LOGIN“Alex! Bolehkah aku ikut pergi ke kantor bersama mu,” ucap Gabriell, penuh dengan semangat.
“Mobilmu, bukankah kau punya mobil sendiri?” tanya Alex.
“Lagi di bengkel,” jawab Gabriell dengan santai.
Melihat Alex yang ingin pergi ke kantor, Gabriel mengambil kesempatan untuk pergi bersama dengan kakak iparnya tersebut dengan alasan tidak membawa mobil, Alex menerima tawarannya dan mereka pergi bersama.
“Terima kasih sudah mau pergi bersama,” ucap Gabriell.
“Iya, kita satu kantor juga!” jawabnya ketus.
Selama diperjalanan Alex hanya diam dan tidak bicara satu katapun kepada adik iparnya tersebut, dia hanya fokus menyetir.
Sementara, Gabriell yang merasa sangat bahagia dan juga tidak ingin menyia-yiakan kesempatan. Ia terus mempercantik dirinya dengan memakai lipstik kembali agar Alex tergoda oleh dirinya.
“Alex menurut mu lipstik mana yang cantik,” menunjukan dua lipstik ke pada Alex.
Alex merasa terganggu namun, dia juga tidak mungkin mengabaikan Gabriell akhirnya Alex pun menjawab. “Semuanya bagus, terserah mau pakai yang mana,” jawab Alex tanpa basa basi lagi.
“Hmmm! Baiklah terima kasih atas sarannya,” ucap Gabriell dengan nada kecewa.
Setelah beberapa menit akhirnya mereka berdua sampai ke perusahaan milik keluarga Zucca, Alex yang datang langsung masuk ke dalam ruangannya, dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tersebut.
Alex menempati posisi sebagai Direktur di perusahan milik keluarga istrinya tersebut, membuat dia bisa menggali informasi bahkan mencari tau tentang penghianatan semua orang kepada dirinya.
“Siapa yang bisa aku andalkan sekarang, semua anak buah ku sudah diambil oleh Genaro mereka tidak mungkin akan menuruti semua perkataan ku,” ucap Alex yang masih terus berpikir.
“Florenza, Genaro, kalian berdua memang brengsek!” ucap Alex.
Di lain tempat di rumah keluarga Zucca, Aurora sudah bangun dari tidurnya yang kelelahan setelah menangis dia melihat sekeliling rumah untuk mencari suaminya namun tidak bertemu.
Setelah itu dia pergi kekamarnya kembali dan mengganti pakainya untuk pergi bekerja.
“Aku pakai dress ini saja? Setelah itu aku harus segera datang ke kantor,” ucap Aurora langsung bergegas pergi masuk ke dalam mobilnya.
“Aku harus ke kantor dan tidak boleh telat,” menghidupkan mesin mobil lalu pergi ke kantor.
Aurora mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, karena ia tidak ingin berdebat lagi dengan Gabriell jika dia terlambat lagi.
Di sisi lain sebuah mobil dengan kecepatan yang sama juga pergi ke arah yang berlawanan dengan Aurora. Tiba-tiba sedikit oleng dan tanpa sengaja mereka pun bertabrakan.
Brukkk!
Mobil milik Aurora menabrak mobil tersebut dan mengakibatkan mereka terluka, dari mobil tersebut keluarlah seorang laki-laki dan juga perempuan yang menuju ke arah mobil Aurora.
“Keluar!” teriak wanita tersebut yang meminta Aurora untuk keluar dari mobilnya.
“Aawww, kepala ku sakit, mereka siapa?” berusahan untuk berpikiir jernih dan menghilangkan shock.
“Kurang ajar kenapa dia belum keluar dari mobilnya,” teriak wanita tersebut.
Laki-laki yang bersama wanita tersebut hanya diam saja, setelah melihat dua wanita tersebut bertengkar dan beradu emosi laki-laki itu mendekati mereka berdua.
“Sudahlah ayo kita pergi,” ajak laki-laki tersebut kepada wanitanya.
“Tunggu dulu, aku belum selesai berurusan dengan wanita itu,” ucapnya melepaskan pegangan tangan tersebut.
Wanita itu masih sangat marah kepada Aurora yang tidak meminta maaf padanya, dia juga menghina Aurora yang terlihat seperti wanita yang bodoh.
“Pantas saja kau menabrak kami, ternyata kau wanita bodoh,” ucap wanita tersebut sebelum pergi meninggalkan Aurora yang sendirian.
“Sudahlah ayo kita pergi sekarang sebelum terlambat,” ucap laki-laki tersebut.
Mereka bedua pergi meninggalkan Aurora yang masih berdiri di samping mobilnya yang terlihat ada goresan sedikit, ia mengecek bagian yang lainnya ternyata tidak ada.
Aurora masih memandang sepasang kekasih tersebut, yang sudah pergi meninggalkan dirinya sendirian, lalu ia pun masuk kedalam mobil dan melanjukan perjalanannya kembali.
“Sepertinya aku mengenal laki-laki tersebut? Dia sepertinya tidak asing lagi,” ucap Aurora yang berusaha mengingatkan ia pernah bertemu di mana laki-laki tersebut..
“Apa aku salah orang, tapi itu tidak mungkin,” masih berusaha untuk mengingatnya.
Di dalam mobil tersebut Genaro dan juga Florenza, yang mengendari mobil masih kesal dengan Aurora yang sudah menyita waktu mereka. Florenza juga kesal dengan Genaro yang memintanya untuk untuk melepaskan wanita tersebut.
“Kenapa kau meminta ku untuk melepaskannya? Aku ingin sekali menampar wanita itu yang sudah menabrak mobil ku,” guman Florenza kepada Genaro yang masih fokus menyetir.
“Sudahlah, nanti jika kau bertemu dengannya kembali maka lakukanlah,” saran Genaro kepada kekasihnya tersebut.
“Aku tidak ingin kembali ke kota ini lagi,” ucap Florenza kepada sang kekasih.
Genaro hanya diam saja tidak menjawab apapun lagi yang dikatakan oleh sang kekasih, karena ia tidak ingin berdebat dengannnya hari ini.
Kepala Aurora terasa pusing karena benturan yang sangat kuat tersebut, dia berusaha untuk tetap menyetir dan sampai dengan selamat ke kantor.
“Aku tidak ingin terlambat, ayolah Aurora sebentar lagi akan sampai ke kantor,” ucap Aurora kepada dirinya sendiri.
“Sedikit lagi Aurora, kamu pasti bisa,” mengguatkan dirinya sendiri.
Alex yang masih sibuk dengan pekerjaannya tiba-tiba di ganggu oleh Gabriell yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya tersebut, ia sangat tidak suka dengan kedatangan Gabriell. Tetapi, karena pekerjaan Alex terpaksa harus menerima sang adik ipar tersebut.
“Alex ini berkas yang anda minta,” memberika dokumen kepada Alex dengan nada manja.
“Terima kasih Gabriell, kau boleh pergi,” ucap Alex kepada Gabriell.
Mendengar ucapan Alex tersebut Gabriel sangat terkejut, karena biasanya banyak laki-laki yang menginginkan dirinya tetapi berbeda dengan Alex yang sama sekali tidak tertarik padanya. Bahkan hanya untuk memandangnya sebentar saja pun tidak sama sekali.
‘Bagaimana caranya agar aku bisa menggoda Alex, dan dia akan tertarik padaku,’ batin Gabriel dengan melangkahkan kakinya ke luar ruangan Alex tersebut.
‘Ternyata Gabriell menggoda Alex tetapi tidak berhasil, baguslah aku lebih suka seperti itu karena hal itu aku tidak salah dalam memilih suami,’ batin Aurora, lalu masuk ke dalam ruangan suaminya tersebut.
Setelah keluarnya Gabriell dari ruangan Alex, Aurora yang baru datang karena terlambat akhirnya bisa masuk juga tanpa bertemu dengan Gabriell.
Dia masuk ke dalam ruangan tersebut dengan pelan-pelan takut ketahuan oleh sang suami, tetapi Alex yang sudah menunggu kedatangan istrinya tersebut di balik pintu.
“Aaawww!” teriak Aurora kesakitan karena dahinya menabrak seseorang.
“Hmm, sayang maaf aku terlambat,” ucap Aurora dengan gelagapan, sedikit takut dimarah oleh Alex.
Alex memperhatikan Aurora dengan teliti, ia melihat ada sesuatu yang aneh yang terjadi pada istrinya yang nakal tersebut dan ternyata benar apa yang dipikirkan.
“Ada apa dengan dahimu?” tanya Alex yang memeriksa dahi istrinya tersebut.
“Tidak apa-apa hanya terbentur tadi,” jawabnya dengan singkat.
“Dasar istri yang nakal, bisa tidak jika sehari saja tidak membuat masalah,” ucap Alex, memarahi istrinya tersebut.
Ruang tunggu rumah sakit Ospedale Civico di Palermo menyisakan kesunyian yang mencekam. Di luar sana, angin malam Laut Tirrenia membawa aroma garam Mediterania melintasi hiruk-pikuk Palermo. Namun di dalam sini, atmosfer terasa membeku. Gabriel Zucca duduk termenung di kursi plastik paling pojok dengan lutut yang bergerak naik-turun tanpa sadar. Setelah dua puluh menit menunggu, sosok Matteo muncul dari ujung koridor yang remang-remang. Langkahnya mantap, khas seorang profesional yang tahu benar apa yang harus ia hadapi. Matteo mengambil posisi duduk tepat di hadapan Gabriel. Ia tidak langsung membuka buku catatan bersampul kulit cokelat tua miliknya, melainkan hanya menatap Gabriel dengan pandangan menyelidik. "Kamu tahu kenapa aku memilih untuk berada di sini, Pak?" tanya Gabriel duluan, memecah keheningan dengan suara yang serak dan bergetar. Matteo memosisikan duduknya dengan tegap lalu menjawab, "Aku tahu kamu memilih untuk ada di sini, Gabriel. Dan bagiku, kesadaran atas
Pagi menjelang dengan sinar matahari yang menerobos tipis melalui celah tirai ruangan ICU. Aurora masih terbaring, namun matanya sudah terbuka sejak subuh. Ia tidak bisa tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan cambukan itu kembali datang, terasa nyata di kulit badammya yang masih berdenyut perih. Namun kali ini, rasa sakit itu tidak membuatnya ingin menyerah. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Sesuatu yang kecil, namun terasa seperti bara yang mulai menyala di balik abu yang sudah lama padam. Mungkin karena kata-kata Alex semalam. Mungkin karena genggaman tangan suaminya yang untuk pertama kalinya terasa seperti perlindungan, bukan sekadar kewajiban. 'Aku tidak akan membiarkan Aurora disakiti lagi.' Kalimat itu terus berputar dalam pikirannya. Pintu ruangan terbuka perlahan. Aurora mendongak, dan ia mendapati sosok yang tidak ia sangka-sangka akan datang sepagi ini. Allano. Laki-laki itu masuk dengan langkah yang lebih pelan dari biasanya. Wajahnya yang biasany
Ruangan ICU itu dingin, sunyi, dan penuh dengan bau antiseptik yang menyengat. Aurora terbaring lemah di atas ranjang putih, tubuhnya dibalut perban di bagian tubuhnya. Selang infus tergantung di sampingnya, menetes perlahan seolah ikut meratapi nasib wanita malang itu. Alex duduk di kursi di sudut ruangan, kepalanya tertunduk. Kedua tangannya mengepal erat di atas lututnya. Ia tidak bisa berkata-kata. Ia tidak bisa menangis. Yang ia rasakan hanyalah rasa sesak yang menghimpit dadanya, sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. 'Maafkan aku, Aurora,' batinnya dalam-dalam. 'Aku seharusnya melindungimu. Tapi aku hanya berdiri di luar pintu dan mendengarkan suara cambukan itu. Aku seorang pengecut.' Allano berdiri di luar kaca ruangan ICU, matanya tidak lepas memandang putrinya yang terbaring tak berdaya itu. Tangannya gemetar, ia tidak mampu menyembunyikan rasa bersalah yang menghantam hatinya begitu keras. Ia seorang ayah, namun ia sendiri yang menyiksa anaknya dengan
"Dasar anak tidak tau diri! Beraninya kau membentak ku, setelah apa yang sudah kau lakukan kepada kita semua?” ucap Allano dengan lantang dan keras.“Maksud Papa?” tanya Aurora yang masih tidak mengerti.Terlihat wajah kesal Allano kepada putrinya itu, ia sungguh sudah muak melihat wanita tersebut. Aurora pura-pura atau hanya memang tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Allano.Tanpa basa basi lagi, Allano menarik tangan wanita tersebut. Ia membawa wanita itu kelantai atas, lalu ia melempar wanita itu masuk kedalam ruangan yang rahasia. Dimana ruangan itu tidak pernah dibuka selama sepuluh tahun.“Papa… ruangan apa ini? Kenapa Papa membawa Aurora kedalam ini?” Aurora terus bertanya-tanya sang Papa, tetapi laki-laki itu menjawab apapun.“Kau akan menerima hukuman sesuai dengan peraturan keluarga Zucca!” ucapnya dengan tegas, tanpa melihat kearah wanita itu.“Papa….!”“Diam!”Allano melepar sebuah buku kearah putrinya tersebut, disana banyak aturan-aturan yang tertulis untuk keluarg
"Kenapa... k-kau peduli padaku!" tanya Aurora, ketika Genaro memeluk tubuhnya itu.“Kau… mengingatkan aku kepada seseorang di masa lalu! Sudahlah, tidak perlu bertanya lagi. Sekarang aku tidak akan mendengarkanmu!” ungkapnya.Setelah mendengar ucapan dari laki-laki tersebut, Aurora menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan hangat itu. Ia merasa lebih baik, karena ada orang lain yang peduli padanya.Di sisi lain, Gabriel mengambil beberapa foto pelukan dan bersamaan yang terlihat romantis itu. Ia akan menggunakan itu sebagai alat untuk membuat Aurora dan juga Alex berpisah, dan tidak akan bersama untuk selamanya.“Foto ini akan berguna untukku, sebentar lagi kau akan benar-benar sendirian Aurora! Tunggu saja!” ungkapnya, penuh dengan senyuman licik.“Apa kau sudah selesai melakukannya, jika ia ayo kita pulang sekarang?” ucap Victoria kepada putrinya itu.Mereka berdua pergi dari makam tersebut, sehingga hanya tersisa mereka berdua. Aurora sungguh sangat sedih, ia tidak tau apa yang akan
“Kehilangan seseorang yang sangat disayangi, sungguh sangat sakit Dok! Hiks… hiks…!” ucap Aurora kepada Dokter tersebut, dengan menangis sesegukan.“Nona… jangan bersedih, setiap yang bernyawa pasti akan kembali kepada Tuhan-Nya!” mencoba untuk menenagkan Aurora.Dalam runagan tersebut sungguh sepi. Sehingga suara tangisan Aurora terdengar dengan jelas. Ia mencoba untuk menenangkan dirinya. Tetapi, tetap saja tidak berhasil.Dokter tersebut masih menemani wanita malang itu, ia menghapus air mata wanita itu yang terus mengalir. Ia sungguh prihatin melihat Aurora. “Nona, apakah saya perlu memanggil keluarga anda?” tanya dokter tersebut. “Mungkin mereka bisa menjaga dan menghibur anda,” ucapnya.“Tidak perlu dok, saya tidak apa-apa. terima kasih Dok, sudah menenangkan hati saya,” ucap Aurora berterima kasih.Dokter tersebut pergi meninggalkan Aurora yang masih berdiam di dalam ruangan tersebut. Aurora menatap dirinya sendiri, yang seperti orang gila.Begitu banyak hal sudah terjadi, har
“Bagaimana dengan wanita sialan itu, aku sungguh muak melihat mukanya Ma!” ucap Gabriel, kepada sang Mama.“Kau tidak perlu khawatir sayang! dia pasti akan mama singkirkan! Sekarang pikirkan dulu kebahagian mu!” ucap Victoria, kepada putri kesayangannya tersebut.Mereka berdua sunguh tidak tahu malu,
"Maafkan kami Nona... setelah bangun tidur Nenek sudah seperti ini! Dia banyak diam dan juga meminta ada orang yang selalu berada di sampingnya," ungkap pelayan tersebut kepada Aurora."Pasti ada yang salah! Nenek kamu kenapa? Apa ada yang salah atau nenek sakit? Apa Sekarang nenek dalam situasi bah
“Iya sayang, Mama punya rencana bagaimana untuk mengusir wanita itu dari keluarga Zucca!” ucap Victoria.“Bagaimana caranya Ma? Kita jangan gegabah lagi Ma?” ucap Gabriel mengingatkan Victoria, sang Mama.“Tenang saja semua itu tidak akan terjadi,” ungkap Victoria.Sementara di sisi lain, Genaro dan ju
“Dasar wanita memang tidak pernah salah. Kenapa sangat susah sekali mengerti mereka,” gerutu Alex, yang pergi meninggalkan Aurora di dalam kamar tersebut.“Sekarag sudah siang, kenapa hanya mengganti pakaiannya saja sampai harus berjam-jam seperti ini,” omel Alex yang berjalan menuju kamar utama Vill







