur lengket begitu, kan, susah pisahnya.”

“Ma, udah dulu ya, aku tutup.”

Aku hanya menatap kosong pada Arlan saat ia mengembalikan ponsel.

“Sebaiknya kamu cepet pulang, Lan. Jangan sampai mamaku telepon aku lagi dan ngomel kayak barusan.”

“Aku sayang kamu, Reta,” bisiknya lirih, memelukku penuh sayang.

“Terus kamu mau aku jawab gimana? Aku juga sayang kamu, Arlan, gitu? Lan, kalau kamu beneran sayang aku, nggak akan kamu nyakitin hatiku dengan minta izin untuk nikahin Anya.”

Sungguh, aku ingin percaya. Tapi, benarkah dia mampu bertahan di sampingku, dengan semua ini di antara kami?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 39 – Extra Part 3

    Lima tahun kemudian….“Nes kamu mulai racik saos barbeque-nya deh.”“Iya, Ta, aku kelarin dulu potong paprika nih, kurang satu doang.” Sambil menusukkan paprika, jamur, sosis, dan udang ke tusukan sate untuk barbeque, aku mencuri pandang ke arah anak-anak yang sedang asyik bermain masak-masakan.Putra bungsuku, Eja, dengan percaya diri memainkan peran sebagai chef. Bocah kecil itu benar-benar lucu dalam keseriusannya, lengkap dengan celemek dan topi koki mainan. Di seberangnya, Valery, putri Vanessa dan Bang Azka menjadi teman bermainnya. Valery mencicipi hasil ‘masakan’ Eja sambil memberikan pujian yang membuat pipi Eja merona.“Aduh, sweet banget ya anak-anak kita,” Vanessa tersenyum sambil mulai membuat racikan saus andalannya. Matanya berbinar, menatap Eja dan Valery yang tampak harmonis.Aku tertawa kecil, merasa gemas melihat betapa polos dan manisnya mereka. “Iya, lihat tuh, Valery kelihatan betul-betul menikmati masakan chef Eja.”Namun, momen manis itu tiba-tiba dipecahkan ol

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 38 – Ekstra Part 2

    “Nes, kamu sama Bang Azka kenapa mesti banget nunggu setahun baru akhirnya menikah? Bukannya kalian udah lama ya pacaran?”Aku duduk di sudut kamar hotel, mengamati Vanessa yang tengah dirias. Kamar ini dipenuhi cahaya hangat, dan tangan terampil MUA bergerak di wajah Vanessa, menciptakan kecantikan yang semakin menawan. Malam ini Vanessa akan menjadi pengantin wanita, dengan Azka sebagai pria yang mendampinginya untuk selamanya.Vanessa terdiam sejenak, tatapannya terpaku pada bayangannya sendiri di cermin. Dengan suara yang lembut dan sedikit berat, dia akhirnya menjawab, “Areta … sebenarnya, aku tahu, Bang Azka dulu lebih naksir ke kamu.” Ia menunduk, seolah mempertimbangkan kata-katanya. “Setahun ini aku harus meyakinkan diri sendiri, juga meyakinkan Bang Azka, apakah kami benar-benar bisa menumbuhkan cinta di antara kami. Beuh, jadi puitis gini dah bahasaku.”“Ih mana ada lah. Bang Azka tuh naksir ke kita berdua, buktinya dia membuka diri ke kamu juga kan?”Tapi Vanessa tersenyum

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 37 -  Ekstra Part 1

    “Ututuuuuuu, Sayang, udah kenyang ya Princess Mama.”Satu tahun berlalu sejak semua keajaiban itu terjadi, dan kini aku sedang mengendong Arinda, bayi cantikku yang montok. Dia terus saja menggeliat dengan mata terpejam. Sesekali aku mengusap punggung mungilnya dengan lembut, berharap dia cepat terlelap, memberi kami sedikit waktu untuk beristirahat. Tapi yang membuatku tak henti tersenyum adalah kehadiran Arlan yang sejak tadi berdiri di pintu, menatap kami dengan mata penuh harap.Akhirnya, begitu Arinda tertidur pulas, aku membaringkannya di ranjang bayi di sudut kamar dan menoleh ke arah Arlan, yang tampaknya sudah tak sabar. Dia mendekat, melingkarkan lengannya di pinggangku, memberikan sentuhan-sentuhan halus di pundakku, seolah meminta waktu malam ini agar menjadi milik kami berdua.“Arin udah pulas kan, Ma?”Aku tersenyum lelah, tapi tak tega menolak. “Kayaknya sih udah, Pa.”Entah kenapa, meski tubuh ini penat, hatiku terasa hangat dengan cara Arlan menunjukkan cintanya. Kami

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 36 – Tempat Terindah

    “Sayang minum dulu,” kata Arlan sambil membukakan tutup botol air mineral yang kemudian disodorkan padaku.Kami duduk di kursi tunggu klinik sambil menggenggam tangan Arlan erat. Tak ada yang bisa menenangkan hati selain sentuhan hangatnya yang menyalurkan perasaan tak sabar, bahagia, serta sedikit cemas yang meluap-luap.Hari ini adalah hari yang begitu berarti bagi kami berdua—hari pertama kami melihat bayi kecil yang hadir di antara segala badai yang pernah kami lewati.Tak lama kemudian, suster memanggil namaku, dan kami pun masuk ke ruang dokter Aida. Arlan menggenggam tanganku lebih erat, seolah tak ingin melepas. Dokter Aida menyambut kami dengan senyum hangat, lalu meminta aku untuk berbaring di tempat tidur periksa. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan ketegangan di dada.“Baik, Bu Areta, kita mulai, ya?” katanya sambil menyapukan alat USG. Layar monitor di samping tempat tidur mulai menampilkan gambar abu-abu yang bergerak.Dokter Aida mengarahkan alat USG d

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 35 – Garis Dua

    Setelah melewati hari yang penuh emosi, aku akhirnya bisa tidur dengan pulas. Bukan hanya karena lelah menangis, tapi karena Arlan yang menemaniku dan memeluk erat sepanjang malam. Rasanya hangat, aman, dan damai.Saat terbangun, aku menggeliat pelan. Ada beban di perutku. Ternyata tangan Arlan masih menindihku dengan posisi terlentang, napasnya teratur sambil mendengkur halus, mulutnya sedikit terbuka. Aku hati-hati memindahkan tangannya, lalu memiringkan tubuh, memandang wajahnya lekat-lekat. Sudah lama sekali aku tidak melihat pemandangan ini, momen saat bangun kesiangan dan menemukan suami masih di sisiku.Suami ... pikiranku berbisik, dan tanpa sadar aku tersenyumYa, suamiku tersayang, satu-satunya....Aku merapat ke tubuhnya, membelai dadanya perlahan. Perasaan sayang ini, begitu tulus, bukan karena keinginan semata, tapi rasa rindu yang lama terpendam. Aku mengecup bahunya, menghirup aroma tubuhnya, merasa begitu lengkap dalam pelukannya. Arlan menggeliat, lalu membuka mata pe

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   Bab 34 – Bimbang

    “Kalau beneran kamu udah putus dari Anya, kamu juga harus tegas dong ke anaknya.”“Iya, Ta, tapi kasihan Elsa, dia masih terlalu kecil untuk memahami ini semua.”Belum sempat aku merespons lebih jauh, tiba-tiba perawat datang mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar. “Permisi, Ibu. Boleh minta waktu sebentar? Kami butuh wali pasien untuk melengkapi dokumen di bagian kasir.”Aku mengerutkan dahi, sedikit heran. “Kenapa tiba-tiba?” tanyaku, setengah membentak.Arlan menjawab lebih dulu, wajahnya masih terlihat tegang. “Tadi pagi, dokter yang memeriksa bilang kalau aku sudah boleh pulang hari ini. Cuma mungkin belum dibereskan administrasinya,” katanya dengan suara pelan.Perawat mengangguk, melengkapi penjelasan Arlan. “Maaf, Ibu, memang baru diproses sore ini karena kami menunggu seluruh hasil pemeriksaan keluar dan persetujuan dokter. Dokter juga sudah memberikan surat kontrol balik. Jadi, semua berkasnya baru turun sore ini dari dokter yang bertanggung jawab atas Pak Arlan.”Rasanya a

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status