Share

82. Ada Apa dengan Aditya

Author: Henny Djayadi
last update Last Updated: 2025-09-12 20:51:15

“Maaf.” Naira menunduk, jemarinya meremas erat tas kecil di pangkuan. Suaranya lirih, hampir tak terdengar.

Alex mengernyit, matanya menyipit. “Maaf?” ulangnya, nada penuh kebingungan.

Kedua pengacara di sisinya, Adnan Adilla dan Adi Nugraha ikut menatap heran.

Naira mengangkat wajahnya perlahan, ada air bening yang menggantung di sudut matanya.

“Saya… akan menunda melayangkan gugatan cerai pada suami saya.”

Keheningan seketika jatuh. Adnan meletakkan bolpen di atas meja, wajahnya tampak tercengang. Sementara rekannya hanya saling pandang, tak percaya.

Alex, yang sejak tadi duduk tegak di samping Naira, sontak mencondongkan tubuhnya, nadanya penuh gemuruh amarah.

“Apa maksudmu, Naira? Kau sudah punya alasan yang lebih dari cukup untuk meninggalkannya! Mengapa sekarang kau justru mundur?”

Tatapan tajam Alex menancap seperti pisau. Nafasnya berat, dadanya naik turun menahan gejolak.

Dengan suara bergetar namun tegas, Naira menjawab, “Suami saya mengalami kecelakaan. Dan sekarang, dia ma
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Nindry Ayangcrut
matio ae dit hahahha
goodnovel comment avatar
Luly Chan
penasaran bgt lanjutannya
goodnovel comment avatar
Uci Prasetyo
ah nanggung thor
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   356. Harapan Regina

    Peter merenggut kerah jubah tidur Regina dengan satu sentakan kasar. Kain sutra itu berderit, memutus keheningan kamar yang pengap oleh ketegangan."Ah…!"Regina tersentak. Matanya terbuka setengah, sayu dan sarat akan kelelahan yang dalam. Secara refleks, tubuhnya meringkuk, mencoba melindungi sisa harga diri yang masih melekat di kulitnya. Rasa nyeri menjalar dari pinggang, naik mencekik dadanya. Napasnya tertahan di tenggorokan, sebelum akhirnya pecah menjadi desis perih."Besok lagi, Om," bisik Regina parau, matanya kembali terpejam rapat. "Aku... aku capek sekali."Hening. Tapi itu bukan keheningan yang menenangkan. Itu adalah kesunyian yang salah, jenis sunyi yang biasanya mendahului badai."Apa yang kau sembunyikan dariku, Regina?"Suara Peter rendah, nyaris datar, namun mengandung getaran yang berbahaya. Dingin. Tajam. Seperti ujung belati yang sedang mencari titik paling lunak di nadi korbannya untuk disayat.Regina membuka matanya perlahan. Sudut bibirnya yang pucat meleng

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   355. Di Tangan Peter

    Getar ponsel di telapak tangan Alex terasa seperti sengatan listrik yang mengganggu ritme jantungnya. Ia mengangkat perangkat itu dengan gerakan seminimal mungkin.Alex tak ingin mengusik posisi Naira, istrinya yang tengah bersandar manja di dadanya, mencari perlindungan di balik kehangatan tubuhnya yang sebenarnya sedang tegang.“Tuan,” suara Revan menyusup rendah, sarat dengan nada waspada yang tertahan. “Kami sudah di Puncak.”Alex mengalihkan tatapan pada langit-langit kamar hotel yang remang. Cahaya lampu kota yang tipis masuk melalui celah gorden, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jeruji.“Lanjut,” perintah Alex singkat, suaranya sedingin es.“Orang-orang Selo Ardi sudah mengepung vila yang diduga tempat Peter bersembunyi,” lapor Revan. “Penjagaan di sana terlalu ketat untuk sekadar persembunyian sementara. Ini markas, Tuan. Peter sudah membangun bentengnya.”Rahang Alex mengatup rapat. Otot-otot lengannya mengeras, reaksi naluriah saat predator merasakan kehadira

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   354. Istirahat Sejenak

    "Hati-hati, Alex..." Suara Naira nyaris tercekik, terpecah di antara deru napas yang memburu saat Alex bergerak di atasnya.Mungkin ini adalah euforia. Kabar mengenai hasil pemeriksaan yang negative, sebuah kelegaan yang luar biasa, bercampur dengan hasrat yang tertahan sejak semalam, membuat Alex seolah kehilangan kendali diri.Ayah satu anak itu sejenak lupa bahwa di dalam rahim istrinya, sebuah kehidupan baru yang rapuh sedang kembali bersemi.Awalnya, sentuhan Alex terasa seperti belaian angin pagi; ragu, lembut, dan penuh pemujaan. Namun, ketika mereka hampir menyentuh ambang puncak, ritme itu berubah.Alex bergerak dengan intensitas yang mendesak, seolah sedang mengejar sesuatu yang hampir luput dari genggamannya, membuat Naira kewalahan namun sekaligus terhanyut.Hingga akhirnya, mereka jatuh bersama dalam ledakan kenikmatan yang sunyi.Lampu temaram di sudut kamar hotel menyisakan rona jingga yang lembut, menyelimuti sisa-sisa keintiman yang baru saja usai.Udara masih terasa

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   353. Ganti yang Semalam

    Langkah kaki Alex dan Naira bergema seirama di koridor rumah sakit yang dingin. Jemari mereka saling mengunci, begitu erat hingga buku-buku jari memutih. Bagi Alex, genggaman itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut; seolah jika terlepas satu inci saja, dunia yang baru saja ia tata akan runtuh untuk kedua kalinya. ​Dokter spesialis yang kemarin mengambil sampel darah Alex mendongak, lalu tersenyum tipis saat melihat mereka ambang pintu. Sebuah senyum yang sulit diterjemahkan maknanya. “Silakan duduk.” Alex mendaratkan tubuhnya di kursi, sementara Naira tetap merapat di sampingnya, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya lewat sentuhan tangan yang tak kunjung lepas. ​ Di atas meja, sebuah map cokelat tampak begitu mengintimidasi. Sang dokter membukanya perlahan, mengeluarkan selembar kertas yang aromanya seperti bau obat dan kecemasan. Dokter itu menatap Alex, lalu senyumnya melebar, kali ini lebih tulus. ​“Hasil pemeriksaan awal Anda... negati

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   352. Pengen

    "Seberapa besar kemungkinan kamu... tertular?"Suara Naira bergetar. Kalimat itu menggantung di udara, dingin dan mencekam. Di hadapannya, Alex terpaku.Mata Alex yang biasa memancarkan ketegasan kini meredup, kehilangan binar yang biasanya selalu menenangkan Naira."Aku tidak berani mengira-ngira, Nai." Alex menjawab lirih.Ada nada kepasrahan yang menyakitkan. Dia tidak ingin memberi harapan palsu, namun kejujuran ini terasa seperti belati yang dihunus ke jantung istrinya.Naira merasakan badai berkecamuk di benaknya. Marah, cemburu, dan rasa takut yang melumpuhkan berpilin menjadi satu.Tentang masa lalu Alex yang hidup bersama perempuan lain tanpa ikatan, Naira sudah mencoba berdamai.Mita bisa paham latar belakang budaya mereka berbeda. Lagi pula, ia sendiri tidak datang ke pernikahan ini dengan lembaran yang sepenuhnya putih.Namun, pengakuan Alex barusan mengubah segalanya.Naira mengusap perutnya yang mulai membuncit. Di sana, ada kehidupan yang sedang bertumbuh, bayi kembar m

  • Istri yang Ternoda: Mengandung Benih Tuan Vancroft   351. Diamnya Naira

    Ujung jari Alex baru saja menyentuh dinginnya gagang pintu logam itu ketika suara datar sang dokter menahannya."Satu hal lagi, Pak Alex."Alex mematung. Punggungnya menegang, seolah setiap saraf di tubuhnya sedang bersiap menerima hantaman badai. Ia tidak berbalik, namun ia bisa merasakan tatapan tajam dokter itu menembus jas mahal yang ia kenakan."Kepanikan tidak akan mengubah angka di hasil laboratorium itu. Tetaplah tenang. Untuk keluarga yang Anda cintai, dan untuk diri Anda sendiri."Alex menoleh sedikit, hanya cukup untuk memperlihatkan profil wajahnya yang keras. Sebuah senyum tipis tersungging di sudut bibirnya, getir, hambar, dan sarat akan keputusasaan.Itu bukan senyum seorang pemenang, melainkan senyum seorang pria yang sadar bahwa ia sedang berdiri di tepi jurang, bertaruh habis-habisan dengan takdir yang tak pernah berpihak padanya."Saya tidak panik, Dok," bisik Alex. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh deru napasnya sendiri yang terasa berat. "Saya hanya takut."A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status