Pagi datang pelan di mess C-12.Bukan dengan sunyi, tapi suara sendok beradu gelas, ketel air mendesis, dan radio kecil yang nyaring tapi fals. Beberapa pekerja sudah bangun, ada yang ngopi, ada yang cuma duduk pakai kaos singlet, perut buncit terbuka.“Zan, kowe kok kaya wong digebugi semalaman?”(Zan, kamu kok kayak orang digebukin semalaman?)Fauzan duduk di tepi kasur lipat. Matanya cekung. Rambutnya masih basah, entah keringat atau air.“Wes dadi vampir kowe saiki?”(Sudah jadi vampir kamu sekarang?)Tawa pecah.“Ra usah lembur meneh, Zan,” sambung yang lain.(Jangan lembur lagi, Zan.)Fauzan nyengir tipis. Tangannya meremas gelas kopi, tapi tidak diminum.Di luar, matahari naik. Terang. Normal.Semua terlihat normal.Kecuali Fauzan.Bagas muncul dari kamar mandi sambil mengucek wajah. Rambutnya acak-acakan, kaosnya kebesaran.Ia duduk di sebelah Fauzan, menurunkan suara.“Bengi kowe krungu opo maneh?”(Malam tadi kamu dengar apa lagi?)Fauzan menggeleng cepat. “Ra ono.”(Nggak a
Last Updated : 2025-01-17 Read more