แชร์

Bab 53

ผู้เขียน: Suci Komala
last update วันที่เผยแพร่: 2024-12-05 16:23:10

Satu bulan sudah berlalu.

Setelah kejadian itu, sikap Yuni dan Melani semakin menjadi. Keduanya bersikap kasar kepada putri Alana. Bahkan Kevin pun kerap kali mengacuhkan ketiga putrinya. Ia lebih peduli dan lebih memanjakan Rajendra.

Seperti pagi ini ...

Liana dan Ilana tengah memakai kaos kaki di teras. Aktivitas ini sengaja mereka lakukan di luar hanya untuk mencari perhatian Kevin. Karena setiap pagi, sang ayah akan bermain dengan Rajendra.

"Kak? Aku kangen digendong sama Papi," bisik I
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Istri yang Tak Bisa Melahirkan Anak Laki-Laki   Bab 96

    Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Pagi-pagi sekali, Alina sudah bersiap. Gadis kecil itu sudah tidak sabar untuk tiba di sekolah. Tak hentinya ia bercermin, merapikan rambutnya yang dikucir. Bukan hanya Alina, Kevin yang sedari tadi sudah datang, terlihat gelisah. Pria itu tidak sabar untuk berjalan bergandengan bersama Alana. Bergandengan? Itulah yang ia bayangkan. Tidak berselang lama, Alana dan ketiga putrinya menghampiri. Kevin nampak semringah. Bagaimana tidak? Hari itu adalah hari paling istimewa bagi dirinya. Semua sudah berada di mobil. Kevin pun segera melajukan roda empatnya dan meninggalkan kediaman Alana. ***Alana, Kevin, dan si bungsu Alina sudah tiba di sekolah. Sebelumnya, mereka mengantarkan Liana dan Ilana terlebih dahulu.Kevin tersenyum lebar. Bagaimana tidak? Ia mereka memiliki keluarga cemara, dimana Alina digandeng di sisi kiri dan kanan. Ditambah lagi, pakaian yang mereka pakai sama. Baik dari model maupun warna.Bel berbunyi. Tandanya games akan dim

  • Istri yang Tak Bisa Melahirkan Anak Laki-Laki   Bab 95

    Di ruang makan, Burhan dan Kevin duduk berseberangan. Kevin acuh-tak acuh walaupun Burhan sedari tadi menatapnya tajam. Jikalau tidak ada anak-anak, Kevin yakin keributan akan terjadi. "Ayo, makannya habiskan," ucap Kevin lembut kepada Alina"Kakak sama Ila juga, ya?!" lanjutnya. Kevin mengunyah rotinya lagi dengan santai, lalu menoleh ke arah Burhan. "Gak sarapan?" tanyanya santai. "Cihh!" Burhan tersenyum sarkas. "Habiskan saja punyamu, lalu cepatlah pergi!"Kevin tersenyum miring. "Tentu saja. Tidak mungkin juga saya menginap di sini. Ah, tapi ... sepertinya akan seru kalau saya menginap di sini.""Kau--" Gigi Burhan bergemeretak, bahkan rahangnya terlihat mengeras, menahan amarah kepada Kevin. "Iya, Papi nginep aja di sini, Pi," sambar Ilana cepat. Kevin menatap Ilana sambil tersenyum. "Bagusnya begitu?"Ilana mengangguk. "He'em!"Kevin kembali menatap Burhan. Tak lama senyum setengah mengejek terbit dari bibir Kevin. Bagaimana tidak? Ia merasa geli sekaligus puas dengan eksp

  • Istri yang Tak Bisa Melahirkan Anak Laki-Laki   Bab 94

    Kevin berjalan mondar-mandir mencoba memikirkan cara untuk membujuk Alana agar ikut. Selain tidak ingin mengecewakan Ilana, ia tidak ingin acara kejutan yang sudah disusun hancur berantakan. Ting! Sebuah notifikasi pesan masuk. Kevin berjalan cepat menuju ranjang. Disambarnya ponsel dan membuka pesan itu. Bibirnya melengkungkan senyum. Bagaimana tidak? Ternyata Alana memintanya untuk datang ke rumah esok hari."Ada apa, ya, kira-kira? Ngasih jawaban atau ... apa?" Monolog Kevin. Kevin tersenyum lebar. "Ah, tak peduli apa pun itu, yang penting besok aku bertemu Alana."Kevin segera menyimpan ponselnya, lalu bergegas tidur. *Esok harinya. Pagi-pagi sekali Kevin sudah bangun. Ia memilih dan memilah baju yang sekiranya pantas ia kenakan untuk bertemu dengan Alana. Setelah dirasa dapat yang pas, ia segera memakainya kemudian bercermin. Kevin menata rambutnya, membenahi kemejanya, tak lupa menyemprotkan parfum. "Sempurna!" cicitnya sambil menatap dirinya di depan cermin dengan pen

  • Istri yang Tak Bisa Melahirkan Anak Laki-Laki   Bab 93

    "Tidak!" Liana berteriak sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Ada apa?""Kenapa, Nak?""Sayang, kenapa?"Tanya itu datang bersamaan dari mulut Yunia, Yuni, dan juga Kevin. Perlahan Liana menarik tangannya dan melihat ke arah Yuni. "Ah, e-enggak, kok.""Kamu pasti capek, ya? Istirahatlah. Sana, tidur di kamar Papimu," titah Yuni. "Tidak, aku tidak capek. Hanya saja ...," Liana menggantung kalimatnya sambil menatap Kevin dan Yuni bergantian. Kevin duduk di samping Liana. "Katakan saja, Sayang, ada apa?""Iya, ada apa, Nak?" tanya Yuni dengan nada khawatir. Liana menunduk dengan kedua tangan memeras rok seragamnya. "Emm ... itu ... maaf ... soal Nenek yang bikin kue ...,"Lagi, Liana tidak melanjutkan ucapannya. Dan lagi, Kevin membujuk agar Liana bicara. Liana menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, "Nenek gak akan taro racun di kue ulang tahun Mami, kan?"Kalimat itu membuat semua melongo. Kevin dan Yunia tersenyum, lalu menatap Yuni seolah-olah menunggu jawa

  • Istri yang Tak Bisa Melahirkan Anak Laki-Laki   Bab 92

    "Sekali lagi maaf, Pi. Maksudnya tadi itu ... aku mau kasih Papi surprise.""Surprise?" Kevin mengulang. "Iya, Pi," sambar Alina, "kami pura-pura nolak untuk diajak ke rumah nenek. Nah, nanti di jalan pulang, kita setuju, deh, ke rumah nenek. Gitu."Liana menunduk. "Maaf."Embusan napas lega ke luar dari mulut Kevin. Ya, kejutan. Benar-benar kejutan. Kevin terkejut dengan kejadian yang terjadi tadi dan terkejut karena ternyata Liana mau diajak ke rumah. "Terima kasih, Sayang, terima kasih," ucap Kevin penuh haru."Ya, udah, Pi, let's go!" seru Alina. "Tapi, apa kalian sudah izin mami?" Kevin mentap putrinya bergantian. Semua menggeleng, membuat Kevin menepuk jidatnya sendiri dan terjadilah gelak tawa. "Baiklah-baiklah, Papi yang akan minta izin. Sebentar!" Kevin mengeluarkan ponselnya dalam saku celana. Jarinya dengan lincah menekan setiap huruf sampai akhirnya pesan pun terkirim. Senyum cerah merekah nampak dari bibir Kevin. Ia tidak akan menyiakan kesempatan yang sangat berhar

  • Istri yang Tak Bisa Melahirkan Anak Laki-Laki   Bab 91

    Kevin tertawa garing. "O-oh, gitu ya? Papi pikir tante kalian ...," Kevin tidak melanjutkan ucapannya. "Apa?" tanya Liana. Kevin melihat kaca spion. Matanya menatap Liana dan Alina bergantian. "Tidak ada apa-apa. Tidak usah dibahas."Kevin kembali fokus menyetir dengan perasaan kecewa. Liana hanya mengangkat kedua bahunya, lalu bersilang dada. "Oke!"Tak berselang lama, tibalah mereka di sekolah Liana. Setelah Liana turun, mobil kembali melaju menuju sekolah berikutnya. Tak lupa Kevin membuat janji kepada ketiga putrinya terlebih dahulu jika pulang nanti ia akan menjemput.Tujuan Kevin berikutnya adalah bengkel. **"Kenapa?" "Tidak!" jawab Kevin lesu, saat William bertanya."Hah! Sejujurnya aku bosan dengan jawabanmu. Sedari malam sikapmu aneh. Bisa tidak, lain kali datang ke sini raut mukamu itu sumringah?"Kevin tersenyum. "Tentu saja bisa, Pak Tua."William memutar bola matanya malas. "Kau ini seperti perempuan saja. Moodnya berubah-ubah!""Hahahahah!" Kevin tertawa terpingkal

  • Istri yang Tak Bisa Melahirkan Anak Laki-Laki   Bab 75

    Lima tahun berlalu. "Kalian jangan sedih lagi!"Suara bariton berhasil membuat Alana, Liana, Ilana dan Alina menoleh. Mereka tersenyum melihat siapa yang datang. "Papa!" sorak Alina senang sambil berlari menghampiri diikuti oleh kedua kakaknya. "Om udah pulang rupanya. Mana oleh-oleh buat aku?"

  • Istri yang Tak Bisa Melahirkan Anak Laki-Laki   Bab 74

    "Loh, Pak Kevin?!" Toni terperangah saat dirinya hendak ke luar akan pulang. "I-ini beneran Bapak? Anda sudah sehat?" ucapnya lagi sembari mengamati Kevin. Kevin menerobos masuk, tak peduli dengan ocehan Toni. Toni pun akhirnya mengikuti langkah Kevin. "Saya ambil kuncinya dulu, Pak," kata Toni,

  • Istri yang Tak Bisa Melahirkan Anak Laki-Laki   Bab 73

    Keesokan harinya Kevin memutuskan untuk kembali ke Jakarta. "Di mana anak-anak?" tanya Kevin kepada Alana saat dirinya hendak menaiki mobil Fadli. "Mereka tidak ingin berpamitan dengan Papinya?"Alana tersenyum miring. "Rasanya tidak. Bukankah semalam mereka berpesan agar hati-hati di jalan pagi i

  • Istri yang Tak Bisa Melahirkan Anak Laki-Laki   Bab 70

    Dua hari setelah Alana tahu sebuah kebenaran tentang Melani, akhirnya pagi ini ia akan mengambil keputusan. Alana meminta Fadli untuk datang. Apalagi kalau bukan untuk merepotkan dokter itu lagi. "Ada apa?" tanya Fadli saat duduk di teras. "Kapan ada waktu senggang?""Kebetulan hari ini. Ada apa?""To

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status