Share

Pernikahan Tanpa Sebab

Penulis: Cuwita
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-12 23:33:02

"Keadaan James Rosendale masih menjadi pertanyaan besar dikalangan masyarakat. Keluarga korban terlihat mengunjungi rumah sakit yang kini menjadi tempat pengobatan James Rosandale. Kabar selanjutnya akan kami input di berita sore nanti."

Jaeden mengepalkan kedua tangannya, dia mengamati dengan seksama liputan terkini tersebut.

"Cari tahu sebabnya," titah Jaeden pada Dhruv.

"Siap Tuan, tapi apa mungkin ini ulah wilayah barat?" Jaeden mengamati.

"Kemungkinan dia ingin mencari muka di depan Ketua
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istri Tawanan Pembunuh Bayaran   Menuntaskan Hasrat

    "Eughh Jae...."Keola kehabisan napas, sayangnya Jaeden masih kurang puas mengecupi bibir Keola. Rasanya bibir Keola kebas dan bengkak sekarang. Jaeden yang kemarin tak ada apa-apanya, saat ini pria itu lebih buas dan sangat nafsu. "Hentikan!" Keola berteriak di telinga Jaeden. "Tidak bisa," balas Jaeden parau. Suaranya sangat berat.Jaeden mengangkat tubuh Keola dan membaringkannya dengan hati-hati. Keola terjebak tak bisa berkutik di bawah tubuh Jaeden. Tangan kanan Jaeden meremas da-da Keola bergantian, menghidu aroma tubuh Keola pada ceruk lehernya. Jaeden kecanduan dengan aroma red roses di tubuh Keola, di sana di sisi leher Keola, Jaeden membuat cap merah yang sangat kentara. Keola seperti disengat listrik, tubuhnya menegang saat Jaeden mengisap puncak da-danya. Sangat kasar dan menuntut, hisapannya mampu membuat da-da Keola mengencang. Jaeden berhasil meloloskan piyama yang dikenakan oleh istrinya, tampilan lekuk tubuh yang sangat sempurna, pinggangnya yang kecil dan ramping

  • Istri Tawanan Pembunuh Bayaran   Bukan Mengabaikannya

    Keola terbangun dengan keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Kepalanya sudah tidak pusing hebat seperti kemarin malam, hanya saja demamnya masih belum turun juga. Keola menyadari ada seseorang di belakangnya. Tangan itu, tangan kekar yang kini melingkari perutnya sangat dekat, bahkan napasnya yang teratur berhembus di belakang kepala Keola. Degup jantung Keola berdetak tak karuan, antara kesal dan aneh saat Jaeden menempel padanya. Keola ingin bangkit, pelan-pelan dia mengangkat tangan Jaeden. Tanpa kata dan tanpa menoleh sedikit pun ke arah suaminya, Keola bersusah payah memindahkan tangan Jaeden yang berat. Dia tidak ingin sang tuan terbangun, Keola masih belum bisa menerima keberadaan pria itu di dalam hidupnya. "Tidurlah sebentar lagi." Jaeden menarik tubuh Keola semakin dekat."Le-lepaskan! Aku ingin ke kamar mandi." Jaeden tidak mendengarkan, justru dia mengeratkan pelukannya. Napas Keola tercekat, darahnya berdesir saat tahu bahwa Jaeden tidak memakai pakaiannya. Seperti

  • Istri Tawanan Pembunuh Bayaran   Perasaan Yang Tak Adil

    "Kau bebal sekali! Berapa kali aku katakan untuk diam saja di mansion?" Dokter Clara memasukkan perlengkapan dokternya ke dalam koper kecil berwarna abu-abu. Jaeden seola tidak mendengarkan ucapan dokter sekaligus temannya itu. Pandangannya terus berpusat pada wajah Keola yang terlihat pucat. "Hei, apa kau paham?" Clara mencubit lengan Jaeden dan barulah pria itu memperhatikannya. "Emm....""Clara, apa dia baik-baik saja? Maksudku, emm dia memang tidak baik tapi apakah keadaannya mengkhawatirkan? Dia seperti ini mungkin karena aku, pagi-pagi kemarin dia tampak sehat. Namun, setelah tadi malam...." Keola tergugu, dia sungguh khawatir karena takut seseorang terluka karenanya. "Keola." Clara menggenggam kedua tangan Keola. "Dia baik-baik saja, hanya jahitannya robek dan tidak infeksi," terang Clara menenangkan Keola. "Entah apa yang dilakukan pria ini sampai-sampai jahitannya robek begitu." Clara mencebit sembari menatap wajah Jaeden yang datar-datar saja. Keola tertegun, dia mati

  • Istri Tawanan Pembunuh Bayaran   Dihujam Kenikmatan

    "Mma-maafkan aku!" Keola melepas erangannya dan mampu membuat Jaeden tertawa puas. Sekali lagi tangan Jaeden bermain-main dibagian itu hingga nafas Keola tak beraturan dan kian cepat. Jaeden menambah ritmenya. Dan.... Keola berteriak saat melepaskannya. Napasnya naik turun, keringatnya mulai mengalir dari kedua pelipis. Sial, melihat wajahnya yang pucat membuat Jaeden semakin menginginkannya. Jaeden menarik tengkuk Keola hingga duduk berhadap dengan Jaeden, pria itu semakin gila mengi-sap bibir ranum istrinya itu. Keola hanya pasrah dengan kedua tangannya berpangku di atas dada Jaeden. Nikmat dunia yang sama-sama baru mereka rasakan. Jaeden tak membiarkan pangutannya terlepas, mendorong tubuh Keola lagi untuk berbaring dengan nyaman. Bagian bawahnya lebih sesak, lihai sekali sebelah tangan Jaeden saat melepas keseluruhan pakaiannya. "Mmpphhh, euughhh...." "Ya, lepaskan jangan ditahan," bisik Jaeden lembut. "Jae... Aku...." Keola menahan pa-ha Jaeden yang hendak masuk. "Jangan, a

  • Istri Tawanan Pembunuh Bayaran   Untuk Malam Pertama

    "Kau tidak apa-apa?" Keola membantu pria yang baru saja disiksa oleh Jaeden untuk duduk tegap. "Ny-nyo-nya... Sssstttt." Pria itu memegangi dadanya yang nyeri. Keola semakin geram, Jaeden benar-benar sangat jahat. Dia menyakiti anak buahnya yang selalu patuh dan menjalankan perintah. Namun, Jaeden balas dengan penyiksaan. Sebagai sesama manusia hati Keola sangat tersentil akibat ulah Jaeden tersebut. Keola kembali berdiri di depan Jaeden. Tatapan saling mematikan, Keola bisa melihat kedua tangan Jaeden mengepal kuat. "Mengapa kau menyiksanya? Tidak hanya aku yang kau sakiti, tapi mereka juga?" "Kamu tidak perlu ikut campur. Ini masalah laki-laki." Jaeden mengeram dan menahan amarahnya."Tidak perlu memakai kekerasan.""Diam!""Aku tidak akan diam, karena kamu sungguh kelewatan. Kamu adalah pria jahat yang pernah aku temui," terang Keola kian memuncakkan kekesalan Jaeden."Bagaimana bisa dia ada di sini, huh?" Jaeden mengedarkan pandangannya ke arah anak buahnya. Mereka semua han

  • Istri Tawanan Pembunuh Bayaran   Peperangan Kecil

    "Tim Alpha bergerak mengikutiku dan Tuan. Tuan akan memimpin langsung pertarungan ini, kita harus melindunginya.""Baik." Serempak bergema dan terdengar pada earphone yang dikenakan Jaeden. Dia tidak perlu memberi aba-aba, hanya dengan satu perintah yang diteruskan oleh Dhruv. "Jika keadaan menghimpit, Tim Beta lakukan penyerangan disetiap sayap.""Baik."Jaeden melangkah dengan gagah, wilayah barat yang sangat familiar dipenglihatannya karena dulu Gibson sering membawa Jaeden dan Noah berlatih bela diri di tempat ini. Hingga setelah dewasa Gibson memberikan wilayah timur untuk Jaeden dan barat kepada Noah. Sejak hari itu Jaeden tidak pernah lagi menginjakkan kaki di tanah ini. Waktu kian menggelap, tetapi tak ada rasa takut dibenak Jaeden saat menyusuri jalanan setapak yang di sekelilingnya diselimuti oleh hutan. Suasana tampak sunyi dan dingin, Jaeden bisa mencium pergerakan dari anak buah Noah."Rupanya mereka telah menunggu kedatanganku." Jaeden tersenyum miris. Anak buah Jaede

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status