LOGINElyssa tak pernah menyangka bahwa setelah setahun menjalani pernikahan yang hampa, kini ia justru terperangkap dalam kehangatan Sean, sahabat suaminya sendiri! "Jangan memikirkan suamimu saat sedang dalam pelukanku, Elyssa."
View MoreKenzi terpaku. Di tengah riuh tepuk tangan dan hamburan confetti yang jatuh di rambutnya, ia tidak bisa memalingkan wajah dari sosok pria di barisan depan. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang sangat mahal, berdiri tepat di samping ayahnya sambil tersenyum tipis ke arah panggung."Kenapa, Zi? Tegang gitu mukanya, kayak lihat hantu,” bisik Kenza pelan, menyenggol lengan Kenzi agar adiknya sadar mereka masih jadi pusat perhatian.Kenzi tidak menjawab. Jantungnya berdegup kencang. Ia ingat betul siapa pria itu— pria yang pernah jalan bersamanya, menghabiskan waktu semalaman sebagai sepasang kekasih dan berakhir asing di pagi harinya."Ayo, turun. Papa sudah kasih kode," tarik Kenza pelan.Begitu mereka turun dari tangga panggung, pria itu langsung melangkah mendekat sebelum Sean sempat membuka suara."Selamat ulang tahun, Kenza, Kenzi," sapa pria itu dengan suara berat yang tenang namun berwibawa. Ia mengulurkan tangan, menatap Kenzi dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Selamat ulang tahun, anak-anak Mama. Kenza, Kenzi... Semoga kalian semakin cerdas, menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan selalu berbakti kepada orang tua, ya," ucap Elyssa dengan nada haru seraya memeluk kedua anak kembarnya secara bergantian.Hari ini, Kenza dan Kenzi resmi menginjak usia tujuh belas tahun.Sebelum rutinitas sarapan dimulai, Sean dan Elyssa sengaja memberikan kejutan kecil berupa kue ulang tahun sederhana. Mereka ingin memberikan momen kekeluargaan yang hangat, sebelum perayaan besar yang lebih formal yang akan digelar malam nanti di hotel."Ayo, tiup lilinnya dulu," ujar Sean menimpali, sambil meletakkan kue itu di tengah mereka.Kenza dan Kenzi meniup lilin serempak. Api lilin pun padam dalam sekali tiup.Sean mengusap punggung Kenza dan Kenzi dengan bangga, lalu menyuruh mereka duduk untuk sarapan.Kini, mereka semua telah duduk mengelilingi meja makan. Mereka menikmati sarapan sembari berdiskusi soal perayaan ulang tahun nanti malam."Mama sudah sortir daft
Pintu terbanting terbuka, membentur dinding dengan suara keras yang memecah keheningan malam. Cahaya redup dari koridor langsung menyeruak masuk, membelah kegelapan kamar Kenzi.Kenzi tersentak hebat. Ia melempar ponselnya ke sembarang arah di atas kasur dan menarik selimut hingga menutupi dadanya dengan gerakan panik. Napasnya masih memburu, namun kali ini bukan karena gairah, tapi karena terkejut melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.Kenza berdiri di sana dengan wajah yang luar biasa dingin. Tangannya masih memegang kenop pintu, sementara matanya menyapu ruangan sebelum akhirnya terkunci pada wajah pucat Kenzi."Kenza! Kamu apa-apaan sih?! Masuk gak ketuk pintu!" teriak Kenzi, suaranya melengking tinggi.Kenza tidak langsung menjawab. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan tenang dan langsung menyalakan lampu. Cahaya terang seketika menyengat mata.“Za, kenapa dinyalain sih? Silau tau!” gerutu Kenzi. Matanya dibuat mengerjap, seolah-olah ia baru saja terbangun
Sore itu, di halaman belakang, Siren menghampiri Bi Sumi yang sedang duduk beristirahat sambil memijat kakinya yang tampak bengkak."Nek..." panggil Siren pelan. Ia duduk di samping neneknya, meremas jemarinya sendiri.Bi Sumi menoleh, tersenyum tulus meski wajahnya tampak sangat lelah. "Kenapa, Nduk?”Siren menghela napas, suaranya nyaris berbisik. "Tadi di sekolah... guru bilang minggu depan ada ujian praktikum kimia dan biologi. Siren harus bayar biaya alat dan bahan, Nek. Paling lambat lusa."Gerakan tangan Bi Sumi terhenti. Wajah senjanya seketika berubah muram. Ia menunduk, menatap telapak tangannya yang kasar. "Berapa, Nduk?""Tiga ratus ribu, Nek."Bi Sumi terdiam cukup lama. "Nduk... Nenek belum pegang uang sebanyak itu. Kita kan baru kerja di sini, gak enak kalau Nenek mau kasbon sama Pak Sean atau Bu Elyssa. Tabungan Nenek yang kemarin juga sudah habis.”Siren menggigit bibir bawahnya. Ia sudah menduga jawaban itu, tapi tetap saja rasanya sesak.Bi Sumi kembali menambahkan,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore