LOGINRani, istri seorang polisi bernama Rama, tak pernah menyangka hidupnya berubah sejak malam persalinan putri pertamanya. Rama sedang bertugas, dan atasannya, Danang, yang menemaninya hingga ia melahirkan. Sejak itu, benih perasaan terlarang tumbuh di antara mereka. Rani tersiksa oleh cinta yang salah, sementara Danang terjebak antara tanggung jawab dan hasrat. Rama, yang dilanda cemburu buta, perlahan berubah keras dan posesif. Rumah tangga mereka retak, terlebih ketika desas-desus perselingkuhan tersebar. Sementara itu, Danang menikah dengan Nina, namun bayangan Rani tak pernah hilang. Kisah ini menyingkap dilema cinta, kesetiaan, dan penyesalan. Apakah takdir akan mengizinkan mereka bersama, atau justru mengajarkan bahwa cinta pun harus tunduk pada garis kehidupan?
View More“Assalamualaikum…”Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Suara lembut menyusul, namun jelas berwibawa.Senja turun perlahan, menyelimuti kota dengan cahaya jingga yang redup. Di ruang tamu rumah sederhana itu, Rani duduk dengan wajah pucat. Tubuhnya tampak kurus, rambutnya sedikit kusut. Dira tertidur di pangkuannya setelah lelah bermain, napas bayi kecil itu teratur, seakan tak terpengaruh badai yang tengah mengguncang rumah tangga orang tuanya. Rani menoleh. Di ambang pintu berdiri seorang perempuan berseragam polisi lengkap. Wajahnya teduh, rambutnya diikat rapi ke belakang. Sorot matanya tegas, namun di dalamnya terselip kelembutan.“Waalaikumsalam…” Rani menjawab ragu. Pandangannya mengamati sosok itu lebih dalam. Lalu seakan tersadar, ia bergumam pelan, “Mia?”Mia mengangguk sambil tersenyum tipis. “Ya. Aku Mia… rekan kerja Rama. Dulu kita sempat bertemu sebentar, kau mungkin sudah lupa. Boleh aku masuk?”Rani sedikit kikuk. Ia membuka pintu lebih lebar. “Silakan…”Mia duduk pe
"Mas, aku mohon... biarkan aku bebas. Bebas dari bayang-bayang cinta yang bukan untukku." Di ujung ranjang rumah sakit, Danang duduk mematung. Rambutnya berantakan, matanya sembab. Jemarinya menggigil menahan rasa sesak yang tak bisa dia tumpahkan. Ia telah memohon. Ribuan kali. Dengan suara serak, dada terhempas, air mata yang habis-habisan—tapi keputusan Nina tetap bulat. Nina berkata itu dengan suara paling tenang yang pernah Danang dengar, namun hatinya seperti dihantam gelombang yang tak ada jeda. Di balik ketenangan Nina, Danang tahu: ada luka yang terlalu dalam untuk disembuhkan oleh waktu. "Aku tahu… setiap kau menatap langit, bukan aku yang kau pikirkan. Tapi dia—Rani—yang raganya jauh, tapi jiwanya kau peluk dalam diam." Danang hanya bisa tertunduk. Tak sanggup menjawab. Tak sanggup membantah, sebab Nina benar. Dan akhirnya, berkas perceraian itu pun ditandatangani. Dengan pena yang menggigil dan hati yang retak-retak. Bukan karena tak ada cinta, tapi karena cinta
'Plakkk!!!' tangan Rama melayang cepat dan mendarat ke pipi Rani hingga membuat Rani tersungkur ke lantai. "Jangan ikut campur urusanku. Urus saja urusanmu dan Danang sialan itu!!" teriak Rama yang saat itu emosi karena terus di interogasi Rani saat ia pulang karaoke sampai larut malam, lagi. Hujan belum juga reda, seolah langit pun ikut menangis atas luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Rani berdiri di jendela kamarnya, tubuhnya tampak lelah—bukan karena letih biasa, melainkan karena hati yang terus-menerus tersayat. Di bawah cahaya remang lampu kamar, tampak jelas bekas merah di sudut bibirnya, memudar namun tak bisa dibohongi. Luka itu nyata. Luka yang ditorehkan oleh tangan yang pernah ia percaya untuk menggenggam hidupnya: Rama. Semua berawal dari cemburu yang membutakan hati. Sejak malam itu—malam kelahiran Dira yang disertai badai dan bisikan—Rama berubah. Ia menjadi lelaki yang tak lagi mengenal cinta, melainkan hanya cemburu dan amarah. Dan malam kemarin, untuk pert
“Kau yakin hanya persalinan yang terjadi malam itu? Aku sempat dengar dari dokter, hubungan suami istri dapat memicu kontraksi di kehamilan tua.” tanya Rama dengan nada dingin suatu malam, ketika mereka duduk di ruang tamu setelah Dira tidur. Rani menoleh padanya, terluka. “Kau berpikir kotor seperti itu, kau sendiri yang meminta dia menolongku malam itu. Harusnya kau yang ada di sana.” “Dan aku bodoh telah mempercayai Danang!” Rama menggebrak meja. “Dia bukan hanya menolong mu… dia menikmati kesempatan itu! Dia menyentuhmu saat aku tak ada!” Rani berdiri. “Cukup, Rama. Aku sudah capek. Berapa kali harus ku jelaskan? Aku nyaris melahirkan tanpa siapa pun di sampingku. Apa kau lebih memilih aku mati malam itu?” Rama tak menjawab. Ia menunduk, rahangnya mengeras. Tapi cemburunya membutakan logika. Dalam pikirannya, bayangan Danang dan Rani di kamar itu selalu muncul. Rasa bersalah karena tak ada di sana bercampur dendam. Maka ia mencari pelarian.Sudah beberapa bulan sejak Dan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.