MasukBAB 125 — BAKUL YANG KEMBALI SUNYI Beberapa waktu telah berlalu sejak malam ketika Fauzan melihat Minah untuk terakhir kalinya. Keadaan di proyek Blok C-12 perlahan berubah. Garis polisi yang dahulu membatasi area pondasi sudah tidak ada. Pemeriksaan di lokasi telah selesai. Sejumlah dokumen disita, beberapa pekerja dimintai keterangan ulang, dan perusahaan tidak lagi bisa menutupi persoalan yang selama bertahun-tahun disimpan rapat. Namun, tidak semua hal kembali seperti semula. Nama Mbak Minah kini tercatat dalam berkas perkara. Bukan lagi sekadar nama penjual jamu yang menghilang tanpa kabar. Ia adalah saksi yang berusaha mengungkap penyimpangan, tetapi justru kehilangan nyawanya karena mengetahui terlalu banyak. Fauzan dan Bagas sesekali masih membicarakannya. Terutama ketika melewati pintu masuk proyek. Tempat itu dahulu menjadi loka
BAB 124 — ARWAH YANG BERPAMITANSejak menemukan bakul Minah di depan mess, pikiran Fauzan terus tertuju pada benda itu.Bakul tersebut sudah dibersihkan. Tidak ada lagi tanah yang menempel pada anyamannya. Bagian dalamnya juga kosong.Namun, aroma jamu masih tertinggal.Fauzan meletakkannya di sudut kamar.Bagas yang sedang merapikan barang memperhatikan gerakannya.“Kamu mau menyimpan bakul itu?”“Iya.”“Untuk apa?”Fauzan menatap bakul tersebut.“Aku ingin mengembalikannya ke tempat terakhir Minah biasa berjualan.”Bagas berhenti bekerja.“Maksudmu di dekat jalan masuk proyek?”Fauzan mengangguk.“Dulu dia selalu membawa bakul itu ke sana. Mungkin sudah seharusnya benda ini kembali ke tempatnya.”Bagas tidak keberatan.Keesokan sore, mereka membawa bakul tersebut menuju tempat berjualan Minah.Jalan itu masih sama.Ada b
BAB 123 — KEADILAN UNTUK MINAHPak Joko kembali memeriksa surat instruksi yang ditemukan dalam arsip perusahaan.Dokumen itu telah diperiksa keasliannya oleh tim penyidik. Tanda tangan dan nomor arsipnya sesuai dengan catatan administrasi perusahaan.Di bagian bawah terdapat tanda tangan Hendra Wijaksana.Sementara itu, pada bagian penerima instruksi tercantum nama Rudi Hartawan.Pak Joko membaca isi surat tersebut sekali lagi.Instruksinya berkaitan dengan penyelesaian masalah laporan Blok C, pemindahan dokumen, serta larangan memberikan informasi kepada pihak luar sebelum mendapat persetujuan pimpinan.Ada satu kalimat yang membuat penyidik semakin serius.Pastikan pihak yang mengetahui penyimpangan tidak lagi mengganggu penyelesaian urusan perusahaan.Fauzan membaca salinan dokumen itu.“Jadi, ini perintah dari Pak Hendra?”“Dokumen ini membuktikan adanya instruksi langsung kepada R
BAB 122 — MALAM TERAKHIR DI BLOK CPak Joko mengumpulkan seluruh berkas penyelidikan di ruang kerjanya.Ada laporan proyek, catatan Minah, rekaman suara, foto lama Blok C, serta kesaksian para pekerja.Semua bukti itu mulai membentuk satu rangkaian kejadian.Fauzan dan Bagas duduk di hadapannya.Suryono juga hadir. Mandor itu diminta memberikan keterangan tambahan untuk mencocokkan urutan peristiwa.Pak Joko membuka catatan.“Kita mulai dari alasan Minah mengetahui penyimpangan proyek.”Ia meletakkan beberapa lembar laporan di atas meja.“Minah sering datang ke proyek untuk berjualan jamu. Dari pekerja, dia mengetahui adanya pekerjaan malam yang tidak tercatat dalam laporan resmi.”Bagas memperhatikan dokumen tersebut.“Berarti dia mulai curiga karena jumlah pekerja dan material tidak sesuai?”“Benar. Dia kemudian mencatat beberapa perbedaan. Catatannya cocok dengan dokumen as
BAB 121 — PENGKHIANATAN RUDISejak pemeriksaan Hendra, penyelidikan semakin mengarah kepada Rudi Hartawan.Nama pria itu muncul dalam beberapa dokumen penting. Kesaksian Boneng juga menempatkannya di Blok C setelah terdengar suara teriakan Minah.Pak Joko memutuskan memanggil Rudi kembali.Kali ini, ia tidak hanya ingin menanyakan perubahan laporan. Ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan Rudi pada malam Minah menghilang.Fauzan dan Bagas kembali menunggu di luar ruang pemeriksaan.“Kalau Rudi mengaku, berarti kita akhirnya tahu apa yang terjadi malam itu,” kata Bagas.“Belum tentu,” jawab Fauzan. “Dia bisa saja mengakui sebagian, lalu menyembunyikan bagian lainnya.”Tak lama kemudian, Rudi datang bersama pengacaranya.Penampilannya masih rapi, tetapi wajahnya tidak setenang pemeriksaan sebelumnya.Ia duduk di hadapan Pak Joko.“Kenapa saya dipanggil lagi?” tanyanya.
BAB 120 — PERTEMUAN DENGAN HENDRAPagi berikutnya, Pak Joko menerima kabar bahwa Hendra Wijaksana bersedia datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan tambahan.Kedatangan pemilik perusahaan itu menjadi perhatian khusus tim penyidik.Sebelumnya, Hendra sudah pernah diperiksa. Namun, kesaksian Boneng mengenai Rudi yang keluar dari Blok C setelah terdengar jeritan Minah membuat penyelidikan berkembang.Terlebih lagi, rekaman suara menyebut nama Hendra.Fauzan dan Bagas menunggu di luar ruang pemeriksaan.“Menurutmu, Pak Hendra tahu apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Bagas.Fauzan menggeleng.“Kita belum bisa memastikan. Tapi namanya muncul di beberapa dokumen. Itu bukan hal kecil.”“Kalau dia memang terlibat, pasti tidak akan mengaku begitu saja.”Pintu ruangan terbuka.Seorang pria berpakaian rapi masuk bersama pengacaranya. Wajahnya terlihat tenang. Ia berjalan tanpa terburu-b







