Share

Bab 4 Pekerjaan Baru

Penulis: Artemis Z.Y.
Sudut Pandang Mia:

Aku duduk di ruang tamu yang gelap, mengamati waktu yang terus berlalu. Rumah itu terasa lebih kosong dari biasanya. Keenan tidak pulang sejak kejadian di kantor tiga hari lalu. Aku tahu dia sedang menghukumku, tetapi aku tetap menunggu.

Jam menunjukkan tengah malam. Lalu jarum pendeknya menunjukkan angka satu. Lalu angka dua. Keenan tidak datang juga.

Ponselku bergetar, membuatku tersentak. Sebuah pesan dari teman lama semasa kuliah menyala di layar.

[ Hai, orang asing. Sudah lama nggak ketemu. Bisa ngopi bareng besok? ]

Jonah Pratama. Sudah lama sekali aku tidak mendengar kabarnya. Dulu, saat masih kuliah, kami menghabiskan banyak waktu bersama di studio seni. Dia selalu percaya pada bakatku, bahkan saat aku sendiri meragukannya.

Aku ragu-ragu sebelum membalas. Minum kopi sebentar tidak akan jadi masalah, bukan?

"Boleh. Di mana?"

Keesokan paginya, aku mendapati diriku berada di sebuah kafe yang sepi di pusat kota. Jonah sudah ada di sana, senyum akrabnya menghangatkan ruangan. Dia berdiri saat melihatku, dan aku tersadar betapa waktu telah memperlakukannya dengan baik. Rambut gelapnya yang acak-acakan kelihatan bergaya dan mata birunya tetap sehangat yang kuingat.

"Mia Wongso," katanya sambil menarikku ke dalam pelukan ringan. "Kamu masih secantik dulu."

Aku tersipu, tidak terbiasa dengan kehangatan yang begitu terbuka. "Kamu juga kelihatan oke, Jonah."

"Aku pesan minuman cokelat panas buat kamu, bukan kopi," katanya saat kami duduk. "Kamu nggak pernah kuat minum kopi pagi-pagi, 'kan?"

Fakta bahwa dia masih mengingat hal sederhana seperti itu membuat tenggorokanku sedikit menegang. Kapan terakhir kali ada orang yang memperhatikan detail sekecil itu tentang diriku?

Dia membuka percakapan. "Aku dengar kamu kerja di Grup KT ya?"

Aku mengangguk sambil mengaduk cokelat panasku. "Di bagian HRD."

"Yang benar?" Alisnya terangkat. "Perempuan yang melukis mural yang luar biasa di aula kampus malah berakhir di bagian HRD?"

"Banyak hal yang berubah," kataku pelan.

"Tapi nggak harus begitu, 'kan?" katanya sambil mencondongkan tubuh ke depan. "Itu juga alasanku ingin ketemu denganmu. Firma desainku baru dapat proyek besar. Kami lagi cari talenta baru, dan aku langsung kepikiran kamu."

"Aku?"

"Jangan kaget, Mia. Dari dulu kamu yang paling berbakat. Masih ingat beasiswa yang kamu tolak dulu?"

Aku ingat. Itu terjadi tak lama setelah Keenan mempekerjakanku sebagai sekretarisnya. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa berada dekat dengannya lebih penting daripada mengejar mimpiku.

"Aku nggak tahu, Jonah. Sudah bertahun-tahun aku nggak menggambar apa pun."

"Mampir dulu saja lihat studionya," pintanya. "Nggak ada tekanan. Lihat-lihat dulu saja."

Antusiasmenya menular padaku. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari terakhir, akhirnya aku ingin tersenyum. "Mungkin aku bisa ...."

"Mia."

Suara itu. Senyumku langsung membeku.

Keenan berdiri di samping meja kami, ekspresinya sulit dibaca. Dia mengenakan setelan hitam rapi. Dia terlihat sempurna, tak tersentuh.

"Pak Keenan," kataku dengan refleks, suaraku mengecil.

Jonah berdiri dan mengulurkan tangan. "Keenan Bramantyo ya? Aku Jonah Pratama. Aku kuliah bareng Mia."

Keenan mengabaikan uluran tangannya. Tatapannya terkunci padaku. "Ikut aku sebentar, Mia."

Itu bukan permintaan. Aku berdiri dengan gemetar, menghindari tatapan khawatir Jonah.

"Mia," panggil Jonah dari belakang. "Pikirkan yang tadi aku bilang ya?"

Rahang Keenan mengeras. Dia menuntunku ke luar, tangannya mencengkeram sikuku. Sentuhannya terasa membakar menembus lengan bajuku.

"Siapa dia?" Suara Keenan rendah dan mengancam.

"Cuma teman lama."

"Teman nggak saling memandang seperti itu."

Aku menarik lenganku. "Seperti apa maksudmu? Seperti caramu memandang Tasya?"

Matanya membara. "Itu beda."

"Beda gimana maksudmu? Apa bedanya, Keenan?"

"Karena kamu sudah tanda tangan kontrak." Dia melangkah mendekat, membuatku terpojok ke dinding. "Kamu setuju dengan syarat-syarat tertentu. Nggak boleh menjalin hubungan dengan pria lain selama pernikahan kita."

Aku tertawa getir. "Pernikahan kita? Itu sebutanmu untuk perjanjian ini?"

"Gimana pun, ini tetap sah di mata hukum." Napasnya menyapu wajahku. "Atau kamu sudah lupa?"

"Nggak," bisikku. "Aku nggak melupakan apa pun. Termasuk ke mana saja kamu pergi selama tiga hari terakhir."

Sesuatu berkelebat di matanya. Rasa bersalah? Amarah? Aku sudah tidak bisa membedakannya lagi.

"Apa yang aku lakukan bukan urusanmu."

"Tapi apa yang aku lakukan jadi urusanmu?" tantangku. "Itu nggak adil, Keenan."

"Hidup memang nggak adil." Dia merapikan dasinya. "Ingat kesepakatan kita, Mia. Jangan sampai aku harus mengingatkan kamu lagi."

Dia berbalik hendak pergi, lalu berhenti. "Dan suruh temanmu berhenti membuang waktunya. Kamu bukan perempuan lajang lagi."

"Dia menawarkan pekerjaan padaku," kataku ke punggungnya.

Keenan berhenti, lalu berbalik perlahan. "Apa?"

"Pekerjaan. Di firma desainnya." Aku mengangkat dagu. "Dulu aku suka menggambar, sebelum ...."

"Sebelum apa?"

"Sebelum aku jadi sekretarismu." Kata-kata itu terasa pahit. "Sebelum aku menandatangani kontrakmu."

Ekspresi Keenan menggelap. "Kamu nggak boleh mempertimbangkannya."

"Kenapa nggak? Lagian aku sudah diskors sama kamu."

"Itu cuma sementara." Dia kembali mendekat. "Kamu itu istriku, Mia."

"Istrimu?" Aku menatapnya lurus-lurus. "Karena sepertinya aku cuma jadi istrimu saat itu menguntungkan buat kamu. Saat kamu perlu menunjukkan ke dewan direksi kalau hidupmu stabil. Saat kamu butuh seseorang untuk menghangatkan ranjangmu."

Tangannya mengepal. "Itu nggak benar."

"Kalau begitu, di mana kamu selama tiga hari terakhir ini, Keenan? Bersama Tasya?"

Keenan mencengkeram pergelangan tanganku, tidak sampai menyakitkan, tetapi cukup kuat. "Sejak awal kamu tahu seperti apa hubungan kita. Jangan bertingkah seolah-olah aku menipumu."

"Nggak," bisikku. "Aku yang menipu diriku sendiri. Aku pikir mungkin ... mungkin kalau aku cukup sabar, cukup baik, kalau aku mengikuti semua aturanmu ...." Aku menarik pergelangan tanganku. "Tapi aku salah, 'kan?"

Sesuatu kembali berkelebat di matanya. "Mia ...."

"Kamu nggak berhak mengendalikan setiap bagian hidupku, Keenan. Nggak lagi."

"Kontraknya ...."

"Kontraknya bilang aku nggak boleh punya hubungan dengan pria lain. Nggak ada satu kata pun soal menerima pekerjaan." Aku menegakkan punggung. "Atau kamu cemburu?"

Tawanya terdengar kasar. "Cemburu? Sama dia? Jangan konyol."

"Kalau begitu nggak ada masalah, 'kan?"

Kami berdiri saling menatap. Sesaat, aku kira aku melihat sesuatu di matanya. Namun, tak lama kemudian topengnya kembali terpasang.

"Baik," katanya dingin. "Terima saja pekerjaannya. Tapi ingat posisimu, Mia. Kamu tetap istriku."

"Nggak, Keenan. Aku pegawaimu yang kebetulan menandatangani kontrak pernikahan. Itu berbeda."

"Kita bahas ini di rumah," katanya pada akhirnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berbalik dan pergi. Kali ini, aku membiarkannya.

Ponselku bergetar menerima pesan dari Jonah.

[ Kamu nggak apa-apa? Mau lanjut ngobrol soal pekerjaannya? ]

Aku menatap pesan itu untuk waktu yang lama. Lalu, aku membalasnya.

[ Ceritakan lebih lanjut soal posisinya. ]
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri yang Tak Diinginkan dan Kembaran Rahasianya   Bab 50 Tarik Ulur

    Sudut Pandang Mia:Kegelapan punya keunikannya sendiri. Di hari keempat tanpa penglihatan, aku sudah belajar membedakan nuansanya. Gelap lembut di pagi buta, berbeda dengan gelap berat di tengah malam. Para dokter terus meyakinkanku ini hanya sementara, respons tubuh terhadap stres dan tekanan darah yang tinggi. Namun, pengetahuan itu tak membuat rasa takutku menjadi lebih ringan.Bunyi notifikasi ponselku yang lembut memotong lamunanku. Aku meraba-raba mencarinya, jariku menemukan kaca licin itu lewat ingatan otot. Setelah tiga hari berlatih, akhirnya aku menguasai perintah suara."Hai, Cantik!" Suara Starla memenuhi kamarku lewat fitur text-to-speech. "Para kontraktor butuh persetujuan final warna ruang terapi. Mau makan siang bareng sambil bahas sampelnya?"Tenggorokanku menegang. Aku belum memberi tahu dia tentang kondisiku. Starla sudah memikul begitu banyak beban. Mengatur pemasok, meninjau material, menghadiri rapat lokasi atas namaku."Maaf, lagi dikejar tenggat waktu." Aku ber

  • Istri yang Tak Diinginkan dan Kembaran Rahasianya   Bab 49 Jangan Bersikap Seolah Kamu Peduli

    Sudut Pandang Mia:Kesadaranku perlahan kembali, seperti berenang naik dari air yang gelap. Kepalaku terasa berat dan tumpul, rasa sakitnya diredam oleh obat apa pun yang mereka berikan kemarin. Kegelapan itu masih ada. Bukan gelap biasa seperti ruangan tertutup atau malam hari, melainkan sesuatu yang mutlak dan tak tertembus.Ada hembusan udara halus yang menyentuh kulitku saat seseorang bergerak di dekatku. Kemudian, aku menyadarinya. Aroma parfum mahal yang begitu familier, bercampur dengan sesuatu yang khas milik Keenan. Indra-indraku yang lain seolah-olah menajam untuk menutupi penglihatanku yang hilang, membuat keberadaannya terasa nyaris menyakitkan.Aku mencoba bangkit, tanganku ragu-ragu menyentuh seprai rumah sakit yang asing. Seketika itu juga aku merasakan Keenan mendekat, kasur sedikit menurun saat dia condong ke arahku."Hati-hati." Suaranya terdengar dari sebelah kiriku, serak seperti orang kurang tidur. Dia pasti tertidur di kursi di samping ranjangku. "Biar aku bantu k

  • Istri yang Tak Diinginkan dan Kembaran Rahasianya   Bab 48 Ketakutan Alami

    Sudut Pandang Keenan:Aku mendengar suara kaca pecah disusul jeritan Mia yang ketakutan. Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat darahku membeku. Bukan kepanikan lirih yang biasa, tetapi ketakutan alami.Kakiku sudah bergerak sebelum pikiranku sempat menyusul. Aku menaiki tangga dua anak tangga sekaligus dan tiba di kamarnya tepat ketika jeritan lain menggema di kegelapan."Tolong! Siapa saja, tolong!"Pemandangan di hadapanku membuat jantungku nyaris berhenti. Mia tergeletak di lantai, dikelilingi pecahan berkilau dari vas kristal di nakasnya. Darah merembes dari kakinya. Dia pasti menginjak kaca. Namun, yang membuatku terpaku adalah wajahnya. Mata yang tak fokus, tangan yang meraba-raba udara kosong dengan putus asa."Mia?" Aku melangkah hati-hati melewati pecahan kaca. "Apa yang terjadi?""Aku nggak ...." Suaranya pecah, air mata mengalir di pipinya. "Aku nggak bisa melihat. Aku nggak bisa melihat apa pun."Dalam dua puluh tahun memimpin Grup KT, melewati merger, krisis, dan kesepak

  • Istri yang Tak Diinginkan dan Kembaran Rahasianya   Bab 47 Kegelapan Total

    Sudut Pandang Mia:Layar laptopku memancarkan cahaya lembut di sisa cahaya langit sore ketika aku membuka obrolan grup. Tiga wajah muncul di jendela masing-masing. Rambut merah menyala Starla yang tak mungkin salah dikenali meski tampil kecil, senyum hangat Jonah yang akrab, dan pantulan wajahku sendiri yang terlihat lelah."Nah, ini dia!" Suara Starla berderak dari pengeras suara. "Arsitek genius kita akhirnya muncul juga.""Maaf telat," kataku sambil menyesuaikan layar. "Aku baru saja meninjau survei lokasi terbaru.""Ngomong-ngomong soal itu ...." Jonah mengangkat setumpuk kertas. "Aku punya beberapa masukan soal tata letak taman terapeutik. Integrasinya dengan vegetasi yang sudah ada itu inspiratif, Mia, tapi kamu kepikiran menambah taman kupu-kupu? Anak-anak pasti suka.""Itu ... ide yang brilian." Aku meraih buku sketsaku, imajinasi langsung bekerja. "Kita bisa bikin area khusus dekat taman sensorik, pakai tanaman lokal untuk menarik spesies setempat.""Dan aku sudah ngobrol deng

  • Istri yang Tak Diinginkan dan Kembaran Rahasianya   Bab 46 Tak Ada Kata yang Lebih Tepat

    Sudut Pandang Mia:Koridor rumah sakit sudah terasa akrab selama empat hari terakhir. Setiap pagi, aku datang tepat saat matahari mulai terbit dengan warna keemasan dan merah muda. Para perawat sif pagi kini mengenalku namaku, menyapaku dengan senyum lembut saat aku melangkah menuju kamar ibuku.Hari ini pun tak berbeda. Emma, si kepala perawat, mendongak dari mejanya dengan senyum hangat. "Selamat pagi, Bu Mia. Ibumu melewati malam dengan tenang.""Ada perubahan?" tanyaku, pertanyaan yang kini terasa otomatis, seperti bernapas."Semua indikatornya stabil." Senyum Emma sedikit melebar. "Dokter Nanda juga baru saja masuk untuk memeriksanya."Aku menemukan Nanda berdiri di samping ranjang ibuku, menatap grafik medis dengan konsentrasi penuh. Lingkar hitam membayangi matanya dan penampilannya yang biasanya rapi menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Lengan kemejanya digulung asal, kerahnya sedikit miring."Nanda?"Dia menoleh, wajah profesionalnya melunak menjadi senyum tulus. "Mia. Aku meman

  • Istri yang Tak Diinginkan dan Kembaran Rahasianya   Bab 45 Keluar

    Sudut Pandang Mia:Kesadaranku perlahan kembali, seperti berenang naik dari air yang sangat dalam. Hal pertama yang kudengar adalah bunyi bip monitor yang stabil. Baru kusadari, itu bukan milikku, melainkan dari ranjang di sebelahku."Apa yang terjadi?" tanyaku, suaraku serak karena baru bangun.Seorang perawat muncul di sisiku sambil mengatur sesuatu di monitor. "Kamu pingsan, Sayang. Stres dan kelelahan."Aku menegakkan tubuh dengan hati-hati, kepalaku sedikit berputar. "Berapa lama aku nggak sadar?""Hanya beberapa jam." Dia membantu merapikan bantal. "Dokter Nanda bilang ini murni karena kelelahan. Kapan terakhir kali kamu makan?"Aku mencoba mengingat, tetapi kosong. Perawat itu mendecak pelan, tidak setuju."Ya, itu dugaanku. Kamu harus istirahat dan makan sampai kenyang." Gerakannya cekatan saat memeriksa tanda vitalku. "Oh ya, kondisi ibumu sangat baik. Operasinya berhasil sepenuhnya."Mendengarnya menyebut ibuku, aku langsung menoleh ke ranjang di sebelah. Dia terbaring tenang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status