Share

Bab 38 - Menyesakkan

Author: ekaphrp
last update Last Updated: 2025-08-22 21:02:07
Yudha menatap layar ponsel yang baru saja muncul notifikasi pesan. Dari seseorang yang ia tugaskan untuk memata-matai Tavisha dari jauh. Bukan karena tidak percaya. Yudha hanya ingin mengantisipasi kemungkinan buruk terjadi.

Shadow Man: Lapor, Komandan! Ibu Tavisha terlihat tidak sehat dan hampir pingsan. Saat ini beliau dibantu oleh seorang mahasiswa laki-laki menuju uks.

Setelah kalimat itu, dikirimkan sebuah foto. Ketika Tavisha berada dalam gendongan Samuel. Tiba-tiba saja jemarinya terkepal. Ada rasa tak rela melihat sang istri dalam pelukan laki-laki lain.

Suara gigi bergemeletuk. Rahangnya kian mengeras menandakan bahwa Yudha tidak bisa menahan rasa cemburu dalam dirinya.

Bodoh! Yudha mengumpat, padahal ia sempat menyadari keadaan sang istri yang tidak baik-baik saja. Tapi, mengapa egonya terlalu tinggi untuk sekadar memberi perhatian?

Hatinya terlampau gamang. Terlebih ketika sang ayah mengancam akan mengirim jauh jika ikut menyelidiki operasi langit merah itu dan membi
ekaphrp

Aku update lagi biar puas hihi. Gimana? Gimana? Kita bikin jealous dulu nggak sih si bongkahan es itu. Pokoknya, problem mereka itu dimulai karena komunikasi yang buruk. Kalau ada yang tanya, kenapa Tavisha ngga jujur? Karena dia itu hidup dibawah kendali sang ayah yang 'lumayan' otoriter. Suara Tavisha nggak pernah didenger. Itu kenapa, Tavisha selalu takut buat mengungkapkan keinginannya sama orang. Bukan karena nggak berani, tapi, karena takut di tolak.

| 12
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (25)
goodnovel comment avatar
Nining Mulyaningsi
nahh loh kira-kira siapa yang lagi bersandar d dinding. Yudha ? bagus deh kalau dia supaya kamu tau Yudha bahwa d luar sana banyak laki-laki yang menginginkan tavisha. sedangkan kamu sudah mendapatkannya malahh di sia-sia kan.
goodnovel comment avatar
Nining Mulyaningsi
sumpahhh ikut nyesek dengan keadaan tavisha saat ini .emang disini tavisha juga salah karena gak bisa d bilangin suami tapi setidaknya Yudha gak boleh bersikap keras begitu sama tavisha. jangan sama-sama egois.
goodnovel comment avatar
Ovy Azza
itu yg d luar si yudha kan? gmna yud, merasa cemburu, marah atau gmna perasaanmu x nie melihat istrimu ada dlm pelukan lelaki lain, yg harusnya kmu yg ada d posisi itu?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 82 - Perpisahan Yang Menyakitkan

    Yudha menjauh dari kerumunan setelah briefing keberangkatan esok malam. Di sudut lapangan yang jauh dari hiruk pikuk prajurit, Yudha menyalakan rokok untuk sedikit mengurangi kegelisahannya. Tidak hanya soal keberangkatannya saja yang memberatkan. Tapi, ada hal yang jauh mengganggu pikiran. Ketika Tavisha begitu dekat dengan sahabat lawan jenisnya. Ditambah lagi tak ada kabar dari sang perempuan bahwa ia keluar dari rumah. Meski hubungan mereka masih dingin, namun Yudha berharap Tavisha tetap menjadikan dirinya sebagai orang pertama untuk tahu segala hal tentangnya, termasuk apa yang ingin ia lakukan.Rokok mulai terselip di bibir. Ia hendak menyalakan saat tiba-tiba seseorang menarik lintingan tersebut.“Nggak biasanya Mas ngerokok disini.”Yudha menoleh dan mendapati Bening berdiri disisinya dengan jarak dua langkah. Wanita itu memandangnya heran. Dan Yudha langsung memalingkan wajah ke arah lapangan yang membentang luas.“Untuk apa kamu kesini?”“Aku lihat Mas gelisah daritadi.”Yud

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 81 - Tidak Ada Jalan Lain

    “Tidak ada jalan lain,” ucap seorang pria berseragam pangkat tinggi yang kini tengah berbicara empat mata dengan orang berpengaruh di bidang pertahanan tersebut. Pagi menjelang siang itu tampak mencekam di ruang tertutup yang hanya ada mereka berdua. Selain atasan dan bawahan, mereka juga seorang sahabat yang sudah lama berkecimpung di dunia militer. Kali ini, dilema datang dari pria yang sangat berpengaruh seantero nusantarq. Pasalnya, baru tadi pagi hati yang sekeras batu itu hancur berkeping-keping. Walau ia tidak menunjukkan bahwa dirinya hancur di hadapan sang putri, tapi—sebagai seorang ayah ia memahami itu. Ia teringat bagaimana mendiang Harlyn kesepian ketika mengandung putri mereka. Bagaimana dirinya hampir mati di medan perang tanpa bisa memberitahu apa yang terjadi. Dan kini, bayangan itu menghancurkan pertahanan dirinya sendiri. Tavisha terlalu muda. Ia sadar ada banyak langkah yang diambil tanpa mempertimbangkan perasaan putrinya. Termasuk bagaimana ia memaksa sang putri m

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 80 - Mencari Ketenangan

    Tavisha terdiam dibalik kemudi tanpa benar-benar melihat apa yang ada di hadapannya. Yang ia rasakan hanya gema dari satu kalimat yang terucap beberapa jam lalu. Kalimat yang belum mendapatkan balasan apapun. “Tavisha hamil.”Reaksi pertama sang ayah memang terkejut. Namun setelahnya … Manggala membeku. Yang Tavisha yakini bukan karena bahagia atau marah. Entahlah, ekspresinya terlalu samar untuk bisa ia baca. Sang ayah hanya diam seperti batu, tidak pernah berubah bentuk sekalipun dihantam berkali-kali. Tavisha menahan napas, seolah dadanya menolak mengendur sejak meninggalkan kediaman Tandjung. Ucapannya sendiri terus mengiang di telinga, sementara sosok sang ayah berdiri di depan jendela tanpa ekspresi, masih saja terbayang. Tavisha sendiri tak tahu apa yang ia harapkan dari pria paruh baya itu. Apakah penolakan, amarah, atau keputusan yang menyenangkan. Tapi … ketiganya tidak ia dapatkan. Atau minimal, ia membutuhkan reaksi dari pria itu. Akan tetapi, semuanya tak ia dapatkan ju

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 79 - Bersimpuh Memohon

    Tak ada jawaban yang berarti. Tavisha hanya bergeming, memandang manik yang berusaha menghindari tatapannya. Ia tahu Yudha pun berat mengatakannya. Tapi, apa yang bisa diperbuat? Meraung pun rasanya percuma. Perlahan, Tavisha beranjak dari duduknya. Masih hening. Tak ada ucapan yang keluar dari bibir kecil itu. Sampai Yudha menahan pergelangan tangan yang terasa begitu kurus entah sejak kapan. “Tavisha …,” panggil pria itu, lirih. “Aku mau istirahat, Mas.” Sebuah kalimat terlontar dengan sangat rendah, seolah jika sedikit lebih keras terdengar getarannya. Apa yang Tavisha rasakan, jauh lebih menyesakkan. Dalam keadaan hamil, ia harus ditinggal. Bahkan, saat persalinan nanti pun seolah mustahil untuk suaminya ada di dekatnya. Yudha menelan ludah, cenderung gelisah. Tak ada yang bisa ia lakukan selain melepas pergelangan tangan itu dan membiarkan sang istri mengambil jeda untuk menenangkan diri. Pasalnya, bukan hanya Tavisha saja. Yudha pun belum siap jika harus meninggalkan san

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 78 - Berat Hati

    Yudha menatap wajah sang istri cukup lama sebelum beranjak dari tepi ranjang. Ia menyampirkan selimut hingga sebatas dada sang perempuan, memastikan agar tetap hangat. Dan ketika ia hendak berdiri, ponsel di saku celananya bergetar. Ia pun merogoh lalu memandang layar menampilkan kontak dari markas besar. Getarannya terasa seperti alarm yang membangunkan sisi lain dalam dirinya—sisi yang tak pernah bisa menolak panggilan tugas.Sekilas, ia memandang Tavisha sekali lagi. Perempuan itu masih terlelap, wajahnya teduh dengan rambut terurai menutupi sebagian pipinya. Yudha menahan napas sejenak, baru melangkah keluar kamar sepelan mungkin. Begitu tiba di ruang tamu, ia segera mengangkat panggilan itu.“Siap perintah!”Suara di seberang terdengar tegas. “Kapten, mohon segera ke markas. Ini mendesak. Panglima memerintahkan seluruh tim utama hadir pagi ini.”“Pagi ini?” Yudha melirik jam di dinding. Waktu menunjukkan pukul tujuh tiga puluh. “Iya, Kapten. Tidak bisa ditunda.”“Baik. Saya sege

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 77 - Sebuah Petuah

    Dahlia keluar dari kamar setelah berhasil menenangkan sang menantu dan memberinya makan. Hormon yang dialami Tavisha memang tidak biasa. Perempuan itu sangat rapuh. Seolah jika dipegang sedikit saja mampu menghancurkannya. Setelah pintu kembali tertutup, Yudha langsung menghampiri. Ada kecemasan di wajah yang tak bisa ia tutupi. “Bagaimana Tavisha, Bu?"“Dia tidur lagi setelah makan dan minum vitamin.”Terdengar hela nafas lega setelahnya. Dahlia lantas menyelipkan tangannya di sela lengan putranya sambil membawa pria itu untuk duduk di sofa. “Duduk sini, kita ngobrol sebentar.”Yudha hanya mengangguk pelan. “Jangan terlalu keras dengan Tavisha, Nak,” nasehat sang ibu setelah berhasil duduk di sofa ruang tamu bersama putranya. Namun, tidak ada sahutan yang berarti dari bibir Yudha. Pria itu hanya bergeming, seakan berpikir apa benar ia terlalu keras pada istrinya? Padahal, ia sudah berusaha untuk bisa menahan semua ego dan amarah yang terpendam di kepala hanya demi tidak menyakiti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status