Terkejoed dong. Lagi main di ruang tamu, tempat terbuka, tiba-tiba ada bel. Kira-kira siapa ya? Ganggu aja orang lagi mesra-mesraan.
“Atau Mas maunya aku bikin suasana lebih … panas?” “Apa maksud kamu?” Tavisha semakin berani. Ia menggeser tubuhnya lebih dekat, sampai kedua kakinya berada diatas pangkuan pria itu. Tangannya terulur, memainkan dada bidang sang suami dengan godaan-godaan nakalnya. “Mas tahu nggak, aku paling suka kalau kamu udah diem kayak gini. Soalnya, tingkat ketampanan kamu tuh jadi bertambah dan pastinya kamu nggak bisa marah, ‘kan?” goda Tavisha. Jari-jarinya semakin lihai menggelitik dada bidang sang suami, seolah memancing raksi. Yudha hanya menoleh pelan, tapi jelas ada kilatan buas di matanya. Seperti hewan yang tengah memangsa. “Tavisha,” ucap Yudha rendah, seolah memberi peringatan. “Ya, Mas?” tanya Tavisha, mendayu-dayu, raut wajahnya dibuat sepolos mungkin sembari menatap sang suami dari samping. “Ada apa?” “Jangan macam-macam.” “Lho, aku cuma pegang dada Mas aja, bukan yang lain.” Tavisha terkekeh pelan, lalu semakin menjelajahi ke bawah, tepat di atas pusar pria itu. “N
Perut Tavisha sudah terisi, tapi ada yang lebih menyenangkan dari sekadar perut yang kenyang. Ialah kebersamaan yang tercipta bersama sang terkasih. Sisa senyum masih melekat di wajah perempuan itu ketika meletakkan garpu di pinggir piring. Yudha sudah mengangkat piring kosongnya, beranjak, lalu melangkah ke dapur.“Biar aku aja yang cuci, Mas,” ujar Tavisha refleks.Yudha menoleh sekilas, sorot matanya biasa saja, tapi ada sedikit nada perintah dalam jawabannya.“Sudah, kamu duduk saja. Nanti kalau tumbang lagi, malah repot.”“Cuma cuci piring nggak bakal buat tumbang, kok, Mas …,” gumam Tavisha setengah protes.Yudha tidak menjawab, hanya menggeleng kecil. “Tidak boleg.”Selepas itu, Yudha langsung menyelesaikan tugasnya mencuci piring. Tangannya bergerakcekatan di wastafel dibersamai air mengalir dan bunyi piring yang beradu pelan. Tavisha terdiam, menatap punggung sang suami yang kembali serius. Ada rasa aneh menggelitik jiwanya, yaitu senang sekaligus canggung. Setelah pria itu
“Mulai malam ini, kamu tidur di bawah.” “Ya?” Tavisha terperanjat. Pergelangan tangannya masih dalam genggaman Yudha, membuat langkah kaki itu seketika terhenti. Ia menatap dalam manik kelam sang suami yang tak memancarkan ekspresi apapun. Sungguhan, sulit sekali pria itu ditebak—pikirnya. “Mulai malam ini, kamu tidur di bawah,” ulang Yudha, nada suaranya datar tapi tak ada keraguan.Mata Tavisha membola. “Ma-maksud Mas … satu kamar?”Yudha mengangguk pelan. Tidak ada senyuman atau senda gurau, hanya tatapan yang benar-benar sulit diterka. Namun, genggaman itu tidak mengendur sama sekali. “Bukannya dari awal Mas—”“Itu saat saya pikir kamu belum siap. Nyatanya, kita sudah pernah tidur satu kamar, bahkan lebih dari itu, ‘kan?”Glek.Pernyataan macam apa itu? Tavisha sampai berkedip beberapa kali, memastikan bahwa yang bicara seperti itu adalah suaminya sendiri. Pria yang sangat sulit ditebak dan jarang berekspresi. “Tapi, Mas ….”Tavisha masih berusaha denial, mau tahu seberapa gig
“Mas…,” gumam Tavisha ketika matanya kembali terbuka. Hari sudah menjelang siang. Tanpa sadar ia terlalu lama terlelap. Kala matanya terbuka, ia masih melihat kehadiran Yudha di ruangan tersebut. Tepatnya, sang suami tengah berbaring di sofa. Kelopak mata pria itu bergerak pelan, sebelum terbuka sepenuhnya. Yudha menoleh ke arah Tavisha. Sejenak, hanya keheningan yang terjalin diantara mereka. Yudha lantas berdiri, menghampiri ranjang. Jemarinya ia selinapkan di antara ceruk leher sang istri seraya mengusap pipi lembut itu. “Kamu sudah bangun? Apa ada yang sakit?” tanya Yudha, nadanya rendah tapi penuh kekhawatiran. Tavisha menggeleng pelan. “Nggak, Mas. Cuma … capek aja, tidur terus.” Yudha duduk di tepi ranjang. Ia tersenyum, meski tampak kaku. “Dokter bilang kalau kondisi kamu sudah stabil. Mungkin besok atau lusa sudah bisa pulang.” “Pulang?” Tavisha terdiam. Ada rasa lega sekaligus cemas. Kalau pulang, itu artinya mereka akan kembali ke rutinitas yang ada. Yudha akan sibu
“Aku mau percaya, Mas … tapi tolong, jangan buat aku ngerasa sendirian lagi, ya?” Yudha mengusap puncak kepala Tavisha seraya tersenyum. Sebelum pintu kamar itu kembali terbuka. Suara ketukan pintu seakan tidak terdengar, sebab sosok yang baru saja masuk tidak menunggu jawaban mereka. Seorang pria berusia lebih dari setengah abad, berjalan tegap dengan setelan resmi. Wajahnya berwibawa dan serius. Setiap langkah tampak berat dan mantap. Di belakangnya beberapa ajudan membersamai. Bisik-bisik dari lorong sebelumnya masih terdengar. Sosok yang begitu berpengaruh dalam dunia militer kini berada disana. Menteri Pertahanan, Manggala Trianto Tandjung, ayah Tavisha datang tanpa pemberitahuan. Suasana mendadak berubah. Seolah pasokan udara di dalam kamar langsung berkurang, menyisakan sesak yang begitu nyata. Terlebih bagi Tavisha yang masih ada dalam pelukan Yudha. Tubuhnya, kontan menegang. Ia langsung melepaskan diri, beringsut dari tempatnya lalu duduk dengan tegap. Sebisa mungkin, ia m
“Bu … tolong ajari Tavisha, bagaimana caranya untuk kuat,” gumamnya lirih, dibersamai air mata yang mengalir di pipi. Dahlia mengusap lembut rambut sang menantu yang terlihat kusut. Air matanya mengalir semakin deras dan sepertinya Tavisha juga tak berusaha untuk menyembunyikannya. Perempuan itu tampak rapuh, seolah hembusan angin sekecil apapun bisa meruntuhkannya. “Tentu, Nak. Ibu akan selalu ada di samping kamu. Bagi Ibu, kamu bukan cuma menantu, tapi kamu juga anak Ibu sekarang. Jangan pernah merasa sendirian lagi, ya.” Suara Dahlia terdengar dalam dan penuh kehangatan. Sampai-sampai membuat ruang rawat vvip itu terasa lebih luas. Tavisha mengangguk pelan. Bibirnya bergetar, seperti ingin mengatakan banyak hal, tapi tak bisa semuanya terucap. Di balik pintu yang tertutup rapat, Yudha berdiri. Tubuhnya membeku, lidahnya menjadi kelu. Langkah kaki yang terpasang sepatu bot, seolah menancap di lantai rumah sakit. Ia baru saja kembali dari markas setelah diberi izin. Tenggorokann