Share

Tidak kuliah

Author: Pulungan
last update publish date: 2026-01-08 16:43:34

keesokan harinya Alia terbangun dari tidurnya, ia bingung boleh keluar kamar atau tidak. Alhasil, Alia memutuskan untuk tetap di kamar sambil membereskan kerjaan yang tadi malam belum selesai.

"Den ... Den Fras ..." panggil mbok dari depan. Alia yang mendengar itu langsung melihat ke arah Fras yang sedang menggeliat.

Baru saja Pras membuka matanya, ia kaget melihat ada Alia di kamarnya membuatnya langsung buru-buru bangkit dari ranjang kemudian menuju ke kamar mandi.

"Den ..."

"Hum ..." dehem Fras

"Pak, saya keluar ya," ucap Alia dari depan pintu kamar mandi.

"Hum," dehem Fras lagi

Baru saja Alia keluar dari kamar Fras, mbok terlihat shock membuatnya langsung menarik tangan Alia ke dapur.

"K--kamu ngapain di kamar pak bos? Seumur-umur Saya bekerja belum pernah ada perempuan yang tidur di kamar pak bos? kamu lagi ngerayu?" Tanya mbok panjang lebar, membuat Alia bingung harus menjelaskan dari mana.

"Enggak kok Mbok, Saya lagi jadi tawanan aja di sini tapi saya nggak diapa-apain, bapak baik anaknya juga baik. Tadi malam saya hampir di bawa sama orang yang mau membeli saya, tapi bapak malah nyuruh saya tidur di kamarnya." jawab Alia panjang lebar, membuat mbok mengangguk lalu ia mengusap dadanya.

"Alhamdulillah deh kalo kayak gitu, saya kaget tiba-tiba ada perempuan keluar dari kamar bos muda ini," ujar mbok.

Tidak lama kemudian Fras keluar dari kamarnya, sudah lengkap dengan pakaian dosennya membuat Alia yang melihat itu langsung menghela nafas pelan.

"Mau pakai mobil yang mana pak hari ini, biar saya bilangin sama pak sopir dikeluarin dulu," tanya mbok.

"Yang hitam," jawab Fras yang dibalas anggukan oleh mbok, lalu ia buru-buru keluar meninggalkan Alia dan Fras di dapur.

"Bapak mau makan apa?"

"Sereal aja," jawabnya yang dibalas anggukan oleh Alia, namun ia bingung di mana tempat sereal itu.

"Hum ... um--

"Tunggu mbok aja yang bikin," ujar Fras, lalu kembali fokus ke hpnya membuat Alia mengangguk

"Saya minta maaf ya, pak. Nggak masuk kelas lagi, kemungkinan besar saya bakal berhenti kuliah sampai bapak saya bisa melunasi hutang-hutang itu ke orang tua bapak," ucap Alia

"Hum," dehem Fras membuat Alia sedikit malu telah menceritakan hal tersebut.

"Sudah pak, udah dikeluarin mobilnya,"

"Buatkan saya sereal mbok," ujar Fras membuat mbok langsung menatap ke arah Alia, sedangkan Alia hanya bingung.

Setelah selesai sarapan pagi, Fras langsung buru-buru keluar dari rumah, karena ia ada rapat pagi dengan dosen lain.

"Mbok,"

"Iya, pak,"

"Kabari saya kalau ada apa-apa dengan Alia, jangan biarkan dia disentuh atau bahkan dipakai oleh laki-laki manapun di rumah ini. dia itu mahasiswi saya, Saya punya kewajiban untuk melindungi dia. Walaupun orang tuanya ada hutang di sini, tapi bukan berarti harus seperti itu," ucap fras untuk pertama kalinya berbicara banyak, membuat mbok langsung mengangguk.

"I--iya pak, nanti saya telepon bapak kalau ada apa-apa,"

"Iya, tidak perlu mengabari papa, langsung telepon saya aja," lanjut Fras

Setelah melihat Fras pergi dengan mobilnya, Alia benar-benar merasa sedih karena sudah tidak bisa lagi berkuliah.

'Hum ... pasti si Rendi sekarang lagi bercanda sama teman-teman yang lain, huh ... Mudah-mudahan lah, dia lulus dan bisa menjadi sarjana,' ucap Alia dalam hati.

Tidak lama kemudian mbok kembali ke belakang membuat Alia langsung tersenyum.

"Apa yang bisa saya kerjakan Mbok? Saya minta maaf ya, belum bisa cepat kerjanya," ucap Alia membuat mbok menghela nafas panjang.

"Kamu bantu-bantu saya aja, soalnya di rumah ini kalau ada kesalahan kecil nanti bisa dihukum, apakah kemarin kamu sudah bekerja?" Tanya mbok.

"Sudah mbok, tapi ya gitu kerjanya dua kali, soalnya saya salah jadinya dihukum," jawab Alia membuat mbok mengangguk paham.

"Ya begitulah di rumah, tapi apapun itu, kita lihat sisi positifnya aja ya, dibalik itu sebenarnya mereka baik kok," ujar mbok.

"Hehe iya mbok saya diperlakukan kayak gimanapun pasti saya terima, saya taruhan di sini," lanjutnya

Disisi lain, Suryo benar-benar tidak bisa tidur semalaman memikirkan keadaan putrinya. Namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena belum mempunyai uang untuk melunasi hutang-hutang itu.

Pagi ini ternyata Suryo datang ke depan rumah Alex diam-diam, berharap dia bisa melihat Alia disana. Matanya melihat ke sana kemari mencari putrinya namun tidak ada.

"Nyari siapa pak ngintip-ngintip di situ? jangan sampai ketahuan bos loh, nanti bisa dimarahin," ucap tukang kebun itu membuat Suryo kaget lalu ia mengangguk.

"Saya minta maaf karena udah ngintip, saya boleh minta tolong nggak? Mas kasih kan paper bag ini ke putri saya yang kerja di dalam namanya Alia. Dia Baru aja kemarin dibawa ke sini, Saya sangat merindukan putri saya, tapi saya juga tidak bisa apa-apa," ucap Suryo membuat tukang kebun itu langsung buru-buru mengambil paperbag itu dari tangan Suryo.

"Iya ... kalau begitu pergilah takutnya ada yang lihat, nanti saya bisa dipecat," lanjutnya lalu ia menjauh dari Suryo sedangkankan Suryo buru-buru berlari menjauh.

Hari menunjukkan pukul 10.00 pagi tiba-tiba Alia dipanggil oleh Alex ke depan membuatnya kembali deg-degan apa yang akan dihadapi hari ini.

"Alia,"

"Iya pak,"

"Bagaimana kemarin tidur dekat anak saya yang tampan itu? pasti kamu menyukainya kan? tapi kamu harus ingat status kamu di sini tuh sebagai apa, jangan terlena dengan perasaanmu," ucap Alex membuat Alia bingung.

"Maksud bapak apa ya? Saya dan pak Alex tidak ada apa-apa--

"Saya hanya mengingatkan saja, sekalipun Dia memakai kamu, itu cuman kewajibanmu sebagai taruhan di sini, bukan berarti dia menyukaimu," lanjut Alex membuat Alia langsung mengangguk.

"Iya pak,"

"Itu hanya menunggu waktu hati anak saya tenang aja, tadi malam mungkin dia membela kamu karena kamu masih ada kesalahan sama dia. Saya tahu anak saya bagaimana, kalau nanti hatinya sudah reda, pasti dia membiarkan Kamu mau saya jual atau apapun itu, jadi kamu jangan terlalu berharap banyak untuk diselamatkan oleh dia!" tegas Alex.

Deg!

"Iya pak, Saya tidak berharap apa-apa," jawabnya

"Pak Edi masih ingin membeli Kamu sebenarnya, tapi saya menunggu waktu hati anak saya tenang dulu. Kalau kamu mau, bantu saya untuk menenangkan hati Fras, itu bakal lebih bagus dan saya akan mengurangi pinjaman ayahmu sekitar 20 juta, bagaimana menurutmu?" tanya Alex membuat Alia bingung.

"Terserah kamu mau atau enggak ya, kalau nggak mau juga pikirkan aja ... Berapa lama ayahmu bisa melunasi hutang yang hampir 100 juta itu, tapi kalau kamu mau membantu ya namanya juga membantu, ya kan kamu harus siap melayani lah," ujar Alex membuat Alia terdiam.

"Saya boleh mikir dulu ya pak?"

"Silahkan, sudah mengingatkan kamu, jangan bergantung pada anak saya, dia gak akan nolongin kamu," lanjut Alex membuat Alia mengangguk lalu ia kembali belakang dengan mata yang berkaca-kaca.

Mbok yang melihat itu langsung geleng-geleng tanpa bertanya apapun.

"Cengeng sekali, orang yang baru pertama kali kerja di sini ya ... Wajar aja nangis terus nanti juga terbiasa dimaki-maki," gumam mbok pelan.

"Yang namanya Alia mana?" Tanya tukang kebun itu membuat Alia menoleh.

"Saya pak,"

"Ini ada titipan tadi dari orang, pergi dan simpanlah jangan buka di sini,"suruhnya membuat Alia langsung mengambil papar bag itu, lalu ia pura-pura ke kamar Fras untuk membersihkan kamar tersebut.

Hari menunjukkan pukul 04.00 sore, Fras langsung disambut oleh mbok di depan, sedangkan Alia mengintip dari jendela dapur.

"Wah ... Ternyata kalau udah dipercaya sama pak Fras dia baik juga, his ... kamu mikirin apa sih Alia, sekarang pikirin itu hutang ayahmu mau dikurangin apa nggak?" ucapnya lalu ia melanjutkan pekerjaannya.

"Alia ..." panggil mbok membuat Alia menoleh.

"Iya,"

"Dii panggil bapak ke kamar,"

Deg!

"Ke kamar? Sekarang mbok?"tanya Alia bingung yang dibalas anggukan oleh mbok.

Alia berjalan menuju ke kamar, namun tidak sengaja ia berpapasan oleh Alex yang hendak ke belakang. Alia menunduk sekilas, namun Alex menatapnya dengan tatapan sinis.

"Jangan lupa sama syarat saya, dari tadi pak Edi nelponin saya terus, saya capek ..." Ucapnya membuat Alia mengangguk lalu kembali menuju ke kamar.

Baru saja ia masuk, ia melihat Fras sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, membuat Alia bingung harus bertanya apa.

"kenapa?" tanya Fras membuat Alia kaget.

"Um-- bukannya bapak yang nyuruh saya ke sini ya pak?" tanya Alia, namun Alex sudah menerima telpon dan mengisyaratkan agar Alia menutup pintu kamar.

Karena bingung harus ngapain di dalam akhirnya Alia membuka tas kuliahnya, terlihat di sana masih ada beberapa tugas yang belum menyelesaikan. Walaupun sudah tidak perlu lagi, namun Alia berusaha mengalihkan perhatiannya sendiri.

"Iya iya nanti saya telepon lagi ya, uruslah itu nanti kirim semua bukti-buktinya ke saya," lanjut Fras lalu menutup telponnya.

Untuk beberapa saat ia melihat Alia sedang menulis membuatnya langsung mendehem.

"Kalau kerja di sini nggak boleh cengeng, nanti yang ada air matamu habis, nggak bakal ada yang peduli," ucap Fras membuat Alia menoleh.

"Iya pak,"

"Udah itu aja?" tanya Fras membuat Alia bingung lalu ia mengangguk.

"Iya pak,"

"Kamu berhenti kuliah jadinya dan yakin bakal jadi pembantu di sini?" tanya Fras

"Iya pak, Saya yakin bakal jadi pembantu di sini," jawab alia

"Ya sudah, kalau begitu besok kita pindah,"ucap fras dengan santai, namun tidak dengan Alia ia malah bingung.

"Maksud bapak?"

"Ya kamu ikut dengan saya, kan kamu mau jadi pembantu, saya punya rumah dan kemungkinan secepatnya bakal pindah ke sana," ujar Fras membuat Alia bingung.

"Pak saya boleh cerita sedikit tidak, sepertinya saya tidak bisa ikut dengan bapak," ucapnya, membuat Fras yang sedari tadi mengutak-atik ponselnya langsung melihat ke arahnya sekilas.

"Kenapa?"

"Tadi saya dapat tawaran dari bapak, untuk mau pindah sama pak Edi yang tadi malam, huh ..."

Melihat Alia menarik nafas Alex langsung meletakkan ponselnya lalu melipat kedua tangannya.

"Terus?"

"Iya bapak lebih menyarankan saya agar pindah pak, soalnya hutang ayah saya bisa dikurangi sekitar 20 jutaan kalau saya mau pindah sama pak Edi," jawabnya membuat Fras diam sejenak.

"Kapan bapak ngasih tahu itu?"

"Tadi pagi," jawab Alia sambil menunduk.

"Dan kamu sudah menyetujui?"

"Belum pak, tapi kemungkinan nanti malam pak Edi katanya bakal datang lagi, dari tadi juga nelpon yang terus minta Saya pindah ke sana. Jadi kemungkinan saya bakal pindah ke rumah pak Edi, bukan di sini lagi," jawabnya membuat Fras memejamkan matanya sejenak sambil menahan marah.

'Kenapa sih orang-orang ini tidak pernah berubah dari dulu, mentang-mentang dimanjakan sama uang jadi seenaknya aja,' ucap Fras dalam hati.

Malam hari tiba, sesuai dengan rencana Alex dan ini mereka kembali bertemu, dan Alia masih deg-degan di kamar akan tetapi ia sudah mengemasi barang-barangnya ke dalam tas, tanpa ada larangan dari Fras.

"Pak makasih banyak ya, udah ngasih saya tumpangan kemarin, Saya berangkat dulu ..." ucap Alia, namun tidak diindahkan oleh Alex.

"Alia ... ayo sayang jangan lama-lama," panggil Edi membuat Alia memejamkan matanya sejenak.

"Permisi Pak," lanjutnya namanya sudah berkali-kali dipanggil dari depan.

Dengan langkah yang sangat berat, Alia kembali menemui mereka di ruang tengah terlihat wajah kebahagiaan yang terpancar di muka dua orang tua itu tapi tidak dengan Alia, ia hanya diam seribu bahasa.

"Kok murung sih, kan kita mau pindah ke rumah om di sana enak loh ... Kamu juga kerjaannya nggak berat kayak gini, om jamin kamu pasti suka di sana daripada di sini," ucap Edi yang dibalas anggukan oleh Alia.

"Hebat kamu Alex secepat itu bisa membujuk dia," puji Edi.

Tidak lama kemudian Fras keluar dari kamar, dengan langkah santainya lalu ia duduk di samping Alex, membuat alia semakin malu melihat dosennya itu.

"Kamu udah sempat ngucapin perpisahan belum sama Alia?" tanya Alex membuat Fras melihat ke arah Alia yang hanya menunduk.

"Sudah pa, oh ya pah sebenarnya Fras ada satu keinginan tau, kayaknya papa bisa bantu mewujudkan ini," ucap Fras seolah-olah mengalihkan semua perhatian mereka, membuat Alex tertawa sambil menepuk pundak anaknya itu.

"Apapun yang kamu mau, papa nggak pernah tidak mengabulkan keinginan kamu. katakan saja, kamu pengen mobil mewah? Papa belikan sekarang juga?" tanya Alex membuat Fras tertawa kecil.

"Bukan Pa, Fras ingin sesuatu yang tidak biasanya Fras minta dan akan hanya minta sekali saja," ujarnya membuat Alex makin penasaran.

"Sabar ya sayang, kita pergi sebentar lagi, soalnya aku mau dengar permintaan dosen kita ini dulu," ucap Edi sambil mengedipkan matanya sebelah.

"Katakanlah, apalagi kalau permintaannya cuman sekali, pasti mahal ini sampai cuma sekali aja," ledek Alex.

"Iya pa, aku kan beberapa hari lagi bakal pindah rumah. nah sebelum pindah itu pas ingin menikah," ujarnya membuat Edi dan Alex langsung tertawa.

"Wah bagus bagus ... Cepat kenalkan sama papa siapa calonmu itu, biar kami nikahkan segera, kamu itu sama papa juga nggak pernah ngasih tahu siapa pacarmu," ujar Alex membuat Fras tersenyum.

"Iya pa, tapi aku tidak mau menikah dengan pacar atau apapun itu, aku ingin menikahi Alia,"

"Hah?" Deg!

"APAAA?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Taruhan Sang Dosen   TAMAT

    Sebulan kemudian, semuanya kembali berjalan normal. Satu perubahan yang besar terjadi pada Lidya, ia meninggalkan semua kebiasaan buruknya dan mulai menyadari bahwa sebenarnya yang ia lakukan sebelum-sebelumnya adalah pengalihan rasa sakit, bukan murni kemauan dari hati nuraninya. Sekarang iya fokus bekerja walaupun harus kembali memulai dari nol, kedua orang tuanya mensupport dan tidak pernah lagi menghakiminya seperti sebelumnya. Seminggu sekali Lidya berangkat ke kampung untuk menjenguk Alex yang semakin parah. Ia tidak segan-segan menginap di sana saat melihat kondisi mantan suaminya itu memburuk."Mbak ..." panggil Alia membuat Lidya menoleh."Iya,""Um ... Hehe boleh nanya nggak sih?" tanya Alia yang berada di ambang pintu membuat Lidya tersenyum lalu mengisyaratkan agar Alia yang masuk."Sini ...""Mbak udah berubah banyak banget aku lihat, um ... Kira-kira apa yang membuat Mbak seperti ini?" tanya Alia membuat Lidya tersenyum lalu ia mengambil alih anak kecil yang di gendon

  • Istri Taruhan Sang Dosen   Persidangan

    Selama persidangan Alex, benar-benar membantu Lidya agar tidak begitu berat menjalani hukuman di penjara.Dia membawa bukti yang sangat banyak dari anak buahnya yang selama ini mengikuti Lidya. Lidya yang melihat perjuangan Alex tidak henti-hentinya selama beberapa hari sidang, seketika terdiam membisu.Ia bahkan tidak bisa mengatakan apa-apa di depan para hakim dan memilih menyetujui apa yang dikatakan oleh Alex."Begitu pak ..." ujar Alex membuat para hakim mengangguk lalu berunding sesama mereka di depan. Dari awal persidangan hingga sekarang hampir di penghujung persidangan mata Lia tidak pernah lepas dari Alex, ia benar-benar tidak menyangka hal ini terjadi bahkan orang tuanya saja tidak membelanya. "Bi ... Menurut kamu Alex melakukan itu serius nggak sih? Atau dia cuman nyusun strategi buat balas dendam sama anak kita, Aku sebenarnya takut banget tahu sama dia," ucap umi."Hustt ... Jangan mikir aneh-aneh, Lidya dipenjara 2 sampai 3 tahun aja udah syukur tapi kalau misalnya b

  • Istri Taruhan Sang Dosen   Ke kantor polisi

    Dua hari dirawat di rumah sakit, hari ini Alex meminta agar fras mengurus administrasi supaya ia keluar dari rumah sakit itu."Papa mau ke mana sih buru-buru? Ini kata dokter kalau Papa sabar masih ada pengobatan loh dua hari lagi,""Udah ... Papa udah sembuh, kamu mau bantuin Papa nggak?" tanya Alex membuat Fras menghela nafas panjang."Papa tuh ya, entah apa yang Papa pikirin, bukannya kesehatan papa malah ada aja projectnya," kesal Fras."Sedikit aja, temenin Papa ke kantor polisi,""Hah? Buat apa? Papa bururusan apa lagi sama polisi?" tanya Fras "Udah, nanti juga di sana kamu tahu sendiri apa yang bakal Papa lakuin. Sekarang temenin Papa ke sana, kita pakai kursi roda aja soalnya kalau jalan papa nggak bisa," ucapnya membuat Fras diam sejenak lalu ia melihat ke arah istrinya itu."Kamu mau ikut?" tanya Fras "Boleh mas," jawab Alia.Tanpa membuang waktu mereka bertiga langsung menuju ke kantor polisi sesuai dengan kemauan Alex."Papa yakin kan nggak ada keributan ini?" tanya Fras

  • Istri Taruhan Sang Dosen   Kecelakaan

    Bukannya kasihan melihat Rifki Lidya malah membabi buta membuat siapapun tidak ada yang berani mendekat karena dia ancam."Kalian coba mendekat, awas ..." ucapnya sambil menodongkan pisau ke arah orang-orang. "Ya ampun kasihan banget itu harus ditolongin,""Telepon ambulans telepon ambulans ...""Jahat banget ya ampun padahal perempuan lo itu,""Justru karena perempuan, otaknya nggak dipakai,""DIAM! KALIAN NGGAK PERNAH TAHU YA RASANYA JADI SAYA, ASAL KALIAN TAHU ... ORANG YANG JAHAT ITU BERASAL DARI ORANG YANG BAIK. KAMU TANYA SAMA LAKI-LAKI YANG BERLUMURAN DARAH INI, KURANG BAIK APA SAYA SAMA DIA, TANYA! DARI SAYA YANG KAYA RAYA, SAMPAI GEMBEL SAYA MASIH TETAP BAIK SAMA DIA.JADI KE DEPANNYA SAYA TIDAK INGIN MENDENGAR ADA MULUT YANG MENGATAKAN DIA JAHAT BANGET, SEBELUM KALIA NGEJUDGE SESEORANG ITU JAHAT COBA CARI TAHU DULU, RASA SAKIT APA YANG PERNAH IA DAPAT SEBELUMNYA," ucap Lidya dengan mata yang penuh amarah membuat semuanya langsung terdiam. "Lidya ... Maaf," ucap Rifki mem

  • Istri Taruhan Sang Dosen   Balas dendam

    Hari demi hari berlalu, Lidya benar-benar tidak merasa tenang di rumahnya ia terus dihantui dengan harta pemberian Alex yang habis tiba-tiba. Ia juga merasa dendam pada teman-temannya.Malam ini ia keluar diam-diam dari rumah.Disisi lain, Rifki dan teman-teman tongkrongannya sedang asyik ngobrol di tempat tongkrongan mereka yang baru. "Gimana kabar Lidya Bos? Ngeri juga lu ninggalin dia gitu aja,""Lu bisa diam aja nggak sih, lu nikmatin aja tuh uang yang udah gua kasih, nggak usah banyak ngomong," ucap Rifki."Kita kan cuma nanya kabar, apa salahnya sih," "Gua kan nggak ada hubungan apa-apa ya sama dia, lu berdua kalau mau sama dia ya tinggal pergi aja sana, teman-temannya aja nggak ada yang setia sama dia," jawab Rifki selalu menghisap rokoknya. "Elu udah tahu teman-teman yang nggak setia, terus kenapa lu ikut-ikutan nggak setia bro?""Cah hahah ... Lu pakai logika deh sekarang, menurutku emangnya gua wajar sama dia? Dia itu mantan istri orang bro, lebih bagus memilih gadis da

  • Istri Taruhan Sang Dosen   Psikiater

    Sekarang Lidya sedang berdua dengan dokter Zira di kamar, ia sudah berniat untuk menutup diri dari dokter itu karena ia tahu orang tuanya pasti merencanakan hal yang tidak dia suka. "Dokter udah dibayar belum?" tanya Lidya."Belum,""Tapi dokter pasti nunggu bayaran kan setelah ini?" Tanya Lidya yang dibalas anggukan oleh dokter itu."Iya dong Mbak, saya datang ke sini buat bekerja,""Sama, saya datang ke sini juga bukan buat membebani Mbak. Saya nggak perlu cerita apa-apa, saya nggak gila ... Saya baik-baik aja Mbak, Mbak keluar aja setelah waktunya selesai. Mbak minta bayarannya tapi bagi sama saya setengah," ucapnya membuat dokter itu diam sejenak."Kok gitu mbak?""Nggak ada yang perlu saya ceritakan Mbak, cerita hidup saya nggak ada yang adil ... Semuanya jahat, bahkan orang tua saya juga. Jadi percuma saja kalau saya ceritakan juga, Mbak pasti bingung dan ngerasa heran kenapa ada alur seperti ini, ?" Ujarnya panjang lebar membuat dokter itu mengangguk paham."Oke, sekarang Mba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status