Penyesalan Suami Posesif

Penyesalan Suami Posesif

last updateLast Updated : 2026-04-14
By:  AtieckhaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
21views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

“Lebarkan kakimu, Laura. Biarkan tanganku merasakan kehangatanmu.” “William, ini tempat umum. Jangan gila!” “Tapi kau istriku. Aku boleh menyentuhmu di mana pun aku mau.” ** Akibat fitnah keji, suamiku menolak untuk mengakui putri kami sebagai darah dagingnya. Dia bersedia menanggung seluruh biaya pengobatan putri kami yang menderita penyakit kelainan jantung, namun dengan syarat yang menyakitkan. Aku dipaksa menjadi pelayan di rumah kami, dan malam harinya aku dipaksa menjadi “pelayan ranjangnya”. Aku menelan semua sakit dan hinaan itu, demi kesembuhan anakku. Sampai suatu hari, kebenaran pun terungkap. Dan saat penyesalan itu datang : ternyata, anak kami……???

View More

Chapter 1

Bab 1

"Hasil tes DNA sudah keluar," ucap William datar.

Pria itu sengaja datang ke rumah sakit sebelum berangkat ke kantor untuk mengambil sendiri amplop yang sudah ia tunggu sejak minggu lalu. Ia merobek segel kertas itu, lalu membaca isinya dengan saksama. Perlahan rahangnya mengeras dan tatapannya penuh kekecewaan. Tanpa  berkata sepatah kata pun, ia melemparkan lembaran itu ke arah Laura.

Dengan tangan gemetar, Laura mengambil kertas tersebut. Matanya bergerak cepat menelusuri deretan angka di sana hingga berhenti pada satu titik yang membuat dadanya seketika terasa sakit seperti diremas tangan tak kasat mata. Angka nol persen itu terpampang nyata, seolah tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk dibantah.

Air mata Laura jatuh tanpa bisa ditahan lagi membasahi kertas itu. "Ini pasti ada yang salah, William. Aurora anakmu. Aku tidak pernah  menjalin hubungan dengan pria lain di belakangmu," ucap Laura dengan suara bergetar menahan sakit tepat di ulu hatinya melihat penolakan yang sama sejak Aurora terlahir satu Minggu yang lalu.

William mengangkat tangan, memberi isyarat agar istrinya berhenti bicara. Tatapannya sangat dingin, seolah-olah wanita di depannya adalah orang yang paling ia benci di dunia ini.

"Aku sudah melihat sendiri hasilnya, tidak perlu ada penjelasan apapun lagi darimu," sahut William.

"Tidak, William, tolong dengarkan aku dulu. Aku tidak pernah berbohong, aku dijebak oleh seseorang. Kumohon percayalah padaku, aku tidak pernah mengkhianatimu. Aurora adalah darah dagingmu sendiri, William," ujar Laura sambil mencoba meraih tangan suaminya berharap pria itu masih bisa diajak bicara dari hati ke hati. Tapi semuanya sia-sia.

"Cukup!" bentak William hingga membuat Laura seketika bungkam.

Pria itu langsung menghempas tangan Laura dengan kasar hingga Laura terduduk di kursi itu lagi. Ia tidak memberi kesempatan sedikit pun bagi Laura untuk membela diri.

"Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi tentang anak itu!" Seru William sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi ke belakang.

Laura mematung di tempatnya, menatap punggung suaminya yang perlahan menjauh dan menghilang di balik tikungan lorong. Tubuhnya kehilangan seluruh tenaganya bahkan kesempatan untuk membela diri pun dia tak punya. Kertas di tangannya terasa sangat menyakitkan, seolah seluruh hidupnya hancur karena selembar hasil tes yang tidak ia mengerti dari mana asalnya.

Pandangan Laura bergeser ke arah pintu kaca ruang ICU yang tertutup rapat. Di dalam sana, bayi kecilnya masih berbaring dengan tubuh dipenuhi alat medis yang terlihat begitu mengerikan. Aurora tampak begitu mungil, begitu lemah, dan kini ayahnya sendiri enggan mengakuinya.

Orang-orang mungkin melihat Laura sebagai wanita paling beruntung karena berhasil menjadi istri William Harrington, pewaris tunggal kerajaan bisnis yang namanya disegani dalam dunia bisnis. Namun bagi Laura, semua kemewahan itu mendadak tak ada artinya, karena ia kini benar-benar sendirian di tengah badai yang menghantam rumah tangganya.

"Aku tidak pernah mengkhianatimu, William," bisik Laura sambil memeluk tubuhnya sendiri yang mulai menggigil.

Lalu ia meremas kertas di tangannya dengan kuat. Laura tahu ada yang tidak beres dengan semua ini, ia tahu pasti ada seseorang yang sengaja menghancurkan rumah tangganya. Namun tanpa bukti, semua keyakinannya hanya akan dianggap angin lalu oleh William.

"Aurora, bertahanlah, Nak. Mama akan melakukan apa pun untukmu," tutur Laura lirih sambil menahan perih yang terus menguliti perasaannya.

Pintu ruang ICU terbuka, sosok dokter Antonio keluar dengan wajah sendu. Laura berdiri dan bertanya, “bagaimana keadaan anak saya, dok?” Suaranya terdengar sangat lirih.

Dokter Antonio menghela napas panjang, “mari ikut ke ruangan saya sebentar, Bu,” sahutnya.

Laura mengangguk patuh. Dia berjalan di belakang sang dokter lalu masuk ke ruangan dokter itu dan duduk di depan meja kerjanya. Dokter Antonio melihat rekam medis Aurora. Dia menatap Laura, dan dengan berat hati dia harus menyampaikan kabar buruk ini.

“Kondisi anak Ibu semakin menurun, bahkan ini lebih cepat dari perkiraan kami sebelumnya. Alat medis di tubuhnya tak mampu lagi membantunya dengan maksimal, Bu. Agar kebocoran jantung tidak semakin melebar maka kita harus segera ambil tindakan untuk menyelamatkannya,” ucap dokter. 

Laura terdiam sepersekian detik. Lantas dia bertanya, “be–berapa lama anak saya punya waktu sebelum di operasi, dok?” tanya Laura dengan bibir bergetar.

“Hanya sampai jam delapan esok pagi, Bu. Jika tidak…” 

Ucapan dokter terjeda membuat jantung Laura berdetak semakin kencang. “Jika tidak, apa yang akan terjadi dengan anak saya, dok?” tanya Laura sambil menahan tangisnya.

“Nyawanya tidak akan bisa diselamatkan, Bu,” ujar dokter lagi.

Laura menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia tak sanggup lagi menahan tangisnya. Rasa sakit pasca melahirkan saja masih Laura rasakan, kini nyawa anaknya di ujung tanduk.

“Ya Tuhan, begitu dahsyatnya cobaan yang kembali Engkau berikan untukku setelah kepergian kedua orangtuaku. Kumohon jangan pernah ambil Aurora dariku,” bisiknya lirih sambil terus terisak, seolah dia sedang merayu Tuhan untuk berhenti membuatnya menangis.

“Suami ibu di mana? Saya harus meminta persetujuannya sebelum operasi dilakukan. Karena sangat berisik, Bu,” ujar dokter. Selama satu minggu menangani penyakit yang diderita bayi malang itu, dokter Antonio sama sekali tidak pernah melihat keberadaan William di rumah sakit ini. Hanya ada Laura yang menemani putri mereka.

“A–ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan oleh suami saya, dok. Biar saya saja yang tanda tangani surat pernyataannya, dok,” ucapnya terbata. Tidak ada yang boleh tahu tentang prahara rumah tangganya.

Dokter pun mengangguk paham, dia lalu berkata, “Kalau begitu silahkan ke ruang administrasi untuk melunasi biaya operasinya, Bu.”

“Berapa biayanya, dok?” Tanyanya lirih. Setidaknya Laura masih punya perhiasan dan tas mahal yang akan dia jual demi kesembuhan putrinya.

“Dua miliar.” 

Mata Laura membulat penuh mendengar biaya fantastis yang harus disiapkan demi menyelamatkan nyawa Aurora.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status