LOGINEvelyn tiba-tiba terbangun sebagai Arischa Maheswari—istri konglomerat dingin dan ibu antagonis yang dibenci seluruh keluarganya. Di novel original, Arischa akan berakhir tragis setelah menghancurkan hidup anak-anaknya sendiri. Namun Evelyn malas mengikuti alur itu. Ia tidak berniat menjadi ibu penyayang, tidak ingin memperbaiki hubungan keluarga, dan sama sekali tidak tertarik pada drama rumah tangga kaya raya itu. Selama rekeningnya aman dan hidupnya nyaman, semuanya sudah cukup. Masalahnya… semakin Arischa bersikap dingin dan tidak peduli, suami serta anak-anaknya justru mulai terobsesi padanya. Dan untuk pertama kalinya, keluarga Maheswari mulai takut kehilangan wanita yang selama ini mereka abaikan. Karena ternyata… cara paling berbahaya untuk menaklukkan keluarga itu bukan dengan cinta. Melainkan dengan berhenti peduli sama sekali..
View MoreSatu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Evelyn saat terbangun adalah melihat langit-langit kamar seluas lapangan futsal dengan ukiran emas di setiap sudutnya. Bau aromaterapi cendana yang mahal menusuk hidungnya, sangat kontras dengan bau mi instan yang seharusnya menjadi aroma paginya di apartemen sempit.
Evelyn hanya bisa mengerjapkan matanya berulang kali, berharap ini cuma mimpi panjang akibat begadang mengerjakan naskah klien. Namun, saat ia menyentuh sprei sutra yang terasa begitu dingin dan halus di kulitnya, ia tahu dunianya sudah berubah total. Ia bangkit dari tempat tidur raksasa itu dan langsung menuju cermin besar setinggi plafon yang ada di sudut ruangan. Bayangan di cermin menunjukkan sosok wanita dengan kecantikan yang tajam dan dingin, seperti boneka porselen yang tidak punya nyawa. Ingatannya tiba-tiba terisi secara paksa, seperti data yang diunduh dengan kecepatan tinggi ke dalam otaknya. Namanya sekarang adalah Arischa Maheswari, istri dari seorang konglomerat kaku dan ibu dari tiga anak laki-laki yang luar biasa bermasalah. "Arischa yang asli benar-benar menyedihkan," gumamnya pelan sambil menyentuh lehernya yang jenjang. Dalam ingatan barunya, Arischa adalah wanita yang terobsesi pada kemewahan tapi membenci kehadiran keluarganya sendiri karena merasa masa mudanya direnggut. Dia tidak peduli pada anak-anaknya, bahkan tidak ingat kapan terakhir kali berbicara dengan suaminya. Bagi Arischa, rumah ini hanyalah sebuah hotel bintang lima tempat dia bisa menghabiskan uang tanpa batas. Evelyn menarik napas panjang, mencoba mencerna fakta bahwa dia sekarang terjebak di tubuh seorang ibu yang dibenci oleh anak-anaknya sendiri—yang ironisnya, salah satunya akan menjadi protagonis dan satunya lagi menjadi antagonis di masa depan. Pintu kamar tiba-tiba terbuka tanpa ketukan, menampakkan seorang remaja laki-laki dengan seragam sekolah yang berantakan. Wajahnya tampan, namun tatapannya penuh dengan kebencian dan rasa jijik yang tidak ditutup-tutupi. Itu adalah Julian, putra pertamanya yang menurut ingatan Arischa, adalah calon pemimpin bisnis yang dingin tapi punya sisi gelap yang destruktif. "Masih belum mati juga?" tanya Xavier dengan nada datar, seolah menanyakan kabar cuaca hari ini. Evelyn, yang kini adalah Arischa, hanya menaikkan sebelah alisnya tanpa merasa tersinggung sedikit pun. Dia tidak punya ikatan emosional dengan anak ini, jadi makian itu terasa seperti angin lewat saja baginya. Dia justru berjalan santai menuju meja riasnya, mulai memilih-milih botol parfum mahal yang berjejer di sana. "Seperti yang kamu lihat, saya masih bernapas dengan sangat baik," jawab Arischa tenang tanpa menoleh. Xavier tertegun sejenak, biasanya ibunya akan berteriak histeris atau melempar barang jika diajak bicara dengan nada sekasar itu. Respon yang tenang dan tidak peduli ini terasa asing di telinganya. Dia mengepalkan tangan, merasa terganggu karena tidak mendapatkan reaksi yang dia harapkan dari wanita yang dia anggap sebagai beban di rumah ini. "Ayah bilang jangan berbuat ulah hari ini karena ada tamu penting, jadi simpan drama gilamu itu di dalam kamar saja," ketus Xavier lagi sebelum membanting pintu dengan keras. Arischa hanya mengangkat bahunya, tidak merasa perlu mengejar atau membela diri. Baginya, jika keluarga ini tidak peduli padanya, itu justru lebih bagus karena dia tidak perlu repot-repot berperan menjadi ibu rumah tangga yang sempurna. Dia memutuskan untuk mandi, memakai pakaian terbaiknya, dan mencari tahu di mana dapur rumah ini berada karena perutnya mulai keroncongan minta diisi. Saat menuruni tangga rumah yang megah itu, dia berpapasan dengan anak keduanya, Leo, yang sedang duduk di sofa ruang tengah sambil bermain gim dengan ekspresi wajah yang muram. Leo adalah sosok yang dalam ingatan Arischa akan menjadi 'protagonis' yang menderita karena kurang kasih sayang. Namun bagi Arischa yang sekarang, Leo hanyalah anak kecil yang butuh bimbingan tapi dia terlalu malas untuk memberikannya. "Bi, sarapan saya mana?" tanya Arischa pada salah satu pelayan yang lewat, mengabaikan keberadaan Leo sepenuhnya. Pelayan itu tampak gemetar, seolah Arischa adalah monster yang siap menerkamnya kapan saja. "Maaf, Nyonya, biasanya Anda tidak pernah sarapan di rumah, jadi kami tidak menyiapkan porsi untuk Anda." Arischa mengangguk paham, lalu berjalan menuju dapur tanpa memarahi pelayan itu, sebuah tindakan yang membuat Leo mengalihkan pandangannya dari layar gim. Leo memperhatikan punggung ibunya dengan dahi berkerut, merasa ada sesuatu yang salah. Ibunya yang biasanya akan memaki pelayan selama satu jam karena kesalahan sekecil itu, kini malah berjalan santai seolah tidak terjadi apa-apa. "Ma, mau ke mana?" tanya Leo tiba-tiba, suaranya terdengar ragu dan sedikit kaku. Arischa berhenti sejenak, menoleh ke arah Leo dengan tatapan yang sangat datar, hampir kosong. "Cari makan. Kenapa? Kamu mau traktir?" Pertanyaan retoris itu membuat Leo bungkam seribu bahasa, sementara Arischa kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur. Dia tidak berencana mengubah alur cerita atau menyelamatkan masa depan anak-anaknya agar menjadi orang baik. Targetnya saat ini sederhana: menikmati hidup mewah, makan enak, dan tetap tidak peduli pada siapa pun sampai dia menemukan cara untuk pulang—atau setidaknya, sampai dia merasa bosan dengan kekayaan ini. Di meja makan yang panjang, suaminya, Adrian, sudah duduk dengan koran di tangan dan kopi hitam yang mengepul. Pria itu bahkan tidak melirik saat Arischa duduk di hadapannya. Suasana sangat hening, hanya ada denting sendok yang menyentuh piring. Arischa mengambil sepotong roti, mengolesnya dengan selai premium, dan makan dengan sangat tenang, benar-benar tidak terganggu dengan aura dingin yang dipancarkan suaminya. "Tumben sekali kamu duduk di sini," ucap Adrian tanpa menurunkan korannya. Arischa menelan rotinya perlahan sebelum menjawab dengan santai. "Kursinya kosong, jadi saya duduk. Apa saya perlu izin tertulis untuk sarapan di rumah sendiri?" Adrian menurunkan korannya, menatap istrinya dengan tatapan tajam dan penuh selidik. Dia mencari tanda-tanda kemarahan, sarkasme, atau upaya untuk mencari perhatian yang biasanya dilakukan istrinya. Namun, yang dia temukan hanyalah seorang wanita yang tampak sangat nyaman dengan dirinya sendiri, seolah Adrian hanyalah bagian dari dekorasi ruangan. "Berhenti melakukan eksperimen baru untuk menarik perhatianku, Arischa. Itu tidak akan berhasil," tegas Adrian dengan suara beratnya. Arischa terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar tulus tapi juga meremehkan. "Percaya diri sekali kamu. Lanjutkan saja kopimu, saya cuma sedang lapar." Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu, tapi kali ini terasa berbeda. Ada ketegangan aneh yang mulai merayap, bukan karena kemarahan, melainkan karena kebingungan yang mulai tumbuh di hati penghuni rumah itu terhadap perubahan sikap sang nyonya besar yang tiba-tiba menjadi sangat acuh tak acuh.Restoran yang dipilih Xavier berada di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit di kawasan SCBD. Tempatnya privat, dengan pencahayaan temaram dan dinding kaca raksasa yang menyajikan pemandangan lanskap lampu kota Jakarta yang berkilauan. Tidak ada musik yang berisik, hanya alunan piano klasik yang mengalun lembut di latar belakang.Elian, yang langsung menyusul dari tempat lesnya, duduk di sebelah Arischa dengan wajah bersemangat."Ma, tahu tidak? Tadi di sekolah, teman-temanku heboh membicarakan berita Arts District tahap dua. Mereka tanya apa mereka bisa dapat tiket gratis kalau berkunjung."Arischa memotong steaknya dengan tenang. "Katakan pada teman-temanmu, tidak ada yang gratis di dunia ini, Elian. Tapi kalau mereka mau membantu mengecat instalasi luar ruangan akhir pekan ini, saya bisa pertimbangkan memberi mereka kartu akses masuk gratis selama sebulan."Xavier tertawa kecil sambil menyesap minumannya. "Mama benar-benar memanfaatkan tenaga kerja remaja gratisan. Bisnis ya
Hendra tidak bodoh. Begitu kakinya melangkah keluar dari area Arts District, ia langsung tahu bahwa posisinya terancam. Wanita yang dulu bisa ia setir dengan iming-iming nominal harta, sekarang menjelma menjadi sosok jenderal yang tahu semua kartu as di tangannya. Namun, keserakahan membuatnya nekat. Sore itu juga, Hendra mendatangi kantor pusat Maheswari Group, berniat menemui Adrian sebelum Arischa sempat bicara.Ia masuk ke ruang kerja Adrian dengan napas yang diatur seprofesional mungkin. Di dalam ruangan, ternyata tidak hanya ada Adrian, tapi juga Julian yang sedang meninjau laporan audit tahunan."Adrian, Xavier. Maaf mengganggu waktu kalian," Hendra meletakkan tas kerja kulitnya di atas meja marmer. "Ada hal krusial mengenai restrukturisasi aset perwalian mendiang Ayah yang harus kita bahas segera. Ini menyangkut pergerakan... mencurigakan dari beberapa aset yang belakangan dialihkan ke galeri seni."Hendra mencoba melempar umpan lambung, berharap insting protektif Adrian terha
Pukul sembilan lewat dua puluh delapan malam. Dua menit sebelum tenggat waktu yang diberikan Arischa berakhir, suara decitan ban mobil sport Xavier terdengar memekik di halaman depan rumah Maheswari. Xavier dan Leo keluar dari mobil dengan napas yang agak memburu, setengah berlari melintasi pintu utama yang untungnya masih terbuka lebar. Di ruang tengah, Arischa sedang duduk santai di sofa kulitnya sambil membaca majalah arsitektur internasional, ditemani Adrian yang sedang menyesap teh di sampingnya. "Dua puluh delapan menit. Skor yang bagus untuk ukuran kemacetan Jakarta setelah hujan," ucap Arischa tanpa mengalihkan pandangan dari majalahnya. "Sana ganti baju, lalu ke meja makan. Supnya sudah hampir dingin." Xavier mengembuskan napas lega yang panjang, sementara Leo langsung tersenyum lebar. "Siap, Ma." Setelah kedua anak laki-laki itu naik ke lantai atas, Adrian meletakkan cangkir tehnya dan menatap Arischa sambil menggelengkan kepala, kagum sekaligus geli. "Kamu benar-benar
Bagi seorang Xavier Maheswari, hidup ini selalu tentang kalkulasi. Sejak kecil, ia diajar oleh ayahnya bahwa setiap tindakan harus menghasilkan keuntungan, dan setiap emosi adalah kelemahan yang bisa dieksploitasi lawan. Baginya, sang ibu—Arischa yang dulu—adalah contoh nyata dari sebuah investasi yang gagal: emosional, menuntut, dan selalu histeris.Namun malam ini, saat Xavier duduk di ruang kerjanya yang baru di lantai atas kantor pusat Maheswari Group, ia mendapati dirinya menatap sebuah kontrak kerja sama luar negeri bukan dengan rumus matematika, melainkan dengan logika yang ia pelajari dari ibunya yang "baru".“Kalau mereka tidak mau menghargai tokomu, tutup saja. Masih banyak pasar lain yang butuh barangmu.”Kata-kata Arischa saat Xavier mengeluh tentang negosiasi yang alot minggu lalu mendadak terngiang di kepalanya.Xavier tersenyum miring. Ia mengambil pulpennya dan langsung mencoret tiga poin tuntutan dari pihak investor asing yang dirasa terlalu mendikte. Dua tahun lalu,
Arischa menghabiskan waktu berjam-jam di ruko barunya, berdiskusi dengan kontraktor tentang tata letak pencahayaan dan pemilihan material lantai. Ia merasa jauh lebih hidup saat membicarakan blueprint bangunan daripada membicarakan menu makan malam. Namun, kedamaian itu terusik saat sebuah mobil me
Arischa terbangun dengan perasaan segar, meskipun ia tahu suasana di luar kamarnya sedang tidak baik-baik saja. Setelah penolakannya terhadap Adrian semalam, ia mengira pria itu akan meledak marah. Namun, yang ia temukan di depan pintunya pagi ini bukanlah surat cerai, melainkan sebuah buket bunga
Jalanan Jakarta siang itu cukup bersahabat bagi Arischa yang sedang menikmati kemudi mobil sport putihnya. Ia tidak pergi ke mal mewah atau tempat kumpul sosialita yang biasanya menjadi habitat aslinya. Tujuannya adalah sebuah kawasan ruko tua yang sedang direvitalisasi di pinggiran Jakarta Selata
Sinar matahari masuk menembus celah gorden sutra yang sengaja tidak ditutup rapat oleh Arischa semalam. Ia terbangun tanpa alarm, tanpa teriakan pelayan yang panik, dan tanpa rasa pening yang biasanya menghantui hidupnya yang dulu penuh tekanan. Arischa merentangkan tangannya, menikmati keheninga












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.