로그인“Kamu pernah ciuman?” tanya Yudha. “Ciuman apa?” “Bibir.” “Belum… tapi mau.” “Kamu pacaran sama Revan lama, belum pernah ciuman?” “Belum. Makanya… Om ajarin aku ciuman di sini. Aku mau ngerasain main lidah!" Satu permintaan polos berubah menjadi badai yang tak bisa dihentikan. Setelah ciuman pertama itu, Wilona kehilangan lebih dari sekadar logika, dia kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Alih-alih menjadi kekasih ketua BEM yang dielu-elukan kampus, Wilona justru jatuh dalam pelukan seorang CEO dingin dan berbahaya hingga tanpa sadar menjadikan dirinya sugar baby pria yang seharusnya tidak boleh ia sentuh. Karena Yudha adalah tunangan kakak sepupunya sendiri, Evelyn.
더 보기Malam itu, pelataran sebuah *resort* mewah di kawasan perbukitan Bandung disulap menjadi taman surgawi. Lampu-lampu *warm white* menggantung cantik di antara pepohonan, menciptakan pendar keemasan yang memantul di permukaan kolam renang. Aroma bunga sedap malam dan melati menyerbak, menyambut para tamu yang hadir untuk merayakan satu dekade perjalanan cinta yang tak biasa. Di tengah panggung kecil yang dekorasinya didominasi warna putih dan emas, berdiri Yudha dan Wilona. Sepuluh tahun telah berlalu, namun tatapan Yudha pada istrinya tidak pernah berubah tetap penuh perlindungan dan kekaguman. Wilona tampil anggun dengan gaun satin yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, sementara Yudha tetap terlihat gagah meski guratan kedewasaan semakin tegas di wajahnya. Perbedaan usia sepuluh tahun lebih di antara mereka kini tak lagi terasa sebagai jurang, melainkan sebagai penyeimbang yang kokoh. "Terima kasih sudah ber
Malam harinya, suasana ruang makan di kediaman Yudha dan Wilona malam itu terasa jauh lebih tenang dibandingkan badai yang pecah pagi tadi. Aroma semur daging dan sup ayam yang mengepul dari atas meja seolah menjadi penawar lelah setelah seharian beraktivitas. Wilona sedang menata piring-piring, sementara Rena duduk dengan wajah yang masih sedikit ditekuk, sibuk memainkan ponselnya tanpa minat. Si kembar, Vero dan Varo, duduk di kursi mereka dengan kaki yang berayun-ayun, sesekali saling sikut namun tetap berusaha tenang karena tahu "otoritas tertinggi" rumah akan segera tiba. Terdengar suara deru mobil memasuki garasi, disusul suara pintu yang tertutup. Detik berikutnya, langkah kaki mantap terdengar menuju ruang makan. "Ayahhhh!" Vero dan Varo serempak melompat dari kursi mereka. Seperti anak panah yang meluncur, keduanya berlari menghambur ke arah pintu, memeluk kaki pria yang masih mengenakan kemeja kerja
Beberapa tahun kemudian …Tahun-tahun telah berlalu, membawa perubahan besar pada kediaman Wilona yang dulu tenang dan teratur. Rumah yang dulunya hanya diisi oleh suara tawa kecil Renata dan denting sendok saat sarapan, kini berubah menjadi medan tempur setiap pagi. "ALVAROOOOOOO!"Suara jeritan Renata di pagi buta itu memecah kesunyian, menggetarkan pigura foto di ruang tamu, dan menjadi pertanda bahwa bencana besar baru saja pecah di kamarnya."Bukan aku Kak, itu Vero!" sahut suara dari kamar sebelah dengan nada yang tak kalah tinggi. Alvaro, yang sedang asyik memakai kaus kaki, langsung melakukan pembelaan diri sebelum dituduh lebih jauh.Sementara itu, di dalam kamar Rena, seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun berdiri mematung di samping meja belajar. Namanya Alvero, kembaran Alvaro. Ia tengah menyengir kuda, menampilkan deretan gigi susunya yang kecil, sementara tangannya masih memegang sebuah gantungan kunci yang baru saja
Pagi di kaki gunung itu terasa begitu magis. Kabut tipis masih menyelimuti aliran sungai, sementara aroma tanah basah dan kopi tubruk yang diseduh Teh Ina memenuhi ruang makan. Vera dan Wilona duduk di teras kayu, menatap hamparan hijau yang sangat kontras dengan pemandangan beton yang biasa mereka lihat di Jakarta. Namun, tugas sebagai ibu dan istri sudah memanggil. Kenzo di Jakarta pasti sudah merindukan dekapan bundanya, begitu pula dengan Rena yang mungkin sudah rewel mencari Wilona. Setelah sarapan nasi liwet hangat buatan Teh Ina, Vera dan Wilona mulai merapikan barang-barang mereka ke dalam mobil. Tika berdiri di ambang pintu, tangannya mengelus perutnya yang kini terlihat jauh lebih besar dari kemarin. Ada gurat kebahagiaan yang tak bisa dimanipulasi di wajahnya. "Sampaikan salamku buat Revan dan Om Yudha ya," ujar Tika lembut. "Makasih banget kalian sudah jauh-jauh ke sini. Maaf kalau tempa
Drrtt… Drrtt… Drrtt…Ponsel di atas meja kerja itu kembali bergetar tanpa henti. Getaran kecil itu terasa seperti mengetuk kesabaran Revan yang sejak pagi sudah terkuras oleh pekerjaan. Tumpukan berkas masih menggunung di depannya, proposal yang harus ia pelajari belum juga selesai, sementara emai
Seperginya Evelyn, pintu ruang perawatan itu tertutup pelan. Suara kecil itu terasa seperti garis batas memisahkan masa lalu dan masa kini.Ruangan mendadak sangat hening. Cahaya lampu putih menerangi wajah pucat anak itu, sementara di sudut ruangan, dua orang dewasa berdiri saling berhadapan denga
Di depan ruang perawatan Rena, suasana terasa begitu berat. Lampu lorong rumah sakit menyala terang, tapi tak mampu mengusir dingin yang menjalar di dada masing-masing orang yang berdiri di sana. Melalui kaca transparan, terlihat seorang gadis kecil terbaring lemah di atas ranjang pasien. Wajahnya
Ruang keluarga itu berubah menjadi medan perang tanpa suara.Udara terasa berat. Bahkan jam dinding yang biasanya berdetak pelan kini seperti menghitung detik kehancuran hubungan ibu dan anak itu.Dengan suara parau yang tertahan, Yudha akhirnya bicara, “Yudha kecewa sama Mama!”Kalimat itu tidak d






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰더 하기