Mag-log inSekarang Lidya sedang berdua dengan dokter Zira di kamar, ia sudah berniat untuk menutup diri dari dokter itu karena ia tahu orang tuanya pasti merencanakan hal yang tidak dia suka. "Dokter udah dibayar belum?" tanya Lidya."Belum,""Tapi dokter pasti nunggu bayaran kan setelah ini?" Tanya Lidya yang dibalas anggukan oleh dokter itu."Iya dong Mbak, saya datang ke sini buat bekerja,""Sama, saya datang ke sini juga bukan buat membebani Mbak. Saya nggak perlu cerita apa-apa, saya nggak gila ... Saya baik-baik aja Mbak, Mbak keluar aja setelah waktunya selesai. Mbak minta bayarannya tapi bagi sama saya setengah," ucapnya membuat dokter itu diam sejenak."Kok gitu mbak?""Nggak ada yang perlu saya ceritakan Mbak, cerita hidup saya nggak ada yang adil ... Semuanya jahat, bahkan orang tua saya juga. Jadi percuma saja kalau saya ceritakan juga, Mbak pasti bingung dan ngerasa heran kenapa ada alur seperti ini, ?" Ujarnya panjang lebar membuat dokter itu mengangguk paham."Oke, sekarang Mba
Dua bulan kemudian jatah kontrakan Lidya sudah selesai, ia sudah diperingatkan oleh pemilik kontrakan beberapa kali untuk meninggalkan tempatnya jika tidak membayar iuran selanjutnya. Lidya benar-benar frustasi, sekarang ia sudah tidak punya tenaga dan keuangan untuk mencari teman-temannya."Huh ... Ini nasib gua beneran begini, kok sial banget ya? Perasaan selama ini belum pernah gua ngerasanya sebahagia itu, apa yang gua mau tuh lu nggak kasih Tuhan! Jahat ... Berhenti gue berharap sama Tuhan, gak percaya gua!" teriaknya di dalam kontrakan."Sekarang gua harus ke mana coba? Siapa yang mau nampung gua, gak ada ... Orang tua gua dari awal udah kecewa sama gua. Suami? Dia udah nggak tahu di mana keberadaannya," gumam Lidya sambil meringkuk di sofa.Setiap kali ia memejamkan matanya yang terlihat di pikirannya, Alex, Alia dan Fras membuatnya semakin frustasi. "Ini apalagi sih? Kalian nggak capek apa berbulan-bulan ngehantuin gue! Gua capek, gua bingung dan gua nggak tahu harus kayak g
Seminggu setelah kejadian itu Lidya mulai frustasi sendiri, ia bahkan suka teriak sendirian di rumahnya membuat para tetangganya khawatir. "Eh itu mbak yang di sebelah kenapa ya tadi malam jam 12.00 malam teriak-teriak, saya sampai bangun nangis-nangis kirain hantu,""Sama, awalnya suami saya mau keluar mau ngecekin gitu kan, tapi saya larang takutnya nanti modus penipuan atau apalah," "Ih serem tau, katanya kan dia tinggal sama pacarnya tuh. Terus saya dapat info pacarnya pergi, entah itu bawa barang dia atau apapun itu nggak tahu deh,""Ih serem ya anak sekarang, kok bisa sampai segitunya ya emang orang tuanya nggak ngelihatin?" "Ekhem ... Selamat pagi Bapak Ibu," ucap Abi dan Umi Lidya."Eh Bu, Selamat pagi,""Kalau boleh tahu lagi ngomongin siapa ya?""Oh ini Bu, tangga baru yang di sebelah ini udah dua hari ini teriak-teriak mulu di rumahnya.Kita warga ini kan resah ya tapi mau nanya juga bingung, soalnya dari pagi sampai nanti sore pintu rumahnya tuh ditutup," ujar mereka me
4 bulan telah berlalu, pagi ini Lidya marah-marah tidak seperti biasanya, ia bahkan melemparkan piring ke lantai hingga pecah. "Kamu ya ...!" kesalnya sambil menunjuk Rifki. "Apa sih? Kamu ya tiap hari itu marah terus, kayak nggak ada ruang nyaman di rumah ini," ucapnya membuat Lidya memejamkan matanya sejenak lalu ia menatap Rifki dengan tatapan tajamnya."Kenapa kamu gak ada ikan surat tanahku, hah?" teriak Lidya yang sudah habis kesabaran menghadapi Rifki."Yaelah sayang perkara digadein doang kamu sampai marah-marah kayak gini, baiklah banget kayaknya nolongin pacarnya,""Baiklah kamu bilang? 100 juta lebih uangku kamu ambil ya," Ucap Lidya dengan mata melotot."Oh jadi kamu hitung-hitungan nih, ya udah kalau gitu kita udahan aja,""Heh segampang itu kamu bilang udahan, balikin sini surat tanah yang udah kamu gadein," ucapnya membuat Rifki panik."Uhm ... Sebenarnya yang gadein itu tuh bukan aku tahu, tapi teman-temanmu sendiri. Mereka yang menyuruhku untuk menjual tanah--"Men
Seminggu telah berlalu ternyata Alex malah semakin parah, dia mengalami stroke yang sekarang hanya bisa berbaring di ranjang membuat Alia dan Fras sangat panik, namun tidak dengan Alex."Pa ... Kita ke rumah sakit aja ya soalnya kalau di sini penanganannya kurang, peralatannya juga nggak sebagus di rumah sakit," bujuk Fras untuk yang kesekian kalinya karena papanya itu tidak mau dibawa ke rumah sakit. "Nggak usah nak, Papa di sini nyaman jadi nggak usah ke rumah sakit. Papa dapat sakit begini juga udah nggak apa-apa, karena keinginan papa untuk tinggal sama kalian udah terwujud," ujarnya membuat Fras menghela nafas panjang."Iya tapi kan kita butuh berobat pa, di rumah sakit lebih lengkap peralatannya--"Sudah nak, bagaimanapun kamu berusaha untuk membantu apakah sembuh, itu cuman sekedar usaha aja bukan berarti sembuh.Kalau soal sakit ini, dari beberapa bulan yang lalu Papa udah feeling kalau papa bakal sakit parah.Makanya Papa punya keinginan untuk tinggal di sini, Papa juga min
Baru tiga hari tinggal di rumah Fras dan Alia, tiba-tiba saja Alex jatuh sakit membuat semuanya panik. "Pa kita ke rumah sakit aja, papa dirawat di rumah sakit aja ya," bujuk Fras namun Alex tidak mau dan tetap kekeh ingin di rumah saja."Huh ...""Papa nggak minta aneh-aneh kok, Papa cuma pengen dirawat di sini aja soalnya kalau di rumah sakit Papa udah bosen," kekeh Alex.Fras meminta dokternya langsung yang datang ke rumahnya, walaupun perjalanan yang sangat jauh ya rela membayar berapapun itu. Berbeda dengan Lidya yang semakin hari malah semakin hedon karena uangnya banyak ditambah teman-temannya yang selalu mendekat. "Sayang ... Hari ini kamu nggak mau bikin acara makan-makan gitu buat kita?" "Hum boleh, tapi kamu kok nggak pernah partisipasi bantu uang sih? Ini aku terus yang bayarin," ujar Lidya membuat Rifki tersenyum."Kan gaji aku belum turun, nanti juga kalau udah turun aku yang bayarin. Lagian kan teman-teman kamu yang lebih banyak daripada temen-temenku," ujar Rifki
Seminggu telah berlalu, Alex semakin frustasi karena ia ingin kembali ke rumahnya, namun dia tidak mau berurusan dengan wartawan apalagi polisi. "Huh sampai sekarang belum ada nih kabar dari Fras?" tanya Alex pada anak buahnya itu yang dibalas anggukan oleh mereka."Belum ada Pak, kami mencoba mel
Lidya tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang karena langkahnya sudah dibatasi oleh keluarganya, sedangkan ia harus mencari keberadaan Alia."Huh ... Kenapa jadi berantakan semua sial! Pak Alex, bisa-bisanya dia nyebarin foto itu padahal aku juga lagi berusaha nyari," kesal Lidya lalu ia mengota
Dua hari kemudian, beredar kabar kalau Alex sudah di temukan dan sekarang ada di kantor polisi terdekat.Al dan Rendi yang mengetahui kabar ini sengaja tidak memberitahu Fras, supaya tidak menjadi beban pikiran."Kita ke kantor polisi bang?""Iya, kita ke sana aja berdua," ujarnya yang dibalas angg
Keesokan harinya Alia bangun, namun ia bingung karena dari pagi tidak melihat Rendy dan Al. "Tante ... Rendy sama kak Al kemana?" tanya Alia."Nggak tahu tuh tiba-tiba pamit katanya ada urusan penting," jawab Mama membuat Alia mengangguk."Di sini dulu aja sayang, Mama juga sendirian di sini," uca







