LOGINSelina Athalia Putri tak pernah menyangka hidupnya akan kembali bersinggungan dengan Rendra—laki-laki yang dulu pernah mengisi masa lalunya. Dari kebiasaannya yang bar-bar dan hidup tanpa rencana serius, ia justru dihadapkan pada perjodohan mendadak yang diatur orang tua mereka. Yang lebih mengejutkan, calon suaminya adalah Rendra—mantan yang ia tinggalkan sepuluh tahun lalu tanpa penjelasan. Pertemuan itu membuka luka lama yang belum sepenuhnya sembuh, memaksa mereka duduk berhadapan sebagai dua orang dewasa yang berpura-pura baik-baik saja. Saat gengsi, tuntutan keluarga, dan perasaan lama saling berbenturan, Selin sadar satu hal: kali ini, ia tak bisa lagi kabur tanpa harus menghadapi akibatnya.
View More“KAMU PULANG JAM BERAPA TADI MALAM?!”
Belum lima menit Selin membuka mata, suara Mamanya, Sekar sudah naik satu oktaf dari balik pintu kamar. Selin meringkuk di bawah selimut, rambutnya acak-acakan, wajah kusut, mata masih berat. Ia mengedip dua kali. “Jam. . . dua?” Suaranya serak. “kayaknya.” “KAYAKNYA?!” Mama meledak. Selin menarik selimut lebih tinggi, seolah kain itu bisa menyelamatkannya dari ceramah pagi. “Selina Athalia Putri.” Mama melangkah masuk, berdiri di samping ranjang. “Kamu itu anak perempuan. Pulang jam dua pagi, nyetir sendiri. Kamu pikir Mama nggak capek mikir?” Selin menggaruk kepala. “Ma… itu cuma nongkrong. Bukan tawuran.” “Cuma nongkrong kok bisa pulang jam dua pagi?” Sekar bertanya cepat. “Ngumpul biasa aja,” jawab Selin mendengus kecil. Mama memijat pelipis. “Lin… Papa Mama itu capek banget ngadepin kamu. Kamu anak baik sebenarnya, tapi kelakuan kamu—susah banget diatur.” Belum sempat Selin membalas, Papa sudah muncul di ambang pintu sambil membawa gelas kopi. “Ada apa pagi-pagi ribut?” tanya Ardan santai. “Papa!” Mama langsung menunjuk Selin seolah sedang melaporkan tersangka. “Anak Papa pulang jam dua pagi! D.U.A. D.I.N.I. H.A.R.I!” Papa hanya menggeleng pelan. “Emang. . . dasar Selin.” “PA!” Mama makin kesal. Selin menyembul dari balik selimut. “Papa ngerti aku, tuh.” “Papa ngerti. Tapi bukan berarti Papa setuju, Lin.” Selin manyun. “Papa sudah capek ngomelin kamu,” lanjutnya sambil menyeruput kopi, “jadi Papa netral.” “Aku cuma butuh hiburan, Ma,” Selin menghela napas. “Kemarin stres.” “Stres apa?! Kerja bagus, hidup nyaman, pacar nggak ada — itu pilihan kamu sendiri,” Mama ngomel sambil menepuk kasur. “Kalau kamu tuh nggak terlalu bar-bar dan nggak ngegas mulu sama cowok, mungkin sudah ada yang naksir!” Selin membalik badan dan menutupi kepala dengan bantal. “Ma. . . please. Aku baru bangun.” Papa sambil berdiri, “Makanya bangun lebih pagi biar dimarahinya siang.” Sebuah bantal melayang. “PA!” Papa tertawa kecil sambil melangkah masuk. “Ya sudah, sudah. Ayo bangun. Kita mau ngobrol penting.” Selin bangkit duduk, rambutnya megar ke segala arah. “Ngobrol apa sih?” Papa menarik napas panjang. “Selin, kita dapat undangan makan malam minggu depan sama keluarga teman lama Papa. “Oke…” Selin mengangguk malas. “Terus?” Mama dan Papa saling pandang. “Dan mereka berniat menjodohkan anaknya dengan kamu.” Selin reflek berdiri. “HAH!? Serius, Ma?? Pa?? Papa mengangguk pelan. “MA— PA— INI GILA!? KALIAN MAU JODOHKAN AKU?? SEKARANG? TANPA BRIEFING?? TANPA PERINGATAN?? TANPA PERSIAPAN??” “Enggak mau!” Selin langsung protes. Mama menepuk bahu Selin. “Makanya Mama bilang sekarang. ”ya ini briefing-nya.” “BUKAN ITU MAKSUDKU!” Selin mondar- mandir. Rambutnya berantakan, ekspresi juga. “Ma… aku bahkan nggak tahu cowoknya siapa, umurnya berapa, mukanya gimana.” Matanya melebar. “Aku belum siap Ma!” “Kamu nggak pernah siap,” jawab Mama cepat. Papa menyela, “Justru itu. Kamu dikasih kesempatan buat kenal. Baru nanti kalau kamu nggak cocok, kita bicarakan lagi.” Selin terdiam. “Aku boleh nolak?” Suaranya lebih pelan. Mama menghela pelan. “Boleh.” “Tapi coba dulu,” tambah Papa. Disaat itu, Dika tiba-tiba lewat di depan pintu sambil bawa roti. "Loh? Sudah mulai perjodohan?” katanya santai. Selin melotot. “Kak jangan sok polos deh.” Dika mendekat, menepuk kepala Selin. “Adek jangan drama. Siapa tahu orangnya cakep.” “Kalaupun cakep, belum tentu cocok,” balas Selin cepat. “Tapi kalo jelek langsung nggak cocok?” Dika nyengir. “Kak! Jangan ngaco!” Selin jongkok sambil memegangi kepala. “Ya Allah… kenapa hidupku begini amat…” Papa menatap putrinya lama. “Kamu itu terlalu bebas, Lin. Sekali-sekali kamu perlu hal serius dalam hidup.” Selin cemberut. “Tapi… masih lama kan, Pa? Selin mendongak. Minggu depan kan?” Mama dan Papa saling pandang. Senyum mereka aneh. Papa berkata pelan, “Lin… makan malamnya hari ini.” Dada Selin seperti dijatuhkan dari lantai dua. “APA???” Mama langsung berdiri. “Pokoknya jam tujuh malam ya. Dandan yang cantik dan Jangan telat.” “MAMA!!!” Selin teriak sejadi-jadinya. **** —Malam Hari — Selin keluar dari kamar dengan dress hitam sederhana, make-up tipis. Rambutnya yang hitam panjang dibiarkan tergerai. Tetap cantik walaupun dandanya tidak berlebihan, meski wajahnya terlihat pasrah. Dika mengetuk pintu. “Udah siap tuan putri?” Goda Dika. “Belum. . . Belum siap mental,” jawab Selin. Dika mendekat dan menepuk bahunya. “Santai. Kalau cowoknya aneh, Kakak tandain pake garpu.” “Kak! Kita mau ketemu keluarga orang, bukan ngajakin duel gladiator.” “Kakak cuma tandain, bukan tusuk.” Jawab Dika dengan santainya. Selin mengelus dada. “Demi apa sih keluarga begini…” Papa sudah siap dengan kemeja. Mama pakai dress. Mereka kelihatan seperti pergi ke acara keluarga penting. Didalam mobil, Selin duduk disamping mama. Perasaannya campur aduk — canggung, kesal dan sedikit penasaran. “Lin, jangan tegang,” kata mama. “Kamu cuma makan malam.” Selin menghela napas. “Iya Ma, tapi tetap aja…” Dika yang sedang nyetir menimpali. “Kakak yakin adek bisa ngegas kalau perlu.” Selin mendelik. “Justru itu masalahnya.” Mobil melaju. Kota malam hari terasa lebih terang dari biasanya, tapi dada Selin justru semakin berat. Selin menatap keluar jendela. “Adek masih nggak mau dijodohin. Rasanya absurb. Kalo cowoknya aneh, aku kabur.” “ jangan kabur, Lin” Papa mengingatkan. “Aku bar-bar Pa. Bukan bar- bar kabur. Aku cuma kabur kalo darurat.” Jawab Selin. “Jangan bikin malu keluarga Selin,” mama menegur. Dika dari depan, “tenang Ma, Adek cuma bikin malu dirinya sendiri kok.” Selin mencubit lengan Dika. “AW! Aduh sakit, Dek!!” “Lagian mulut kakak nih sukanya nyinyir kayak ibu-ibu komplek. Papa dan Mama Selin cuma bisa geleng-geleng kepala liat kelakuan mereka kalau udah ketemu. Yang kakaknya sukanya jahilin adeknya dan yang adeknya suka bar - bar gitu kelakuannya. Tapi kalau gak ada mereka juga rumahpun terasa sepi. Sampai akhirnya mobil berbelok memasuki ke area restoran. Tanpa Selin sadari. Dan Malam ini bukan hanya soal makan malam saja. Tapi ini juga akan mengubah hidupnya, jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.Rendra menatap matanya, memastikan.“Kamu yakin?”Selin mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun.Dan kali ini, Rendra tak lagi menahan diri. Ia merengkuh tengkuk Selin, mencium Selin lebih dalam. Lidah mereka mulai bertautan, saling menjelajah dan membalas.Rendra kemudian berdiri sambil menggendong Selin seperti koala, membiarkan kaki jenjang istrinya melingkar erat di pinggangnya, tanpa memutuskan tautan bibir mereka. Ia membawa Selin menuju tempat tidur king size dan merebahkannya disana dengan hati-hati.Tatapan Rendra mengunci mata Selin saat jemarinya mulai menyentuh kancing piyama satin yang dikenakan istrinya. Satu per satu kancing itu terlepas, menyingkap kulit putih Selin yang halus.Setelah piyama itu tersingkap sepenuhnya, Rendra kemudian melepas piyamanya sendiri dan melemparnya ke lantai, lalu melepaskan sisa pakaiannya hingga tak ada lagi penghalang di antara mereka.Selin yang merasa tubuhnya terekspose sempurna, spontan tangannya menutupi dadanya. "Ren, jangan dilia
Pintu kamar President suite itu tertutup dibelakang mereka.Klik.Suasana langsung berubah.Tidak lagi terdengar suara musik, tawa tamu, atau sorotan lampu. Yang ada hanya kesunyian malam dan mereka berdua.Rendra menghela napas panjang, melepaskan ketegangan di bahunya. Ia segera melepas sepatu pantofelnya, lalu menyampirkan tuksedo hitamnya di sofa.Sambil melonggarkan dasi dan membuka dua kancing teratas kemejanya, matanya tak lepas dari sosok istrinya yang kini duduk di meja rias.Selin menatap pantulannya di cermin yang masih cantik, namun sorot matanya tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.Perlahan ia mulai membersihkan makeup di wajahnya. Tangannya mulai bekerja, mencoba melepas satu per satu aksesoris rambut yang tertanam kuat di sanggulnya. Namun, sebuah jepit mungil tersangkut, membuat Selin meringis kecil sambil berusaha menariknya perlahan."Ah..." gumamnya pelan.Tiba-tiba, sepasang tangan yang hangat membantunya. Melalui cermin, Selin melihat Rendra sudah berdiri di bel
Setelah istirahat sejenak dan makan siang bersama di kamar sebagai suami istri, sore harinya mereka kembali dirias untuk menyambut malam puncak resepsi mereka.Tepat pukul tujuh malam, pintu jati raksasa berukiran emas di Grand Ballroom terbuka perlahan. Ruangan itu telah disulap menjadi megah. Lampu- lampu kristal menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya yang hangat ke seluruh ruangan. Dekorasi bunga putih dan sentuhan emas menciptakan suasana elegan dan romantis. Ratusan tamu undangan, mulai dari rekan bisnis, keluarga, sahabat, hingga kolega memadati ruangan, menciptakan gumam kagum saat pengantin masuk.Diiringi alunan musik orkestra yang megah namun romantis, Rendra melangkah dengan penuh wibawa. Tuxedo hitamnya tampak sempurna, namun yang lebih mencuri perhatian adalah caranya menggenggam jemari Selin—erat dan protektif, seolah ingin menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa wanita di sampingnya adalah harta paling berharga yang ia miliki.Selin berjalan dengan keanggunan
Langit masih tampak gelap menyelimuti kawasan Mega Kuningan saat alarm hp milik Selin berbunyi tepat pukul 03.30 pagi. Di sebuah kamar hotel Presidential suite, Selin terbangun dengan jantung yang berdebar. Hari ini bukan lagi mimpi tapi hari ini adalah harinya. Ia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.Sejak semalam, Selin sudah berada di hotel mewah ini untuk menjalani prosesi pingitan terakhir. Sementara itu, Rendra masih berada di rumah pribadinya, menghabiskan malam terakhir sebagai pria lajang sebelum pagi ini berangkat menuju hotel dengan iring-iringan keluarga besar.Tepat pukul 04.00, pintu kamar hotel Selin diketuk. Tim MUA ternama di Jakarta yang sudah dipesan Rendra masuk dengan koper-koper peralatan tempur mereka. Selin duduk di depan cermin besar yang menghadap langsung ke kerlip lampu gedung pencakar langit Jakarta dari ketinggian lantai 30."Oke kita mulai ya, Kak Selin. Siap-siap jadi pengantin paling cantik dan manglingi." goda sang perias sambil
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews