Mag-log in"Pak ..." panggil Alia dibalik pintu
"Masuk," Deg! Alia merasa tidak asing dengan suara itu, namun ia tidak begitu yakin. Ceklek! "Kamu yang bersihkan kamar saya?" tanya laki-laki berotot kuat itu, tanpa melihat Alia yang berada di belakangnya. "Iya pak," " Berapa ratus kali saya harus bilang, kalau membersihkan kamar saya, jangan coba-coba memindahkan barang saya dari posisi semula!" ujarnya dengan nada sedikit tinggi membuat Alia langsung meremas jarinya. "Maaf pak-- "Huh ... Saya paling muak dengan orang yang kerjanya tidak becus, di mana sih mereka menemukan orang-orang seperti ini," lanjutnya lalu ia berbalik. Deg! Untuk beberapa saat pandangan mereka berdua bertemu, Alia tampak begitu shock melihat orang yang di hadapan itu adalah dosen kematian di kampus. "P--pak-- "Kenapa?" Tanya Fras dengan jutek membuat Alia langsung menunduk. "Saya minta maaf pak, saya akan kembaliin semua barang bapak ke posisi semula," ujarnya membuat Fras langsung melempar akan charger di tangannya ke atas kasur, lalu ia menjauh dari Alia. "Kerjakan!" Suruhnya tanpa melihat Alia, membuat Alia langsung buru-buru mengerjakannya, beberapa kali ia terdiam karena sudah tidak ingat di mana posisi barang itul. "Pak maaf ... Ini dimana ya?" Tanya Alia sambil takut membuat Fras menghela nafas. "Diatas meja kecil," jawabnya yang dibalas anggukan oleh Alia. "ALIAAA ..." terdengar panggilan yang begitu kencang membuat Alia kaget, ia hampir saja terjatuh. "Em ... Iya nyonya," jawab Alia "Tamu pengen ketemu sama kamu, seperinya perjanjian mereka sudah fix. Kamu bakal tinggal di rumah baru lagi hahaha ... Seru ya di rebutin banyak orang," jawab perempuan itu dengan tatapan menggoda dari atas sampai bawah, membuat Alia kembali sedih. Sebelum keluar dari kamar Fras, terlihat alia mengusap air matanya. "P--pak ini belum selesai, saya keluar dulu ya," ucap Alia dengan suara yang bergetar membuat Fras yang mendengar itu hanya acuh. Dengan sekuat hati Alia kembali menghadap bosnya, bahkan tatapannya sudah kosong. 'Aku pasrah tuhan ...' ucap Alia dalam hati. "Halo cantik ... besok kita pindah ke rumah om ya, disana enak kok tinggalnya, nggak secapek di sini," ucap laki-laki hidung belang itu membuat Alia diam seribu bahasa. "Hahah ... lihatlah dia Alex, diam artinya iya kan sayang," lanjutnya yang dibalas anggukan oleh Alex. Saat laki-laki itu hendak menarik Alia duduk disebelahnya, tiba-tiba saja Fras duduk di sebelahnya terlebih dahulu membuat tamu itu tertawa. "Hahah Fras ... Sejak kapan kamu mau keluar kamar kalau om datang," "Sekarang om," jawabnya lalu kemudian ia melihat Alex membuat Alex mengerutkan keningnya. "Kenapa kamu ngelihat papa seperti itu?" tanya Alex membuat Fras diam sejenak sambil melirik Alia sekilas. "Fras punya satu permintaan untuk papa," ucapnya membuat Alex tertawa. "Hahaha ... Tumben tumbenan kamu mau repot-repot ketemu papa, biasanya juga tinggal telepon papa, semua keinginan kamu dikabulkan," ujar Alex membuat temannya tertawa. "Huh ... Iya, biasanya begitu. Gadis ini melakukan kesalahan di kamarku Pa, dan aku akan menghukum dia selamanya," ucap Alex sambil menatap alia dengan tatapan tajam, membuat alia buru-buru manunduk sedangkan Alex dan temannya kaget. "Kesalahan apa nak? Kamu nggak perlu repot-repot menghukum dia, tadi dia udah dibeli sama om ini," ucap Alex membuat Alia langsung meremas bajunya. "Hum ... Gak bisa pa, papa tau sendiri kan Fras ini seperti papa, kalau belum puas menghukum orangnya ... Ya jangan dilepas," ujarnya membuat alex menghela nafas panjang lalu ia mengangguk. "Baiklah," " Mau berapa lama kamu menghukum dia?" "Lama ... Jadi Fras tidak mengijinkan dia untuk dijual," ucap Fras membuat tamu itu murka. "Gak bisa gitu Alex!" bantahnya, namun tidak dihiraukan oleh Fras, ia langsung berdiri lalu menarik tangan Alia kembali ke kamarnya lalu mengunci kamar itu. "ALEX ...!" "Sorry bro ... Percuma saja kita melawan Fras, dia sama saja kayak aku, gak bakalan bisa dibantah, buat yang kali ini kita batalkan aja ya," ucapnya membuat tamu itu sangat tidak terima. "Gak bisa!" "Kita obrolin besok lagi," Disisi lain, Alia masih shock dengan semua kejadian itu, ia melihat Fras sudah kembali fokus pada lap topnya membuat Alia bingung harus bagaimana. "Pak ... saya ingin sekali ke kamar mandi, saya boleh keluar kah?" Tanya Alia dengan hati-hati membuat menghela nafas panjang. "Kamar mandi di sampingmu, pake mata," ucap Fras membuat Alia langsung mengangguk, lalu buru-buru ke kamar mandi untuk semua tangis nya lalu ia mencuci wajahnya. Tidak lama kemudian ia keluar dari kamar mandi, terlihat Alex dan fras sedang ngobrol disitu membuat Alia kembali ketakutan. "Kamu yakin?" tanya Alex. "Iya pa, besok aku akan pindah ke rumah baru itu dan dia akan jadi pembantuku," ujar Fras yang dibalas anggukan oleh Alex. "Ya sudah kalau begitu," jawab Alex lalu ia keluar dari kamar putranya itu, tanpa melihat Alia. Alia sudah mengantuk berat setelah seharian perjalanan dan bekerja, namun ia bingung harus istirahat dimana, sedangkan Fras masih berkutat dengan lap topnya. Karena terlalu lelah, Alia duduk di dekat tiang meja lalu ia menyandarkan kepalanya. Tidak butuh waktu lama, ia langsung terlelap dalam mimpi. Beberapa menit kemudian, Fras menyadari sudah tidak ada suara bersih-bersih membuatnya menoleh ke samping. "Malah tidur," gumamnya pelan lalu ia menarik kasur bawah tempat tidurnya. Fras melihat jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam membuatnya langsung menghela nafas panjang. "Bangun ..." Ucapnya membuat Alia langsung terbangun, lalu ia hendak berdiri namun di tahan oleh Fras "Bapak butuh apa biar aku siapkan?" Tanya Alia membuat Fras menghela nafas dalam-dalam. "Tidur disitu," suruhnya lalu kembali ke meja kerjanya. Alia langsung buru-buru bangkit dari duduknya karena ia juga sudah kedinginan karena suhu AC. "Pak terima kasih banyak," ucapnya yang tidak di balas apapun oleh Fras. Beberapa saat kemudian saat ia melihat Alia dari kaca, ternyata gadis itu sudah kembali tertidur membuat Fras menghela nafas panjang. 'Entah apa yang kamu lakukan sampai berurusan dengan ayahku,' ucap Alex dalam hati. "Ayah ibu ... Kalian baik-baik ya, kakak baik-baik saja disini," ucap Alia yang tiba-tiba mengigau, membuat Fras tidak bisa fokus kerja dan akhirnya ia memilih untuk menutup lap topnya. "Huh ..." Alex bangkit dari duduknya, lalu kemudian ia mengambil selimut dari dalam lemari. Entah kenapa Alex benar-benar tidak terima saat mengetahui orang yang bekerja di rumahnya itu adalah muridnya sendiri di kampus, terlebih saat mengetahui orang tuanya akan melakukan perdagangan muridnya itu sendiri. "Ba--bapak ngapain?" tanya Alia tiba-tiba terbangun dari tidurnya, membuat Alex langsung menjauhkan tubuhnya yang sedang menyelimuti Alia. "Kamu nggak usah geer, Saya nggak suka sama kamu," ucapnya dengan tegas membuat Alia langsung mengangguk. "Pak saya boleh ngambil tas saya ke dapur tidak?" Tanya Aldi membuat Fras kesal. "Kamu ini ya banyak permintaan, sudah sana cepat ambil... Jangan lama-lama," ucapnya yang dibalas anggukan oleh Alia. "Um pak, kenapa saya tidak tidur di dapur aja?" tanya Alia lagi, membuat Fras langsung menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam. "Kamu ini siapa? Berani mengatur saya? Suka-suka saya lah, kamu mau tidur dimana, lebih dari 5 menit kalau kamu tidak kembali ke sini, maka saya akan memberikan hukuman ke kamu," ujar Fras, Alia langsung buru-buru keluar kamar untuk mengambil tasnya yang berada di dapur. "Gadis ngeyel," dumel FrasSebulan kemudian, semuanya kembali berjalan normal. Satu perubahan yang besar terjadi pada Lidya, ia meninggalkan semua kebiasaan buruknya dan mulai menyadari bahwa sebenarnya yang ia lakukan sebelum-sebelumnya adalah pengalihan rasa sakit, bukan murni kemauan dari hati nuraninya. Sekarang iya fokus bekerja walaupun harus kembali memulai dari nol, kedua orang tuanya mensupport dan tidak pernah lagi menghakiminya seperti sebelumnya. Seminggu sekali Lidya berangkat ke kampung untuk menjenguk Alex yang semakin parah. Ia tidak segan-segan menginap di sana saat melihat kondisi mantan suaminya itu memburuk."Mbak ..." panggil Alia membuat Lidya menoleh."Iya,""Um ... Hehe boleh nanya nggak sih?" tanya Alia yang berada di ambang pintu membuat Lidya tersenyum lalu mengisyaratkan agar Alia yang masuk."Sini ...""Mbak udah berubah banyak banget aku lihat, um ... Kira-kira apa yang membuat Mbak seperti ini?" tanya Alia membuat Lidya tersenyum lalu ia mengambil alih anak kecil yang di gendon
Selama persidangan Alex, benar-benar membantu Lidya agar tidak begitu berat menjalani hukuman di penjara.Dia membawa bukti yang sangat banyak dari anak buahnya yang selama ini mengikuti Lidya. Lidya yang melihat perjuangan Alex tidak henti-hentinya selama beberapa hari sidang, seketika terdiam membisu.Ia bahkan tidak bisa mengatakan apa-apa di depan para hakim dan memilih menyetujui apa yang dikatakan oleh Alex."Begitu pak ..." ujar Alex membuat para hakim mengangguk lalu berunding sesama mereka di depan. Dari awal persidangan hingga sekarang hampir di penghujung persidangan mata Lia tidak pernah lepas dari Alex, ia benar-benar tidak menyangka hal ini terjadi bahkan orang tuanya saja tidak membelanya. "Bi ... Menurut kamu Alex melakukan itu serius nggak sih? Atau dia cuman nyusun strategi buat balas dendam sama anak kita, Aku sebenarnya takut banget tahu sama dia," ucap umi."Hustt ... Jangan mikir aneh-aneh, Lidya dipenjara 2 sampai 3 tahun aja udah syukur tapi kalau misalnya b
Dua hari dirawat di rumah sakit, hari ini Alex meminta agar fras mengurus administrasi supaya ia keluar dari rumah sakit itu."Papa mau ke mana sih buru-buru? Ini kata dokter kalau Papa sabar masih ada pengobatan loh dua hari lagi,""Udah ... Papa udah sembuh, kamu mau bantuin Papa nggak?" tanya Alex membuat Fras menghela nafas panjang."Papa tuh ya, entah apa yang Papa pikirin, bukannya kesehatan papa malah ada aja projectnya," kesal Fras."Sedikit aja, temenin Papa ke kantor polisi,""Hah? Buat apa? Papa bururusan apa lagi sama polisi?" tanya Fras "Udah, nanti juga di sana kamu tahu sendiri apa yang bakal Papa lakuin. Sekarang temenin Papa ke sana, kita pakai kursi roda aja soalnya kalau jalan papa nggak bisa," ucapnya membuat Fras diam sejenak lalu ia melihat ke arah istrinya itu."Kamu mau ikut?" tanya Fras "Boleh mas," jawab Alia.Tanpa membuang waktu mereka bertiga langsung menuju ke kantor polisi sesuai dengan kemauan Alex."Papa yakin kan nggak ada keributan ini?" tanya Fras
Bukannya kasihan melihat Rifki Lidya malah membabi buta membuat siapapun tidak ada yang berani mendekat karena dia ancam."Kalian coba mendekat, awas ..." ucapnya sambil menodongkan pisau ke arah orang-orang. "Ya ampun kasihan banget itu harus ditolongin,""Telepon ambulans telepon ambulans ...""Jahat banget ya ampun padahal perempuan lo itu,""Justru karena perempuan, otaknya nggak dipakai,""DIAM! KALIAN NGGAK PERNAH TAHU YA RASANYA JADI SAYA, ASAL KALIAN TAHU ... ORANG YANG JAHAT ITU BERASAL DARI ORANG YANG BAIK. KAMU TANYA SAMA LAKI-LAKI YANG BERLUMURAN DARAH INI, KURANG BAIK APA SAYA SAMA DIA, TANYA! DARI SAYA YANG KAYA RAYA, SAMPAI GEMBEL SAYA MASIH TETAP BAIK SAMA DIA.JADI KE DEPANNYA SAYA TIDAK INGIN MENDENGAR ADA MULUT YANG MENGATAKAN DIA JAHAT BANGET, SEBELUM KALIA NGEJUDGE SESEORANG ITU JAHAT COBA CARI TAHU DULU, RASA SAKIT APA YANG PERNAH IA DAPAT SEBELUMNYA," ucap Lidya dengan mata yang penuh amarah membuat semuanya langsung terdiam. "Lidya ... Maaf," ucap Rifki mem
Hari demi hari berlalu, Lidya benar-benar tidak merasa tenang di rumahnya ia terus dihantui dengan harta pemberian Alex yang habis tiba-tiba. Ia juga merasa dendam pada teman-temannya.Malam ini ia keluar diam-diam dari rumah.Disisi lain, Rifki dan teman-teman tongkrongannya sedang asyik ngobrol di tempat tongkrongan mereka yang baru. "Gimana kabar Lidya Bos? Ngeri juga lu ninggalin dia gitu aja,""Lu bisa diam aja nggak sih, lu nikmatin aja tuh uang yang udah gua kasih, nggak usah banyak ngomong," ucap Rifki."Kita kan cuma nanya kabar, apa salahnya sih," "Gua kan nggak ada hubungan apa-apa ya sama dia, lu berdua kalau mau sama dia ya tinggal pergi aja sana, teman-temannya aja nggak ada yang setia sama dia," jawab Rifki selalu menghisap rokoknya. "Elu udah tahu teman-teman yang nggak setia, terus kenapa lu ikut-ikutan nggak setia bro?""Cah hahah ... Lu pakai logika deh sekarang, menurutku emangnya gua wajar sama dia? Dia itu mantan istri orang bro, lebih bagus memilih gadis da
Sekarang Lidya sedang berdua dengan dokter Zira di kamar, ia sudah berniat untuk menutup diri dari dokter itu karena ia tahu orang tuanya pasti merencanakan hal yang tidak dia suka. "Dokter udah dibayar belum?" tanya Lidya."Belum,""Tapi dokter pasti nunggu bayaran kan setelah ini?" Tanya Lidya yang dibalas anggukan oleh dokter itu."Iya dong Mbak, saya datang ke sini buat bekerja,""Sama, saya datang ke sini juga bukan buat membebani Mbak. Saya nggak perlu cerita apa-apa, saya nggak gila ... Saya baik-baik aja Mbak, Mbak keluar aja setelah waktunya selesai. Mbak minta bayarannya tapi bagi sama saya setengah," ucapnya membuat dokter itu diam sejenak."Kok gitu mbak?""Nggak ada yang perlu saya ceritakan Mbak, cerita hidup saya nggak ada yang adil ... Semuanya jahat, bahkan orang tua saya juga. Jadi percuma saja kalau saya ceritakan juga, Mbak pasti bingung dan ngerasa heran kenapa ada alur seperti ini, ?" Ujarnya panjang lebar membuat dokter itu mengangguk paham."Oke, sekarang Mba







