LOGINAlexsandro Leonardo Romano tidak pernah mengenal kata lemah. Sebagai raja mafia paling ditakuti di Sisilia, ia terbiasa memegang kendali atas segalanya nyawa, kekuasaan, dan kesetiaan. Namun satu malam berdarah mengubah segalanya: dikhianati oleh kekasih dan sepupunya sendiri, tubuhnya dibuang di gang gelap, sekarat di tengah deras hujan. Aurora Violetta Zucca adalah wanita yang tidak pernah dianggap. Bodoh, katanya. Kekanak-kanakan. Bahkan keluarganya sendiri menginginkan kematiannya. Namun malam itu, di bawah payung hitam dan hujan yang mengguyur, Aurora menemukan seorang pria tampan sekarat dan tanpa pikir panjang, ia memilih untuk menyelamatkannya. Pernikahan mereka dimulai dari hutang nyawa. Namun di balik topeng kebodohan Aurora, tersimpan kecerdasan yang mengejutkan bahkan sang suami sendiri. Dan di balik dinginnya Alex, mulai tumbuh sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ketika dendam menyatukan dua jiwa yang sama-sama terluka, pertempuran pun dimulai. Bukan hanya untuk membalas pengkhianatan melainkan untuk bertahan hidup. Siapa sebenarnya Aurora Violetta Zucca? Dan apa yang belum diketahui Alex tentang istri rahasianya?
View More“Kenapa aku disini?” tanya Alex setelah benar-benar terbangun.
“Ais, Sial!” Berusaha untuk mengingat apa yang sudah terjadi sebelumnya.
“Brengsek! Kenapa susah sekali!” berusaha untuk melepaskan ikatan tali di tangan dan kakinya.
Suara ketukan antara sepatu dan juga lantai terdengar mendekati, Alex yang masih fokus untuk membuka ikatan tersebut tiba-tiba terahlikan. Ia penasaran siapa melakukan semua ini padanya.
Sungguh Alex sangat kecewa. Ketika, melihat wanita yang ada di antara mereka adalah orang yang sangat ia cintai. Tidak, hanya itu. Di sana juga ada orang-orang yang sangat Alex percayai, melihat itu semua ia masih tidak percaya dan berusaha untuk tidak berpikir negatif.
“Kau sudah terbangun rupanya,” ucap Florenza, kekasih Alex berjalan mendekatinya.
“Apa yang telah kalian lakukan? Tolong lepaskan aku sayang?” ucap Alex, dengan menatap Florenza penuh harap.
“Untuk apa? Aku yang menculikmu dan sekarang kau ingin aku melepaskan mu?” tutur wanita tersebut.
“Apa maksudmu?” tanya Alex, menatap tajam wanita tersebut.
Alex, masih tidak mengerti dengan ucapan sang kekasih. Wanita itu tidak menjawab, ia hanya berdiri mendekati laki-laki yang sudah bersamanya, dan memeluknya di depan Alex yang masih terikat tersebut.
Melihat hal itu Alex sangat marah dan juga kecewa, ternyata selama ini ia hanya dimanfaatkan. Oleh orang-orang yang sangat ia percayai, lalu sekarang mereka semua berkhianat.
“Sekarang kau sudah tau apa maksudku? Tidak perlu aku jelaskan lagi,” ucap wanita tersebut dengan santai dan tersenyum memandang Alex.
“Maafkan kami Tuan muda, tapi hanya ini yang bisa kami lakukan untukmu!” ucap Genaro, dengan nada yang sedikit mengejek.
“Hahahahahahaha,” tertawa bersama.
Mereka menertawakan Alex, sementara ia masih terus berusaha untuk melepaskan ikatan tali di tangannya. Alex sangat marah, dan ingin sekali membunuh orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
“Maafkan kami Tuan muda, untuk mengambil semua harta milikmu kami harus menyingkirkanmu,” jelas Genaro, kepada Alex. Salah satu orang kepercayaannya.
Setelah berusaha melepaskan ikatan tersebut, Alex pun berusaha untuk menojok Genaro. Salah satu orang kepercayaannya dan juga selingkuhan sang kekasih.
Dor!
Sebelum berhasil menonjok Genaro, salah satu anak buah Genaro melayangkan satu tembakan. tepat mengenai tangan Alex. Tangan itu yang ia gunakan untuk menonjoknya sehingga Alex tidak bisa melakukannya.
Setelah itu, anak buah Genaro yang lain menahan tubuh Alex, dan darah dari luka tembak tersebut mulai mengalir di tangannya. Sehingga, baju putih yang ia gunakan berubah menjadi merah, Alex menutup luka tembak tersebut dengan tangannya yang lain.
“Lihatlah,Tuan muda ingin menonjokku dengan tangannya yang sangat berharga ini. Tapi sayang sekarang terluka!” ucap Genaro, dengan nada mengejek.
“Brengsek! Lepaskan aku!” teriak Alex kepada sepupunya tersebut.
Genaro tidak peduli dengan apa yang di ucapkan oleh Alex, ia juga mengambil pisau dan sebuah kertas yang sudah ada di pojok ruangan tersebut yang sebelumnya sudah mereka siapkan. Setelah itu Genaro berjalan mendekatinya dengan membawa pisau yang terlihat sangat tajam tersebut.
Melihat itu, membuat Alex takut meskipun ia sering membunuh orang lain tetapi tetap saja ia takut hal itu akan terjadi padanya.
“Lihat apa yang aku bawakan untukmu? Bukan hanya pisau tetapi ada juga sebuah kertas yang berisi tentang wasiat mengenai warisan seluruh Grup Romano,” ucap Genaro.
“Dan ini sah karena sudah kau tanda tangani, aku sangat pintar bukan? Lalu sekarang kami hanya tinggal mewujudkan apa yang ada di dalam surat tersebut!” ungkap Genaro tanpa tahu malu.
Genaro mendekati Alex, dan menatap dengan tajam. Ia melihat wajah Alex dari ujung ke ujung dan membisikan sesuatu di telinganya, lalu ia melakukan rencana mereka selanjutnya.
Jleb!
Satu tusukan mengenai perut Alex, darah segar dari tusukan tersebut mengalir. Alex menahan pisau yang masih tertancap di perutnya. Yang belum dilepaskan Genaro, karena ia ingin menusuk lebih dalam lagi.
Melihat perlawanan dari Alex cukup kuat, Genaro menarik pisau tersebut dari perut Alex. Sehingga, membuat ia terjatuh ke lantai dan tangannya yang terluka akibat memegang pisau tersebut.
“Awww! Argh!” rintih Alex menahan sakit.
“Gimana rasanya Tuan muda? sungguh sangat nikmat bukan?” tanya Genaro.
Jleb!
Genaro kembali menusuk bagian dada Alex, sehingga membuat dia benar-benar sangat tidak berdaya. Alex terbaring di lantai membuat darahnya yang masih segar itu mengalir dari luka tusuk di tubuhnya, sehingga membuat mereka sangat puas.
“Aku akan membunuh kalian semua!“ ucapnya sebelum tak sadarkan diri.
“Apa yang akan kita lakukan dengan tubuh yang tidak berguna ini,” tanya Florenza kepada Genaro setelah melihat Alex tidak sadarkan diri.
Genaro masih berpikir apa yang akan mereka lakukan untuk tubuh Alex tersebut, setelah beberapa menit berpikir akhirnya Genaro memiliki ide.
“Kita buang! Ayo angkat masukan ke dalam mobil,” perintah Genaro kepada anak buahnya.
Mereka pergi membawa tubuh Alex, Genaro dan Florenza sangat senang karena mereka berdua berhasil mengambil ahli dan posisi Alex sekarang.
Setelah beberapa menit berjalan, mereka membuang tubuh Alex di gang gelap dan memberitakan kematian Alex sebagai tuan muda Grup Romano dan juga mengambil posisi organisasi raja mafia dan pemimpin Grup Romano.
Mereka berdua pulang ke rumah Alex, lalu menikmati seluruh harta kekayaan dan juga mengambil ahli apa yang sudah menjadi milik Alex selama memimpin.
“Sekarang kita benar-benar memilikinya,” ucap Florenza yang merasa lega karena semua sudah berhasil.
“Kita hanya perlu meyakinkan investor untuk menyetujui bahwa pemimpin Grup Romano sudah berubah,” ungkap Genaro yang masih khawatir.
Hujan turun sangat deras sehingga membuat Alex tersadar dari pingsannya, dan ternyata ia sudah berada di dalam gang gelap. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki Alex berusaha untuk berdiri, dan menahan sakit dari luka tusuk tersebut yang terus mengeluarkan darah.
“Aku harus keluar dari neraka ini!” ucapnya yang masih terus berusaha.
“Kalian semua memang tidak tau terima kasih! Aku tidak pernah menyakiti kalian tapi kenapa orang-orang yang aku percaya terus menyakitiku!” keluh Alex pada dirinya sendiri.
Alex terus mencari jalan untuk keluar dari gang gelap tersebut, setelah keliling akhirnya ia menemukan jalan untuk keluar. Bekal sisa tenaga yang ia punya dan juga hujan turun yang sangat deras. Alex terus mencari tempat untuk berlindung agar tidak tertangkap oleh anak buahnya Genaro.
Ia berjalan tanpa tujuan sampai ia berada di sebuah gang yang sama sekali sangat familiar baginya, ia sudah kehabisan tenaganya dan terjatuh ke tanah. Hujan deras terus membasahi tubuhnya yang sangat tampan, dan juga kekar tersebut.
“Kenapa aku harus mengalami ini,” ucapnya dengan menatap langit.
“Apa aku pantas mendapatkan ini semua,” memikirkan apa yang sudah ia lakukan selama ini.
Ruang tunggu rumah sakit Ospedale Civico di Palermo menyisakan kesunyian yang mencekam. Di luar sana, angin malam Laut Tirrenia membawa aroma garam Mediterania melintasi hiruk-pikuk Palermo. Namun di dalam sini, atmosfer terasa membeku. Gabriel Zucca duduk termenung di kursi plastik paling pojok dengan lutut yang bergerak naik-turun tanpa sadar. Setelah dua puluh menit menunggu, sosok Matteo muncul dari ujung koridor yang remang-remang. Langkahnya mantap, khas seorang profesional yang tahu benar apa yang harus ia hadapi. Matteo mengambil posisi duduk tepat di hadapan Gabriel. Ia tidak langsung membuka buku catatan bersampul kulit cokelat tua miliknya, melainkan hanya menatap Gabriel dengan pandangan menyelidik. "Kamu tahu kenapa aku memilih untuk berada di sini, Pak?" tanya Gabriel duluan, memecah keheningan dengan suara yang serak dan bergetar. Matteo memosisikan duduknya dengan tegap lalu menjawab, "Aku tahu kamu memilih untuk ada di sini, Gabriel. Dan bagiku, kesadaran atas
Pagi menjelang dengan sinar matahari yang menerobos tipis melalui celah tirai ruangan ICU. Aurora masih terbaring, namun matanya sudah terbuka sejak subuh. Ia tidak bisa tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan cambukan itu kembali datang, terasa nyata di kulit badammya yang masih berdenyut perih. Namun kali ini, rasa sakit itu tidak membuatnya ingin menyerah. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Sesuatu yang kecil, namun terasa seperti bara yang mulai menyala di balik abu yang sudah lama padam. Mungkin karena kata-kata Alex semalam. Mungkin karena genggaman tangan suaminya yang untuk pertama kalinya terasa seperti perlindungan, bukan sekadar kewajiban. 'Aku tidak akan membiarkan Aurora disakiti lagi.' Kalimat itu terus berputar dalam pikirannya. Pintu ruangan terbuka perlahan. Aurora mendongak, dan ia mendapati sosok yang tidak ia sangka-sangka akan datang sepagi ini. Allano. Laki-laki itu masuk dengan langkah yang lebih pelan dari biasanya. Wajahnya yang biasany
Ruangan ICU itu dingin, sunyi, dan penuh dengan bau antiseptik yang menyengat. Aurora terbaring lemah di atas ranjang putih, tubuhnya dibalut perban di bagian tubuhnya. Selang infus tergantung di sampingnya, menetes perlahan seolah ikut meratapi nasib wanita malang itu. Alex duduk di kursi di sudut ruangan, kepalanya tertunduk. Kedua tangannya mengepal erat di atas lututnya. Ia tidak bisa berkata-kata. Ia tidak bisa menangis. Yang ia rasakan hanyalah rasa sesak yang menghimpit dadanya, sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. 'Maafkan aku, Aurora,' batinnya dalam-dalam. 'Aku seharusnya melindungimu. Tapi aku hanya berdiri di luar pintu dan mendengarkan suara cambukan itu. Aku seorang pengecut.' Allano berdiri di luar kaca ruangan ICU, matanya tidak lepas memandang putrinya yang terbaring tak berdaya itu. Tangannya gemetar, ia tidak mampu menyembunyikan rasa bersalah yang menghantam hatinya begitu keras. Ia seorang ayah, namun ia sendiri yang menyiksa anaknya dengan
"Dasar anak tidak tau diri! Beraninya kau membentak ku, setelah apa yang sudah kau lakukan kepada kita semua?” ucap Allano dengan lantang dan keras.“Maksud Papa?” tanya Aurora yang masih tidak mengerti.Terlihat wajah kesal Allano kepada putrinya itu, ia sungguh sudah muak melihat wanita tersebut. Aurora pura-pura atau hanya memang tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Allano.Tanpa basa basi lagi, Allano menarik tangan wanita tersebut. Ia membawa wanita itu kelantai atas, lalu ia melempar wanita itu masuk kedalam ruangan yang rahasia. Dimana ruangan itu tidak pernah dibuka selama sepuluh tahun.“Papa… ruangan apa ini? Kenapa Papa membawa Aurora kedalam ini?” Aurora terus bertanya-tanya sang Papa, tetapi laki-laki itu menjawab apapun.“Kau akan menerima hukuman sesuai dengan peraturan keluarga Zucca!” ucapnya dengan tegas, tanpa melihat kearah wanita itu.“Papa….!”“Diam!”Allano melepar sebuah buku kearah putrinya tersebut, disana banyak aturan-aturan yang tertulis untuk keluarg
“Ada apa dengannya, apa ada kata yang salah?”“Aurora! Tunggu aku, maafkan aku!” berlari menyusul istrinya yang masuk kedalam villa.“Kenapa dia mudah sekali marahnya, padahal aku hanya bercanda!” ucap Alex yang masih berusaha untuk mengejar Aurora.Aurora yang kesal langsung masuk kedalam kamar, ia me
“Apa!”“Tidur di hotel! Kenapa dia tidak memberitahuku!” ucap Victoria, yang kesal mendengar mereka berdua tidur di hotel.“Papa juga tidak tau ma, Alex baru saja menelpon jika mereka berdua tidak pulang malam ini!” ungkap Alano.‘Pantas saja jika Gabriel kesal dan menangis, ternyata Alex dan Aurora ti
“Sangat puas bapak Direktur!” mereka berdua tersenyum, ketika menyadari tingkah mereka berdua. “Sekarang kita akan pergi kemana? Kita sudah berjalan sangat jauh dari Hotel?” Aurora menyesal karena pergi tanpa berpikir akibatnya.“Mengikuti kaki kita melangkah akan kemana?” ucap Alex, melirik kesana k
“Ini indah! Sama seperti mu! Apa kau menyukainya?” tanya Alex, kepada wanita itu.“Iya aku menyukainya! Terima kasih!” ucap Aurora, ketika Alex memasangkan kalung tersebut kelehernya.“Sangat cantik! Sungguh sangat cantik!” ucap Alex.Mendengar ucapan pujian dari Alex Aurora hanya tersenyum malu, untuk












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore