Share

5. KEMANA INI?

Penulis: NONA_DELANIE
last update Terakhir Diperbarui: 2023-11-27 11:46:16

Melisa terpaku dengan tatapan Jimmy yang sangat memabukkan. Ia pernah melihat itu, tapi … entah dimana, ia lupa.

“Tu-tuan, lepaskan saya. Saya janji untuk tidak—”

“Jangan bersikap seperti para asisten rumah tangga di sini. Kamu milikku, kamu calon nyonya di rumah ini dan tak kuperkenankan kau melakukan aktivitas apa pun!” Begitu tegas ucapan Jimmy, sampai Melisa pun tak berani membantah.

Gadis itu terdiam dan meneguk ludahnya. Rok tutu sepanjang mata kaki tersingkap sedikit ke atas kala terhempas di atas ranjang. Ia memaki lelaki semena-mena ini yang selalu saja bisa membuatnya luluh.

“Cepat mandi dan berdandanlah di lantai atas! Kamarmu ada di sebelah kamarku, aku menunggumu setengah jam lagi,” perintah Jimmy yang sedikit uring-uringan dengan keadaan pada area intimnya. Tegak dan menantang, sementara makanan di hadapan belum dimasak dan tentunya kurang lezat disantap mentah.

“Kita mau kemana, Tuan?” tanya Melisa sambil beringsut menjauh. Hampir saja dia diterkam Kembali.

“Cerewet!” seru Jimmy. Karena tak tahan, ia langsung keluar dari kamar tamu dan mengumpat Kembali.

“Shit! Kenapa harus begini lagi? Kau bangun tak tahu tempat! Kau tak lihat sarangmu belum selesai dibentuk itu? Ck! Kau tak boleh menunjukkan eksistensimu dulu. Kalau dia tahu bentukmu, pasti Melisa akan pingsan!” gerutunya.

Sampai kapan ia harus menahan Hasrat biologis yang sejatinya meminta untuk disalurkan sejak semalam?

Baru saja membuka pintu, Jimmy dikejutkan beberapa asisten rumah tangga yang berjejer di sana.

“Mau apa?” hardiknya tak suka.

“I-itu, Tuan. Nona Melisa tak apa-apa, kan?” Mereka yakin jika sang Tuan pasti akan bertindak buas. Pernah suatu saat Wanita yang dibawa ke rumah tak bisa berjalan sebab digempur semalaman dan Jimmy memilih tak peduli. Mereka sedikit khawatir jika Melisa mengalami hal yang serupa.

“Kalau dia kenapa-napa, memangnya kenapa?” Ketus Jimmy menjawab. Tak ada yang bertanya Kembali, sebab mereka tahu jika Tuannya masih berpakaian lengkap dan tak berkeringat.

Itu artinya … aman!

*****

Jimmy melirik waktu yang melingkar pada pergelangan tangan kanannya. Melisa Kembali telat satu menit dari waktu yang telah ditentukan.

“Anak itu selalu saja telat dan lelet!” sungutnya. Kala Jimmy hendak beranjak, Melisa kemudian datang dari atas tangga. Mengenakan dress berwarna putih, dengan corak bunga lily yang indah.

Jimmy tersenyum sekilas. Tak lama, sebab Melisa buru-buru menatapnya dengan lekat. Sejurus kemudian, ia melirik Melisa yang hanya mengenakan sandal slop biasa.

“Kau yakin hanya menggunakan sandal begitu?” tanya Jimmy sambil menyongsong ke ujung tangga bawah.

“Ganti!” protesnya.

“Sa-saya harus pakai apa, Tuan?” Meneliti kembali penampilannya, Melisa berputar. Roknya mengembang dan sepertinya tak ada kesalahan dengan penampilan.

Jadi, ia harus berganti apa?

Jimmy tak banyak bicara, ia berlari menuju ke sebuah rak sepatu. Semalam didatangkan setelah ia menghubungi toko sepatu mahal di pusat kota. Ukuran kaki Melisa 38, itu saja baru diketahui olehnya sesaat setelah ia membawa Melisa ke atas ranjang.

“Gunakan ini!” Jimmy menyodorkan sebuah high heels hitam ke bawah kaki Melisa.

“Tapi, ….” Ingin menyanggah, namun nyatanya selalu kalah.

“Kau harus beradaptasi dengan semuanya di sini. Sekali lagi kutegaskan, kamu calon Nyonya Saga Jimmy Anderson yang—”

“Sa- Saga ... Jim-Jimmy Anderson?” gagu Melisa menatap dengan mengerjapkan matanya berulang kali.

Jimmy memasang raut wajah datar. Kedua tangan masuk ke saku celana bahan Panjang, pandangannya dibuang ke sembarang arah. Ia salah menyebut nama tadi. Harusnya ini menjadi surprise. Eh, malah keceplosan.

“Jimmy, ….” Menggeleng dan tak percaya, Melisa mendekat sambil memegangi kedua lengan pria itu sambil menatap wajah yang nyatanya sangat tidak asing.

“Om Jimmy! Anaknya Om Erick Anderson, bukan?”

Tanpa sadar, Melisa memeluk pria itu sebentar. “Om Jimmy, Om pernah tinggal di dekat panti asuhan Kasih Bunda, ‘kan?” terkanya girang.

“Bukan!” bantah Jimmy singkat.

“Bohong!” Melisa langsung memegangi lengan kiri pria itu dan membuka kancing kemeja, menggulung lengan kemeja sampai je siku.

“Ini apa? Om mau mengelak jika Om adalah Om ku?”

Sebuah tato di lengan tak dapat membuat Jimmy mengelak. “Kalau sudah tahu, cepat kenakan sepatumu dan kita harus segera pergi!”

Melisa sedikit heran. “Pergi? Pergi ke mana sih? Dari tadi Om—”

“Pelaminan!"

“Hah?”

“Berisik! Cepat pakai sepatumu!”

“Iya!” Melisa sudah tak merasa sungkan. Ia tersenyum dan segera berjongkok. Sementara Jimmy masih menormalkan deru napas yang tak beraturan.

“Santai, Jim Junior. Kita sergap saat waktunya tiba!” Sudah ditidurkan, namun karena sentuhan Melisa, benda serupa tabung di pangkal paha itu Kembali tegak dan membuat sang pemuda dirundung nestapa. Sebab, lahan suburnya belum bisa dibajak dan ditanami benih unggulnya.

Melisa menurut. Selepas mengenakan sepatu hak tinggi yang membuatnya tak nyaman, ia kemudian diajak keluar, masuk ke dalam mobil mewah dan diajak ke suatu tempat.

Melisa terkejut sesampainya ke sana. “Om, kok kita ke sini?”

Hem, kemana agaknya mereka pergi?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Dedi 2r3
jelek ceritanya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Istri Yang Dijual Suami   60. FILM BIRU

    "Dan bisa-bisanya kamu mesum begini saat kita sekamar dengan Andrew. Kalau dia lihat bagaimana?" bisik Melisa tajam, meski rona merah mulai menjalar di pipinya."Makanya, kamu sebagai Mommy-nya, bujuk dia agar mau tidur sendiri," balas Jimmy tidak mau kalah, napasnya serak dan memburu."Ck, kasihan kalau tidur sendiri. Dia jarang dapat kasih sayang dari Mommy-nya dulu," bela Melisa. Ia teringat bagaimana Andrew begitu haus akan perhatian sejak pertama kali mereka bertemu.Jimmy memutar bola matanya. "Kasihan apanya? Di sini sudah biasa kali, banyak kok bayi baru lahir tidurnya sendiri.""Hah? Ck, itu kasihan pokoknya!" Melisa tetap pada pendiriannya. Baginya, membiarkan anak sekecil Andrew tidur tanpa dekapan adalah hal yang tidak tega ia lakukan. Apalagi, momen seperti ini tak akan terulang. "Kasihan terus, tapi sama aku gak kasihan," gerutu Jimmy manja, menunjukkan sisi kekanak-kanakannya yang jarang ia perlihatkan pada orang lain."Kamu sudah gede, tidak perlu dikasihani! Sudah, a

  • Istri Yang Dijual Suami   59. JATAH MALAM YANG GAGAL

    Suasana hangat di meja makan itu mendadak sedikit mendingin, bukan karena suhu udara Brooklyn, melainkan karena ketegasan Jimmy yang tak bisa ditawar."Apa kamu ingin jadi vlogger juga dengan cara merekam semua aktivitas kita? Kalau iya, aku tidak setuju," ujar Jimmy telak.Melisa mengerutkan kening, rasa kecewa mulai membayang di wajahnya. "Kenapa?""Aku tidak ingin kamu terlalu mengekspose kehidupan pribadi kita. Aku suka privasi, Sayang.""Aku tidak akan menunjukkan wajahmu atau wajah Andrew. Hanya keseharianku saja," bela Melisa, mencoba mencari jalan tengah agar keinginannya tetap bisa berjalan."Iya, aku tahu. Tapi, aku tetap tidak suka," balas Jimmy pendek. Tatapannya yang tadi gemas kini berubah menjadi serius, menunjukkan bahwa batasannya soal privasi sangatlah tebal.Melisa menghela napas, ia menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menatap cangkir cokelatnya yang mulai mendingin. "Padahal aku ingin berbagi pengalaman tinggal di sini. Pasti sangat seru.""Apa tujuanmu untuk

  • Istri Yang Dijual Suami   58. BROOKLYN

    Brooklyn sedang memasuki puncak musim gugur. Di sepanjang jalan, pohon-pohon sudah mulai meranggas dan trotoar dipenuhi daun-daun kering. Meski matahari terlihat cerah, namun suhu udara di luar jauh lebih rendah dibanding biasanya.Udara pagi itu terasa sangat dingin. Angin yang berembus pelan tetap saja sanggup menembus pakaian yang cukup tebal, membuat siapa pun yang berlama-lama di luar mulai merasa tidak nyaman.Hal itu pula yang dirasakan Melisa. Begitu ia turun dari mobil, hawa dingin langsung menyergap kulitnya. Ia pun segera merapatkan jaketnya erat-erat, berusaha menahan hangat tubuhnya agar tidak hilang tertiup angin saat ia mulai berjalan."Dingin?" tanya Jimmy. Ia tersenyum kecil sambil mengusap pucuk kepala Melisa yang memang belum terbiasa dengan iklim negara empat musim.Melisa hanya bisa mengangguk pasrah. Giginya mulai bergemeletuk. Sesekali ia meniup-niup telapak tangannya yang polos tanpa sarung tangan, berusaha mencari sedikit kehangatan dari napasnya sendiri.Meli

  • Istri Yang Dijual Suami   57. KAMU AKAN PUNYA ADIK

    Embun pagi masih menempel lembut di daun-daun ketika Melisa terbangun. Seulas senyum mengembang di bibirnya, sebuah senyum yang tak pernah lepas sejak beberapa minggu terakhir. Ia merasakan sebuah keajaiban dalam dirinya, yang membungkam bisikan bisikan miring dari sang ibu mertua sejak dua tahun yang lalu. Beberapa bulan lalu, saat masih menikmati bulan madu pernikahannya dengan Jimmy, bayangan mandul menghantui Melisa. Mantan Ibu mertuanya seringkali menyinggung kesuburannya. Perkataan-perkataan itu, walau terselubung, menusuk hati Melisa. Ia merasa tertekan, beban yang tak seharusnya ia pikul. Namun, takdir berkata lain. Kegembiraan melanda Melisa ketika ia melihat dua garis merah di alat tes kehamilannya. Satu garis tegas, dan satu samar. Hal itu membuat air mata bahagia jatuh bercucuran di pipinya. "Aku hamil! Aku hamil! Aku gak mandul!" Jimmy memeluknya erat, mata mereka berkaca-kaca, berbagi kebahagiaan yang tak terkira. "Sayang, ini adalah anugerah terindah," bis

  • Istri Yang Dijual Suami   56. KAMU HAMIL!

    Sang dokter, seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah, menatap Jimmy dengan penuh perhatian. Suasana di ruang tunggu bandara yang sibuk sedikit terasa teredam oleh kehadiran dokter yang tenang dan percaya diri. Melisa duduk di kursi dengan wajah pucat, tangan memegang perutnya yang terasa mual, sementara Jimmy berdiri cemas di sampingnya.“Tuan, ada yang bisa saya bantu?” tanya sang dokter dengan suara lembut, menatap Jimmy dan Melisa dengan penuh perhatian. Matanya yang tajam, namun penuh pengertian, menenangkan Jimmy sejenak.“Dokter, tolong periksa istri saya. Dia mual dan muntah terus. Saya khawatir dengan keadaannya dan sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Kami harus ke Amerika, tapi jika kondisinya tidak memungkinkan, saya terpaksa kembali ke Indonesia,” jawab Jimmy, suaranya terdengar penuh kecemasan.Dokter itu mengangguk perlahan, memahami ketegangan yang dirasakan oleh pasangan itu. “Baik, Tuan Jimmy. Tunggu sebentar, saya akan memeriksanya,” katanya tenang, lalu

  • Istri Yang Dijual Suami   55. MALAM PERTAMA

    Bunyi klik pintu kamar hotel bergema di ruangan luas yang remang-remang diterangi lampu tidur. Melisa masih berdiri di dekat pintu, tas tangannya digenggam erat. Ia menatap punggung Jimmy yang sedang memeriksa kamar. Presiden Suite Room, sungguh megah. Kamar yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan, dengan pemandangan kota malam yang mempesona dari jendela besar di ujung ruangan. Tapi kemegahan itu tak mampu menghilangkan rasa canggung yang menyelimuti hatinya.Baru beberapa jam yang lalu, ia dan Jimmy masih berdiri di pelaminan, diiringi tepuk tangan dan ucapan selamat dari para tamu undangan. Pernikahan mereka di ballroom hotel yang sama, meriah dan penuh suk acita. Namun, kini, di ruangan pribadi ini, hanya ada mereka berdua, dikelilingi keheningan yang terasa berat.Melisa melangkah perlahan ke arah ranjang besar yang empuk, berhenti di ujungnya. Ia duduk di tepi, menatap Jimmy yang masih sibuk memeriksa fasilitas kamar. Kemewahan kamar presiden s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status