Share

124. Bayi yang Malang

Author: Henny Djayadi
last update Last Updated: 2025-10-02 18:44:22

Ada getaran ragu yang merayap di wajah Aditya, nama itu terlalu berarti untuk diabaikan. Seperti sebuah alarm yang mengingatkannya pada kenyataan di luar kamar ini.

Momen singkat itu menjadi peluang bagi Naira. Dengan sisa tenaga, ia mendorong dada Aditya, melepaskan diri dari himpitan. Tubuhnya terhuyung, namun rasa lega membuat kakinya kokoh.

Air matanya belum reda ketika Aditya dengan berat hati menyerahkan ponsel itu. Jari-jarinya gemetar saat meraihnya, sangat jarang Danang menghubunginya, kecuali ada sesuatu yang sangat penting,

“Pakde…” gumam Naira sebelum menggeser layar.

Aditya terdiam. Ada pertarungan batin di matanya, ego dan harga dirinya terluka karena kembali harus mendapat penolakan dari istrinya.

Naira menyeka sisa air mata di pipinya sebelum menempelkan ponsel ke telinga. Suaranya masih bergetar ketika menyapa.

“Ya, Pakde…”

Di ujung sana terdengar suara Danang yang terburu-buru, parau karena kepanikan.

“Nai… Kirana sudah melahirkan. Dokter terpaksa melakukan operasi c
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Yesi Eka Putri
naira ni agak rada2 jg kdv.. g ada ketegasan...
goodnovel comment avatar
Kirania Zahra
Alex kemana ini Thor
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   358. Buang Saja

    Dari balik pepohonan yang gelap, Revan menyaksikan semuanya. Tubuh Regina dibopong dua orang, lemas tak berdaya. Kepalanya terkulai. Rambutnya menutupi wajah cantik yang selama ini berhasil merayu banyak pria. Pintu mobil terbuka. Tubuh itu dimasukkan dengan tergesa. Mesin menyala. Lampu menembus kabut Puncak. Revan refleks melangkah maju. “Aku harus menyusul sekarang juga,” gumamnya, tangan sudah meraih gagang senjata di pinggang. Selo Ardi langsung menahan lengannya. Genggamannya kuat. Tegas. “Jangan bodoh,” katanya pelan tapi menekan. “Kau mau mati sebelum tahu dia dibawa ke mana.” Revan menoleh. Rahangnya mengeras. Napasnya berat. “Dia pingsan, Bang.” “Justru itu,” jawab Selo Ardi. “Kalau kita gegabah, mereka sadar kita ada. Regina hilang, kita habis.” Mobil hitam itu mulai bergerak menuruni jalan berkelok. Lampu belakangnya seperti mata merah yang menjauh perlahan. Selo Ardi memberi isyarat. Salah satu mobil mereka menyala, tapi tidak langsung mengejar. Jarak dijaga.

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   357. Terror untuk Peter

    Peter berdiri di depan cermin besar di kamar tidurnya.Lampu kuning jatuh tepat di wajahnya. Bayangan itu menatap balik tanpa berkedip. Garis usia di sekitar mata semakin jelas. Rahang yang dulu tegas kini terlihat kaku. Untuk pertama kalinya sejak lama, Peter tidak menyukai apa yang dia lihat.“Ada yang tidak beres,” gumamnya.Suara itu keluar pelan, tapi berat. Seperti pengakuan yang terlalu lama ditahan. Ia memiringkan kepala, menatap bayangannya dari sudut lain, seolah jawaban bisa muncul dari pantulan kaca.“Aku harus segera menemukan jawabannya.”Peter meraih ponsel. Jarinya bergerak cepat, tanpa ragu. Satu nama. Satu sambungan.“Lakukan tes darah pada Regina,” perintahnya tanpa salam pembuka begitu sambungan terhubung. “Lengkap. Kimia darah, toksikologi, semuanya. Sekarang.”“Siap, Tuan,” sahut suara di seberang, dingin dan patuh.Peter memutus sambungan. Ia menyadari tangannya sedikit gemetar, sebuah pengkhianatan dari syarafnya sendiri. Ia mengepalkan tangan, kuku-kukunya mem

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   356. Harapan Regina

    Peter merenggut kerah jubah tidur Regina dengan satu sentakan kasar. Kain sutra itu berderit, memutus keheningan kamar yang pengap oleh ketegangan."Ah…!"Regina tersentak. Matanya terbuka setengah, sayu dan sarat akan kelelahan yang dalam. Secara refleks, tubuhnya meringkuk, mencoba melindungi sisa harga diri yang masih melekat di kulitnya. Rasa nyeri menjalar dari pinggang, naik mencekik dadanya. Napasnya tertahan di tenggorokan, sebelum akhirnya pecah menjadi desis perih."Besok lagi, Om," bisik Regina parau, matanya kembali terpejam rapat. "Aku... aku capek sekali."Hening. Tapi itu bukan keheningan yang menenangkan. Itu adalah kesunyian yang salah, jenis sunyi yang biasanya mendahului badai."Apa yang kau sembunyikan dariku, Regina?"Suara Peter rendah, nyaris datar, namun mengandung getaran yang berbahaya. Dingin. Tajam. Seperti ujung belati yang sedang mencari titik paling lunak di nadi korbannya untuk disayat.Regina membuka matanya perlahan. Sudut bibirnya yang pucat meleng

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   355. Di Tangan Peter

    Getar ponsel di telapak tangan Alex terasa seperti sengatan listrik yang mengganggu ritme jantungnya. Ia mengangkat perangkat itu dengan gerakan seminimal mungkin.Alex tak ingin mengusik posisi Naira, istrinya yang tengah bersandar manja di dadanya, mencari perlindungan di balik kehangatan tubuhnya yang sebenarnya sedang tegang.“Tuan,” suara Revan menyusup rendah, sarat dengan nada waspada yang tertahan. “Kami sudah di Puncak.”Alex mengalihkan tatapan pada langit-langit kamar hotel yang remang. Cahaya lampu kota yang tipis masuk melalui celah gorden, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jeruji.“Lanjut,” perintah Alex singkat, suaranya sedingin es.“Orang-orang Selo Ardi sudah mengepung vila yang diduga tempat Peter bersembunyi,” lapor Revan. “Penjagaan di sana terlalu ketat untuk sekadar persembunyian sementara. Ini markas, Tuan. Peter sudah membangun bentengnya.”Rahang Alex mengatup rapat. Otot-otot lengannya mengeras, reaksi naluriah saat predator merasakan kehadira

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   354. Istirahat Sejenak

    "Hati-hati, Alex..." Suara Naira nyaris tercekik, terpecah di antara deru napas yang memburu saat Alex bergerak di atasnya.Mungkin ini adalah euforia. Kabar mengenai hasil pemeriksaan yang negative, sebuah kelegaan yang luar biasa, bercampur dengan hasrat yang tertahan sejak semalam, membuat Alex seolah kehilangan kendali diri.Ayah satu anak itu sejenak lupa bahwa di dalam rahim istrinya, sebuah kehidupan baru yang rapuh sedang kembali bersemi.Awalnya, sentuhan Alex terasa seperti belaian angin pagi; ragu, lembut, dan penuh pemujaan. Namun, ketika mereka hampir menyentuh ambang puncak, ritme itu berubah.Alex bergerak dengan intensitas yang mendesak, seolah sedang mengejar sesuatu yang hampir luput dari genggamannya, membuat Naira kewalahan namun sekaligus terhanyut.Hingga akhirnya, mereka jatuh bersama dalam ledakan kenikmatan yang sunyi.Lampu temaram di sudut kamar hotel menyisakan rona jingga yang lembut, menyelimuti sisa-sisa keintiman yang baru saja usai.Udara masih terasa

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   353. Ganti yang Semalam

    Langkah kaki Alex dan Naira bergema seirama di koridor rumah sakit yang dingin. Jemari mereka saling mengunci, begitu erat hingga buku-buku jari memutih. Bagi Alex, genggaman itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut; seolah jika terlepas satu inci saja, dunia yang baru saja ia tata akan runtuh untuk kedua kalinya. ​Dokter spesialis yang kemarin mengambil sampel darah Alex mendongak, lalu tersenyum tipis saat melihat mereka ambang pintu. Sebuah senyum yang sulit diterjemahkan maknanya. “Silakan duduk.” Alex mendaratkan tubuhnya di kursi, sementara Naira tetap merapat di sampingnya, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya lewat sentuhan tangan yang tak kunjung lepas. ​ Di atas meja, sebuah map cokelat tampak begitu mengintimidasi. Sang dokter membukanya perlahan, mengeluarkan selembar kertas yang aromanya seperti bau obat dan kecemasan. Dokter itu menatap Alex, lalu senyumnya melebar, kali ini lebih tulus. ​“Hasil pemeriksaan awal Anda... negati

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status