Share

Istri yang Dikhianati, Ternyata Konglomerat
Istri yang Dikhianati, Ternyata Konglomerat
Author: Echo

Bab 1

Author: Echo
Saat ketiga kalinya aku memergoki suamiku bersama asistennya, aku tidak lagi bisa menahan diri. Aku membongkar perbuatan hina mereka ke publik agar seluruh dunia melihatnya.

Namun, aksi nekatku hanya berbuah gugatan dari pihak keluarga dan cap "psikopat" oleh putraku sendiri.

Saat itulah aku benar-benar muak. "Aku mau cerai."

"Livia Mardana, kamu didakwa dengan sengaja membocorkan urusan pribadi Keluarga Mardana dan menyebabkan kerusakan serius pada reputasi keluarga."

Suara hakim menggema di ruang sidang. Aku duduk di kursi terdakwa, dinginnya besi di pergelangan tanganku menjadi pengingat keras akan harga yang harus kubayar.

Tiga hari lalu, aku mengirimkan video suamiku, Dante, dan asistennya, Angel, yang sedang berbuat mesum di kantornya ke Majalah Cimago.

Sekarang, aku menanggung akibatnya.

"Apakah terdakwa ingin menyampaikan sesuatu?"

Pengacaraku berdiri. "Yang Mulia, klien saya sangat menyes ...."

"Nggak." Aku memotong ucapannya.

Ruang sidang langsung senyap.

"Livia!" Dante bangkit dari kursinya, matanya menyala oleh amarah. "Apa kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan?"

Aku menoleh, menatap pria yang telah menemaniku selama sepuluh tahun. Dia masih setampan hari pertama kami bertemu. Hanya saja sekarang, yang kurasakan hanyalah rasa jijik.

"Aku tahu persis apa yang kulakukan," kataku tenang.

Hakim mengetukkan palunya. "Terdakwa dijatuhi hukuman enam bulan penjara. Uang jaminan ditetapkan sebesar 7,5 miliar."

Bunyi palu itu terdengar mutlak.

Di ruang kunjungan penjara, Dante duduk di seberangku. Dia mengenakan setelan Ivalia buatan tangan, kancing baju zamrud yang dulu kuberikan kini tersemat di pergelangan bajunya. Hadiah dari mas kawinku.

"Kamu memang gila," tuduhnya. "Kamu mau menghancurkan keluarga ini cuma demi perempuan yang nggak penting?"

"Nggak penting?" Aku tertawa. "Dante, uang yang kamu habiskan untuknya cukup untuk membeli setengah pelabuhan."

"Itu cuma urusan bisnis ...."

"Bisnis macam apa? Bisnis yang dilakukan di atas meja kantor? Atau di ranjang kita?"

Wajah Dante memerah.

"Cukup!" Dante menghantam meja. "Kamu pikir para wartawan di luar sana akan membiarkan ini berlalu? Leo jadi bahan tertawaan di sekolah. Para tetua keluarga menuntut penjelasan. Dan semua ini gara-gara kamu!"

Hatiku mencelos saat nama putra kami disebut.

"Gimana keadaan Leo?"

"Dia baik-baik saja. Bahkan lebih baik tanpa ibu gilanya." Dante menyeringai. "Faktanya, dia menulis sebuah esai. Judulnya 'Mamaku Seorang Psikopat'."

Saat itulah duniaku runtuh.

"Itu nggak mungkin ...."

Dante mengeluarkan selembar kertas dari sakunya dan menggesernya ke arahku. Tulisan tangan Leo yang kekanak-kanakan terpampang.

[ Mamaku itu seorang psikopat. Dia menghancurkan barang-barang di rumah dan berteriak pada Papa. Dia menceritakan rahasia keluarga pada orang asing. Aku malu punya Mama seperti dia. Aku berharap Tante Angel bisa jadi mamaku. Dia lembut dan pintar, nggak gila seperti mamaku .... ]

Tanganku gemetar.

"Dia yang menulis ini?"

"Setiap kata-kata di sana," kata Dante sambil menarik kembali kertas itu sambil tersenyum puas. "Sekarang kamu paham? Bahkan anakmu sendiri nggak tahan melihatmu."

Aku memejamkan mata ketika air mata akhirnya jatuh.

Sepuluh tahun pernikahan. Aku mengorbankan segalanya demi keluarga ini. Karierku, mimpiku, bahkan namaku. Aku membentuk diriku menjadi Nyonya Keluarga Mardana yang sempurna. Mencuci uang mereka, menjilat relasi, melahirkan pewaris.

Sekarang, anakku sendiri malah membenciku.

"Cerai saja," kataku sambil membuka mata. Suaraku dingin dan sangat tenang. "Aku setuju bercerai."

Dante tertegun. Dia mengira aku akan memohon, meratap, menyerah demi Leo.

"Apa katamu?"

"Aku mau cerai. Aku cuma mau uang 750 miliar dalam bentuk tunai. Selebihnya milikmu. Termasuk Leo."

"Livia, kamu nggak bisa ...."

"Aku bisa." Aku berdiri. "Sampaikan pada para tetua, masalah pengkhianat sudah beres."

Dante menatapku lama, lalu akhirnya mengangguk. "Kamu akan menyesal, Livia."

Soal uang jaminan, jelas dia tidak berniat mengeluarkanku lebih cepat.

Aku pikir aku akan mendekam di penjara selama enam bulan penuh, tetapi keesokan harinya, pintu ruang kunjungan kembali terbuka.

Beberapa pria bersetelan hitam menerobos masuk. Di depan mereka berdiri seorang wanita berambut pirang, sekitar lima puluh tahun, mengenakan setelan Chanel, cerutu terselip di jemarinya.

"Ibu?" Aku menatapnya terpana.

Victoria Waluyo. Ibuku, yang sudah bertahun-tahun tidak kutemui.

Ibuku menebus jaminanku.

Di luar penjara, ibuku menyalakan cerutunya.

"Dua puluh empat tahun, Livia. Akhirnya kamu siap menerima nasihatku?"

Aku teringat ucapannya saat aku berusia enam tahun, ketika dia mencoba membawaku pergi dari ayahku. "Sayang, ingat ini. Jangan pernah membiarkan dirimu hidup tanpa senjata."

Dulu aku memilih bertahan. Sekarang, aku akhirnya mengerti.

Suaraku serak tetapi mantap. "Begitu perceraian selesai, aku ikut dengan Ibu."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri yang Dikhianati, Ternyata Konglomerat   Bab 11

    Dia terdiam sejenak, lalu berjalan ke jendela dan memandang kota di luar sana."Livia, aku ingin memberitahumu sebuah rahasia." Suaranya menjadi sangat lembut. "Aku sudah mengamatimu sejak lama."Aku membeku."Awalnya hanya karena Victoria sering menyebutmu, kesal karena kamu mengorbankan segalanya demi Dante." Elias menoleh menatapku. "Saat itu, aku setuju dengannya. Aku pikir kamu bodoh.""Jadi kamu menolongku karena kasihan pada perempuan bodoh?" Ada rasa geli yang hampir tak terasa di suaraku."Nggak." Dia menggeleng."Aku tersentuh. Aku menonton beberapa wawancaramu, videomu. Kamu bukan cuma sekadar mengandalkan kecantikanmu. Kamu pernah menghadapi bahaya bersama Dante, tapi selalu menjadi lebih kuat. Berapa banyak wanita yang setangguh itu? Bahkan di balik layar, kamu adalah partner yang luar biasa, mengelola urusan Keluarga Mardana dengan nyaris sempurna. Kamu istimewa, sungguh."Aku tidak berkata apa-apa, menunggu dia melanjutkan."Saat aku tahu Dante berselingkuh, aku nggak bi

  • Istri yang Dikhianati, Ternyata Konglomerat   Bab 10

    Tepat saat ketegangan hampir meledak, Leo berlari keluar dari lift."Lepaskan papaku!" teriaknya, menerjang Elias sambil memukul-mukul dengan kepalan kecilnya. "Kalian orang jahat! Mama, kenapa Mama bersama orang jahat!""Leo!" Dante meronta, berusaha menghentikan putranya.Namun, bocah itu sudah berbalik ke arahku, matanya berkaca-kaca, ekspresinya penuh amarah. "Mama pengkhianat! Mama mengkhianati keluarga kita! Guruku bilang orang yang mengkhianati keluarga akan masuk neraka!"Saat itu juga, sisa kehangatan apa pun yang masih tersisa di hatiku membeku menjadi es.Aku berlutut dan untuk pertama kalinya, wajahku dingin saat menatap anak itu. "Leo, kamu tahu nggak apa arti pengkhianat?"Ekspresiku membuatnya terkejut, tetapi dia tetap menatapku dengan keras kepala."Kalau orang yang mengkhianati keluarga masuk neraka, papamu harus antre paling depan, siap menerima siksaan abadi. Dan kamu juga, Leo." Suaraku lembut, tetapi setiap kataku terdengar jelas. "Keluarga ini dibangun di atas pe

  • Istri yang Dikhianati, Ternyata Konglomerat   Bab 9

    "Kalian berdua dekat?" desis Dante, matanya terpaku pada tanganku."Itu bukan urusanmu," jawabku tenang."Bukan urusanku?" Suara Dante meninggi. "Livia, kita baru dua bulan bercerai dan kamu sudah pindah ke 'dompet berjalan' berikutnya?"Para tamu lain mulai memperhatikan keributan itu. Elias mengernyit, hendak bicara, tetapi aku menghentikannya."Dompet berjalan?" kata-kata itu membuatku tertawa. "Dante, siapa kamu sampai berani menuduhku?""Menuduhmu? Aku mengingatkanmu apa itu kesetiaan!" Kecemburuan dan rasa posesifnya tak terkendali. "Kamu pikir ada pria di luar sana yang benar-benar akan mencintaimu? Mereka cuma menginginkan tubuhmu, atau memanfaatkanmu demi nilai yang kamu punya!"Ironinya menyesakkan.Aku meraih gelas anggur dan tanpa ragu menyiramkan isinya ke wajahnya. Cairan merah itu menetes di pipinya, membasahi kemeja mahalnya. Seluruh restoran mendadak sunyi."Kesetiaan?" Aku berdiri, menatapnya dari atas. "Dante, hak apa yang kamu punya untuk bicara soal kesetiaan padak

  • Istri yang Dikhianati, Ternyata Konglomerat   Bab 8

    Akhirnya, manajer restoran berhasil membujuk Dante dan Leo untuk menjauh dari meja kami. Mereka enggan, tetapi harga diri mereka menang."Kamu masih peduli padanya?" tanya Elias sambil dengan hati-hati meletakkan sepotong daging di piringku.Aku tidak menjawab, memilih mengalihkan pembicaraan."Ibuku baru-baru ini menceritakan sesuatu padaku," kataku pelan. "Dua tahun lalu, Dante membuat keputusan buruk dan Keluarga Mardana terjerembap dalam masalah keuangan serius. Dia meminta bantuan ayahku, meski tahu ayahku sudah punya keluarga baru dan sama sekali nggak peduli padaku ...."Aku menggeleng, senyum getir terukir untuk kebodohan diriku sendiri.Elias mendengarkan dalam diam."Lalu ibuku menemuinya. Ibuku memberinya uang, tapi berbohong dengan mengatakan sudah menjual properti-propertinya untuk mendapatkannya, berharap Dante akan memperlakukanku lebih baik. Tapi dia nggak pernah menceritakan semua itu padaku."Entah itu pergi ke ayahku di belakangku atau diam-diam menerima uang ibuku,

  • Istri yang Dikhianati, Ternyata Konglomerat   Bab 7

    Kembali di Cimago, aku duduk di kursi belakang sebuah Rolls-Royce, mengenakan mantel Hermes warna cokelat, memandangi kota yang terasa begitu familier tetapi sekaligus asing saat melintas di hadapanku."Uang 750 miliar itu membutuhkan tanda tanganmu," kata Elias, duduk di sampingku sambil membolak-balik berkas. "Rekening Zwiss Keluarga Waluyo aman, tapi proses pemindahannya harus dengan otorisasi langsung."Aku mengangguk. Selama dua bulan terakhir, Elias bukan hanya menata hidupku di Landan, tetapi juga membantuku memahami kerajaan bisnis ibuku. Kekayaan Keluarga Waluyo jauh lebih besar dan tersembunyi daripada yang pernah kubayangkan."Aku ingin mengajakmu makan malam malam ini," kataku sambil menatapnya. "Sebagai ucapan terima kasih resmi.""Kamu nggak perlu begitu.""Ini bukan soal perlu atau nggak. Ini karena aku mau."Aku memilih Restoran Alana, restoran paling eksklusif di Cimago. Setiap malam hanya menerima segelintir tamu dan reservasinya harus dilakukan berbulan-bulan sebelum

  • Istri yang Dikhianati, Ternyata Konglomerat   Bab 6

    "Universitas Ekonomi Landan." Ibuku meletakkan surat penerimaan di hadapanku. "Kamu butuh pendidikan bisnis formal untuk mengambil alih aset Keluarga Waluyo."Aku menatap surat bersegel emas itu. Alamatnya tertulis untuk Livia Waluyo. Bukan lagi Mardana, melainkan Waluyo."Usiaku tiga puluh tahun. Ibu mau aku duduk di kelas bareng anak muda?""Nggak pernah ada kata terlambat untuk belajar," kata ibuku sambil menyesap anggur dengan anggun. "Lagian, kamu butuh kesempatan untuk memulai dari awal."Keesokan harinya, kami terbang ke Landan.Kediaman ibuku di Landan adalah rumah bergaya barat dekat Taman Dinari. Dari luar tampak sederhana, tetapi di dalamnya murni kemewahan."Seseorang akan datang menemuimu malam ini," kata ibuku saat aku sedang membongkar koper. "Temanku, sekaligus rekan bisnis. Dia punya pengaruh besar di Landan. Aku ingin dia melindungimu selama kamu kuliah."Pukul delapan malam, bel pintu berbunyi.Pria yang masuk berusia sekitar tiga puluh lima tahun, berdarah Ivalia te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status