Rahasia Besar Istri Seorang CEO

Rahasia Besar Istri Seorang CEO

last update最終更新日 : 2026-01-22
作家:  sebuahalkisah_たった今更新されました
言語: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
評価が足りません
8チャプター
19ビュー
読む
本棚に追加

共有:  

報告
あらすじ
カタログ
コードをスキャンしてアプリで読む

概要

Drama

Novel Ringan

Dewasa

Arogan

Bos / CEO

Pewaris

Perjodohan

Nikah Kontrak

Benci jadi Cinta

Lima tahun lalu, hidup Nadira Chandra runtuh di Jakarta setelah dijebak adik tirinya, Aurelia Shinta. Satu malam bersama pria tak dikenal berujung kehamilan, lalu tragedi yang menggores sampai ke tulang. Bukannya dirangkul, ia justru dilucuti sahamnya di Wijaya Nusantara Corp oleh ibunya, Ratna Surya, dan ayahnya, Arman Wijaya. Nadira lalu dikurung di rumah sakit jiwa, seolah ia aib yang harus disembunyikan dari hiruk pikuk ibu kota. Ketika Aurelia akan dinikahkan dengan Putra Kedua Keluarga Gunawan, Raka Gunawan, pria yang digosipkan buruk rupa dan berumur pendek, Ratna memilih jalan paling kejam: menarik Nadira keluar semalam saja untuk dijadikan pengganti pengantin. Namun Nadira yang kembali bukan lagi perempuan rapuh yang bisa diinjak. Dengan kecerdasan dan keahlian medisnya, ia membalikkan permainan, membuka satu per satu identitas tersembunyi, dan mengguncang lingkar elite Jakarta. Hingga Raka datang membawa dua anak kecil yang wajahnya seperti gabungan mereka berdua, memaksa Nadira bertanya dalam diam: kapan takdir ini ditulis tanpa sepengetahuannya?

もっと見る

第1話

Bab 1 - Pengantin yang Tertukar

“Berhenti!!!”

Dalam gelap yang sesak, aroma tajam menyeruak seperti asap rokok yang baru saja dipadamkan. Pria itu mendorong Nadira Chandra ke ranjang dengan kasar. Dengan isak tangis, Nadira berusaha mendorong tubuh pria itu, tetapi ia tak kuasa. Tenaga sudah habis terkuras. 

Air mata Nadira jatuh tanpa bisa ditahan.

“Gadis kecil, siapa namamu?” Suara serak pria itu menusuk telinganya. Napasnya yang panas menempel di dekat telinga Nadira.

“Kalau kamu nggak mau sebutin namamu, nggak masalah. Namaku…”

Rasa nyeri yang menohok seketika menembus tubuhnya.

Nadira tersentak, napasnya tercekat, matanya terbuka lebar. Ia menatap lurus ke depan, Ia sadar, tubuhnya tidak lagi berada di ranjang. Ia ada di dalam mobil. Ternyata, semua itu hanyalah sebuah mimpi.

Meski begitu, sebenarnya, sudah beberapa kali buruk itu datang, seperti rekaman yang sengaja diputar ulang untuk mengganggu Nadira.

Nadira menarik napas berat. Wajahnya pucat, ia merasa tak nyaman.  Kejadian lima tahun lalu itu selalu mengejarnya. Kejadian yang membuat Nadira hamil. Namun, ia tidak pernah tahu siapa ayah dari anak yang ia kandung. Belum genap 5 bulan, ia kehilangan bayi itu. Keheningan yang menyusul jauh lebih memekakkan daripada tangis Nadira.

Nadira pernah masuk rumah sakit jiwa. Bukan karena gila. Itu adalah upaya ibu serta adiknya untuk merebut saham Wijaya Nusantara Corp dari Nadira. Empat tahun lebih ia terkunci dari dunia luar.

Di kursi depan, sopir keluarga tak melepas pandangannya pada jalan. Di sebelahnya, Pak Hadi duduk tegak, rapi, seakan tidak ada hal di dunia yang mampu mengusik kerah bajunya.

Ketika melihat Nadira terjaga, ia mengingatkan dengan ekspresi datar, “Nona Nadira, kita hampir sampai di rumah Keluarga Wijaya. Mohon bersiap.”

Nadira tidak menjawab.

Ia menatap keluar jendela. Lampu-lampu pinggir jalan tampak seperti kumpulan bintang, kemacetan mengular, suara klakson terdengar memecah kesunyian yang Nadira rasakan dari dalam mobil. Jakarta terasa lebih mewah dari terakhir kali ia melihatnya, tetapi juga lebih dingin, lebih sesak.

Malam ini Keluarga Wijaya menjemputnya. Nadira paham betul maksud mereka.

Adiknya, Aurelia, akan menikah dengan putra kedua Keluarga Gunawan, Raka Gunawan, pria yang katanya tidak rupawan, dan lebih buruk lagi, konon hanya punya usia hingga tiga puluh tahun. Desas desus itu terdengar di kalangan sosialita seperti gosip yang disiram parfum mahal.

Namun mana mungkin “ibu yang baik” rela Aurelia menikah dengan pria seperti itu?

Maka dari itu, keluarganya memilih jalan yang paling mudah dan paling kejam: Nadira akan menggantikan Aurelia dalam perjodohan dengan Keluarga Gunawan tersebut.

Tatapan Nadira mengeras, dingin seperti es batu yang baru dikeluarkan dari freezer. Tidak ada hangat yang tersisa di wajahnya.

Mobil berhenti tepat di gerbang villa Keluarga Wijaya. Satpam memberi hormat, pagar besi bergerak pelan, dan halaman luas menyambung seperti panggung yang sudah disiapkan.

Nadira turun dan berjalan masuk sendirian. Di bawah lampu taman, bayangannya memanjang, seperti aura kelam yang menutup rapat punggungnya. 

Begitu memasuki ruang tamu, ia melihat pemandangan ironi yang sengaja ditata.

Ratna Surya, ibunya, duduk di sofa, menyisir rambut Aurelia dengan gerakan lembut, seperti sedang merawat sesuatu yang rapuh dan mahal. Aurelia duduk manis, punggungnya tegak, bulu matanya turun, tampak lembut dan patuh.

Suara Ratna terdengar pelan, tapi cukup tajam untuk mengiris, “Syukurlah Nadira yang tidak berguna itu bisa menggantikan adiknya jadi ‘janda’ di keluarga Gunawan. Kalau Aurelia yang menikah ke sana, Mama bisa sakit hati.”

Aurelia mengangkat suara halus, “Ma, jangan bilang begitu tentang Kak Nadira. Kalau bukan karena Kakak… aku tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya khawatir Kakak tidak setuju.”

Di sisi lain, Arman Wijaya, ayah Nadira, duduk dengan selembar kontrak di tangan. Ia mengernyit, lalu mendengus marah, “Aurelia, kamu terlalu baik. Kamu lupa Nadira memfitnahmu lima tahun lalu? Dia tidak punya harga diri. Hamil sebelum menikah, lalu melahirkan bayi yang tidak selamat. Dia seharusnya bersyukur diberi kesempatan menikah dengan keluarga Gunawan! Hak apa dia memilih milih?”

Suara dingin dari pintu memotong percakapan. “Siapa bilang aku tidak akan menolak?”

Tiga orang di sofa itu tersentak, menoleh serempak.

Nadira berdiri di sudut. Ia masih mengenakan baju pasien dan sandal tipis, seolah sengaja memperlihatkan bekas “pengasingan” yang mereka buat. Wajahnya tampak lebih tirus, matanya lebih tajam. Ada sesuatu dalam dirinya yang tidak lagi bisa dipatahkan.

“Ah!” Aurelia menjerit dan buru buru memeluk Ratna, tubuhnya gemetar.

Ratna menepuk punggung Aurelia, menenangkan dengan suara rendah, lalu melotot ke arah Nadira, “Nadira, kamu mau menakuti siapa? Penampilanmu seperti hantu!”

Nadira melangkah masuk tanpa tergesa. Langkahnya sangat tenang. Ia tak ingin orang-orang tahu kelemahannya.

Aurelia mengintip dari pelukan Ratna. Begitu melihat Nadira jelas, Aurelia memaksakan senyuman cerah, seperti topeng yang sudah terlalu sering dipakai.

“Kak Nadira, kamu atkhirnya pulang! Aku merindukanmu” ucapnya pura-pura manis.

Arman meletakkan kontrak, berdiri, dan melangkah cepat ke arah Nadira. Wajahnya memerah oleh amarah yang sudah lama ia simpan.

“Kalau kamu berani menolak, Papa pukul kamu sampai mati!”

Nadira menjawab dengan suara yang tenang namun tatapan sangat tajam, “Kembalikan sahamku sekarang.”

Ia tetap berdiri tenang, tidak mundur selangkah pun.

“Kalau Papa kembalikan itu, baru aku akan pertimbangkan menikah dengan Raka.”

Tangan Arman terangkat hampir memukul, tetapi Nadira mengelak dari tamparan yang meluncur.

Wajah Arman makin memerah. Ia menggeram, “Berani sekali kamu menghindar?”

Nadira melangkah dengan tenang  ke sofa dan duduk santai, seperti sedang bertamu ke rumah orang. Dengan tatapan Ratna dan Aurelia yang terkejut, Nadira menyandarkan tubuhnya dengan santai, lalu menatap Arman dengan tenang.

Ketika Arman melayangkan tangannya, bersiap menghantam, Nadira berkata datar, “Kalau Papa berani menyentuhku, urusan pernikahan selesai. Tidak ada pembicaraan lagi.”

Tangan Arman berhenti hanya sejengkal dari wajah Nadira.

Lebih dari empat tahun ia tidak melihat anak itu. Sekarang Nadira bukan lagi gadis yang bisa ia tarik, dorong, dan bungkam dengan satu ancaman.

Dulu, Arman pernah berniat menikahkan Nadira dengan pria tua seusianya. Alasannya, ya karena uang mahar besar, miliaran rupiah, untuk menutup hutang perusahaan. Namun setelah reputasi Nadira jatuh, pria itu mundur.

Lima tahun lalu, Arman merasa kehilangan miliaran rupiah gara gara Nadira. Perusahaannya hampir gulung tikar. Dan sekarang, di hadapannya, Nadira duduk seperti orang yang memegang kendali, tidak tahu diri.

Baginya, itu bukan hanya pembangkangan. tu penghinaan.

Wajah Arman menghitam. Genggaman tangannya semakin mengencang.

“Pukul saja,” kata Nadira pelan, menantang, “kalau Papa pukul, aku tidak akan menikah.”

Mata Arman berkedip, amarahnya berkecamuk. Hasrat untuk memukul Nadira begitu besar.

もっと見る
次へ
ダウンロード

最新チャプター

続きを読む

読者の皆様へ

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

コメントはありません
8 チャプター
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status