Mag-log inZivanya dan Ariyan sudah satu tahun menikah. Tapi Ariyan tidak pernah mencintai Zivanya. Mereka terikat dalam pernikahan karena dijodohkan oleh orang tua mereka yang bersahabat. Hanya Zivanya yang mencintai Ariyan dengan sepenuh hati. Sedangkan hati Ariyan telah dimiliki oleh perempuan lain. Perempuan itu adalah Aira, anak angkat orang tua Ariyan yang sudah dianggap sebagai anak kandung. Ariyan dipaksa untuk memutus hubungan terlarangnya dengan Aira tanpa orang tuanya tahu bahwa hubungan mereka tidak pernah putus meskipun sudah menikah dengan Zivanya. Seolah belum cukup sakit, setiap malam saat mereka bercinta Zivanya harus terluka melihat tato nama Aira di dada Ariyan. Ig Author: distrakzii
view moreCahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang terlalu jauh dalam sensasi panas yang mendominasi kamar ini.
Malam ini Ariyan yang baru pulang kerja terlihat lelah. Dan Zivanya tahu pria itu hanya butuh pelarian. Zivanya dengan bodohnya selalu bersedia menjadi pelarian baginya.
Sambil terus bergerak, Ariyan mencumbu dan mengecup leher Zivanya, menciptakan tanda kepemilikan yang besok akan disesali Zivanya, tapi sekarang terasa begitu memabukkan.
Ariyan bergerak semakin cepat. Zivanya hanya bisa mengikuti, membiarkan tubuhnya diambil alih.
Saat Ariyan mengangkat sedikit tubuhnya untuk mengganti posisi, kemeja pria itu yang tadi hanya terbuka kancingnya kini tersingkap lebar sebelum ia jatuhkan ke lantai.
Di situlah Zivanya melihatnya. Jelas, di bawah temaram cahaya.
Tepat di dada kiri Ariyan, di atas jantungnya, terukir sebuah tato permanen dengan huruf cursive yang rapi.
Aira.
Ini bukanlah yang pertama. Sudah ratusan malam Zivanya melihatnya. Tapi efeknya tidak pernah berbeda.
Darah Zivanya rasanya berhenti mengalir. Jantungnya berpacu liar. Bukan karena gairah, melainkan karena rasa sakit yang menghantam ulu hatinya.
Ariyan menandai tubuhnya dengan nama wanita lain. Wanita yang selalu dia sebut sebagai masa lalu yang rumit, tapi jelas masih menguasai masa kininya.
Zivanya merasa sangat sakit. Di saat Ariyan sedang menyatukan tubuh dengannya, nama wanita lain melekat di kulitnya, ikut bergesekan dengan kulit Zivanya.
Seketika, seluruh hasratnya sirna.
“Ari...” Zivanya mencoba mendorong bahu pria itu.
Ariyan tidak peduli. Ia sedang berada di ambang puncaknya. Ia terus memacu dirinya, mengabaikan perlawanan kecil Zivanya.
Zivanya memalingkan wajah ke samping, memandang dinding kosong. Sudut-sudut matanya terasa panas. Setiap sentuhan Ariyan sekarang terasa menjijikkan. Ia merasa seperti benda mati yang sedang digunakan untuk memuaskan syahwat pria yang hatinya sepenuhnya adalah milik orang lain.
Tepat di saat Ariyan mengerang karena mencapai pelepasannya, ponsel di atas nakas bergetar hebat. Getarannya terasa hingga ke tempat tidur.
Drrrt… Drrrt… Drrrt…
Ariyan rebah di atas tubuh Zivanna bersama napasnya yang tersengal-sengal di telinga wanita itu.
Ponsel berwarna hitam tersebut tidak berhenti bergetar.
Ariyan mengesah kesal, lalu menarik diri dari Zivanya. Ia duduk di tepi tempat tidur membelakangi istrinya dan mengambil ponsel.
“Halo.”
Zivanya duduk perlahan. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang.
“Sakit? Sejak kapan? Kamu sudah minum obatnya?” suara Ariyan kini berubah panik. Ia langsung berdiri, mengabaikan fakta bahwa ia baru saja selesai bercinta dan tidak berpakaian.
“Oke, oke, tenang. Jangan panik. Aku ke sana sekarang.”
Panggilan ditutup dengan tergesa. Mata pria itu bergerak liar mencari pakaiannya di lantai. Ia tidak menatap Zivanya sedikit pun.
“Aira sakit. Aku harus pergi,” ujarnya singkat sambil menarik celananya. Ia bahkan tidak perlu repot-repot memakai celana dalam.
Zivanya memandangnya dengan pandangan kosong. Rasa sakit di hatinya sudah sampai di titik di mana ia tidak bisa lagi marah.
“Dia sakit apa?” tanya Zivanya pelan, datar tanpa emosi.
Ariyan mengancingkan celananya dengan gerakan yang semakin panik. “Aku nggak tahu. Dia Cuma bilang perutnya sakit. Mungkin maagnya kambuh lagi. Dia sendirian. Aku harus ke sana sekarang.”
Zivanya memang tidak ingin marah. Ia sudah terlalu lelah untuk itu. Ia sudah menerima sejak lama bahwa dirinya bukan prioritas. Tapi melihat Ariyan yang begitu panik demi wanita lain tepat saat mereka selesai bercinta, kalimat itu keluar begitu saja tanpa bisa ia tahan.
“Dia selalu sakit di saat kamu bersamaku. Apa kamu nggak sadar?”
Tangan Ariyan yang sedang memasang kancing kemeja sontak terhenti. Ia menatap Zivanya untuk pertama kalinya sejak ponselnya berdering. Sorot matanya terlihat begitu dingin.
“Ini bukan waktunya untuk cemburu. Dia butuh aku.”
“Dan aku? Apa aku nggak butuh kamu?”
Ucapan istrinya membuat Ariyan memberikan wanita itu tatapan tajam.
“Kamu lupa aku nggak pernah menginginkan pernikahan ini? Kalau bukan karena orang tua kita, bukan kamu yang menjadi istriku. Tapi Aira!”
Zivanya terpaku. Jawaban suaminya membuat hatinya tersayat-sayat. Ia sadar betul akan hal tersebut. Ia sudah menghafalnya di luar kepala, namun mendengarnya langsung dari mulut Ariyan di saat keringat mereka bahkan belum kering, rasanya seperti dikuliti hidup-hidup.
“Aku tahu,” jawab Zivanya lirih. “Aku tahu kamu nggak pernah menginginkanku. Tapi setidaknya, hargai aku sebagai istrimu.”
“Jangan terlalu banyak menuntut,” jawab lelaki itu tidak suka. Ia sudah berhasil memasang kemejanya lalu menyambar kunci mobil di atas nakas. Tidak ada kecupan pamit atau tatapan menyesal. Yang ada hanya punggung pria itu yang menjauh dengan tergesa, mengejar wanita yang ia sebut sebagai cinta sejati.
“Jangan menungguku. Aku mungkin menginap di sana kalau kondisinya parah,” ucap lelaki itu sebelum menghilang di balik pintu dan menutupnya dengan sedikit bantingan.
Zivanya tetap duduk di tempat tidur yang berantakan. Bau maskulin Ariyan masih tertinggal di bantal, namun pemiliknya sudah lari mengejar wanita lain.
Aira adalah anak angkat orang tua Ariyan yang diadopsi sejak berumur tiga tahun. Setelah dewasa, keduanya saling jatuh cinta. Orang tua Ariyan yang tidak setuju pada hubungan mereka, menjodohkan Ariyan dengan anak sahabatnya, yaitu Zivanya. Zivanya menerima perjodohan itu karena sejak Sekolah Menengah Pertama ia sudah jatuh cinta pada laki-laki itu. Perasaan Zivanya sangat bahagia dinikahkan dengan Ariyan sebelum ia tahu Ariyan sudah memiliki wanita lain di hatinya.
Lamunan Zivanya buyar karena listrik yang tiba-tiba mati. Ia mengambil napas dalam-dalam, menelan pahitnya kenyataan bahwa malam ini, sekali lagi, ia kalah untuk ke sekian kalinya.
***
“Ariyan, kamu dengar Mama nggak? Tolong buka pintunya dulu!” Zelena mengulangi dengan suara lebih keras lantaran tidak ada sahutan dari dalam sana.Entah apa yang dilakukan anaknya di dalam. Hari-hari belakangan Ariyan jarang di rumah. Kalaupun ada, ia lebih sering mengurung diri di kamar. "Ariyan! Sebentar aja. Mama nggak mau ganggu kamu, tapi ini penting!" "Masuk, Ma. Pintunya nggak dikunci." Akhirnya terdengar sahutan dari dalam. Pintu pun Zelena buka, memperlihatkan sosok Aryan yang sedang bermain gitar. Pria itu hanya mengenakan celana pendek tanpa mengenakan baju. Zelena mendekat dengan langkah tergesa-gesa. Melihat gurat kepanikan di wajah ibunya, dahi Ariyan berkerut halus. Ia menegakkan posisi duduknya dan berhenti memetik senar. "Ada apa, Ma? Kenapa muka Mama cemas?" “Mama memang cemas. Barusan Mami mertua kamu nelepon–” “Mantan, Ma,” koreksi Ariyan cepat. “Iya mantan,” ulang Zelena. “Katanya Kai sakit pas lagi pipis terus pipisnya nggak mau keluar. Setelah diba
Zivanya tentu saja terkejut mendengar ucapan Seruni. Ia tidak ingin melibatkan mertuanya. Apalagi ia tahu Ariyan tidak akan peduli.“Mi, nggak usah. Jangan telepon Mama Zelena.” Zivanya mencoba melarang.“Jangan telepon Mama Zelena? Ziva, kamu ini bicara apa sih?" Seruni menatap putrinya dengan dahi berkerut heran. "Kaisar, kan, cucu kesayangan Zelena juga. Wajar kalau Mami mengabari besan sendiri waktu cucunya masuk IGD begini. Apalagi dokter tadi bilang kalau penyakit Kaisar ini turunan dari garis ayahnya. Mami cuma mau memastikan lagi ke Zelena apa dulu Ariyan memang pernah mengalami hal yang sama saat kecil, biar kita makin yakin dengan penanganannya.""Tapi, Mi, nggak usah siang-siang begini. Kasihan Mama Zelena lagi enak-enak tidur siang terus panik pas Mami kabari.” Zivanya mencoba mencari alasan yang sekiranya masuk akal. Jantungnya berdebar begitu kencang. Zivanya tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya. Bahwa hubungannya dan Ariyan sudah berada di titik beku, dan
“Ibuuuu… sakiiit!” Perhatian Zivanya dan Seruni spontan beralih saat mendengar suara Kaisar disusul tangis keras anak itu. Saking asyik mengobrol keduanya tidak menyadari Kaisar tidak lagi berada di dekat mereka. “Ibuuuu… ke siniii!” panggil Kaisar disertai tangisan yang berasal dari kamar mandi. Zivanya setengah berlari menuju kamar mandi yang terletak di sudut ruang tengah, diikuti oleh Seruni yang ikut panik di belakangnya. "Kai kenapa, Sayang?!" panik Zivanya melihat Kaisar. Di dalam sana, Kaisar sedang berdiri goyah di depan kloset. Celananya melorot sampai ke lutut. Wajah anak itu basah oleh air mata yang mengalir deras, dan kedua tangannya tampak gemetar hebat mencoba memegang area intimnya sendiri. "Ibu... sakit... pipisnya nggak mau kelual... sakit sekali, Ibuuu," adu Kaisar tersedu-sedu. Kakinya menghentak-hentak kecil menahan rasa perih yang teramat sangat. Zivanya segera jongkok. Ia mencoba memeriksa kondisi putranya. "Mana yang sakit, Nak? Sini Ibu lihat, biar
Zivanya tentu terkejut mendengar jawaban Kaivan. Tapi ia sangat menghargai kejujuran lelaki itu. Meski demikian, ada perasaan tidak nyaman di hatinya. Haruskah ia kehilangan laki-laki yang dekat dengannya karena orang yang berasal dari lingkaran mantan suaminya?Zivanya buru-buru menepis pikiran itu, merutuki dirinya sendiri di dalam hati. ‘Kenapa aku harus merasa sebal? Kaivan bebas punya masa lalu dengan siapa pun.’"Aku menceritakan ini bukan agar kamu kepikiran. Aku cuma nggak mau menyembunyikan apa pun. Apalagi kita sudah sedekat ini. Amanda udah jadi masa lalu. Jauh sebelum kita dekat.” Kaivan menjelaskan lebih lanjut lantaran Zivanya hanya diam. "Aku nggak apa-apa, Kai. Sungguh. Aku cuma agak kaget aja. Dunia ternyata sesempit itu ya? Mantan kamu ternyata berasal dari lingkaran yang nggak jauh-jauh dari Ariyan.”Kaivan menganggukkan kepala, menyetujui ironi tersebut. "Sangat sempit. Makanya aku langsung menolak. Selain karena aku nggak mau terlibat lagi dengan dia, aku ju












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Mga Ratings
RebyuMore