Share

7 || Kelancangan seorang maid

Grazella terlihat keluar dari lift bersama Sheryl, dan duduk di depan Wiliam. Sementara Gabriel tidak merespon, dia masih emosi dengan gadis itu. "Nona, mau makan apa?" Sheryl terlihat mengambil piring dan mel4yani sang Nona.

"Salad saja, Ryl" Grazella makan dengan hati hati, karena lidahnya sangat sakit, Meskipun sudah di obati.

Nyatanya Gabriel sangat perduli dengan gadisnya. Pria itu menghubungi Dokter, untuk mengobati luka di lidah Grazella.

"Per favore prendi un po' di latte,"

'Tolong ambilkan susu,'

Salah satu maid dengan sigap mengambilnya di kulkas. Suara dingin itu membuat Grazella mendongakkan wajahnya. Wajah dingin Gabriel terlihat sedikit bengkak, mungkin karena tamparan yang ia berikan. Sementara dirinya sudah membaik berkat cream yang di berikan Dokter tadi.

Salah satu maid membawa susu, dan meletakan di meja.

"Silahkan, Tua ...."

Gelas itu sudah jatuh dengan cantiknya di bawah.

"Apa yang kau, lakukan!" Gabriel terlihat naik pitam.

Wajah pria itu sudah bak iblis, yang butuh mangsa. Bukannya menjawab, maid itu justru asik menatap Grazella dengan tatapan ....

Kepala maid itu menundukkan kepalanya, kedua tangan paruh baya itu dibasahi oleh keringat dingin. Dia benar-benar takut, dia tau salah satu anak buahnya ini pasti tidak akan selamat. Lututnya pun sudah lemas tak bertenaga. Saat melihat tidak ada jawaban dari anak buahnya, paruh baya itu mendongak, dan menatap tajam sang maid.

Bagaimana bisa, dia berani menatap Nona–nya dengan tatapan seperti itu.

"Tania! Perhatikan pandanganmu!" Seketika maid itu tersadar, dia pun seperti orang bodoh yang kehilangan akalnya.

"Ma-maaf Tuan. maaf." Maid itu langsung berlutut, menghadap Tuannya.

"Apa sangat jelek?"

"Huh?" Maid itu terkejut melihat, Tuannya malah bertanya.

"Wajahnya memang sangat jelek. Lihatlah jerawatnya? Sangat menjijikan! Bukankah begitu?" Gabriel menekankan kata menjijikan, dengan melihat ke arah Grazella, gadis itu meremas kuat dress–nya.

Seluruh maid yang ada di sana, melotot sempurna. Sheryl terlihat menatap sendu ke arah sang Nona. Wiliam pun terlihat mengepalkan tangannya.

"I- iya, Tuan." Maid itu sedikit ragu menjawab, Gabriel tersenyum miring mendengar jawaban sang maid.

"Malangnya nasibku, harus hidup bersamanya seumur hidup,"

"Apakah, Anda dijodohkan, Tuan?" Dengan lancangnya maid itu berucap, dan menatap ke arah Gabriel.

Bibi Margaret hanya menghela nafas kasar, dia sudah tau endingnya akan seperti apa. Salah satu maid yang sedang menunduk berbaris, dengan para maid lain nampak tersenyum cerah.

"Dasar bodoh! Tapi bagus, agar gadis j4lang itu sadar, kalo dia tidak pantas untuk Tuan Gabriel! Hanya aku yang pantas!" batinnya tersenyum cerah.

Gabriel beranjak dan menghampiri maid tersebut "Menurutmu, siapa yang pantas bersanding denganku, h'm?" Maid itu terkejut saat Tuannya ikut berjongkok, dan menyentuh dagunya, serta mendongakkan wajahnya.

Maid itu yakin kalau Tuannya ini menyukainya. Dia membulatkan matanya saat jari Gabriel menyentuh bibirnya, terlihat pria itu semakin mendekatkan kepalanya ke wajah sang maid, Grazella meremas kuat dress–nya melihat pemandangan itu.

"Dasar, brengs3k!" batin Grazella mengepalkan tangannya.

Maid itu sangat terkejut, mendengar apa yang di ucapkan Gabriel. "Apa kau juga mau, menjadi kekasihku?" Maid itu terlihat gugup bukan main.

"Siapa pun yang anda sukai, Tuan. Karena menurut saya, gadis itu tidak cocok untuk Anda. Wajahnya saja sangat jelek dan rusak, bisa-bisa dia membuat anda malu, Tuan" Entah keberanian dari mana gadis itu sanggup melanjutkan kata-katanya.

"Saya juga, mau bersama Anda, Tuan." Maid itu tersenyum lebar.

"Hahaha. Aku suka ini. Ternyata di mansionku ada gadis yang sangat pintar!" Gabriel lebih mendekati maid itu.

Grazella sudah muak, meskipun dia tidak mengerti apa yang diucapkan dua sejoli ini, dia tau jelas kalau yang dibahas adalah wajahnya. Mata gadis itu sudah berembun, dia terlihat berdiri, dan berbalik. Grazella ingin menuju kamarnya saja.

Suara tembakan itu membuat sang gadis terdiam.

Grazella segera membalikan badannya, terlihat maid itu sudah menuju alam baka.

"Leon!" Semua maid dan bibi Margaret pun sontak melotot sempurna.

Bukan karena pemandangan mengerikan itu, tetapi suara Grazella yang dengan lantangnya menyebut nama itu.

Bukan rahasia umum nama tersebut sangat keramat, siapa pun yang berani memanggilnya dengan nama itu, detik itu juga dia akan menuju alam baka. Bahkan Tuan Besar Mattew yang ayahnya saja, pernah hampir menuju Sang Tuhan kala memaksa memanggil nama tersebut.

Belum sadar atas rasa terkejutnya, suara menggelikan menambah senam jantung mereka. "Maaf, sayang ... tanganku gatal, dan tidak sengaja menembaknya, h'm?" Wiliam menjatuhkan rahangnya. Astaga ... jangan sampai para musuhnya melihat hal menjijikan ini, bisa hancur imagenya.

Grazella benar benar tak habis pikir, dengan pria itu. Bisa-bisanya dia membunuh manusia seperti membunuh nyamuk, sangat mudah.

"Siapa kamu sebenarnya, Leon?" batinnya menatap selidik ke arah Gabriel .

Gabriel menyembunyikan identitas aslinya, dia hanya mengatakan bahwa dia pengusaha sukses di Italia, dan pistol itu legal di sana, para maid dan bodyguard pun sudah ia briefing untuk tutup mulut.

Gadis itu hanya bisa percaya, karna memang dia tidak tau apa-apa. Grazella hanya seorang gadis Indonesia yang hidupnya penuh dengan kesengsaraan, di otaknya hanya ada uang, uang dan uang.

Gabriel menghampiri Grazella dan mengusap lembut wajah gadis itu. "Aku harus bekerja, nanti sore aku akan mengajakmu keluar, sekarang beristirahatlah."

Bibir kenyal pria itu mengecup bibirnya. Grazella hanya terdiam dengan mata melotot, Gabriel tersenyum geli melihat ekspresi lucu gadis itu.

"Jangan nakal, El. Aku akan segera kembali," ucap Gabriel dengan senyum manisnya.

Gabriel meninggalkan mansion, dengan Wiliam di belakangnya. Para anak buahnya masih sibuk membersihkan area meja makan.

Pria itu tidak tahan berlama lama mendiami gadisnya. Grazella memilih segera masuk ke kamar.

Gadis itu mengunci kamar dari dalam, setelahnya masuk ke kamar mandi. Dia membersihkan area pay*dara. Sesuatu berwarna putih keluar dengan deras.

"Kenapa sa-kit sekali, karena tidak aku keluarkan." Gadis itu keluar dari kamar mandi, dan mengambil paper bag yang ada di dalam lemari. Grazella kembali ke kamar mandi.

Di hadapan cermin wastafel, ia mulai menempelkan ujung benda, yang berbentuk corong pada payud4ranya. Satu tangan memegang botol penampung asi, yang langsung terhubung dengan corong, yang tertempel pada payud4ra.

Grazella menghidupkan mesinnya.

"Akh ... sakit." Gadis itu menggigit bibirnya karena merasakan nyeri di sana.

Tak terasa satu botol itu sudah penuh, dia melepas alatnya, dan segera memakai kembali pakaiannya. Gadis itu menggeram kesal karna masih saja masakan nyeri di payudar*nya.

"Apa masih ada, ya? Biasanya juga cuma sebotol" Asi itu belum juga habis, dari saran sang Dokter, gadis itu harus memompa sampai benar-benar habis, kalau tidak ingin merasakan nyeri.

Grazella menuju walk in closet untuk mengganti bajunya, karena dia sangat tidak nyaman memakai dress. Matanya membulat sempurna.

Bagaimana tidak? Semua baju yang ada di sana tidak layak pakai, baju itu hanya menutupi bagian intim saja.

Yah ... lemari besar itu, hanya ada berbagai jenis lingerie.

"Baju laknat begini, masih saja di simpan! Dasar pria m3sum!" Gadis itu kembali memakai dress, dan turun ke bawah.

Saat membuka kulkas matanya berbinar senang, di sana bagaikan surga untuknya. Berbagai jenis camilan dan coklat terpampang nyata, tapi bukan itu yang dia cari, dia pun mengedarkan pandangannya.

"Yes!" Grazella berteriak kegirangan.

To be continued...

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status