Share

Dijadikan Taruhan

Penulis: Pulungan
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-08 14:06:32

Setelah selesai perkuliahan, Alia bangkit dari duduknya lalu pergi begitu saja, tanpa menyapa Rendi.

"Eh si Alia kemana, kita kan masih ada rapat kelas buat ngobrol masalah uang kas yang kemarin loh," ucap bendahara kelas itu membuat Rendi menghela nafas panjang.

"Gaes maafin Alia ya, sepertinya dia lagi ada masalah di rumah. Dari pagi yang murung terus, tadi juga yang ditegur sama pak Fras kan dia," ucap Rendi.

Sesampainya di rumah, sesuai dugaan Alia. Di sana sudah ada anak buah dari alex membuatnya menarik nafas dalam-dalam, lalu ia meyakinkan dirinya akan keputusannya kembali.

"Assalamualaikum,"

"Nah ini anaknya, dikirain kamu udah kabur aja," ujar mereka membuat Alia tersenyum.

"Enggak kok Pak, keluarga kami bukan keluarga pembohong, saya hanya pergi kuliah tadi," jawab Alia.

"Halah ... Sok sok an kuliah, abis ini juga jadi babu," ujar mereka membuat Alia terdiam.

" Saya kemasi baju saya dulu ya Pak," ucap Alia.

"Halah ... Tidak penting, bilang aja kamu cari cara untuk pergi lagi, tidak ada ... Bawa dia," ujar mereka.

"Tolonglah anak saya ..." ucap Suryo panik membuat Alia tersenyum.

" Alia akan baik-baik saja Yah, Alia janji akan pulang secepatnya dengan kondisi baik-baik aja, Ayah sama ibu jangan khawatir ya ... jangan kasih tau ibu juga, assalamualaikum," ucap Alia yang sudah tarik oleh mereka.

Suryo tersungkur dilantai sambil menangis, ia tidak bisa membayangkan nasib putrinya selanjutnya.

"Huh ... Bodohnya kamu sebagai ayah, kamu tidak lihat itu," gumamnya sambil menarik rambutnya sendiri.

Disisi lain, Alia berusaha tenang di dalam mobil, walaupun sebenarnya dalam hatinya ia sangat tertekan.

"Nih ya gadis, kamu bakalan baik-baik aja kalau selalu nurut sama bos dan anaknya, tapi kamu akan celaka, kalau kamu sampai membantah dua orang itu," ucap salah satu anak buah itu yang dibalas anggukan oleh Alia.

"Iya pak, terima kasih banyak ya ... terima kasih juga kalian sudah jemput," ucap Alia dengan sopan membuat mereka langsung saling melempar pandangan.

"Hum ..." dehem mereka pelan.

" Kenapa anak ini tidak menangis ya? Minimal teriak lah itu, baru kali ini kurasa kita jemput orang untuk tanpa main kasar," bisik salah satu anak buah itu, namun bisa terdengar jelas oleh Alia

Sesampainya di rumah mewah itu, untuk beberapa saat alia terkesima melihat bangunan itu, bahkan ia beberapa kali dipanggil oleh anak buah itu untuk terus berjalan ke dalam.

"Ayo,"

"Iya pak,"

Begitu masuk ke dalam terlihat Alex sudah menunggu di sana sambil menghisap rokok nya.

"Hahaha sudah dateng kamu ternyata," ucap Alex yang dibalas anggukan oleh Alia.

"Iya pak,"

"Hum bagus ... Jangan memberontak kalau kamu mau baik-baik saja, turuti apapun yang saya perintahkan," ucapnya yang dibalas anggukan oleh Alia.

"Bagus, bawa dia ke dapur, perkenalkan dia dengan alat dapur," suruh Alex membuat mereka mengangguk.

"Kamu disini, tapi bukan berarti kerjaan kamu hanya sekedar di dapur ya, bisa aja kamu sewaktu-waktu disuruh ke kasur," ujar anak buah itu sambil tertawa, membuat Alia mematung.

Deg!

"Kerja yang benar, kebetulan pembantu di rumah ini lagi libur hari ini, besok juga dia datang untuk mengajari kamu," ucap mereka lalu meninggalkan Alia sendirian.

Untuk beberapa saat ia lemas mendengar ucapan anak buah itu, namun disisi lain Alia terus berpikir positif.

"Huh tidak apa-apa ... Ada Tuhan yang selalu menjagamu Alia ...," gumamnya pelan.

"Alia ...!" Panggilan itu membuat Alia tersadar, lalu berlari ke depan menghadap perempuan.

"I--iya Bu,"

"Ibu ibu, nyonya saya ini nyonya kamu," ucapnya membuat Alia mengangguk.

"Iya nyonya,"

"Huh ... sekarang kamu ke kamarnya Abang saya, rapikan dan bersihkan semua kamarnya. Sebentar lagi dia akan pulang kerja," ucap perempuan itu yang dibalas anggukan oleh Alia, lalu ia buru-buru masuk ke kamar itu.

"Eh ingatt ... Jangan mencoba pengambil apa-apa disana atau hidupmu akan terancam," lanjutnya membuat Alia kembali menghela nafas panjang.

'Ini rumah memiliki konsep zaman apa sih, serba kuno dan norak,' ucap Alia dalam hati sambil membereskan kamar itu.

Setelah selesai Alia kembali ke dapur, karena dipanggil untuk menyiapkan makanan untuk tamu, lalu mengantarkannya ke depan.

"Ini pak minumannya,"

"Wihh ... baru lagi nih bos, dapat dimana? Seger ini masih muda," ucap laki-laki itu membuat Alia rasanya ingin menampar mulut tamu itu.

"Hahah ... Biasa jaminan kerena bapaknya belum bisa bayar hutang, tapi kalau dilihat dari kondisinya sih nggak bakalan bisa bayar," lanjut Alex membuat Alia berbalik, lalu berjalan menuju ke belakang karena sudah disyaratkan oleh Alex.

"Kalau sampai bapaknya nggak bisa bayar, saya aja yang beli," ucap tamu itu membuat alex terkekeh.

" Berani berapa?"

"Hutang bapaknya berapa?"

" Berapa ya? Lupa juga saya ... sepertinya tidak sampai seratus juga lagi, kalau nggak salah," jawab Alex.

"Hahah aman, tiga kali lipat saya bayar, daun muda itu," jawab laki-laki itu membuat langkah Alia langsung terasa berat, terlebih setelah mendengar suara Alex dan tamu itu tertawa puas.

'Alia kamu udah janji sama ayah bakalan pulang dengan keadaan baik-baik saja, kuatkan aku tuhan,' ucap Alia dalam hati.

Sesampainya di dapur, Alia benar-benar merasa ketakutan, ia bingung harus bagaimana.

'Tuhan tolong aku, apa yang bisa aku lakukan. Tolong jaga aku, aku gak mau sampai rusak sama orang begitu,' ucap Alia dalam hati.

"MBOK ...!" panggil seseorang dengan suara yang amat kencang membuat Alia kaget, lalu ia kembali bangkit dari duduknya.

"Si--siapa nyonya yang manggil?" Tanya Alia membuat perempuan itu tertawa.

"Yang punya kamar itulah, kan tadi udah diperingatkan, jangan aneh-aneh pas ngurusin kamarnya, rasain sana ..." ucapnya membuat jantung Alia berdegup kencang.

'Ya Allah tolong ...' ucapnya dalam hati.

"Makanya jadi perempuan tuh jangan ngeyel, kalau udah dikasih tahu tuh cukup kerjain aja, nggak usah kamu sok-sok matur di rumah ini ... haduh ... gua yang adiknya aja nggak berani macam-macam di kamarnya, bisa-bisanya kamu cuman pembantu doang," ucap perempuan itu lagi membuat Alia bingung.

"Kira-kira hukumannya apa ya nyonya?"

"Hahah ... nggak tahu lah terserah dia, udah sana sebelum dia semakin ngamuk sama kamu, makanya lain kali nggak usah banyak tingkah. Belum juga sehari kerja di sini, udah bikin masalah aja dari tadi.

Kamu masak aja di dapur masih lama tahu nggak, mana masakannya nggak enak, tadi papa juga komen. Cuman dia belum ngasih tau aja, palingan nanti kamu abis dihukum sama abang, di hukum lagi sama papa hahaha malangnya nasibmu," ledeknya membuat Alia menelan ludah dengan susah payah.

"Mbok ... bisa cepat dikit nggak, saya nggak ada waktu nih buat ngeladenin kamu, cepetan datang ke kamar saya!" Teriak laki-laki itu lagi, membuat Alia langsung berlari ke sana dengan perasaan yang tidak karuan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Taruhan Sang Dosen   Sah

    Hari demi hari berlalu Lidya benar-benar tidak tenang menjalani kehidupannya sehari-hari, hingga hari yang ditunggu-tunggu sudah tiba membuatnya benar-benar tidak bisa menahan air matanya.Hari ini ia akan dinikahkan oleh laki-laki yang dipilih orang tuanya, lebih tepatnya laki-laki ini jauh lebih dewasa darinya."Lidya ayo keluar ... Mempelai laki-laki sudah dibawah, sebentar lagi akad dan kamu makan bebas bersama suamimu," ajak Mama yang dibalas anggukan oleh Lidya.Dia sudah tidak bisa lagi melawan karena badannya sudah lelah kena pukul gara-gara melawan. "Iya Ma,""Gitu dong anak mama, kalau kamu nurut kan kami juga nggak bakal kasar sama kamu Nak, kami melakukan ini semua demi kebaikanmu," ujar Mama lalu merangkul putrinya itu."Mama tahu apa yang kamu rasakan, karena ini perjodohan pasti kamu merasa tidak nyaman atau bahkan susah untuk menerimanya. Tapi seiring berjalannya waktu semuanya kan baik-baik saja, lagian umur kamu juga udah dewasa, mau nunggu apa lagi," ucap mama yan

  • Istri Taruhan Sang Dosen   Tawaran itu lagi

    Setelah mereka selesai makan, Alia mendekati Amira yang terlihat masih kedinginan."Mama mau istirahat?" tanya Alia yang dibalas gelengan oleh Amira.Untuk beberapa saat ia memperhatikan Alia dan Fras secara bergantian lalu ia tersenyum."Kalian harus janji sama tante ya, apapun yang terjadi jangan pernah berpisah. Kamu fras ..." ucapnya sambil melihat Fras membuat Fras mengangguk."Alia ini sudah saya anggap seperti anak sendiri, jadi tolong jangan sakiti dia.Nggak gampang untuk bisa mempertemukan kalian kembali, banyak yang udah jadi korban." lanjut Amira.Amira menceritakan semua kronologi yang terjadi di kota hingga ia bisa datang ke tempat sekarang.Nenek yang mendengar itu hanya manggut-manggut sambil menikmati tehnya."Tinggallah di sini ..." ucap nenek membuat Amira diam sejenak."Tapi saya nggak enak Bu, saya jadi ngerepotin,""Nyawa kamu lebih berharga dibandingkan harta, jadi tinggallah di sini. Rumah saya nggak bagus memang, tapi mudah-mudahan bisa melindungi kita semua,"

  • Istri Taruhan Sang Dosen   Mama

    Selama proses interogasi di kantor polisi Alex benar-benar tidak bisa berkutik apa-apa, namun ia juga tidak sepolos yang dikira. "Saya pamit duluan ya pak ... Nanti kalau ada apa-apa langsung telepon sekretaris saya aja," ucap Amira lali pergi begitu saja membuat Alex menghela nafas panjang.Alex bangkit dari duduknya kemudian ia menuju ke arah jeruji besi di mana beberapa anak buah dan pembantunya ada di sana. "Apa kalian juga termasuk orang-orang yang membocorkan semuanya?" tanya Alex yang dibalas gelengan oleh mereka."Nggak pak, Mbok cuman pengen pulang ke rumah aja nggak mau Mbok ikutan masalah apapun sebenarnya," ucap mbok membuat Alex terkekeh."Gak segampang itu, rokok saya," ucap Alex yang tiba-tiba dibawakan oleh anak buahnya membuat mbok kaget.Setelah melihat Alex pergi Mbok dan orang di sebelahnya saling melempar pandangan. "Ya ampun ... Jangan bilang Pak Alex juga bagian dari mereka, kasihan banget Ibu yang tadi," gumam mbok "Huh ... Tah lah mbok, jangankan ibu itu k

  • Istri Taruhan Sang Dosen   Tertangkap

    Seminggu telah berlalu, Alex semakin frustasi karena ia ingin kembali ke rumahnya, namun dia tidak mau berurusan dengan wartawan apalagi polisi. "Huh sampai sekarang belum ada nih kabar dari Fras?" tanya Alex pada anak buahnya itu yang dibalas anggukan oleh mereka."Belum ada Pak, kami mencoba melacak juga nggak ke deteksi sama sekali, kayaknya mereka nggak menggunakan ponsel sekarang," jawab anak buahnya itu membuat Alex kesal."Huh ... Mana rekan-rekan ku nanyain mulu lagi di mana," "Pak ... Kalau rekan Bapak banyak, mereka nggak ada gitu niatan mau bantuin bapak? Kan Bapak juga sering ngasih mereka apa yang mereka mau," ucap anak buahnya itu membuat Alex terdiam. "Sejauh ini mereka nggak ada ngasih bantuan atau apa-apa ya, justru kalau nelpon mereka selalu mendesak di mana Alia, mereka bahkan menuduhku telah mengambil Alia untukku," kesal Alex."Bapak nggak curiga gitu, siapa tahu dalang dari kejadian ini salah satunya mereka?" Deg!Untuk beberapa saat Alex terdiam setelah mend

  • Istri Taruhan Sang Dosen   berkebun

    Lidya tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang karena langkahnya sudah dibatasi oleh keluarganya, sedangkan ia harus mencari keberadaan Alia."Huh ... Kenapa jadi berantakan semua sial! Pak Alex, bisa-bisanya dia nyebarin foto itu padahal aku juga lagi berusaha nyari," kesal Lidya lalu ia mengotak-atik ponselnya.[Halo sayang ... Kamu masih mengingatku?][Om!][Ada apa?] tanya Alex dengan santai.[Kenapa Om melakukan itu semua? Padahal baru aja tadi aku dapetin alamatnya Alia, cih ... Dasar!] [Dimana?][Bagaimana dengan foto itu? Saya udah kena marah sama orang tua saya Om,] ujar Lidya [Hahaha ... Biarlah kalau memang kena marah, kamu mau jadi istri saya?][NAJIS!] tiba-tiba nada Lidya naik membuat Alex terkekeh.[Kalau begitu berikan saya alamat Alia] Hening!Untuk beberapa saat Lidya terdiam, iya kembali mengingat kejadian dari waktu ke waktu. [Kalau dipikir-pikir Om ini sangat menyedihkan ya, jahat pula.][Maksud kamu?][Huh ... Satu si om yang pengen saya tanyain, siapa yang

  • Istri Taruhan Sang Dosen   Foto Bugil

    Heri demi hari, jadi dia tidak bisa mendapatkan kabar Alia sedikitpun membuatnya semakin frustasi."Dek ... Liat ini hp mama kenapa?" ucap Mama Lidya buru-buru mendekatinya sambil menunjukkan ponselnya membuat Lidya menghela nafas panjang."Itu nggak ada apa-apa mah, mama mau nggak ngikutin saran adek?""Apa?""Ganti nomor, ganti kartunya pokoknya," ucap Lidya membuat mama langsung menggerutu."Masa ganti sih, kan nomor-nomor teman Mama semua di sini," ujar Mama"Kayaknya HP mama kena hack jadinya kayak gitu, bakal kayak gitu terus," ujar Lidya membuat orang tuanya terlihat kecewa namun mau tidak mau yang mengangguk. "Ya udah deh nggak apa-apa, daripada hp Mama kayak gini terus," ucapnya membuat Lidya memejamkan matanya sejenak."Ma ... Adek keluar sebentar ya,""Ya sekalian beliin Mama kartu baru ya, terus ini Mama biarin aja kayak gini?" tanya Mama "Iya, biarin aja jangan ada yang dibales satupun ya," lanjut Lidya yang dibalas anggukan oleh Mama.Tanpa membuang waktu Lidya langsun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status