Chapter: 21. Di Bibir Kamu Ada...“Kiara!” panggil Arvino tegas. Kiara menoleh dan menatap Arvino sambil mengedipkan kedua kelopak matanya. “Iya, Tuan?” sahutnya polos. “Daripada mikirin bunga, lihat dirimu!” tegur Arvino sambil mengernyitkan alis. Ucapan itu membuat Kiara langsung mengerutkan kening. Ia menatap dirinya sendiri sekilas sebelum kembali memandang pria di sampingnya. “Memangnya aku kenapa?” tanyanya bingung. “Ada remah roti tuh,” jawab Arvino singkat. “Di mana?” Kiara buru-buru mengangkat tangan, berusaha mencari remah yang dimaksud. “Di situ,” tunjuk Arvino dengan dagunya. Kiara mengusap pipinya dengan punggung tangan. Salah sisi. “Udah?” tanyanya sambil menoleh penuh harap. “Belum,” jawab Arvino datar. “Sini?” Kiara kembali mengusap dagunya. Masih salah. Arvino mengerang pelan. Melihat tingkah gadis itu yang tak kunjung menemukan letak remah roti, kesabarannya hampir hab
Last Updated: 2026-10-27
Chapter: 20. Perhatian Yang Tidak DiakuiArvino meletakkan pisaunya. Dentingan logam di tepi piring terdengar jelas di ruang makan yang mendadak lengang. “Duduk!” ucapnya tanpa menoleh. Kiara tidak bergerak. Air matanya masih menetes ke taplak putih, dan ia buru-buru mengusap pipi dengan punggung tangan supaya tidak ketahuan. “Kiara. Duduk,” ulang Arvino dengan suara tegas. “Iya, Tuan.” Suara Kiara serak dan nyaris tidak terdengar. Kiara menarik kursi di sebelah Arvino dengan hati-hati, lalu duduk di tepinya. Jas hitam itu terlalu besar untuk bahunya, sehingga lengan bajunya menutupi sampai ujung jari. Di depannya terhampar piring porselen berpinggiran emas, deretan garpu dan pisau yang tidak ia tahu fungsinya, serta serbet kain yang dilipat berbentuk kipas. Semuanya terlihat terlalu bagus untuk disentuh. Gadis itu tak berani mengangkat kepalanya. Kedua tangannya bertaut di atas paha. Arvino menyesap kopinya dan melirik
Last Updated: 2026-10-27
Chapter: 19. Luber Ke mana-mana“Tuan?!” Kiara refleks berlari menghampiri, dan itu menjadi kesalahan terbesar pagi itu. Kedua lengannya terlepas dari dada demi menepuk-nepuk punggung Arvino. “Tuan pelan-pelan aja minumnya!” serunya panik. Bagian atas dress itu bergeser turun beberapa senti. Belahan dada Kiara terlihat sepenuhnya di bawah cahaya pagi yang menembus jendela besar. “Kiara!” Arvino terbatuk sekali lagi sambil menutup mata dengan satu tangan. “Tutup dadamu!” “Iya, iya, ini aku tutup!” Kiara cepat-cepat menyilangkan kedua lengannya, tetapi dadanya yang penuh terlalu besar untuk disembunyikan oleh dua lengan kecil. Ia menarik napas gugup sebelum mengeluh, “Duh, nggak bisa, Tuan! Bajunya kekecilan!” Arvino berdecak keras. Ia menyambar jas hitam yang tersampir di sandaran kursi, lalu melemparkannya ke arah Kiara tanpa menatap. “Pakai ini!” perintahnya. Kiara menangkap jas itu dan memakainya cepat-cepat. Bahunya tenggelam dalam kain yang
Last Updated: 2026-10-26
Chapter: 18. Pagi Yang Super ChaosArvino menghentikan kalimatnya dan menggertakkan gigi. “Pokoknya lepas!” “Terus perutnya gimana? Tadi Tuan kayak nahan sakit perut.” Kiara menarik diri dan menggeser telapak tangannya turun ke perut Arvino. Ujung jarinya menekan otot perut yang keras dan berlekuk. “Keras banget, Tuan. Ini sakit nggak kalau aku tekan? Kenapa nggak ngomong aja kalau lagi sakit?” “Kiara, aku bilang berhenti!” bentak Arvino. “Coba Tuan balik badan. Siapa tahu di punggung juga sakit!” usul Kiara dengan penuh kesungguhan. Tanpa menunggu persetujuan, Kiara memegang pinggang Arvino dan memutar tubuh pria itu dengan penuh semangat. Arvino yang kehilangan keseimbangan akibat lantai licin ikut berputar setengah lingkaran. Handuk putih di pinggangnya ikut bergeser, makin lama makin turun. Arvino merasakan kain itu melorot. Refleks, tangannya menyambar ujung handuk dan menahannya tepat sebelum semuanya jatuh. Kiara membeku. Matanya turun mengikuti
Last Updated: 2026-10-26
Chapter: 17. Hasrat Di Pagi HariArvino menyibakkan selimutnya dan turun dari ranjang dengan langkah cepat. Ia melangkahi tubuh Kiara tanpa menoleh sedikit pun, dengan satu tangan menutupi bagian depan celananya. Pintu kamar mandi ia buka, pemuda itu masuk, lalu menguncinya dari dalam. Suara shower terdengar menyala deras. Waktunya dia menuntaskan hasrat pagi yang ON tiba-tiba. Sedangkan di luar kamar, Kiara terbangun karena sesuatu yang aneh. Perempuan berkulit putih itu membuka mata perlahan. Beberapa detik ia bingung berada di mana, tetapi ingatan semalam kembali dan ia tersenyum kecil. Tidak ada preman. Tidak ada mommy club. Tidak ada tangan kasar yang mencengkeram bahunya. Hanya karpet empuk dan selimut yang wangi.Gadis itu menggeliat panjang dan merentangkan kedua lengan. Kaosnya ikut tertarik naik, tetapi ia tidak peduli. Ia menguap lebar tanpa menutup mulut, lalu menoleh ke samping dan mendapati ranjang di atasnya sudah kosong. “Tuan?” panggilnya dengan suara serak
Last Updated: 2026-10-25
Chapter: 16. Pemandangan Yang Bikin Resah“Aku yang matiin,” sahut Arvino dari kegelapan. “Hah? Kenapa dimatiin, Tuan?” tanya Kiara kebingungan. “Supaya kamu tidur.” Suara Arvino terdengar sedikit lebih berat dari biasanya. “Besok kita berangkat pagi. Jangan sampai kamu bangun kesiangan.” Kiara meraba-raba karpet, mencari tabung salepnya. “Tapi aku belum selesai olesin obatnya, Tuan. Masih ada yang di punggung.” “Besok saja,” jawab Arvino singkat. “Nanti sembuhnya lama,” keluh Kiara. “Kiara.” Nada Arvino turun satu tingkat, dan itu cukup untuk membuat Kiara terdiam. “Tidur sekarang!” “Iya, Tuan.” Kiara akhirnya menemukan tabung itu di dekat kaki sofa, lalu memeluknya. “Tapi gelap banget. Aku takut nabrak sesuatu.” Arvino tidak menjawab. Beberapa detik kemudian, lampu tidur kecil di sisi ranjang menyala dan memancarkan cahaya kuning redup. Cahaya itu hanya cukup untuk menerangi sepetak lantai tempat Kiara d
Last Updated: 2026-10-25
Chapter: Bab 150Dewi duduk di tepi tempat tidur kayu berseprai halus. Wajah ayunya memancarkan rona kelelahan yang manis usai seharian penuh mengawasi administrasi dan melayani rombongan ibu-ibu pejabat yang berobat di ruang pendaftaran depan. Pintu kamar berderit pelan lalu terkunci dengan suara klek yang halus. Yanto melangkah masuk dengan postur tubuhnya yang tinggi tegap. Pemuda mantan kuli panggul pasar itu membawa mangkuk kecil berisi minyak zaitun racikan herbal Gawok yang beraroma wangi melati. "Mbak Dewi capek ya hari ini?" tegur Yanto rendah, suaranya bernada bass dalam yang amat menenangkan batin sang istri. Dewi mendongak, menyunggingkan senyum manisnya walau mata jernihnya tampak agak sayu. "Lumayan, Mas..." cicit Dewi halus seraya merapikan daster batik sutranya. "Bahuku agak pegal-pegal gara-gara duduk lama mengurus buku pendaftaran tadi." Yanto mendudukkan diri di atas tempat tidur, meletakkan mangkuk minyak herbal di atas meja rias. "Sini... membelakangi saya," perintah Yanto
Last Updated: 2026-10-01
Chapter: Bab 149: Hari Hari Damai"Mas Yanto!" panggil Dewi lembut seraya melangkah mendekati pagar balkon lantai dua. "Ibu sama Mbak Sari sudah menunggu di meja makan!" Yanto memalingkan pandangannya dari lanskap gemerlap kota yang membentang luas. Pemuda mantan kuli panggul itu menyunggingkan senyum miring berkarisma maskulin, membusungkan dadanya yang bidang berbalut kemeja batik rapi. "Iya, Mbak Dewi... Saya langsung ke dalam," sahut Yanto rendah, suaranya bernada bass berat yang bergema hangat di udara pagi. Dewi tersenyum manis, menyusupkan jemari lentiknya yang berhiaskan cincin emas pernikahan ke dalam genggaman tegap Yanto. Pendar halus energi murni Gawok mengalir tipis dari telapak tangan Yanto, menyebarkan kehangatan dan kebahagiaan mutlak di dada sang kembang desa. Sinar mentari pagi yang memancar keemasan menembus kaca balkon, menyinari seluruh sudut gedung ruko dua lantai yang megah. Di sepanjang pekarangan marmer luar, deretan karangan bunga papan ucapan selamat dari para pejabat provinsi, Pak Wal
Last Updated: 2026-10-01
Chapter: Bab 148: Pesta Syukuran"Ayo, Mbak Dewi... Semua barang perbekalan dari desa sudah siap di bagasi SUV," panggil Yanto seraya membetulkan kancing kemeja batiknya di pelataran teras. Dewi melangkah keluar dari pintu kayu rumah Bu Ningsih, membetulkan letak selendang batik cantiknya dengan binar mata bahagia. "Sebentar, Mas Yanto!" sahut Dewi manis. "Ini aku lagi pamitan sama Bu RT sama ibu-ibu pengajian yang ikut mengantar di teras." Bu Ningsih dan Bu RT tersenyum haru, mengusap pelan bahu mungil kembang desa yang kini telah resmi disunting oleh pemuda paling berwibawa di kabupaten tersebut. "Hati-hati di kota ya, Dewi, Bu Ningsih..." bisik Bu RT penuh rasa hormat. "Jaga baik-baik Mas Yanto, kebanggaan desa kita." Yanto membusungkan dadanya yang bidang, membukakan pintu depan SUV hitam berkilat untuk sang istri. "Nggih, matur nuwun semuanya... Kami pamit kembali ke tempat praktik di kota." SUV hitam itu pun perlahan meluncur mulus membelah keheningan desa, melintasi hamparan sawah hijau menuju Jala
Last Updated: 2026-10-01
Chapter: Bab 147: Bisikan Panas"Mas Yanto... kunci pintunya sudah di-slot belum?" bisik Dewi pelan seraya membetulkan tali gaun tidur sutra merah mudanya di tepi tempat tidur kayu. Yanto berbalik dari arah pintu kamar. Pemuda itu menyunggingkan senyum miring berkarisma maskulin, membusungkan dadanya yang bidang berbalut sarung tenun tanpa kemeja. "Sudah rapat, Mbak Dewi," jawab Yanto rendah, suaranya bernada bass berat yang bergema hangat di dalam kamar beraroma melati. "Ndak bakal ada yang mengganggu kita malam ini." Pipi mulus Dewi seketika membara merah merona. Gadis kembang desa yang kini resmi menjadi istri sah Sang Master Terapi itu menunduk malu, meremas ujung selimut dengan jemari lentiknya yang gemetar halus. Yanto memangkas jarak, melangkah tegap hingga lututnya menyentuh tepi kasur busa. Tanpa ragu, telapak tangan besarnya yang hangat terulur merengkuh lembut pinggul mungil Dewi, menarik tubuh molek sang istri merapat ke dalam dekapannya. Deg. Tubuh Dewi bergetar halus sewaktu dadanya yang s
Last Updated: 2026-10-01
Chapter: Bab 146: Hari-Hari Pengantin BaruSinar mentari pagi yang hangat menembus celah-celah jendela kayu rumah Bu Ningsih di Desa Karanganyar. Aroma harum rebusan nasi tiwul, sayur lodeh, dan jahe rempah menyelimuti seluruh area dapur belakang yang bersih. Dewi berdiri anggun di tepi meja kayu, menyeduh teh hangat ke dalam beberapa cangkir seng. Langkah kakinya kini tampak amat tegap dan mantap, memancarkan pendar kebahagiaan murni seorang wanita yang telah resmi menjadi istri sah Sang Master Terapi. Bu Ningsih melangkah mendekat seraya membawa piring penganan tiwul manis, menatap putri tunggalnya dengan mata berbinar haru. "Pripun rasane dadi bojone Mas Yanto, Nduk?" goda Bu Ningsih manis dengan binar mata bahagia. "Wis bahagia toh atimu?" Pipi mulus Dewi seketika membara merah merona bagai buah tomat matang. Gadis itu menunduk malu, merapatkan cangkir tehnya. "I-Ibu ini..." cicit Dewi parau nan manis. "Mas Yanto itu beneran pria sejati, Bu... Sangat lembut, pengertian, dan selalu bikin aku ngerasa aman." Yanto
Last Updated: 2026-10-01
Chapter: Bab 145: Ijab Kabul"Pripun, Mas Yanto? Sudah siap?" tanya Penghulu ramah seraya membuka kitab catatan nikah resmi.Yanto duduk bersila tegap di pelaminan kayu jati rumah Bu Ningsih, membusungkan dadanya yang bidang berbalut beskap batik keemasan."Inggih, Pak Penghulu," jawab Yanto rendah, suaranya bernada bass berat yang bergema mantap. "Saya siap."Dewi melangkah keluar dari kamar dalam dituntun oleh Bu Ningsih dan Mbak Sari. Gadis kembang desa itu tampil amat cantik berbalut kebaya pengantin putih keemasan dengan paes dan ronce melati segar.Dewi mendudukkan diri secara anggun di samping Yanto, meremas pelan kain jariknya dengan jemari yang gemetar halus oleh keharuan mendalam.Penghulu menjabat erat cengkeraman tangan tegap Yanto. Suasana terop janur kuning pekarangan seketika hening mencekik, seluruh warga menahan napas khidmat."Saudara Yanto bin Ahmad," ucap Penghulu dengan suara tegas nan mantap. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Dewi Novitasari binti Sukardi, dengan mas kawin seper
Last Updated: 2026-09-30