LOGINkeesokan harinya Alia terbangun dari tidurnya, ia bingung boleh keluar kamar atau tidak. Alhasil, Alia memutuskan untuk tetap di kamar sambil membereskan kerjaan yang tadi malam belum selesai.
"Den ... Den Fras ..." panggil mbok dari depan. Alia yang mendengar itu langsung melihat ke arah Fras yang sedang menggeliat. Baru saja Pras membuka matanya, ia kaget melihat ada Alia di kamarnya membuatnya langsung buru-buru bangkit dari ranjang kemudian menuju ke kamar mandi. "Den ..." "Hum ..." dehem Fras "Pak, saya keluar ya," ucap Alia dari depan pintu kamar mandi. "Hum," dehem Fras lagi Baru saja Alia keluar dari kamar Fras, mbok terlihat shock membuatnya langsung menarik tangan Alia ke dapur. "K--kamu ngapain di kamar pak bos? Seumur-umur Saya bekerja belum pernah ada perempuan yang tidur di kamar pak bos? kamu lagi ngerayu?" Tanya mbok panjang lebar, membuat Alia bingung harus menjelaskan dari mana. "Enggak kok Mbok, Saya lagi jadi tawanan aja di sini tapi saya nggak diapa-apain, bapak baik anaknya juga baik. Tadi malam saya hampir di bawa sama orang yang mau membeli saya, tapi bapak malah nyuruh saya tidur di kamarnya." jawab Alia panjang lebar, membuat mbok mengangguk lalu ia mengusap dadanya. "Alhamdulillah deh kalo kayak gitu, saya kaget tiba-tiba ada perempuan keluar dari kamar bos muda ini," ujar mbok. Tidak lama kemudian Fras keluar dari kamarnya, sudah lengkap dengan pakaian dosennya membuat Alia yang melihat itu langsung menghela nafas pelan. "Mau pakai mobil yang mana pak hari ini, biar saya bilangin sama pak sopir dikeluarin dulu," tanya mbok. "Yang hitam," jawab Fras yang dibalas anggukan oleh mbok, lalu ia buru-buru keluar meninggalkan Alia dan Fras di dapur. "Bapak mau makan apa?" "Sereal aja," jawabnya yang dibalas anggukan oleh Alia, namun ia bingung di mana tempat sereal itu. "Hum ... um-- "Tunggu mbok aja yang bikin," ujar Fras, lalu kembali fokus ke hpnya membuat Alia mengangguk "Saya minta maaf ya, pak. Nggak masuk kelas lagi, kemungkinan besar saya bakal berhenti kuliah sampai bapak saya bisa melunasi hutang-hutang itu ke orang tua bapak," ucap Alia "Hum," dehem Fras membuat Alia sedikit malu telah menceritakan hal tersebut. "Sudah pak, udah dikeluarin mobilnya," "Buatkan saya sereal mbok," ujar Fras membuat mbok langsung menatap ke arah Alia, sedangkan Alia hanya bingung. Setelah selesai sarapan pagi, Fras langsung buru-buru keluar dari rumah, karena ia ada rapat pagi dengan dosen lain. "Mbok," "Iya, pak," "Kabari saya kalau ada apa-apa dengan Alia, jangan biarkan dia disentuh atau bahkan dipakai oleh laki-laki manapun di rumah ini. dia itu mahasiswi saya, Saya punya kewajiban untuk melindungi dia. Walaupun orang tuanya ada hutang di sini, tapi bukan berarti harus seperti itu," ucap fras untuk pertama kalinya berbicara banyak, membuat mbok langsung mengangguk. "I--iya pak, nanti saya telepon bapak kalau ada apa-apa," "Iya, tidak perlu mengabari papa, langsung telepon saya aja," lanjut Fras Setelah melihat Fras pergi dengan mobilnya, Alia benar-benar merasa sedih karena sudah tidak bisa lagi berkuliah. 'Hum ... pasti si Rendi sekarang lagi bercanda sama teman-teman yang lain, huh ... Mudah-mudahan lah, dia lulus dan bisa menjadi sarjana,' ucap Alia dalam hati. Tidak lama kemudian mbok kembali ke belakang membuat Alia langsung tersenyum. "Apa yang bisa saya kerjakan Mbok? Saya minta maaf ya, belum bisa cepat kerjanya," ucap Alia membuat mbok menghela nafas panjang. "Kamu bantu-bantu saya aja, soalnya di rumah ini kalau ada kesalahan kecil nanti bisa dihukum, apakah kemarin kamu sudah bekerja?" Tanya mbok. "Sudah mbok, tapi ya gitu kerjanya dua kali, soalnya saya salah jadinya dihukum," jawab Alia membuat mbok mengangguk paham. "Ya begitulah di rumah, tapi apapun itu, kita lihat sisi positifnya aja ya, dibalik itu sebenarnya mereka baik kok," ujar mbok. "Hehe iya mbok saya diperlakukan kayak gimanapun pasti saya terima, saya taruhan di sini," lanjutnya Disisi lain, Suryo benar-benar tidak bisa tidur semalaman memikirkan keadaan putrinya. Namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena belum mempunyai uang untuk melunasi hutang-hutang itu. Pagi ini ternyata Suryo datang ke depan rumah Alex diam-diam, berharap dia bisa melihat Alia disana. Matanya melihat ke sana kemari mencari putrinya namun tidak ada. "Nyari siapa pak ngintip-ngintip di situ? jangan sampai ketahuan bos loh, nanti bisa dimarahin," ucap tukang kebun itu membuat Suryo kaget lalu ia mengangguk. "Saya minta maaf karena udah ngintip, saya boleh minta tolong nggak? Mas kasih kan paper bag ini ke putri saya yang kerja di dalam namanya Alia. Dia Baru aja kemarin dibawa ke sini, Saya sangat merindukan putri saya, tapi saya juga tidak bisa apa-apa," ucap Suryo membuat tukang kebun itu langsung buru-buru mengambil paperbag itu dari tangan Suryo. "Iya ... kalau begitu pergilah takutnya ada yang lihat, nanti saya bisa dipecat," lanjutnya lalu ia menjauh dari Suryo sedangkankan Suryo buru-buru berlari menjauh. Hari menunjukkan pukul 10.00 pagi tiba-tiba Alia dipanggil oleh Alex ke depan membuatnya kembali deg-degan apa yang akan dihadapi hari ini. "Alia," "Iya pak," "Bagaimana kemarin tidur dekat anak saya yang tampan itu? pasti kamu menyukainya kan? tapi kamu harus ingat status kamu di sini tuh sebagai apa, jangan terlena dengan perasaanmu," ucap Alex membuat Alia bingung. "Maksud bapak apa ya? Saya dan pak Alex tidak ada apa-apa-- "Saya hanya mengingatkan saja, sekalipun Dia memakai kamu, itu cuman kewajibanmu sebagai taruhan di sini, bukan berarti dia menyukaimu," lanjut Alex membuat Alia langsung mengangguk. "Iya pak," "Itu hanya menunggu waktu hati anak saya tenang aja, tadi malam mungkin dia membela kamu karena kamu masih ada kesalahan sama dia. Saya tahu anak saya bagaimana, kalau nanti hatinya sudah reda, pasti dia membiarkan Kamu mau saya jual atau apapun itu, jadi kamu jangan terlalu berharap banyak untuk diselamatkan oleh dia!" tegas Alex. Deg! "Iya pak, Saya tidak berharap apa-apa," jawabnya "Pak Edi masih ingin membeli Kamu sebenarnya, tapi saya menunggu waktu hati anak saya tenang dulu. Kalau kamu mau, bantu saya untuk menenangkan hati Fras, itu bakal lebih bagus dan saya akan mengurangi pinjaman ayahmu sekitar 20 juta, bagaimana menurutmu?" tanya Alex membuat Alia bingung. "Terserah kamu mau atau enggak ya, kalau nggak mau juga pikirkan aja ... Berapa lama ayahmu bisa melunasi hutang yang hampir 100 juta itu, tapi kalau kamu mau membantu ya namanya juga membantu, ya kan kamu harus siap melayani lah," ujar Alex membuat Alia terdiam. "Saya boleh mikir dulu ya pak?" "Silahkan, sudah mengingatkan kamu, jangan bergantung pada anak saya, dia gak akan nolongin kamu," lanjut Alex membuat Alia mengangguk lalu ia kembali belakang dengan mata yang berkaca-kaca. Mbok yang melihat itu langsung geleng-geleng tanpa bertanya apapun. "Cengeng sekali, orang yang baru pertama kali kerja di sini ya ... Wajar aja nangis terus nanti juga terbiasa dimaki-maki," gumam mbok pelan. "Yang namanya Alia mana?" Tanya tukang kebun itu membuat Alia menoleh. "Saya pak," "Ini ada titipan tadi dari orang, pergi dan simpanlah jangan buka di sini,"suruhnya membuat Alia langsung mengambil papar bag itu, lalu ia pura-pura ke kamar Fras untuk membersihkan kamar tersebut. Hari menunjukkan pukul 04.00 sore, Fras langsung disambut oleh mbok di depan, sedangkan Alia mengintip dari jendela dapur. "Wah ... Ternyata kalau udah dipercaya sama pak Fras dia baik juga, his ... kamu mikirin apa sih Alia, sekarang pikirin itu hutang ayahmu mau dikurangin apa nggak?" ucapnya lalu ia melanjutkan pekerjaannya. "Alia ..." panggil mbok membuat Alia menoleh. "Iya," "Dii panggil bapak ke kamar," Deg! "Ke kamar? Sekarang mbok?"tanya Alia bingung yang dibalas anggukan oleh mbok. Alia berjalan menuju ke kamar, namun tidak sengaja ia berpapasan oleh Alex yang hendak ke belakang. Alia menunduk sekilas, namun Alex menatapnya dengan tatapan sinis. "Jangan lupa sama syarat saya, dari tadi pak Edi nelponin saya terus, saya capek ..." Ucapnya membuat Alia mengangguk lalu kembali menuju ke kamar. Baru saja ia masuk, ia melihat Fras sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, membuat Alia bingung harus bertanya apa. "kenapa?" tanya Fras membuat Alia kaget. "Um-- bukannya bapak yang nyuruh saya ke sini ya pak?" tanya Alia, namun Alex sudah menerima telpon dan mengisyaratkan agar Alia menutup pintu kamar. Karena bingung harus ngapain di dalam akhirnya Alia membuka tas kuliahnya, terlihat di sana masih ada beberapa tugas yang belum menyelesaikan. Walaupun sudah tidak perlu lagi, namun Alia berusaha mengalihkan perhatiannya sendiri. "Iya iya nanti saya telepon lagi ya, uruslah itu nanti kirim semua bukti-buktinya ke saya," lanjut Fras lalu menutup telponnya. Untuk beberapa saat ia melihat Alia sedang menulis membuatnya langsung mendehem. "Kalau kerja di sini nggak boleh cengeng, nanti yang ada air matamu habis, nggak bakal ada yang peduli," ucap Fras membuat Alia menoleh. "Iya pak," "Udah itu aja?" tanya Fras membuat Alia bingung lalu ia mengangguk. "Iya pak," "Kamu berhenti kuliah jadinya dan yakin bakal jadi pembantu di sini?" tanya Fras "Iya pak, Saya yakin bakal jadi pembantu di sini," jawab alia "Ya sudah, kalau begitu besok kita pindah,"ucap fras dengan santai, namun tidak dengan Alia ia malah bingung. "Maksud bapak?" "Ya kamu ikut dengan saya, kan kamu mau jadi pembantu, saya punya rumah dan kemungkinan secepatnya bakal pindah ke sana," ujar Fras membuat Alia bingung. "Pak saya boleh cerita sedikit tidak, sepertinya saya tidak bisa ikut dengan bapak," ucapnya, membuat Fras yang sedari tadi mengutak-atik ponselnya langsung melihat ke arahnya sekilas. "Kenapa?" "Tadi saya dapat tawaran dari bapak, untuk mau pindah sama pak Edi yang tadi malam, huh ..." Melihat Alia menarik nafas Alex langsung meletakkan ponselnya lalu melipat kedua tangannya. "Terus?" "Iya bapak lebih menyarankan saya agar pindah pak, soalnya hutang ayah saya bisa dikurangi sekitar 20 jutaan kalau saya mau pindah sama pak Edi," jawabnya membuat Fras diam sejenak. "Kapan bapak ngasih tahu itu?" "Tadi pagi," jawab Alia sambil menunduk. "Dan kamu sudah menyetujui?" "Belum pak, tapi kemungkinan nanti malam pak Edi katanya bakal datang lagi, dari tadi juga nelpon yang terus minta Saya pindah ke sana. Jadi kemungkinan saya bakal pindah ke rumah pak Edi, bukan di sini lagi," jawabnya membuat Fras memejamkan matanya sejenak sambil menahan marah. 'Kenapa sih orang-orang ini tidak pernah berubah dari dulu, mentang-mentang dimanjakan sama uang jadi seenaknya aja,' ucap Fras dalam hati. Malam hari tiba, sesuai dengan rencana Alex dan ini mereka kembali bertemu, dan Alia masih deg-degan di kamar akan tetapi ia sudah mengemasi barang-barangnya ke dalam tas, tanpa ada larangan dari Fras. "Pak makasih banyak ya, udah ngasih saya tumpangan kemarin, Saya berangkat dulu ..." ucap Alia, namun tidak diindahkan oleh Alex. "Alia ... ayo sayang jangan lama-lama," panggil Edi membuat Alia memejamkan matanya sejenak. "Permisi Pak," lanjutnya namanya sudah berkali-kali dipanggil dari depan. Dengan langkah yang sangat berat, Alia kembali menemui mereka di ruang tengah terlihat wajah kebahagiaan yang terpancar di muka dua orang tua itu tapi tidak dengan Alia, ia hanya diam seribu bahasa. "Kok murung sih, kan kita mau pindah ke rumah om di sana enak loh ... Kamu juga kerjaannya nggak berat kayak gini, om jamin kamu pasti suka di sana daripada di sini," ucap Edi yang dibalas anggukan oleh Alia. "Hebat kamu Alex secepat itu bisa membujuk dia," puji Edi. Tidak lama kemudian Fras keluar dari kamar, dengan langkah santainya lalu ia duduk di samping Alex, membuat alia semakin malu melihat dosennya itu. "Kamu udah sempat ngucapin perpisahan belum sama Alia?" tanya Alex membuat Fras melihat ke arah Alia yang hanya menunduk. "Sudah pa, oh ya pah sebenarnya Fras ada satu keinginan tau, kayaknya papa bisa bantu mewujudkan ini," ucap Fras seolah-olah mengalihkan semua perhatian mereka, membuat Alex tertawa sambil menepuk pundak anaknya itu. "Apapun yang kamu mau, papa nggak pernah tidak mengabulkan keinginan kamu. katakan saja, kamu pengen mobil mewah? Papa belikan sekarang juga?" tanya Alex membuat Fras tertawa kecil. "Bukan Pa, Fras ingin sesuatu yang tidak biasanya Fras minta dan akan hanya minta sekali saja," ujarnya membuat Alex makin penasaran. "Sabar ya sayang, kita pergi sebentar lagi, soalnya aku mau dengar permintaan dosen kita ini dulu," ucap Edi sambil mengedipkan matanya sebelah. "Katakanlah, apalagi kalau permintaannya cuman sekali, pasti mahal ini sampai cuma sekali aja," ledek Alex. "Iya pa, aku kan beberapa hari lagi bakal pindah rumah. nah sebelum pindah itu pas ingin menikah," ujarnya membuat Edi dan Alex langsung tertawa. "Wah bagus bagus ... Cepat kenalkan sama papa siapa calonmu itu, biar kami nikahkan segera, kamu itu sama papa juga nggak pernah ngasih tahu siapa pacarmu," ujar Alex membuat Fras tersenyum. "Iya pa, tapi aku tidak mau menikah dengan pacar atau apapun itu, aku ingin menikahi Alia," "Hah?" Deg! "APAAA?!"Hari demi hari berlalu Lidya benar-benar tidak tenang menjalani kehidupannya sehari-hari, hingga hari yang ditunggu-tunggu sudah tiba membuatnya benar-benar tidak bisa menahan air matanya.Hari ini ia akan dinikahkan oleh laki-laki yang dipilih orang tuanya, lebih tepatnya laki-laki ini jauh lebih dewasa darinya."Lidya ayo keluar ... Mempelai laki-laki sudah dibawah, sebentar lagi akad dan kamu makan bebas bersama suamimu," ajak Mama yang dibalas anggukan oleh Lidya.Dia sudah tidak bisa lagi melawan karena badannya sudah lelah kena pukul gara-gara melawan. "Iya Ma,""Gitu dong anak mama, kalau kamu nurut kan kami juga nggak bakal kasar sama kamu Nak, kami melakukan ini semua demi kebaikanmu," ujar Mama lalu merangkul putrinya itu."Mama tahu apa yang kamu rasakan, karena ini perjodohan pasti kamu merasa tidak nyaman atau bahkan susah untuk menerimanya. Tapi seiring berjalannya waktu semuanya kan baik-baik saja, lagian umur kamu juga udah dewasa, mau nunggu apa lagi," ucap mama yan
Setelah mereka selesai makan, Alia mendekati Amira yang terlihat masih kedinginan."Mama mau istirahat?" tanya Alia yang dibalas gelengan oleh Amira.Untuk beberapa saat ia memperhatikan Alia dan Fras secara bergantian lalu ia tersenyum."Kalian harus janji sama tante ya, apapun yang terjadi jangan pernah berpisah. Kamu fras ..." ucapnya sambil melihat Fras membuat Fras mengangguk."Alia ini sudah saya anggap seperti anak sendiri, jadi tolong jangan sakiti dia.Nggak gampang untuk bisa mempertemukan kalian kembali, banyak yang udah jadi korban." lanjut Amira.Amira menceritakan semua kronologi yang terjadi di kota hingga ia bisa datang ke tempat sekarang.Nenek yang mendengar itu hanya manggut-manggut sambil menikmati tehnya."Tinggallah di sini ..." ucap nenek membuat Amira diam sejenak."Tapi saya nggak enak Bu, saya jadi ngerepotin,""Nyawa kamu lebih berharga dibandingkan harta, jadi tinggallah di sini. Rumah saya nggak bagus memang, tapi mudah-mudahan bisa melindungi kita semua,"
Selama proses interogasi di kantor polisi Alex benar-benar tidak bisa berkutik apa-apa, namun ia juga tidak sepolos yang dikira. "Saya pamit duluan ya pak ... Nanti kalau ada apa-apa langsung telepon sekretaris saya aja," ucap Amira lali pergi begitu saja membuat Alex menghela nafas panjang.Alex bangkit dari duduknya kemudian ia menuju ke arah jeruji besi di mana beberapa anak buah dan pembantunya ada di sana. "Apa kalian juga termasuk orang-orang yang membocorkan semuanya?" tanya Alex yang dibalas gelengan oleh mereka."Nggak pak, Mbok cuman pengen pulang ke rumah aja nggak mau Mbok ikutan masalah apapun sebenarnya," ucap mbok membuat Alex terkekeh."Gak segampang itu, rokok saya," ucap Alex yang tiba-tiba dibawakan oleh anak buahnya membuat mbok kaget.Setelah melihat Alex pergi Mbok dan orang di sebelahnya saling melempar pandangan. "Ya ampun ... Jangan bilang Pak Alex juga bagian dari mereka, kasihan banget Ibu yang tadi," gumam mbok "Huh ... Tah lah mbok, jangankan ibu itu k
Seminggu telah berlalu, Alex semakin frustasi karena ia ingin kembali ke rumahnya, namun dia tidak mau berurusan dengan wartawan apalagi polisi. "Huh sampai sekarang belum ada nih kabar dari Fras?" tanya Alex pada anak buahnya itu yang dibalas anggukan oleh mereka."Belum ada Pak, kami mencoba melacak juga nggak ke deteksi sama sekali, kayaknya mereka nggak menggunakan ponsel sekarang," jawab anak buahnya itu membuat Alex kesal."Huh ... Mana rekan-rekan ku nanyain mulu lagi di mana," "Pak ... Kalau rekan Bapak banyak, mereka nggak ada gitu niatan mau bantuin bapak? Kan Bapak juga sering ngasih mereka apa yang mereka mau," ucap anak buahnya itu membuat Alex terdiam. "Sejauh ini mereka nggak ada ngasih bantuan atau apa-apa ya, justru kalau nelpon mereka selalu mendesak di mana Alia, mereka bahkan menuduhku telah mengambil Alia untukku," kesal Alex."Bapak nggak curiga gitu, siapa tahu dalang dari kejadian ini salah satunya mereka?" Deg!Untuk beberapa saat Alex terdiam setelah mend
Lidya tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang karena langkahnya sudah dibatasi oleh keluarganya, sedangkan ia harus mencari keberadaan Alia."Huh ... Kenapa jadi berantakan semua sial! Pak Alex, bisa-bisanya dia nyebarin foto itu padahal aku juga lagi berusaha nyari," kesal Lidya lalu ia mengotak-atik ponselnya.[Halo sayang ... Kamu masih mengingatku?][Om!][Ada apa?] tanya Alex dengan santai.[Kenapa Om melakukan itu semua? Padahal baru aja tadi aku dapetin alamatnya Alia, cih ... Dasar!] [Dimana?][Bagaimana dengan foto itu? Saya udah kena marah sama orang tua saya Om,] ujar Lidya [Hahaha ... Biarlah kalau memang kena marah, kamu mau jadi istri saya?][NAJIS!] tiba-tiba nada Lidya naik membuat Alex terkekeh.[Kalau begitu berikan saya alamat Alia] Hening!Untuk beberapa saat Lidya terdiam, iya kembali mengingat kejadian dari waktu ke waktu. [Kalau dipikir-pikir Om ini sangat menyedihkan ya, jahat pula.][Maksud kamu?][Huh ... Satu si om yang pengen saya tanyain, siapa yang
Heri demi hari, jadi dia tidak bisa mendapatkan kabar Alia sedikitpun membuatnya semakin frustasi."Dek ... Liat ini hp mama kenapa?" ucap Mama Lidya buru-buru mendekatinya sambil menunjukkan ponselnya membuat Lidya menghela nafas panjang."Itu nggak ada apa-apa mah, mama mau nggak ngikutin saran adek?""Apa?""Ganti nomor, ganti kartunya pokoknya," ucap Lidya membuat mama langsung menggerutu."Masa ganti sih, kan nomor-nomor teman Mama semua di sini," ujar Mama"Kayaknya HP mama kena hack jadinya kayak gitu, bakal kayak gitu terus," ujar Lidya membuat orang tuanya terlihat kecewa namun mau tidak mau yang mengangguk. "Ya udah deh nggak apa-apa, daripada hp Mama kayak gini terus," ucapnya membuat Lidya memejamkan matanya sejenak."Ma ... Adek keluar sebentar ya,""Ya sekalian beliin Mama kartu baru ya, terus ini Mama biarin aja kayak gini?" tanya Mama "Iya, biarin aja jangan ada yang dibales satupun ya," lanjut Lidya yang dibalas anggukan oleh Mama.Tanpa membuang waktu Lidya langsun







