แชร์

2. Bendera Perang

ผู้เขียน: Rich Ghali
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-03 01:19:42

Evelyn membuka koper untuk mencari handuk yang telah ia bawa dari rumah. Ada tiga koper miliknya yang tergeletak tidak menentu di dalam kamar milik Vernon. Wanita itu terlihat sangat tenang setelah mengobarkan bendera perang pada mantan iparnya itu. Meski kini jantungnya masih belum bisa dikendalikan, tapi ia berusaha agar bisa tetap terlihat tenang.

Vernon tidak bisa berkata-kata, ia hanya menatap dengan tajam sembari melipat tangan di dada.

“Mau apa kau?” Vernon terlihat panik ketika Evelyn mulai membuka kancing piama.

Evelyn menoleh, lalu tersenyum menyeringai. “Kau ingin membukakan kancing bajuku?” Wanita itu tersenyum menggoda. Dalam hati ia bersorak gembira, merasa menang melihat ekspresi yang tergaris di wajah suaminya itu.

“Jangan kurang ajar kamu!” Vernon berucap dengan kasar, ia meraih seragam yang tergeletak di atas ranjang, lalu bergegas keluar kamar. Ia memilih untuk mengalah, daripada menyaksikan wanita itu melepas pakaian di hadapannya.

Akhirnya tawa Evelyn terdengar menggelegar di dalam kamar. Ia merasa puas melihat kepanikan di wajah lelaki yang ia benci itu. Wanita pemilik mata hazel itu merasa menang, sebab ia tahu apa kelemahan Vernon sekarang.

Evelyn menoleh ke arah jam yang tergantung di dinding kamar. Sudah pukul 06.15 pagi. Ia harus bergegas untuk siap-siap agar tidak terlambat berangkat kerja. Apalagi ia harus mengurus Joy nanti setelah ia siap mengurus diri sendiri.

****

Setelah lima belas menit berada di dalam kamar mandi, Evelyn keluar dengan handuk yang melilit di badan. Ia tidak keramas pagi ini, sebab merasa tidak punya cukup waktu untuk mengeringkan rambut. Kulit wanita itu terlihat sangat bersih, karena ia sangat peduli pada penampilan dan sering melakukan perawatan.

Tiga buah koper itu Evelyn bongkar untuk mencari barang-barang miliknya. Kamar menjadi berantakan, sebab ia meletakkan barangnya begitu saja di mana-mana. Tidak kembali memasukkan ke dalam koper ataupun menyusun barang-barangnya ke dalam lemari.

Tidak ada seragam resmi di tempat ia bekerja. Asal sopan dan enak dilihat.

Evelyn mengenakan dress lengan panjang berwarna putih sepanjang lutut dengan outer tanpa lengan berwarna krem. Rambutnya ia biarkan tergerai. Make up tipis tidak lupa ia poleskan ke wajah. Cantik. Wanita itu benar-benar cantik meskipun penampilannya kali ini terkesan sangat sederhana.

Setelah merasa sempurna, Evelyn keluar dari kamar seraya membawa berkas-berkas yang diminta oleh bosnya.

Evelyn berpapasan dengan Vernon di luar kamar. Ternyata lelaki itu sejak tadi menunggu di sana, menanti Evelyn keluar kamar agar ia bisa masuk.

Tidak ada percakapan apa pun ketika mereka beradu pandang. Hanya tatapan sinis sebagai kode bahwa mereka tidak akan pernah berteman.

Evelyn hanya tersenyum dan terus melangkah turun menuju kamar Joy.

Vernon terbelalak ketika memasuki kamar miliknya. Bagaimana tidak, ia yang begitu memuja kebersihan dan kerapian, kamarnya dibuat berantakan seperti itu.

Wajah lelaki itu memerah, ia sangat kesal. Kehadiran Evelyn yang baru satu hari di rumah ini sudah membuat dirinya merasa sangat tidak nyaman. Ia menyeringai, mengepalkan tangan dan berjanji akan membuat Evelyn menyerah dan memilih untuk mundur. Amarah Vernon sudah melewati batas. Ia kumpulkan semua barang milik Evelyn, lalu membuangnya ke dalam kamar mandi dengan shower menyala.

Vernon mengempaskan pantat di tepian ranjang, ia meraih foto Inara yang tergelatak di atas nakas. Setelah lima tahun, ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa wanita itu telah tiada. Ia merasa bahwa istrinya masih berada di sisinya. Ia selalu merasa kehadiran wanita itu di sana.

“Aku merindukanmu.” Vernon berucap dengan mata berkaca-kaca. Rindu di hati membuat ia tersiksa. Ia peluk foto wanita yang sangat ia cintai itu, kemudian menangis karena terlalu merindu. Andai ia diberi kesempatan untuk mengulang waktu, takkan ia tinggalkan istrinya barang sedetik pun waktu itu. Ia menyesal. Sungguh. Harusnya ia ada ketika Inara akan melahirkan.

Vernon tidak bisa berhenti menyalahkan diri sendiri. Luka itu masih saja terasa sakit. Sayatan akibat kehilangan sang istri masih saja menganga hingga kini. Tidak ada obat yang mampu menjahit luka itu.

Vernon menangis dengan dada yang terasa sesak. Wajahnya memerah karena tangis yang parah. Orang-orang mengenalnya sebagai lelaki tanpa hati karena selalu memasang wajah datar dan tidak bersahabat. Namun, pada faktanya ia memiliki hati yang lemah. Cintanya pada Inara telah membuat dirinya hidup tanpa matahari. Kehilangan wanita itu membuatnya hidup dalam kegelapan sepanjang waktu.

Pintu terbuka secara mendadak.

Vernon mengusap wajah dengan kasar. Ia letakkan foto Inara kembali ke atas nakas, lalu bangkit berdiri secepat kilat. Ia berjalan menuju lemari, membuka salah satu pintu untuk menutupi wajahnya dari wanita itu.

“Ketuk pintu sebelum masuk kamar orang.” Vernon berucap dengan nada tidak bersahabat.

Evelyn tidak ingin menanggapi kalimat itu. Sebab, ia tengah terburu-buru. Ada satu design miliknya yang kurang. Sementara ia sudah memastikan bahwa ia sudah men-desaign semua permintaan.

Evelyn mencari-cari di seluruh sudut ruangan. Ia merasa ada yang beda, sebab tidak menemukan barang-barangnya sama sekali. Ia membuka koper, mungkin lupa jika ia telah kembali memasukkannya ke sana. Namun, ketiga koper miliknya kosong. Tidak ada isi sama sekali.

“Di mana barang-barangku?” Akhirnya ia bertanya pada lelaki itu.

Vernon tidak menjawab. Ia terdiam di balik pintu lemari yang terbuka. Ia tidak melakukan apa pun di sana, hanya mencoba untuk menyembunyikan mata sembabnya dari Evelyn.

“Ayolah! Aku butuh barang-barangku.” Evelyn terdengar hampir pasrah.

“Masuklah ke dalam kamar mandi dan kau akan tahu jawabannya.” Vernon menjawab dengan wajah datar. Ia menutup lemari, kemudian bergegas keluar kamar dengan wajah yang tidak ingin dilihat oleh Evelyn.

Evelyn mengerutkan kening. Heran dengan jawaban Vernon, tapi tetap melakukan apa yang lelaki itu minta.

Seketika Evelyn membatu setelah membuka pintu kamar mandi. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia terbelalak. Untuk beberapa saat ia hanya bisa terdiam kaku menatap semua barangnya tergeletak di bawah shower dengan air yang terus mengguyur.

Detik berikutnya wanita itu tertawa frustrasi. Tidak percaya bahwa Vernon lebih kejam dari yang selama ini ia bayangkan.

“Aarght! Tunggu pembalasanku, Sialan!” Evelyn berteriak frustrasi. Ia tidak percaya jika suaminya akan melakukan hal seburuk itu. Ia bahkan baru meninggalkan barangnya sebentar saja, tapi sudah dibuang seolah tidak ada harganya.

Rahang Evelyn mengeras, giginya gemeretak. Akan ia terima genderang perang yang dimulai oleh Vernon di antara mereka. Tidak akan ia kibarkan bendera putih untuk menyerah. Ia akan berusaha sekuat tenaga membuat Vernon bertekuk lutut di hadapannya. Memohon maaf dan mengemis cinta agar diperlakukan layaknya suami pada umumnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   131. Ending

    Evelyn menatap suaminya dengan mata sembab. Mata itu bahkan telah bengkak karena telah menangis untuk waktu yang lama. Ia tidak tidur semalaman, sebab tidak bisa tenang karena sang suami tidak kunjung siuman.“Vernon, kapan kau akan bangun? Mana janjimu yang ingin membuatku dan anak-anak hidup bahagia?” Evelyn berucap dengan suara serak.Terdengar ketukan di pintu ruangan. Evelyn bangkit untuk membukakan. Tampak kedua ornagtuanya yang datang untuk membesuk setelah hampir 24 jam Vernon berada di rumah sakit.“Papa.” Wanita itu langsung menghabur ke dalam pelukan papanya. Ia kembali menangis sejadi-jadinya di sana. Sebab, terlampau takut jika kehilangan suaminya. Ia belum siap kehilangan lelaki yang begitu ia cintai.“Maaf karena kemaren papa tidak menjawab teleponmu. Papa masih kesal karena kau tetap nekat buat pergi dari rumah. Tadi malam ibunya Vernon datang ke rumah, dia ngasih tahu apa yang terjadi. Papa jadi khawatir sama kamu.” Lelaki paruh baya itu berucap dengan penuh simpati.

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   130. Infeksi Otak

    Evelyn menggeliat kecil saat ia terbangun di pagi hari. Wanita itu berbalik, menatap suaminya yang masih terlelap di sisinya.Evelyn tersenyum menatap, ia elus lembut wajah lelaki itu dengan penuh cinta.“Sayang, bangun. Sudah pagi.” Evelyn berucap dengan lembut. Tidak ada tanggapan sama sekali dari Vernon. Lelaki itu tetap saja terlelap. Helaan napasnya terdengar begitu lemah, tapi teratur. Bahkan pelukannya di tubuh Evelyn masih erat seperti sebelumnya.“Vernon.” Evelyn menepuk pipi suaminya dengan lembut, berharap dengan itu Vernon akan lekas bangun. Namun, tetap saja Vernon tidak memberikan respons apa pun.Evelyn menghela napas dengan dalam. Ia tatap wajah tampan itu lamat-lamat dari jarak yang begitu dekat. Wajahnya terasa panas saat napas mereka saling beradu.“Bangun, hey, bangun.” Evelyn terus berusaha membangunkan. Ia kecup wajah suaminya berkali-kali untuk mengganggu tidur lelaki itu. Namun, itu tidak memberikan efek apa pun, Vernon tidak kunjung bangun.“Ya sudahlah, nanti

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   129. Ciuman Ternikmat

    “Kamu punya mantan berapa?” Vernon tiba-tiba bertanya menjelang tidur mereka. Kini meraka hanya ada berdua, sebab Luke tidur di kamarnya.“Apa gunanya membahas masa lalu?” Evelyn balik bertanya. Ia kurang suka dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut suaminya.“Aku mau tahu saja. Kau sepertinya mudah disukai oleh orang lain.” Vernon berucap ingin tahu.Evelyn tertawa tipis.“Kau salah, justru tidak ada yang suka padaku. Bahkan kau juga sempat menolakku.” Evelyn ingat betul sekuat apa dulu suaminya itu menolak hubungan mereka. Andai ia tidak hamil, mungkin hubungan mereka tidak akan berlanjut hingga kini. Sebab, tidak ada yang mengikat mereka dan memaksa untuk hidup bersama. Kehamilan itu juga tidak diinginkan, bahkan Evelyn mendapatkannya karena malam pertama yang dipaksa.Vernon menoleh menatap istrinya.“Issa sangat menyukaimu, Joy juga, bahkan Barra.”“Cuma mereka. Kau juga tidak pernah tahu bagaimana perjuanganku untuk masuk ke dalam kehidupan Issa. Issa juga sempat menolakku.”

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   128. Melayat

    Evelyn mengenakan topi pada Luke untuk menyamarkan luka di jidatnya. Anak itu tampak tampan dengan setelah pakaian yang Evelyn sarungkan. Ia benar-benar mirip dengan Vernon. Matanya, mulutnya, tatapannya, alisnya, rahangnya, benar-benar seperti Vernon. Ia hanya mengambil bagian hidung dan rambut Evelyn. Sebuah perpaduan yang begitu sempurna.[Sudah siap?] Sebuah pesan masuk dari Vernon. Sesuai janjinya, siang ini mereka akan ke rumah Barra.[Sudah.] Evelyn mengirim pesan balasan.Evelyn menunggu di ruang tamu. Ia duduk di sofa seraya mengawasi Luke yang tidak jera untuk belajar berjalan dengan berpegangan pada sofa. Tampaknya pertumbuhan anak itu semakin ke sini semakin pesat.Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya Vernon tiba di rumah. Lelaki itu berganti pakaian terlebih dahulu, agar terkesan ikut berduka atas kematian Fani dengan mengenakan pakaian serba hitam.“Joy gimana?” Evelyn bertanya dengan bingung ketika Vernon mengajaknya untuk segera berangkat. Sebab, Joy akan pulang s

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   127. Suami yang Evelyn Mau

    Vernon menyusul ke kamar setelah ia menenangkan dan menidurkan Joy di kamar anak itu. Evelyn telah terlelap ketika ia menyusul. Wanita itu tampak tidur dengan mendekap Luke. Tampak wajah Evelyn sedikit sembab, pertanda jika ia habis menangis. Barangkali ia menyesal karena telah memilih keputusan yang salah dengan kembali ke rumah itu. Atau juga karena ia merasa sakit karena ketidakpercayaan Vernon terhadapnya.Vernon duduk di tepian ranjang. Ia menghela napas dengan kasar. Terlihat menyesal karena telah memicu pertengkaran di antara mereka.“Evelyn ….” Vernon memanggil dengan lembut. Tidak ada tanggapan sama sekali dari Evelyn. Wanita itu terlihat tetap terlelap dalam tidurnya.“Sayang ….” Ia menyentuh lembut pipi Evelyn. Membuat Evelyn membuka mata karena merasa terganggu dengan sentuhan itu. “Maaf, ya.” Vernon meminta maaf karena telah menyadari kesalahannya.Evelyn hanya diam. Ia melepas pelukannya pada Luke, lalu berbalik menghadap tembok. Untuk saat ini ia tidak ingin menatap Ver

  • Istri Pengganti Sang Miliarder   126. Pertengkaran Kecil

    Vernon menggeliat di saat ia terbangun dari tidurnya. Tidak lagi ia dapati sang istri di sisinya. Ranjang itu kosong, hanya ada ia seorang diri. Pertanda jika Evelyn sudah bangun lebih dulu. Dari dalam kamar mandi terdengar air yang membentur lantai, tampaknya Evelyn tengah mandi.Vernon bangkit untuk duduk. Selimutnya melorot hingga pinggang, menunjukkan otot-otot di tubuhnya yang tampak begitu kekar. Akhirnya setelah menunggu cukup lama, ia bisa merasakan kembali surga dunia bersama istrinya tadi malam.Vernon mengusap wajahnya dengan kasar, sesekali ia menguap karena masih mengantuk. Ia melakukan peregangan kecil di atas ranjang. Setelahnya ia beranjak turun, menyingkirkan selimut dari tubuhnya dan melangkah dengan telanjang bulat menuju kamar mandi.“Sayang, buka pintunya.” Vernon mengetuk dengan lembut, ingin ikut mandi bersama Evelyn.“Sebentar, aku mau selesai!” Terdengar Evelyn menjawab dari dalam.“Mandinya bareng.” Vernon berucap dengan manja, suaranya terdengar serak khas o

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status