共有

05. Ikuti Permainanku!

作者: Nytheria_Blue
last update 公開日: 2026-09-29 10:21:43

“Ikuti ucapanku kalau mau selamat dari mereka,” bisik Arvino tegas dengan suara berat yang membuat bulu kuduk Kiara meremang. “Atau kamu mau aku serahkan kembali ke orang-orang itu sekarang juga?”

Kiara menelan ludah. Hatinya mencelos. Ia menatap mata gelap Arvino yang tajam dan mengintimidasi, lalu beralih menatap para bodyguard yang masih memandangnya seperti mangsa.

Dengan tubuh gemetar hebat dan dada yang bergemuruh ketakutan, Kiara akhirnya mengangguk pelan.

Arvino kembali mengangkat kepalanya, menyapu pandangannya ke arah para pengejar dengan tatapan membunuh. “Kalian dengar! Siapapun yang berani menyentuh seujung rambut calon istriku ini, akan kupastikan kalian tidak akan bisa melihat matahari besok pagi.”

Melihat ancaman nyata dari pria sekelas Arvino, kelima pria itu tidak punya pilihan lain. Mereka menunduk takut lalu mundur perlahan, menghilang di balik pintu besar yang tertutup kembali.

Arvino tidak memberi ruang untuk kehebohan tamu atau protest histeris dari orang tuanya. Ia menatap pendeta yang berdiri terpaku di depan mereka.

“Kita mulai pemberkatan sekarang!” perintah Arvino tegas, dingin, dan mutlak.

Pendeta yang gemetaran segera membuka kitabnya. Di bawah tatapan ratusan pasang mata yang terperanjat, prosesi sakral itu berjalan begitu cepat dan intens.

Kiara merasa bumi di bawah kakinya berguncang. Jemari Arvino yang besar dan hangat meraih jemari tangannya yang mungil dan dingin untuk menyematkan cincin emas putih.

Saat giliran Kiara yang harus memasangkan cincin ke jari manis Arvino, jemarinya bergetar begitu parah. Arvino harus menggenggam jemari Kiara, memandu gadis itu untuk melingkarkan cincin tersebut ke jarinya.

“Dengan ini, di hadapan Tuhan dan para saksi, kalian resmi menjadi suami istri.”

Kata 'suami istri' bergema berulang-ulang di dalam kepala Kiara, memicu perang batin yang luar biasa dahsyat.

‘Apa yang baru saja terjadi?’ batinnya menjerit penuh rasa kaget. ‘Suami istri? Tapi—’ Kiara mencoba mencerna semua kejadian yang berlangsung begitu cepat.

Bagaimana tidak? Beberapa menit lalu dia hanyalah gadis malang yang hampir direnggut keperawanannya di klub malam. Bahkan dia saja hampir mati dalam perjalanan ke tempat ini karena banyak hal yang dia lalui.

Tapi dalam sekejap, dia malah terikat pernikahan sah dengan pria asing yang tampak menakutkan di matanya. ‘Tidak! Ini tidak masuk akal! Aku— aku...’

Rasa panik yang teramat sangat, trauma pelecehan yang baru saja dia lewati, bayangan ketakutan akan masa depannya, serta rasa bersalah karena membohongi semua orang bertumpuk menjadi satu gelombang besar yang menghantam kesadaran Kiara.

Jantungnya berdegup makin kencang. Napasnya makin pendek dan memburu. Dadanya yang menyembul padat di balik gaun pengantin putih itu naik-turun tak beraturan.

Kepala Kiara mendadak terasa dihantam godam berat. Penglihatannya mulai kabur dan berputar.

“Tidak... ini mustahil... ini– ini tidak masuk akal,” cicit Kiara parau.

Dalam hitungan detik, seluruh kekuatan di tubuhnya lenyap. Pandangan Kiara menggelap. Namun, sebelum tubuhnya menyentuh lantai, sepasang lengan kokoh lebih dulu menangkapnya. Arvino menahan tubuh Kiara dalam dekapannya.

“Nona!”

Arvino yang berdiri tak jauh darinya bergerak refleks. Dalam sekejap, pria itu berhasil menangkap tubuh Kiara sebelum kepalanya membentur lantai.

Tubuh gadis itu terkulai lemas dalam dekapannya. Wajahnya pucat pasi, sementara kedua matanya telah terpejam rapat tanpa sedikitpun tanda kesadaran.

Arvino mengatupkan rahangnya. Tatapannya yang semula dingin berubah serius saat ia menatap wajah Kiara yang begitu pucat.

“Siapkan kamar di lantai atas!” perintahnya tegas pada salah satu petugas hotel yang ada di dekatnya. Dan tanpa menunggu siapapun menjawab, Arvino mengangkat tubuh Kiara ke dalam gendongannya.

Dengan langkah panjang dan cepat, ia membawa gadis itu meninggalkan ruangan, sementara kedua orang tuanya segera menyusul di belakang.

Langkah pria bertuksedo hitam itu terdengar berat dan tergesa menyusuri lorong menuju Presidential Suite di lantai dua. Sementara tubuh Kiara masih terkulai lemas dalam kedua lengannya yang kekar.

Di belakangnya, kedua orang tuanya mengikuti dengan napas memburu. Wajah sang ibu memerah menahan amarah, sementara ayah Arvino hanya diam sambil menggertakkan giginya, seolah masih berusaha memahami kegilaan yang baru saja terjadi.

Begitu pintu terbuka, Arvino langsung membawa Kiara ke kamar dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang king size.

Ibu Arvino tak mampu lagi menahan emosinya. “Arvino! Apa kamu sudah gila?!”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Istri Polos Kesayangan Tuan CEO   09. Tuan Pangeran

    Mobil Rolls-Royce Phantom bernuansa hitam legam itu meluncur mulus membelah jalanan ibu kota. Di dalam kabin belakang yang kedap suara, suasana begitu hening hingga suara helaan napas Kiara terdengar jelas. Kiara duduk sangat menyudut di dekat pintu kanan, berusaha memberi jarak sejauh mungkin dari sosok Arvino yang duduk tegap di sampingnya. Jemari mulus Kiara meremas ujung kemeja yang tadi Arvino berikan. Mata bulatnya berkedip pelan, menatap takjub pada interior mobil yang sedang ditumpanginya. ‘Waah, mobilnya bagus banget. Atap mobilnya bisa dibuka gitu lagi,’ batin Kiara kagum luar biasa. ‘Jok juga, empuk banget.’ Ia menggoyangkan bokongnya tanpa sadar. ‘Bahkan mobilnya wangi banget kayak toko parfum. Pria di sebelahku ini benar-benar orang kaya.’ Kiara terus bergumam dan mengagumi setiap sudut mobil dalam hatinya dengan wajah polos yang tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya. Arvino yang sejak tadi menyilangkan kaki sambil bermain ponselnya hanya meliriknya sesekali. Pr

  • Istri Polos Kesayangan Tuan CEO   08. Ah! Sempit Banget

    “Astaga... aku benar-benar sial.” Kiara menghembuskan napas panjang. Setelah berpikir beberapa saat, ia akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan. Dengan wajah masih merah membara menahan malu, Kiara memutar kunci pintu kamar mandi, lalu membukanya sedikit. Gadis itu mengintip ke luar dengan ragu. Tepat di luar sana seseorang memang masih berdiri. Dan orang itu adalah Arvino. “T-Tuan...” panggil Kiara dengan suara yang sangat pelan. Arvino yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil menoleh galak. “Apa lagi?!” “A-anu,” cicit Kiara lirih, menyembunyikan wajahnya di balik celah pintu. “Bisa tolong bantu buka ini?” “Buka apa?” tanya Arvino sambil mengerutkan keningnya. “Resleting gaunnya tiba-tiba macet. S- saya sudah mencoba untuk membukanya tapi nggak bisa,” terang Kiara. “Tck.” Arvino mendesis kasar, mencoba mempertahankan aura galaknya. Ia melangkah menghampiri kamar mandi dan mendorong pintunya. Kiara refleks membelakangi Arvino, menutupi bagian depan dad

  • Istri Polos Kesayangan Tuan CEO   07. Salah 'Pegang'

    “T-Tuan... tolong lepaskan saya. Saya janji bakal ganti rugi pakai apa pun yang Tuan minta, saya bersumpah, tapi tolong biarkan saya pergi!” pinta Kiara dengan suara bergetar hebat. Air mata kembali menumpuk di pelupuk mata bulatnya. Arvino terkekeh dingin. Sorot mata cokelat gelapnya menatap Kiara dengan tatapan menyindir yang tajam. “Ganti rugi?” desis Arvino rendah, mengikis jarak hingga napas hangatnya menerpa ceruk leher Kiara. “Kamu ganti rugi pakai apa? Uang? Aku sudah punya banyak.” Kiara membisu, bibir bawahnya bergetar pasrah. “Tuan–” “Ikut saja apa yang aku katakan! Jangan banyak membantah! Kamu cukup jadi istri pura-puraku untuk beberapa waktu.” Kiara makin pening. Gadis itu merasa takdir baik tidak berpihak padanya. Bagaimana mungkin niatnya kabur dari klub malam justru membuatnya terperangkap jadi istri pria yang bahkan namanya saja tidak dia tahu. “Tapi kita nggak saling kenal,” beo Kiara lirih. Dia tidak tau harus pakai cara apa supaya bisa kabur dari sini.

  • Istri Polos Kesayangan Tuan CEO   06. Aku Tidak Akan Melepaskanmu

    “Arvino! Apa kamu sudah gila?!” bentaknya. “Siapa perempuan ini?! Kenapa kamu tiba-tiba menjadikannya istri? Kita bahkan nggak tahu asal-usulnya!” “Mama, tenang dulu!” potong Arvino datar. Suaranya memang tidak meninggi, tetapi sorot matanya yang dingin tetap tertuju pada tubuh Kiara yang terbaring pasrah di atas ranjang. “Bagaimana Mama bisa tenang?!” bentak ibunya histeris. “Vivian kabur, dan kamu malah menikahi cewek antah berantah ini di depan ratusan tamu VIP dan media! Mau ditaruh di mana muka keluarga Alister?!” Ayah Arvino melangkah maju, menatap putranya tajam. “Jelaskan, Arvino! Kenapa kamu mengambil keputusan segila ini?” Arvino memutar tubuhnya, menghadap kedua orang tuanya dengan wajah keras tanpa penyesalan. “Aku tidak punya pilihan lain. Jika aku mengumumkan pembatalan pernikahan begitu saja, saham perusahaan akan anjlok besok pagi dan keluarga kita jadi bahan tertawaan orang-orang.” “Tapi kenapa harus dengan wanita nggak jelas ini?!” desis ibunya murka. “Urusan d

  • Istri Polos Kesayangan Tuan CEO   05. Ikuti Permainanku!

    “Ikuti ucapanku kalau mau selamat dari mereka,” bisik Arvino tegas dengan suara berat yang membuat bulu kuduk Kiara meremang. “Atau kamu mau aku serahkan kembali ke orang-orang itu sekarang juga?” Kiara menelan ludah. Hatinya mencelos. Ia menatap mata gelap Arvino yang tajam dan mengintimidasi, lalu beralih menatap para bodyguard yang masih memandangnya seperti mangsa. Dengan tubuh gemetar hebat dan dada yang bergemuruh ketakutan, Kiara akhirnya mengangguk pelan. Arvino kembali mengangkat kepalanya, menyapu pandangannya ke arah para pengejar dengan tatapan membunuh. “Kalian dengar! Siapapun yang berani menyentuh seujung rambut calon istriku ini, akan kupastikan kalian tidak akan bisa melihat matahari besok pagi.” Melihat ancaman nyata dari pria sekelas Arvino, kelima pria itu tidak punya pilihan lain. Mereka menunduk takut lalu mundur perlahan, menghilang di balik pintu besar yang tertutup kembali. Arvino tidak memberi ruang untuk kehebohan tamu atau protest histeris dari or

  • Istri Polos Kesayangan Tuan CEO   04: Dalam Dekapan Pria Asing

    Lima menit sebelumnya... Di dalam area salah satu kamar hotel yang mewah, Arvino berdiri di depan cermin tinggi, merapikan tuksedo hitam rapinya. Pria setinggi 188 cm itu tampak begitu luar biasa sempurna. Rahangnya tegas dan berstruktur tajam dengan pahatan wajah maskulin yang dingin. Rambut hitam peraknya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan dahi lebar dan alis tebal yang menaungi sepasang mata tajam berwarna cokelat gelap—sepasang mata tajam yang mampu membuat siapa pun bergidik ketakutan. Tubuhnya atletis berotot padat, dibungkus sempurna dalam tuksedo mewah buatan desainer ternama. “Arvino! Bagaimana ini?! Vivian belum datang juga! Para tamu VIP dan media sudah berkumpul di ballroom,” bentak ibunya panik setengah mati sambil memegang dadanya. “Tenang dulu, Ma!” sahut Arvino datar. Suaranya berat dan dominan, meski rahang tegasnya mengetat keras. “Aku sedang mengerahkan orangku untuk mencari Vivian.” Bersamaan dengan itu, ponsel di saku jas Arvino bergetar. Sebuah pesan m

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status