Share

81. Dilema Naira

Author: Henny Djayadi
last update Huling Na-update: 2025-09-12 12:05:59

Setelah seharian menemani Kirana, Arum menghampiri kedua orang tuanya yang masih setia duduk di kursi tunggu depan ruang ICU. Wajah Arum tampak letih, tapi matanya penuh rasa ingin tahu sekaligus amarah yang ditahan.

“Bu, Pak… bagaimana keadaan Mas Adit?” tanya Arum lirih.

Retno Kinasih hanya menggeleng pelan, matanya sembab, air mata belum juga kering. Arya pun tak banyak bicara, hanya menatap kosong ke arah pintu ruang ICU yang tertutup rapat seolah berharap kabar baik akan keluar dari balik pintu itu.

Arum menarik napas berat, tatap matanya memindai seisi ruangan seolah mencari sesuatu. Saat penglihatannya tidak menemukan yang dia cari, lalu Arum kembali bertanya.

“Lalu… di mana Mbak Naira? Kenapa tidak di sini? Bukankah dia istrinya? Seharusnya dia yang paling setia menjaga Mas Adit.”

Suasana sedih itu berubah penuh kesedihan. Retno menunduk, seakan tak ingin menjawab. Sementara Arya tetap diam, wajahnya menegang.

Arum mengepalkan tangannya. Suaranya meninggi, penuh sindiran.

“Jad
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Luly Chan
makasih upnya thor. aduh Naira galau lgi kan.
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   356. Harapan Regina

    Peter merenggut kerah jubah tidur Regina dengan satu sentakan kasar. Kain sutra itu berderit, memutus keheningan kamar yang pengap oleh ketegangan."Ah…!"Regina tersentak. Matanya terbuka setengah, sayu dan sarat akan kelelahan yang dalam. Secara refleks, tubuhnya meringkuk, mencoba melindungi sisa harga diri yang masih melekat di kulitnya. Rasa nyeri menjalar dari pinggang, naik mencekik dadanya. Napasnya tertahan di tenggorokan, sebelum akhirnya pecah menjadi desis perih."Besok lagi, Om," bisik Regina parau, matanya kembali terpejam rapat. "Aku... aku capek sekali."Hening. Tapi itu bukan keheningan yang menenangkan. Itu adalah kesunyian yang salah, jenis sunyi yang biasanya mendahului badai."Apa yang kau sembunyikan dariku, Regina?"Suara Peter rendah, nyaris datar, namun mengandung getaran yang berbahaya. Dingin. Tajam. Seperti ujung belati yang sedang mencari titik paling lunak di nadi korbannya untuk disayat.Regina membuka matanya perlahan. Sudut bibirnya yang pucat meleng

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   355. Di Tangan Peter

    Getar ponsel di telapak tangan Alex terasa seperti sengatan listrik yang mengganggu ritme jantungnya. Ia mengangkat perangkat itu dengan gerakan seminimal mungkin.Alex tak ingin mengusik posisi Naira, istrinya yang tengah bersandar manja di dadanya, mencari perlindungan di balik kehangatan tubuhnya yang sebenarnya sedang tegang.“Tuan,” suara Revan menyusup rendah, sarat dengan nada waspada yang tertahan. “Kami sudah di Puncak.”Alex mengalihkan tatapan pada langit-langit kamar hotel yang remang. Cahaya lampu kota yang tipis masuk melalui celah gorden, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jeruji.“Lanjut,” perintah Alex singkat, suaranya sedingin es.“Orang-orang Selo Ardi sudah mengepung vila yang diduga tempat Peter bersembunyi,” lapor Revan. “Penjagaan di sana terlalu ketat untuk sekadar persembunyian sementara. Ini markas, Tuan. Peter sudah membangun bentengnya.”Rahang Alex mengatup rapat. Otot-otot lengannya mengeras, reaksi naluriah saat predator merasakan kehadira

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   354. Istirahat Sejenak

    "Hati-hati, Alex..." Suara Naira nyaris tercekik, terpecah di antara deru napas yang memburu saat Alex bergerak di atasnya.Mungkin ini adalah euforia. Kabar mengenai hasil pemeriksaan yang negative, sebuah kelegaan yang luar biasa, bercampur dengan hasrat yang tertahan sejak semalam, membuat Alex seolah kehilangan kendali diri.Ayah satu anak itu sejenak lupa bahwa di dalam rahim istrinya, sebuah kehidupan baru yang rapuh sedang kembali bersemi.Awalnya, sentuhan Alex terasa seperti belaian angin pagi; ragu, lembut, dan penuh pemujaan. Namun, ketika mereka hampir menyentuh ambang puncak, ritme itu berubah.Alex bergerak dengan intensitas yang mendesak, seolah sedang mengejar sesuatu yang hampir luput dari genggamannya, membuat Naira kewalahan namun sekaligus terhanyut.Hingga akhirnya, mereka jatuh bersama dalam ledakan kenikmatan yang sunyi.Lampu temaram di sudut kamar hotel menyisakan rona jingga yang lembut, menyelimuti sisa-sisa keintiman yang baru saja usai.Udara masih terasa

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   353. Ganti yang Semalam

    Langkah kaki Alex dan Naira bergema seirama di koridor rumah sakit yang dingin. Jemari mereka saling mengunci, begitu erat hingga buku-buku jari memutih. Bagi Alex, genggaman itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut; seolah jika terlepas satu inci saja, dunia yang baru saja ia tata akan runtuh untuk kedua kalinya. ​Dokter spesialis yang kemarin mengambil sampel darah Alex mendongak, lalu tersenyum tipis saat melihat mereka ambang pintu. Sebuah senyum yang sulit diterjemahkan maknanya. “Silakan duduk.” Alex mendaratkan tubuhnya di kursi, sementara Naira tetap merapat di sampingnya, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya lewat sentuhan tangan yang tak kunjung lepas. ​ Di atas meja, sebuah map cokelat tampak begitu mengintimidasi. Sang dokter membukanya perlahan, mengeluarkan selembar kertas yang aromanya seperti bau obat dan kecemasan. Dokter itu menatap Alex, lalu senyumnya melebar, kali ini lebih tulus. ​“Hasil pemeriksaan awal Anda... negati

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   352. Pengen

    "Seberapa besar kemungkinan kamu... tertular?"Suara Naira bergetar. Kalimat itu menggantung di udara, dingin dan mencekam. Di hadapannya, Alex terpaku.Mata Alex yang biasa memancarkan ketegasan kini meredup, kehilangan binar yang biasanya selalu menenangkan Naira."Aku tidak berani mengira-ngira, Nai." Alex menjawab lirih.Ada nada kepasrahan yang menyakitkan. Dia tidak ingin memberi harapan palsu, namun kejujuran ini terasa seperti belati yang dihunus ke jantung istrinya.Naira merasakan badai berkecamuk di benaknya. Marah, cemburu, dan rasa takut yang melumpuhkan berpilin menjadi satu.Tentang masa lalu Alex yang hidup bersama perempuan lain tanpa ikatan, Naira sudah mencoba berdamai.Mita bisa paham latar belakang budaya mereka berbeda. Lagi pula, ia sendiri tidak datang ke pernikahan ini dengan lembaran yang sepenuhnya putih.Namun, pengakuan Alex barusan mengubah segalanya.Naira mengusap perutnya yang mulai membuncit. Di sana, ada kehidupan yang sedang bertumbuh, bayi kembar m

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   351. Diamnya Naira

    Ujung jari Alex baru saja menyentuh dinginnya gagang pintu logam itu ketika suara datar sang dokter menahannya."Satu hal lagi, Pak Alex."Alex mematung. Punggungnya menegang, seolah setiap saraf di tubuhnya sedang bersiap menerima hantaman badai. Ia tidak berbalik, namun ia bisa merasakan tatapan tajam dokter itu menembus jas mahal yang ia kenakan."Kepanikan tidak akan mengubah angka di hasil laboratorium itu. Tetaplah tenang. Untuk keluarga yang Anda cintai, dan untuk diri Anda sendiri."Alex menoleh sedikit, hanya cukup untuk memperlihatkan profil wajahnya yang keras. Sebuah senyum tipis tersungging di sudut bibirnya, getir, hambar, dan sarat akan keputusasaan.Itu bukan senyum seorang pemenang, melainkan senyum seorang pria yang sadar bahwa ia sedang berdiri di tepi jurang, bertaruh habis-habisan dengan takdir yang tak pernah berpihak padanya."Saya tidak panik, Dok," bisik Alex. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh deru napasnya sendiri yang terasa berat. "Saya hanya takut."A

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status