LOGIN"Aku harus bersembunyi...." Malam itu menjadi malam yang menakutkan bagi Keola karena dia harus menghindar dari kejaran orang jahat. Jaeden yang menjadi pemimpinnya berusaha untuk membunuh Keola. Malam yang gelap tak menyurutkan semangat Keola untuk berlari. Namun naas, dia tertangkap, dan dia tidak bisa bergerak karena kepungan dari pria-pria bertubuh besar itu. Niat Jaeden lenyap saat hendak membunuh Keola, tetapi ide gila muncul untuk menikahi Keola. Semua orang terkejut, Jaeden memiliki alasan sendiri saat melihat wajah polos Keola. Menjadi istri tawanan yang tidak pernah bisa lepas dari genggaman Jaeden, Keola berusaha untuk pergi dan membalaskan dendam akan rasa sakit yang selama ini ia terima. Akankah Keola bisa bebas dari hidupnya yang saat ini kelam?
View More"Eughh Jae...."Keola kehabisan napas, sayangnya Jaeden masih kurang puas mengecupi bibir Keola. Rasanya bibir Keola kebas dan bengkak sekarang. Jaeden yang kemarin tak ada apa-apanya, saat ini pria itu lebih buas dan sangat nafsu. "Hentikan!" Keola berteriak di telinga Jaeden. "Tidak bisa," balas Jaeden parau. Suaranya sangat berat.Jaeden mengangkat tubuh Keola dan membaringkannya dengan hati-hati. Keola terjebak tak bisa berkutik di bawah tubuh Jaeden. Tangan kanan Jaeden meremas da-da Keola bergantian, menghidu aroma tubuh Keola pada ceruk lehernya. Jaeden kecanduan dengan aroma red roses di tubuh Keola, di sana di sisi leher Keola, Jaeden membuat cap merah yang sangat kentara. Keola seperti disengat listrik, tubuhnya menegang saat Jaeden mengisap puncak da-danya. Sangat kasar dan menuntut, hisapannya mampu membuat da-da Keola mengencang. Jaeden berhasil meloloskan piyama yang dikenakan oleh istrinya, tampilan lekuk tubuh yang sangat sempurna, pinggangnya yang kecil dan ramping
Keola terbangun dengan keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Kepalanya sudah tidak pusing hebat seperti kemarin malam, hanya saja demamnya masih belum turun juga. Keola menyadari ada seseorang di belakangnya. Tangan itu, tangan kekar yang kini melingkari perutnya sangat dekat, bahkan napasnya yang teratur berhembus di belakang kepala Keola. Degup jantung Keola berdetak tak karuan, antara kesal dan aneh saat Jaeden menempel padanya. Keola ingin bangkit, pelan-pelan dia mengangkat tangan Jaeden. Tanpa kata dan tanpa menoleh sedikit pun ke arah suaminya, Keola bersusah payah memindahkan tangan Jaeden yang berat. Dia tidak ingin sang tuan terbangun, Keola masih belum bisa menerima keberadaan pria itu di dalam hidupnya. "Tidurlah sebentar lagi." Jaeden menarik tubuh Keola semakin dekat."Le-lepaskan! Aku ingin ke kamar mandi." Jaeden tidak mendengarkan, justru dia mengeratkan pelukannya. Napas Keola tercekat, darahnya berdesir saat tahu bahwa Jaeden tidak memakai pakaiannya. Seperti
"Kau bebal sekali! Berapa kali aku katakan untuk diam saja di mansion?" Dokter Clara memasukkan perlengkapan dokternya ke dalam koper kecil berwarna abu-abu. Jaeden seola tidak mendengarkan ucapan dokter sekaligus temannya itu. Pandangannya terus berpusat pada wajah Keola yang terlihat pucat. "Hei, apa kau paham?" Clara mencubit lengan Jaeden dan barulah pria itu memperhatikannya. "Emm....""Clara, apa dia baik-baik saja? Maksudku, emm dia memang tidak baik tapi apakah keadaannya mengkhawatirkan? Dia seperti ini mungkin karena aku, pagi-pagi kemarin dia tampak sehat. Namun, setelah tadi malam...." Keola tergugu, dia sungguh khawatir karena takut seseorang terluka karenanya. "Keola." Clara menggenggam kedua tangan Keola. "Dia baik-baik saja, hanya jahitannya robek dan tidak infeksi," terang Clara menenangkan Keola. "Entah apa yang dilakukan pria ini sampai-sampai jahitannya robek begitu." Clara mencebit sembari menatap wajah Jaeden yang datar-datar saja. Keola tertegun, dia mati
"Mma-maafkan aku!" Keola melepas erangannya dan mampu membuat Jaeden tertawa puas. Sekali lagi tangan Jaeden bermain-main dibagian itu hingga nafas Keola tak beraturan dan kian cepat. Jaeden menambah ritmenya. Dan.... Keola berteriak saat melepaskannya. Napasnya naik turun, keringatnya mulai mengalir dari kedua pelipis. Sial, melihat wajahnya yang pucat membuat Jaeden semakin menginginkannya. Jaeden menarik tengkuk Keola hingga duduk berhadap dengan Jaeden, pria itu semakin gila mengi-sap bibir ranum istrinya itu. Keola hanya pasrah dengan kedua tangannya berpangku di atas dada Jaeden. Nikmat dunia yang sama-sama baru mereka rasakan. Jaeden tak membiarkan pangutannya terlepas, mendorong tubuh Keola lagi untuk berbaring dengan nyaman. Bagian bawahnya lebih sesak, lihai sekali sebelah tangan Jaeden saat melepas keseluruhan pakaiannya. "Mmpphhh, euughhh...." "Ya, lepaskan jangan ditahan," bisik Jaeden lembut. "Jae... Aku...." Keola menahan pa-ha Jaeden yang hendak masuk. "Jangan, a












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.