ログインDihina, dijebak, dan kehilangan segalanya, hidup Panji berubah ketika kekuatan misterius dalam dirinya mulai bangkit. Sejak saat itu, makhluk-makhluk mengerikan memburunya demi sesuatu yang bahkan tak ia pahami. Mereka mengira Panji hanyalah mangsa yang mudah ditaklukkan.
もっと見るSuara besi beradu terdengar nyaring di gudang penyimpanan tempat Panji bekerja. Tumpukan kardus memenuhi hampir seluruh ruangan, sementara beberapa pekerja sibuk mengangkat barang untuk pengiriman malam itu. Panji Adiwangsa, pemuda berusia dua puluh dua tahun, sedang mengangkat sebuah kardus ke atas troli ketika suara seseorang terdengar dari belakangnya.
“Hei, Panji! Barang yang di sudut sana belum dipindahkan. Mau sampai pagi?” Panji menoleh sekilas. Riko berdiri sambil melipat kedua tangan di dada. Tubuhnya lebih besar daripada Panji, dengan dua orang temannya yang selalu mengikuti ke mana pun dia pergi. “Kerjakan sendiri kalau memang tidak sabar,” jawab Panji datar. Riko mengangkat alis. “Apa katamu?” “Telingamu berfungsi, kan?” Seorang pekerja di dekat mereka buru-buru menunduk, menyembunyikan senyum. Sementara itu, wajah Riko langsung mengeras. Selama beberapa minggu terakhir, laki-laki itu memang sengaja mencari perkara dengan Panji. Awalnya hanya ejekan kecil, kemudian berkembang menjadi pekerjaan tambahan yang sengaja dilimpahkan kepadanya. Panji biasanya memilih diam. Dia membutuhkan pekerjaan itu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, bukan untuk mencari teman atau musuh. Namun, diam bukan berarti takut. “Jangan sok berani di depanku,” geram Riko. Panji mengangkat kardus terakhir, lalu meletakkannya di atas troli. “Aku tidak berani. Aku cuma malas meladeni orang yang banyak bicara.” Riko melangkah mendekat. Suasana gudang mendadak canggung. Beberapa pekerja pura-pura sibuk, tak seorang pun ingin ikut campur. “Kalau begitu, kita selesaikan di belakang,” ujar Riko. Panji menatapnya tanpa ekspresi. “Kalau itu maumu.” --- Lima belas menit kemudian, Panji berdiri di lorong sempit di belakang gudang. Lampu kuning di atas pintu berkedip-kedip, menerangi tiga orang yang menghadangnya. Riko berdiri paling depan. “Kamu pikir karena selama ini aku diam, kamu bisa seenaknya bicara?” Panji memasukkan kedua tangan ke saku celana. “Kalau kamu memang punya masalah, selesaikan sekarang. Aku masih harus pulang.” Jawaban itu membuat Riko kehilangan kesabaran. Sebuah pukulan melayang ke arah wajah Panji. Panji memiringkan kepala. Pukulan itu hanya mengenai udara. Dia segera membalas dengan satu pukulan ke perut Riko, membuat laki-laki itu mundur sambil mengumpat. Namun, Panji belum sempat mengambil posisi ketika salah satu temannya menyerang dari samping. Pukulan keras menghantam bahunya. Panji terhuyung, tetapi segera berbalik dan mendorong penyerangnya hingga menabrak dinding. “Jangan melawan!” Riko meraung. Kali ini, mereka bertiga menyerang bersamaan. Panji berhasil menghindari satu pukulan dan membalas dengan tendangan ke lutut lawannya. Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Sebuah tinju menghantam pipinya, disusul pukulan lain yang mengenai rusuk. Dia terjatuh dengan satu lutut menyentuh tanah. Rasa sakit menjalar dari sisi tubuhnya. Panji mencoba berdiri, tetapi Riko menendang dadanya hingga dia kembali terjerembap. “Masih mau banyak omong?” Riko menyeringai. Panji meludahkan sedikit darah dari sudut bibirnya. “Lumayan,” jawabnya dengan napas berat. “Ternyata kamu memang butuh dua teman buat menghadapi satu orang.” Riko kembali mengangkat kaki, tetapi suara pintu terbuka membuatnya berhenti. “Riko! Kalian sedang apa?” Mandor gudang muncul di ujung lorong. Ketiga laki-laki itu saling bertukar pandang. Riko menunjuk Panji dengan wajah penuh kepura-puraan. “Dia yang mulai duluan, Pak.” Panji tidak membuang waktu untuk membantah. Dia bangkit sambil menahan sakit di rusuknya, kemudian berjalan melewati mereka. “Panji, tunggu!” panggil mandor. “Aku baik-baik saja, Pak.” Padahal jelas-jelas dia tidak baik-baik saja. Namun, Panji tidak ingin memperpanjang masalah. Dia hanya ingin pulang, membersihkan luka, lalu kembali bekerja keesokan harinya. Dia tidak menyadari bahwa kejadian malam itu hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih buruk. --- Malam sudah semakin larut ketika Panji meninggalkan area gudang. Dia memilih berjalan kaki melewati jalan pintas di belakang deretan bangunan tua. Biasanya, perjalanan itu hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit. Malam ini terasa berbeda. Udara mendadak dingin, begitu dingin hingga embusan napasnya terlihat samar. Suara kendaraan dari jalan raya perlahan menghilang, digantikan kesunyian yang terasa tidak wajar. Panji berhenti. Dia menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. “Cuma capek,” gumamnya. Dia kembali berjalan. Namun, baru beberapa langkah, terdengar suara gesekan dari balik tumpukan peti kayu. Srrrk! Panji menghentikan langkah. “Hei! Siapa di sana?” Tidak ada jawaban. Dia meraih sebatang kayu yang tergeletak di dekat tembok. Bukan senjata yang bagus, tetapi lebih baik daripada berjalan tanpa pegangan di lorong gelap. Srrrk! Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat. Panji mengencangkan genggamannya. “Kalau mau merampok, keluar saja. Aku tidak punya banyak uang.” Sebuah bayangan bergerak di ujung lorong. Panji menyipitkan mata. Sosok itu berdiri membelakanginya. Tubuhnya kurus, mengenakan pakaian gelap yang tampak basah. Rambut panjangnya menjuntai menutupi kepala. “Permisi,” panggil Panji, mencoba memastikan apakah sosok itu manusia. “Jalan ini mau dipakai. Minggir sedikit.” Sosok itu tidak bergerak. Panji mulai merasa kesal sekaligus waspada. “Dengar, aku sedang tidak ingin mencari masalah.” Perlahan, sosok itu memutar kepalanya. Gerakannya tidak wajar. Terlalu lambat, seolah lehernya tidak memiliki tulang. Ketika wajahnya akhirnya terlihat, Panji membeku. Kulit makhluk itu pucat keabu-abuan. Kedua matanya hitam seluruhnya, tanpa bagian putih sedikit pun. Mulutnya terbuka terlalu lebar, memperlihatkan deretan gigi yang panjang dan tidak beraturan. Panji mundur selangkah. “Apa-apaan itu?” Makhluk tersebut mengeluarkan suara seperti orang tertawa sambil tersedak. Kemudian, dalam sekejap, sosoknya menghilang. Mata Panji membelalak. Sebelum dia sempat bereaksi, sesuatu menghantam punggungnya. Tubuhnya terlempar ke depan dan membentur dinding. Batang kayu terlepas dari tangannya. “Ugh!” Panji berusaha bangkit, tetapi cengkeraman dingin mendadak melingkari lehernya. Makhluk itu sudah berada tepat di hadapannya. Bagaimana bisa? Panji mencengkeram tangan kurus yang mencekiknya. Dia mencoba melepaskannya, tetapi kekuatan makhluk itu jauh melampaui manusia biasa. Kakinya terangkat dari tanah. Udara di paru-parunya semakin menipis. “Lepaskan... aku!” Panji menghantam lengan makhluk itu dengan siku. Sekali. Dua kali. Namun, serangannya tidak menghasilkan apa-apa. Makhluk itu justru mendekatkan wajahnya. Dari jarak sedekat itu, Panji bisa mencium bau busuk yang menyengat, seperti tanah lembap bercampur bangkai. Lalu terdengar suara serak. “Akhirnya... kutemukan.” Panji meronta. “Apa... maksudmu?” Makhluk itu memiringkan kepala. Matanya yang hitam menatap Panji seolah sedang memastikan sesuatu. “Energi itu...” Cengkeramannya semakin kuat. “Darah itu benar-benar ada.” Pandangan Panji mulai menggelap. Dia tidak tahu apa yang dimaksud makhluk tersebut. Dia juga tidak mengerti mengapa dirinya menjadi sasaran. Yang dia tahu, jika tidak segera melakukan sesuatu, dia akan mati di lorong itu. Dalam keputusasaan, Panji mengerahkan seluruh tenaga untuk menghantam wajah makhluk tersebut. Pukulannya mengenai sasaran. Namun, bukannya terluka, makhluk itu hanya memiringkan kepala sedikit. Lalu ia menyeringai. “Bangkitlah,” bisiknya. “Tunjukkan kepadaku.” Tiba-tiba, dada Panji terasa panas. Bukan panas biasa. Sensasi itu menyebar dari dalam tubuhnya, menjalar melalui dada, bahu, hingga ujung jari. Panji terkejut ketika melihat cahaya biru samar muncul di sela-sela jemarinya. Makhluk itu mendadak berhenti tersenyum. Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah. Takut. Panji tidak memahami apa yang sedang terjadi. Dia bahkan tidak tahu dari mana cahaya itu berasal. Namun, ketika makhluk tersebut mencoba mencengkeramnya lebih kuat, sesuatu di dalam tubuh Panji seolah menjawab ancaman itu. Cahaya biru menyala semakin terang. Udara di sekitar mereka bergetar. Dan sesaat sebelum kesadarannya menghilang, Panji mendengar suara ledakan keras dari dalam tubuhnya sendiri.Jatmika berdiri di tengah halaman latihan dengan kedua tangan terangkat dalam posisi bertarung. Wajahnya santai, seolah menghadapi Panji bukanlah sesuatu yang perlu dianggap serius. Panji berdiri beberapa langkah di depannya sambil mengatur napas. Tubuhnya masih pegal akibat latihan sejak pagi, tetapi ia tidak berniat mundur. “Sudah siap?” tanya Jatmika. “Kalau aku bilang belum, kamu bakal menunggu sampai besok?” Jatmika menyeringai. “Mulutmu lumayan berani.” “Sayangnya, kemampuanmu belum tentu sebanding dengan mulutmu.” Sekar yang duduk di bangku kayu menahan tawa. Bramantara justru menatap mereka dengan datar. “Kalau sudah selesai saling menyindir, mulailah,” perintah Bram. Jatmika bergerak lebih dahulu. Pukulannya meluncur ke arah wajah Panji. Panji menangkis, tetapi lengannya bergetar akibat benturan. Sebelum sempat membalas, Jatmika menyapu kakinya. Panji jatuh ke tanah. “Bangun,” kata Bram. “Aku bahkan belum sempat menyerang.” “Lawanmu tidak wajib memberimu
Panji tiba di rumah Bram sebelum matahari terbit. Udara masih dingin ketika ia mengetuk pintu. Tidak sampai satu menit, pintu terbuka dan Bram muncul dengan pakaian latihan sederhana. “Kamu terlambat tiga menit.” Panji melirik jam tangannya. “Bukannya kita janji sebelum matahari terbit?” “Dan kamu datang tiga menit setelah waktu yang kutentukan.” Panji menghela napas. Ia baru sadar bahwa berdebat dengan pria itu hanya akan membuang waktu. “Jadi, kita mulai dari mana?” Bram menunjuk halaman belakang. “Lari.” Panji mengernyit. “Lari?” “Sepuluh putaran mengelilingi halaman.” Panji menatap halaman yang luasnya cukup membuat kakinya pegal sebelum selesai. “Bukannya saya datang untuk belajar energi spiritual?” “Kalau tubuhmu tidak mampu bertahan dalam latihan dasar, energi spiritual hanya akan mempercepat kehancuranmu.” Bram melipat tangan. “Mulai sekarang.” Panji terpaksa berlari. Pada putaran ketiga, napasnya mulai tidak teratur. Pada putaran keenam, kakinya terasa berat. K
Rumah yang ditunjukkan Sekar berada di pinggir kota, jauh dari keramaian. Bangunannya sederhana, dikelilingi pepohonan tua dan pagar bambu yang sebagian sudah lapuk. Panji mengamati tempat itu dengan alis berkerut. “Jangan bilang orang yang kamu maksud tinggal di sini.” “Memangnya kenapa? Kamu berharap rumah mewah?” “Aku hanya berharap tempatnya tidak terlihat seperti lokasi terakhir orang menghilang.” Sekar mendengus. “Kalau terus mengoceh, kita bisa pulang sekarang.” Panji memilih diam. Sekar mengetuk pintu tiga kali. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras. “Bram! Aku tahu kamu ada di dalam!” Pintu terbuka mendadak. Seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun berdiri di ambang pintu. Rambutnya sedikit beruban, wajahnya dipenuhi garis tegas, dan tatapannya tajam seperti sedang menilai setiap gerakan orang di hadapannya. “Sekar,” katanya datar. “Aku pernah bilang jangan datang tanpa kabar.” “Aku juga pernah bilang berhenti mengunci pintu seolah-olah
Panji baru berjalan beberapa langkah ketika Sekar mendadak berhenti. “Ada apa?” tanyanya. Sekar mengangkat tangan, memberi isyarat agar Panji diam. Matanya mengamati jalan sempit di depan mereka. “Kita diikuti.” Panji menoleh ke belakang. Gang itu tampak kosong, tetapi ia merasakan sesuatu yang ganjil. Udara mendadak dingin, dan suara kendaraan dari jalan raya perlahan menghilang. Tiga sosok muncul dari balik bangunan tua. Mereka mengenakan pakaian hitam dengan lambang yang sama seperti milik para pemburu sebelumnya. Salah seorang membawa dua bilah pisau pendek, sementara dua lainnya menggenggam tongkat berukir. “Sepertinya kalian belum puas,” ujar Panji. Pria berpisau menyeringai. “Kami berbeda dari kelompok tadi. Kami tidak diperintahkan untuk memberimu kesempatan melawan.” Sekar segera berdiri di depan Panji. “Jangan terpancing. Mereka sengaja ingin membuatmu menggunakan energi.” “Kalau tidak menggunakannya, aku bisa mati.” “Kalau menggunakannya sembarangan, kamu juga bi
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.