Mendadak Jadi Sugar Baby

Mendadak Jadi Sugar Baby

last updateÚltima actualización : 2025-12-19
Por:  Mommy_ArEn curso
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
No hay suficientes calificaciones
7Capítulos
5vistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

“Om… dadanya keras banget,” Wilona terkikik sambil menepuk dada pria itu, napasnya bercampur alkohol. “Ini dada apa beton sih? Kok gak ada empuk-empuknya, hihihi.” “Wilona, hentikan,” suara pria itu dingin, tegas, namun justru membuat jantung Wilona berdegup lebih cepat. “Gak mau,” Wilona tersenyum nakal. “Aku mau godain Om. Ayo dong… culik aku. Jadikan aku sugar baby kamu.” Malam itu, Wilona, seorang mahasiswi cantik yang lelah diabaikan kekasihnya, seorang ketua BEM, memutuskan mencari pelarian di dunia malam. Alkohol, lampu remang, dan dentuman musik membuatnya lupa batas. Namun ia tak pernah menyangka, pria yang ditemuinya bukan orang asing. Dia adalah Yudha, calon suami sepupunya. Satu malam yang seharusnya dilupakan justru membuka rahasia, ketegangan terlarang, dan perasaan yang tak seharusnya ada. Ketika batas mulai kabur… Siapa yang akan mundur lebih dulu?

Ver más

Capítulo 1

Bab 1

Di sebuah klub malam, musik berdentum keras seolah tak memberi ruang bagi siapa pun untuk berpikir jernih.

Lampu-lampu warna-warni menari liar di udara, memantul di dinding dan lantai, menciptakan suasana riuh yang penuh hiruk-pikuk.

Aroma alkohol bercampur parfum mahal memenuhi ruangan, membuat kepala sedikit pening bahkan sebelum meneguk apa pun.

Di ujung ruangan, agak tersembunyi dari keramaian lantai dansa, gadis itu terlihat larut dalam dunianya sendiri.

"Udah jauh-jauh ke sini, malah bengong!"

"Tau ih, jarang-jarang tahu kita ke tempat ginian!"

Wilona hanya menghela napas berat mendengar protes kedua temannya. Ia menyandarkan tubuh ke sofa, kepalanya sedikit mendongak menatap langit-langit klub yang dipenuhi lampu strobo.

Wajahnya kusut seperti cucian yang sudah seminggu tak disetrika. Matanya terlihat lelah, bukan karena kurang tidur, melainkan karena terlalu banyak hal yang ia pikirkan sendirian.

"Kenapa sih, Wil? Mikirin Revan lagi?" tanya Vera sambil menyesap minumannya. Es di dalam gelas berdenting pelan.

Wilona tak langsung menjawab. Ia menelan ludah, dadanya terasa sesak.

"Salah gak sih kalau aku cemburu sama kesibukan dia?" gumam Wilona pelan, nyaris tenggelam oleh musik yang makin menggila. “Dia nggak pernah ada waktu buatku. Aku kangen dia yang dulu….”

"Udahlah, biarin dia sibuk!" cetus Tika. "Dia sibuk, kamu juga bisa cari kesibukan sendiri!"

"Nah bener tuh kata Tika. Dia aja bisa gak mikirin kamu, kenapa kamu gak!" sahut Vera cepat, nada bicaranya lebih tegas.

Wilona menoleh. "Maksudnya?"

Vera tersenyum tipis, lalu mengangkat gelas di tangannya. "Aku ajak kamu ke sini buat happy happy. Lupain Revan sesaat, nih cobain minum."

Gelas itu disodorkan ke arah Wilona. Cairan bening di dalamnya berkilau terkena pantulan lampu.

Wilona mengerutkan dahinya, menatap ragu. "Ini apa?" tanyanya ragu, alisnya bertaut. Tangannya memegang gelas itu seolah benda asing yang bisa meledak kapan saja.

"Udah cobain aja!" sahut Vera santai, nada suaranya seakan meremehkan keraguan Wilona.

Wilona menarik napas dalam-dalam. Ia melirik Tika sekilas, lalu kembali menatap gelas di tangannya.

"Aargh pahit bangettt!" serunya spontan.

Wajahnya langsung meringis, hidungnya mengkerut, dan refleks ia menjulurkan lidah seperti anak kecil yang baru saja memakan obat.

"Hahaha, enak tahu!" kata Vera sambil tertawa lepas.

"Gak enak ya Wil, aku tadi juga coba setetes gak enak," sambung Tika, ikut tertawa kecil sambil mengangkat bahu, seolah ingin menunjukkan bahwa Wilona tidak sendirian dalam penderitaan itu.

"Yaelah, cobain setetes ya emang gak enaklah, gak berasa!" kata Vera membela minuman itu.

Ia kembali mengangkat gelasnya, meneguk sedikit dengan gaya santai, seakan ingin membuktikan ucapannya.

“Wil, Cobain sekali lagi. Jangan Cuma sekali, biar makin dapet sensasinya.”

Wilona menerima gelas keduanya, ketiga hingga tanpa sadar dirinya justru ketagihan, membuat Vera dan Tika melongo tak percaya, melihat sahabatnya kini benar benar sudah diambang batas kesadaran.

“Wil! Pelan-pelan!”

“Biarin, Tik,” sela Vera. “Biar happy dia.’’

“Kalian tahu gak sih, aku tuh sedih banget. Sedihhh! Hati aku… ini hati aku sesek! Aku capek!” seru Wilona setengah mabuk.

Suaranya tenggelam di antara musik, tapi getarannya terasa nyata. Tangannya terus menepuk dadanya sendiri, seolah benar-benar ingin mengeluarkan beban yang menumpuk di dalam sana.

Setiap tepukan diiringi dengan satu tegukan minuman, seperti ritual pelarian yang tak masuk akal namun terasa perlu baginya malam itu.

“Iya iya Wil, kita tahu kamu capek. Udah ya minumnya. Kamu udah mabuk!” Tika berusaha merebut gelas Wilona, wajahnya cemas.

Namun, Wilona refleks menjauhkan tangannya, gerakannya ceroboh tapi cukup cepat.

“Eitss, gak boleh direbut, hehehe!” Wilona tertawa kecil, tawa yang terdengar palsu dan rapuh. Ia mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. “Kita ke mana aja sih selama ini, kenapa ada minuman seenak ini, tapi kita gak tahu?!”

“Ini semua gara-gara Revan sialan! Dia jahat sama aku … dia kejam, dia jahat! Dia tega sama aku!”

Kalimat itu meluncur bersamaan dengan air mata yang akhirnya jatuh. Bahu Wilona bergetar, matanya memerah, maskara yang tadinya rapi mulai luntur. Ia menutup wajahnya dengan satu tangan, sementara tangan lain masih menggenggam gelas seakan takut jika kehilangan minuman itu, ia akan benar-benar runtuh.

Wilona mulai terisak, tangisnya pecah, tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Dunia seakan menyempit hanya pada rasa sakit yang ia simpan selama ini.

Revan …

Nama itu saja sudah cukup membuat dadanya kembali sesak.

Sebagai ketua BEM, Revan memang selalu sibuk. Rapat ini, agenda itu, kegiatan ini, evaluasi itu.

Hampir setiap hari Wilona harus menunggu, menahan rindu, dan mengalah. Berkali-kali ia meyakinkan diri sendiri bahwa ini hanya fase, bahwa Revan sedang berjuang untuk masa depannya.

Tapi lama-kelamaan, Wilona lelah.

Karena perjuangan Revan perlahan menghapus keberadaannya.

Padahal dulu, saat mereka masih SMA, Revan tidak seperti ini. Revan yang dulu selalu punya waktu.

Revan yang rela menunggu di depan kelas hanya untuk pulang bersama. Revan yang mengirim pesan panjang setiap malam, memastikan Wilona tidur dengan senyum.

Revan adalah sosok kekasih idaman perhatian, hangat, dan selalu membuat Wilona merasa menjadi satu-satunya.

Namun sekarang?

Dunia Revan bukan lagi Wilona.

Wilona terus meracau seolah meluapkan rasa kesal yang selama ini ia pendam dan tak berani ia ungkapkan. Demi menjaga kedamaian dalam hubungannya.

Sementara Vera dan Tika, keduanya hanya bisa menghela napas berat, mencoba menjadi pendengar yang baik. Sampai akhirnya, tiba-tiba Wilona berusaha berdiri.

Tubuhnya goyah, langkahnya tidak stabil, tapi semangatnya seperti orang mau ikut lomba joget.

“Wilona! Mau ke mana?!” teriak Vera terkejut.

“Kata kalian, aku harus cari selingan biar gak mikirin dia hahaha, tungguin yaa!” Seru Wilona dengan vokal yang nyaris hilang. “Aku mau cari selingkuhan!” lanjutnya sambil memutar tubuhnya dan hampir jatuh.

“Sumpah ya, aku nyesel kasih saran ke tu anak!’’ keluh Vera menepuk dahinya. Namun Wilona sudah jalan sempoyongan ke tengah kerumunan.

“Wilona! Balik!” Tika mencoba mengejar, tapi orang-orang di lantai dansa terlalu rapat.

Wilona terus berjalan, sampai….

Bruk!

Ia menabrak seseorang. Tumbukan cukup keras hingga minuman pria itu tumpah sedikit.

Wilona mendongak.

Pria itu tinggi, bahunya lebar, wajahnya tajam tapi tampan, dengan kemeja hitam yang lengan atasnya digulung. Ada aroma parfum maskulin yang langsung menusuk hidung, dan entah kenapa Wilona langsung terpesona.

Dia menatap pria itu dengan mata berbinar… penuh kekacauan alkohol.

“Hai, Om,” ucapnya dengan senyum ngelantur. “Hehehe, butuh sugar baby nggak?”

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sin comentarios
7 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status