Se connecter"Aku harus bersembunyi...." Malam itu menjadi malam yang menakutkan bagi Keola karena dia harus menghindar dari kejaran orang jahat. Jaeden yang menjadi pemimpinnya berusaha untuk membunuh Keola. Malam yang gelap tak menyurutkan semangat Keola untuk berlari. Namun naas, dia tertangkap, dan dia tidak bisa bergerak karena kepungan dari pria-pria bertubuh besar itu. Niat Jaeden lenyap saat hendak membunuh Keola, tetapi ide gila muncul untuk menikahi Keola. Semua orang terkejut, Jaeden memiliki alasan sendiri saat melihat wajah polos Keola. Menjadi istri tawanan yang tidak pernah bisa lepas dari genggaman Jaeden, Keola berusaha untuk pergi dan membalaskan dendam akan rasa sakit yang selama ini ia terima. Akankah Keola bisa bebas dari hidupnya yang saat ini kelam?
Voir plusThe rain fell in relentless sheets, blurring the glittering skyline of New York into a watercolor of dashed dreams.
Elara Vance stood shivering under the inadequate awning of a cafe, her cheap umbrella turned inside out and useless in her hand. The downpour felt like a fitting metaphor for her life: a complete and total washout. Inside her pocket, her phone buzzed for the tenth time. She didn't need to look to know it was another call from the hospital, another polite but firm reminder that the clock was ticking on her father's medical bills. The number on the final notice was so large it felt abstract, a figure from a nightmare, not her reality. A sleek, black Rolls-Royce, silent and imposing as a shark, pulled up to the curb, its tires displacing a wave of gutter water. Elara barely glanced at it, lost in her own misery. People like that lived in a different world, a world where problems were solved with a signature on a check. Which is why she jumped when the rear door opened and a deep, authoritative voice cut through the drumming rain. "Elara Vance." She froze, her heart hammering against her ribs. Standing there, holding the door, was a man in a impeccably tailored suit. He looked… expensive. And he knew her name. "Do I know you?" she asked, her voice barely a whisper against the storm. "Get in," he said. It wasn't a request; it was a command, delivered with the calm expectation of being obeyed. Desperation made people do foolish things, but it also stripped them of caution. Soaking, cold, and with nothing left to lose, Elara slid into the luxurious, leather-scented interior of the car. The door thudded shut, sealing her in a cocoon of silence and wealth. Across from her, the man assessed her with cold, calculating eyes the color of a winter storm. He was devastatingly handsome, but in a way that felt dangerous, like a beautifully crafted sword. "My name is Kaelan Thorne," he said. Elara’s breath hitched. The Kaelan Thorne. CEO of Thorne Industries, a man whose name was synonymous with power, ruthlessness, and unimaginable wealth. The man whose hostile takeover had indirectly led to her father's company collapsing, a stress that had contributed to his recent heart attack. The irony was a bitter pill in her throat. "What do you want with me?" she managed to ask, her knuckles white as she clutched her ruined purse. He leaned forward, his gaze intense. "I have a business proposition for you." He slid a tablet across the seat. On it was a document titled "CONTRACT OF CONVENIENCE." Elara’s eyes scanned the text, her disbelief growing with each word. · Term: One Year. · Role: Act as the fiancée, and subsequently wife, of Kaelan Thorne for public appearances and family obligations. · Compensation: Twenty million dollars, payable upon successful completion of the contract term. · Conditions: No emotional attachment. Strictly a professional arrangement. All rules to be outlined in Appendix A. She stared at him, utterly dumbfounded. "You're insane." "Am I?" he countered, his voice dangerously soft. "I need a wife to secure a business deal with a notoriously traditional foreign investor. You need money to save your father. I've done my research, Ms. Vance. You are presentable, intelligent, and most importantly, desperate. This is a simple transaction." The word desperate stung because it was true. Twenty million dollars. It would not only cover her father's bills but also give him the best care, a comfortable life, a future. All she had to do was sell a year of her life. "And what happens after a year?" she whispered. "We stage an amicable separation. You walk away with your money, and I walk away with my merger. We both get what we want." He made it sound so simple. But as she looked into his cold, unreadable eyes, Elara knew nothing about this man was simple. "This is Appendix A," he said, tapping the screen to reveal another page. It was a list of rules. Rule 1: You will reside in my penthouse for the duration of the contract. Rule 2: All public displays of affection will be for show only and will be dictated by me. Rule 3: You will not interfere with my business or personal life. Rule 4: Under no circumstances are you to fall in love with me. Elara almost laughed at the last one. Fall in love with this iceberg? Impossible. He produced a pen. It was heavy, solid silver. "Do we have a deal, Ms. Vance?" Outside, the rain continued to fall. Inside, her future hung in the balance. She thought of her father's weary smile, of the stack of bills on her kitchen table, of the crushing weight of her debt. This was madness. But it was a madness that offered a way out. Her hand trembled as she reached for the pen. Their fingers brushed, and a jolt, unexpected and electric, shot up her arm. His stormy eyes flickered with a hint of surprise, so brief she thought she might have imagined it. Then, she scrawled her name at the bottom of the screen—Elara Vance—selling her freedom for a price. Kaelan Thorne allowed a thin, cold smile to touch his lips. "Excellent," he said. "Welcome to the arrangement, darling.""Eughh Jae...."Keola kehabisan napas, sayangnya Jaeden masih kurang puas mengecupi bibir Keola. Rasanya bibir Keola kebas dan bengkak sekarang. Jaeden yang kemarin tak ada apa-apanya, saat ini pria itu lebih buas dan sangat nafsu. "Hentikan!" Keola berteriak di telinga Jaeden. "Tidak bisa," balas Jaeden parau. Suaranya sangat berat.Jaeden mengangkat tubuh Keola dan membaringkannya dengan hati-hati. Keola terjebak tak bisa berkutik di bawah tubuh Jaeden. Tangan kanan Jaeden meremas da-da Keola bergantian, menghidu aroma tubuh Keola pada ceruk lehernya. Jaeden kecanduan dengan aroma red roses di tubuh Keola, di sana di sisi leher Keola, Jaeden membuat cap merah yang sangat kentara. Keola seperti disengat listrik, tubuhnya menegang saat Jaeden mengisap puncak da-danya. Sangat kasar dan menuntut, hisapannya mampu membuat da-da Keola mengencang. Jaeden berhasil meloloskan piyama yang dikenakan oleh istrinya, tampilan lekuk tubuh yang sangat sempurna, pinggangnya yang kecil dan ramping
Keola terbangun dengan keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Kepalanya sudah tidak pusing hebat seperti kemarin malam, hanya saja demamnya masih belum turun juga. Keola menyadari ada seseorang di belakangnya. Tangan itu, tangan kekar yang kini melingkari perutnya sangat dekat, bahkan napasnya yang teratur berhembus di belakang kepala Keola. Degup jantung Keola berdetak tak karuan, antara kesal dan aneh saat Jaeden menempel padanya. Keola ingin bangkit, pelan-pelan dia mengangkat tangan Jaeden. Tanpa kata dan tanpa menoleh sedikit pun ke arah suaminya, Keola bersusah payah memindahkan tangan Jaeden yang berat. Dia tidak ingin sang tuan terbangun, Keola masih belum bisa menerima keberadaan pria itu di dalam hidupnya. "Tidurlah sebentar lagi." Jaeden menarik tubuh Keola semakin dekat."Le-lepaskan! Aku ingin ke kamar mandi." Jaeden tidak mendengarkan, justru dia mengeratkan pelukannya. Napas Keola tercekat, darahnya berdesir saat tahu bahwa Jaeden tidak memakai pakaiannya. Seperti
"Kau bebal sekali! Berapa kali aku katakan untuk diam saja di mansion?" Dokter Clara memasukkan perlengkapan dokternya ke dalam koper kecil berwarna abu-abu. Jaeden seola tidak mendengarkan ucapan dokter sekaligus temannya itu. Pandangannya terus berpusat pada wajah Keola yang terlihat pucat. "Hei, apa kau paham?" Clara mencubit lengan Jaeden dan barulah pria itu memperhatikannya. "Emm....""Clara, apa dia baik-baik saja? Maksudku, emm dia memang tidak baik tapi apakah keadaannya mengkhawatirkan? Dia seperti ini mungkin karena aku, pagi-pagi kemarin dia tampak sehat. Namun, setelah tadi malam...." Keola tergugu, dia sungguh khawatir karena takut seseorang terluka karenanya. "Keola." Clara menggenggam kedua tangan Keola. "Dia baik-baik saja, hanya jahitannya robek dan tidak infeksi," terang Clara menenangkan Keola. "Entah apa yang dilakukan pria ini sampai-sampai jahitannya robek begitu." Clara mencebit sembari menatap wajah Jaeden yang datar-datar saja. Keola tertegun, dia mati
"Mma-maafkan aku!" Keola melepas erangannya dan mampu membuat Jaeden tertawa puas. Sekali lagi tangan Jaeden bermain-main dibagian itu hingga nafas Keola tak beraturan dan kian cepat. Jaeden menambah ritmenya. Dan.... Keola berteriak saat melepaskannya. Napasnya naik turun, keringatnya mulai mengalir dari kedua pelipis. Sial, melihat wajahnya yang pucat membuat Jaeden semakin menginginkannya. Jaeden menarik tengkuk Keola hingga duduk berhadap dengan Jaeden, pria itu semakin gila mengi-sap bibir ranum istrinya itu. Keola hanya pasrah dengan kedua tangannya berpangku di atas dada Jaeden. Nikmat dunia yang sama-sama baru mereka rasakan. Jaeden tak membiarkan pangutannya terlepas, mendorong tubuh Keola lagi untuk berbaring dengan nyaman. Bagian bawahnya lebih sesak, lihai sekali sebelah tangan Jaeden saat melepas keseluruhan pakaiannya. "Mmpphhh, euughhh...." "Ya, lepaskan jangan ditahan," bisik Jaeden lembut. "Jae... Aku...." Keola menahan pa-ha Jaeden yang hendak masuk. "Jangan, a
"Kau sudah gila." Keola tersulut emosinya. Sungguh dia tidak menyukai Jaeden yang acap kali membentaknya. Pria itu selalu seenaknya berbuat dan berbicara dengan keras terhadap Keola. Gadis itu kian benci, jika bukan karena kondisi Jaeden yang hampir meninggal, Keola tidak akan menggunakan sisi kem
"Itu bukan luka tusuk biasa, tetapi ada racun di tubuh Jaeden. Sepertinya pisau yang menusuk perutnya dibaluri racun," terang Clara menjelaskan penyebab ambruknya Jaeden. "Untung saja tidak mematikan, tetapi namanya racun harus ditangani dengan baik. Aku sudah mengeluarkan racunnya, tolong awasi d
Citttt....Suara decitan dari ban mobil terdengar nyaring. Jaeden menghentikan mobilnya seketika saat mobilnya dihadang oleh kendaraan lain. Jaeden memukul kemudi, berani-beraninya ada yang menghalangi jalannya.Jaeden tidak langsung keluar, dia menunggu lawannya untuk keluar terlebih dahulu dari m
"Apa kau sudah menemukan pelakunya?" tanya Jaeden dengan wajah serius, saat ini dia sedang membaca sebuah dokumen yang baru saja Dhruv berikan padanya. "Benar dugaan saya, Tuan. Setelah ditelusuri penyebab kecelakaan itu dari pimpinan wilayah barat. Tapi, dari mana mereka tahu rencana kita?" Dhruv






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.