LOGIN“Kamu pernah ciuman?” tanya Yudha. “Ciuman apa?” “Bibir.” “Belum… tapi mau.” “Kamu pacaran sama Revan lama, belum pernah ciuman?” “Belum. Makanya… Om ajarin aku ciuman di sini. Aku mau ngerasain main lidah!" Satu permintaan polos berubah menjadi badai yang tak bisa dihentikan. Setelah ciuman pertama itu, Wilona kehilangan lebih dari sekadar logika, dia kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Alih-alih menjadi kekasih ketua BEM yang dielu-elukan kampus, Wilona justru jatuh dalam pelukan seorang CEO dingin dan berbahaya hingga tanpa sadar menjadikan dirinya sugar baby pria yang seharusnya tidak boleh ia sentuh. Karena Yudha adalah tunangan kakak sepupunya sendiri, Evelyn.
View MoreDi sebuah klub malam, musik berdentum keras seolah tak memberi ruang bagi siapa pun untuk berpikir jernih.
"Udah jauh-jauh ke sini, malah bengong!" "Tau ih, jarang-jarang tahu kita ke tempat ginian!" Wilona hanya menghela napas berat mendengar protes kedua temannya. Ia menyandarkan tubuh ke sofa, kepalanya sedikit mendongak menatap langit-langit klub yang dipenuhi lampu strobo. Wajahnya kusut seperti cucian yang sudah seminggu tak disetrika. Matanya terlihat lelah, bukan karena kurang tidur, melainkan karena terlalu banyak hal yang ia pikirkan sendirian. "Kenapa sih, Wil? Mikirin Revan lagi?" tanya Vera sambil menyesap minumannya membuat es di dalam gelas berdenting pelan. Wilona tak langsung menjawab. Ia menelan ludah, dadanya terasa sesak setiap mengingat kekasihnya. "Salah gak sih kalau aku cemburu sama kesibukan dia?" gumam Wilona pelan, nyaris tenggelam oleh musik yang makin menggila. “Dia nggak pernah ada waktu buatku. Aku kangen dia yang dulu….” "Udahlah, biarin dia sibuk!" cetus Tika. "Dia sibuk, kamu juga bisa cari kesibukan sendiri!" "Nah bener tuh kata Tika. Dia aja bisa gak mikirin kamu, kenapa kamu harus mikirin dia!" sahut Vera cepat, nada bicaranya lebih tegas. Wilona menoleh. "Maksudnya?" Vera tersenyum tipis, lalu mengangkat gelas di tangannya. "Aku ajak kamu ke sini buat happy happy. Lupain Revan sesaat, nih cobain minum." Gelas itu disodorkan ke arah Wilona. Cairan bening di dalamnya berkilau terkena pantulan lampu. Wilona mengerutkan dahinya, menatap ragu. "Ini apa?" tanyanya ragu, alisnya bertaut. Tangannya memegang gelas itu seolah benda asing yang bisa meledak kapan saja. "Udah cobain aja!" sahut Vera santai, nada suaranya seakan meremehkan keraguan Wilona. Wilona menarik napas dalam-dalam. Ia melirik Tika sekilas, lalu kembali menatap gelas di tangannya. "Aargh pahit bangettt!" serunya spontan. Wajahnya langsung meringis, hidungnya mengkerut, dan refleks ia menjulurkan lidah seperti anak kecil yang baru saja memakan obat. "Hahaha, enak tahu!" kata Vera sambil tertawa lepas. "Gak enak ya Wil, aku tadi juga coba setetes gak enak," sambung Tika, ikut tertawa kecil sambil mengangkat bahu, seolah ingin menunjukkan bahwa Wilona tidak sendirian dalam penderitaan itu. "Yaelah, cobain setetes ya emang gak enaklah, gak berasa!" kata Vera membela minuman itu. Ia kembali mengangkat gelasnya, meneguk sedikit dengan gaya santai, seakan ingin membuktikan ucapannya. “Wil, Cobain sekali lagi. Jangan Cuma sekali, biar makin dapet sensasinya.” Wilona menerima gelas keduanya, ketiga hingga tanpa sadar dirinya justru ketagihan, membuat Vera dan Tika melongo tak percaya, melihat sahabatnya kini benar benar sudah diambang batas kesadaran. “Wil! Pelan-pelan!” “Biarin, Tik,” sela Vera. “Biar dia menemukan kenikmatannya hahahhaa!" Dan benar saja. tak butuh waktu lama, Wilona merasakan efeknya. “Kalian tahu gak sih, aku tuh sedih banget. Sedihhh! Hati aku… ini hati aku sesek! Aku capek!” seru Wilona setengah mabuk. Suaranya tenggelam di antara musik, tapi getarannya terasa nyata. Tangannya terus menepuk dadanya sendiri, seolah benar-benar ingin mengeluarkan beban yang menumpuk di dalam sana. Setiap tepukan diiringi dengan satu tegukan minuman, seperti ritual pelarian yang tak masuk akal namun terasa perlu baginya malam itu. “Iya iya Wil, kita tahu kamu capek. Udah ya minumnya. Kamu udah mabuk!” Tika berusaha merebut gelas Wilona, wajahnya cemas. Namun, Wilona refleks menjauhkan tangannya, gerakannya ceroboh tapi cukup cepat. “Eitss, gak boleh direbut, hehehe!” Wilona tertawa kecil, tawa yang terdengar palsu dan rapuh. Ia mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. “Kita ke mana aja sih selama ini, kenapa ada minuman seenak ini, tapi kita gak tahu?!” “Ini semua gara-gara Revan sialan! Dia jahat sama aku … dia kejam, dia jahat! Dia tega sama aku!” Kalimat itu meluncur bersamaan dengan air mata yang akhirnya jatuh. Bahu Wilona bergetar, matanya memerah, maskara yang tadinya rapi mulai luntur. Ia menutup wajahnya dengan satu tangan, sementara tangan lain masih menggenggam gelas seakan takut jika kehilangan minuman itu, ia akan benar-benar runtuh. Wilona mulai terisak, tangisnya pecah, tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Dunia seakan menyempit hanya pada rasa sakit yang ia simpan selama ini. Revan … Nama itu saja sudah cukup membuat dadanya kembali sesak. Sebagai ketua BEM, Revan memang selalu sibuk. Rapat ini, agenda itu, kegiatan ini, evaluasi itu. Hampir setiap hari Wilona harus menunggu, menahan rindu, dan mengalah. Berkali-kali ia meyakinkan diri sendiri bahwa ini hanya fase, bahwa Revan sedang berjuang untuk masa depannya. Tapi lama-kelamaan, Wilona lelah. Karena perjuangan Revan perlahan menghapus keberadaannya. Padahal dulu, saat mereka masih SMA, Revan tidak seperti ini. Revan yang dulu selalu punya waktu. Revan yang rela menunggu di depan kelas hanya untuk pulang bersama. Revan yang mengirim pesan panjang setiap malam, memastikan Wilona tidur dengan senyum. Revan adalah sosok kekasih idaman perhatian, hangat, dan selalu membuat Wilona merasa menjadi satu-satunya. Namun sekarang? Dunia Revan bukan lagi Wilona. Wilona terus meracau seolah meluapkan rasa kesal yang selama ini ia pendam dan tak berani ia ungkapkan. Demi menjaga kedamaian dalam hubungannya. Sementara Vera dan Tika, keduanya hanya bisa menghela napas berat, mencoba menjadi pendengar yang baik. Sampai akhirnya, tiba-tiba Wilona berusaha berdiri. Tubuhnya goyah, langkahnya tidak stabil, tapi semangatnya seperti orang mau ikut lomba joget. “Wilona! Mau ke mana?!” teriak Vera terkejut. “Kata kalian, aku harus cari selingan biar gak mikirin dia hahaha, tungguin yaa!” Seru Wilona dengan vokal yang nyaris hilang. “Aku mau cari selingkuhan!” lanjutnya sambil memutar tubuhnya dan hampir jatuh. “Sumpah ya, aku nyesel kasih saran ke tu anak!’’ keluh Vera menepuk dahinya. Namun Wilona sudah jalan sempoyongan ke tengah kerumunan. “Wilona! Balik!” Tika mencoba mengejar, tapi orang-orang di lantai dansa terlalu rapat. Wilona terus berjalan, sampai…. Bruk! Ia menabrak seseorang. Tumbukan cukup keras hingga minuman pria itu tumpah sedikit. Wilona mendongak. Pria itu tinggi, bahunya lebar, wajahnya tajam tapi tampan, dengan kemeja hitam yang lengan atasnya digulung. Ada aroma parfum maskulin yang langsung menusuk hidung, dan entah kenapa Wilona langsung terpesona. Dia menatap pria itu dengan mata berbinar… penuh kekacauan alkohol. “Hai, Om,” ucapnya dengan senyum ngelantur. “Hehehe, butuh sugar baby nggak?”Sore hari menjelang malam, langit mulai berubah warna menjadi jingga keemasan saat mobil Revan melaju memasuki halaman rumah Mama Vita. Udara terasa lebih hangat, berbeda dengan suasana apartemen yang cenderung sunyi. Hari itu, mereka datang memenuhi undangan makan malam atau lebih tepatnya, panggilan yang tidak bisa ditolak. Begitu pintu rumah terbuka, mama Vita langsung menyambut mereka. “Akhirnya kalian datang juga!” suara Mama Vita langsung terdengar penuh semangat. “Ayo, sayang, masuk!” Namun yang membuat Revan terpaku bukan sambutannya… melainkan arah pelukan itu. Mama Vita langsung merangkul Vera dengan penuh sayang, seolah menantu barunya itu adalah pusat dunia. Revan yang berdiri tepat di sebelahnya hanya bisa melongo. “Ma… anak Mama di sini loh,” protesnya, wajahnya benar-benar tak percaya. Mama Vita bahkan tidak melirik. “Kamu sudah besar,” jawabnya enteng, nyaris tanpa jeda.
Waktu berjalan begitu cepat. Tiga hari terakhir terasa seperti jeda yang aneh dalam kehidupan mereka bukan liburan, tapi juga bukan rutinitas biasa. Atas permintaan Mama Vita, Vera dan Revan harus tetap menginap di hotel setelah pernikahan mereka. Tidak ada alasan yang bisa mereka gunakan untuk menolak.Jadilah selama tiga hari itu, mereka hanya menghabiskan waktu di dalam kamar yang sama.Bersama.Awalnya canggung. Sangat canggung. Namun perlahan… mereka mulai terbiasa dengan kehadiran satu sama lain. Dengan obrolan-obrolan kecil, makan bersama, bahkan diam bersama tanpa harus selalu mengisi suasana dengan kata-kata.Dan kini akhirnya mereka bebas.Lift apartemen berbunyi pelan saat pintunya terbuka. Revan melangkah keluar lebih dulu, diikuti Vera di belakangnya. Langkah mereka terasa lebih ringan, seolah beban tak kasat mata yang menahan selama tiga hari terakhir akhirnya terlepas.Revan menoleh sedikit ke arah Vera.“Kamu mau tinggal di
“Eughhhh…”Wilona menggeliat pelan di atas ranjang, menarik selimut sedikit lebih tinggi sebelum akhirnya membuka mata dengan berat. Cahaya matahari yang menyelinap dari celah tirai langsung menyambutnya, menandakan pagi sudah datang.Ia mengerjap beberapa kali, masih berusaha mengumpulkan kesadaran.Di sisi lain kamar, sosok suaminya sudah tampak rapi dengan kemeja kantor, berdiri di depan cermin sambil merapikan penampilannya.“Mas…” panggil Wilona dengan suara serak, masih setengah sadar.Yudha langsung menoleh. Senyum hangat terukir di wajahnya saat melihat istrinya sudah bangun.“Selamat pagi, sayang,” ucapnya lembut.Ia berjalan mendekat, lalu tanpa ragu mencium kening Wilona singkat.“Cup.”Wilona sedikit mengerucutkan bibirnya, masih bergelung di tempat tidur.“Kok gak bangunin aku?” protesnya pelan.Yudha justru terkekeh kecil, duduk di tepi ranjang.“Kamu semalem begadang sampai jam berapa sama Tika?” tanyanya santai, ta
Langkah kaki mereka yang semula riuh tiba-tiba terhenti. Saat Vera berusaha mengejar, kakinya tanpa sengaja tersandung kaki meja di samping ranjang.“Ah—!”Tubuhnya kehilangan keseimbangan.Bruk!Ia jatuh dengan posisi tidak sempurna, tangannya refleks menahan tubuh, namun justru membuat kukunya tertekuk keras.“Huaaaa sakitttt!” jerit Vera, suaranya langsung pecah menahan perih yang menjalar cepat.Revan yang tadi masih tertawa, seketika wajahnya berubah panik.“Ver!” Ia langsung berlari mendekat, napasnya masih ngos-ngosan. “Makanya jangan usil, kamu sih lari-larian!”“Kamu yang rese, Van!” balas Vera sambil meringis, matanya mulai berkaca-kaca.“Iya iya, maaf… aku yang salah,” ucap Revan cepat, nada suaranya langsung melunak.Tanpa banyak bicara, ia membantu Vera bangkit dengan hati-hati, memastikan tidak ada bagian lain yang terluka. Ia menuntunnya duduk di tepi tempat tidur, tangannya tetap siaga menopang pundak Vera.Revan kemudian b
Lorong rumah sakit itu terasa semakin sunyi setelah Wilona benar-benar menghilang dari pandangan.Ola masih berdiri di tempatnya. Tatapannya lurus ke depan, namun pikirannya bergejolak. Beberapa detik berlalu tanpa ia bergerak. Wajahnya tetap datar, tak menunjukkan emosi apa pun.Perlahan
Beberapa hari kemudian, dokter akhirnya memperbolehkan Yudha pulang.Kondisinya memang belum sepenuhnya pulih, tetapi secara fisik ia sudah cukup stabil untuk menjalani rawat jalan. Hanya saja, satu hal yang belum kembali ingatannya.Ola dan Andika datang lebih dulu ke rumah sakit pa
Olla dan Evelyn saling menatap satu sama lain. Beberapa detik, Yudha menunggu jawaban., sampai akhirnya Olla membuka suara“Wilona? Dia—”“Dia adikku!” Suara Evelyn memotong cepat sebelum Ola sempat menyusun kebohongan lain.Ruangan yang sejak tadi tegang mendadak membeku. Yudha menol
Udara pagi di tempat itu begitu berbeda dari hiruk-pikuk kota.Tak ada suara klakson. Tak ada gedung tinggi. Yang terdengar hanya desir angin yang menyapu pepohonan, suara burung, dan gemericik air dari sawah yang membentang luas sejauh mata memandang.Di sebuah rumah sederhana yang berdiri di ping






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore